Calon Suamiku Ternyata Kakakku Sendiri

Calon Suamiku Ternyata Kakakku Sendiri
Bab 63


__ADS_3

Pagi pun tiba, Dae yang sudah tertidur dengan cepat, begitu lagi menyapa, dia bangun dengan cepat. Dae membuka matanya dan melihat samar cahaya terang di luar jendela.


Kemudian dia duduk dan mengucek-ngucek matanya sambil meregangkan otot tubuhnya.


"Ahhhh, rasanya badanku sudah fit kembali. Aku harus segera mandi nih biar gak telat ke kantornya," gumam Dae yang masih menguap.


Lalu dia beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan ke kamar mandi. Dae mulai membersihkan tubuhnya hingga beberapa menit kemudian.


Tiba-tiba dari luar terdengar suara ketukan di pintu kamar Dae.


"Tok tok tok tok, Dae.....!" panggil Mamanya dari luar kamarnya.


Dae yang masih berada di dalam kamar mandi hanya mendengar sekilas suara orang memanggil.


Dae pun keluar dari dalam kamar mandi. Dia mendengar suara Mamanya memanggil. Dia pun berjalan untuk membuka pintu kamarnya.


"Iya Ma..., nih Dae baru selesai mandi loh... Ada apa sih Ma, pagi-pagi udah kesini?" tanya Dae yang langsung berbalik meninggalkan Mamanya di depan pintu.


"Mama hanya khawatir kalau kamu belum bangun Dae. Makanya Mama bangunin," jawab Mamanya.


"Mana mungkin Dae telat bangun Ma. Bisa gawat kalau sampai telat. Mama tau sendiri gimana Presdir Dae, si Edy kulkas itu," ucap Dae yang keceplosan mengatai Presdirnya.


"Siapa? Edy kulkas? Maksudnya?" tanya Mamanya bingung.


"Ya itu Presdir Dae kan namanya Edy. Orangnya dingin dan sukanya memberikan kerjaan sama Dae. Kadang sih kesal Ma," omel Dae.


Mamanya hanya senyum-senyum mendengar celotehan putrinya yang cantik ini.


"Namanya juga atasan, wajar dong dia kasih kamu tugas banyak," goda Mamanya.


"Kenapa Mama jadi dukung dia sih," sebal Dae.


"Bukannya Mama mendukungnya. Tapi ya atasan Pasti berbuat seperti itu sayang...," tekan Mamanya.


"Iya deh Ma, Dae dengar apa kata Mama aja." kesal Dae.


"Ya sudah, kalau kamu sudah siap, kita sarapan di bawah."


"Oh ya Ilyas kapan balik ke Jakartanya?" tanya Mamanya.


"Kenapa Mama nanyain Ilyas? Hmmmm, hayo....Dae bilang nih sama Papa, kalau Mama mulai melirik daun sedikit muda, CK CK CK CK ," canda Dae.


"Ihhhh nih anak malah candain Mamanya. Mama cuma mau tau Dae...., Lagian kamu mau Mama jodohin dengan anak teman Mama," ucap Mamanya yang sontak membuat Dae melongo.

__ADS_1


"Hahaha Mama nih becanda. Masa jaman sekarang masih main jodoh-jodohin sih Ma," protes Dae.


"Loh emang kenapa? Kan tidak ada larangan sayang. Mama gak mau jodoh kamu yang sembarangan," balas Mamanya.


"Hahh, Dae gak suka di jodohin titik," tekan Dae.


Setelah perdebatan antara orang tua dan anak, mereka pun segera berjalan ke ruang makan. Dae dan Mamanya sudah melihat Papanya Dae duduk dengan santai di meja makan.


"Loh Papa udah dari tadi disini?" tanya istrinya.


"Baru Ma, nungguin Mama yang dari tadi gak datang-datang," Papanya Dae pun ngambek karena kelamaan menunggu istrinya yang nyangkut di kamar Dae.


"Maaf Pa, Mama tadi ngobrol sama Dae sebentar."


"Ya udah yuk kita sarapan. Papa anter Mama kan ke Butik?" tanya istrinya.


"Iya Papa antar Mama dulu, baru Papa ke kantor," jawab suaminya.


Dae hanya menjadi pendengar yang baik obrolan Papa dan Mamanya.


"Sayang, kamu gak di jemput?" tanya Mamanya tiba-tiba.


Dae yang fokus menyantap sarapannya, akhirnya mendongakkan wajahnya menatap Mamanya.


"Nggak apa-apa. Kirain kamu di jemput sama Presdir kamu si kulkas itu," jawab Mamanya santai.


"Ih Mama, jangan keceplosan loh bilangin kulkas depan orangnya," protes Dae.


"Mama, gak baik Lo ngomong gitu. Dia itu Presdir anak kita. Jadi ya sopanlah sama atasan Dae," Papanya Dae juga protes dengan ucapan Mamanya.


"Iya deh Pa, Mama minta maaf. Mama ngomong gitu karena Dae yang duluan nyebutin atasannya kulkas," ucap Mamanya yang membela diri.


"Dae juga tidak baik ngomong seperti itu terhadap atasannya. Kamu kan bekerja di Perusahaannya, kenapa malah memberi julukan terhadap Presdirnya," tegur Papanya yang terlihat tidak suka.


Papanya tidak menyukai jika calon mantunya di perlakukan dengan sikap kurang baik dan sopan.


"Iya Pa, maaf," ucap Dae.


"Heum."


Suasana di meja makan terasa sepi. Tak ada yang membuka suaranya. Semua diam dengan menikmati sarapannya masing-masing.


Setelah menyelesaikan sarapan yang hening, Dae pun berpamitan sama Papa dan Mamanya.

__ADS_1


"Pa, Ma, Dae berangkat duluan ya. Takut terlambat," pamit Dae.


Padahal Dae ingin menghindari suasana yang tiba-tiba kaku di antara mereka. Dae memilih segera ke kantor.


"Iya sayang, kamu hati-hati dijalan ya." ucap Mamanya.


"Iya Ma," balas Dae.


Lalu Dae menyalami tangan kedua orang tuanya dan mencium pipi kanan-kiri keduanya.


Setelah kepergian Dae, Mama dan Papanya Dae malah kembali membahas tentang julukan Presdir Edy.


"Papa kenapa sih, malah marahin Mama depan Dae. Mama kan jadi gak enak dimarahin gitu," protes Mamanya Dae yang menunjukkan kekesalannya.


"Ma, jangan memberikan contoh yang tidak baik sama Dae. Kalau Dae salah, ya Mama jangan ikutan berbuat salah dong. Harusnya Mamanya memperbaiki atau menegur ucapan Dae," balas suaminya.


Akhirnya, Mamanya Dae menyadari kesalahannya yang malah mendukung putrinya.


"Iya Maaf Pa, tapi Mama gak suka Papa marahin Mama depan Dae. Kan malu Pa sama Dae nya," protes Mamanya yang mulai menunjukkan sikap manjanya terhadap suaminya.


Papanya Dae langsung berdiri dari kursinya dan berjalan menghampiri istrinya. Lalu dia mulai memeluk leher istrinya dan memberikan kecupan di keningnya sebagai tanda sayang.


"Papa juga minta maaf ya Ma. Sekarang kita baikan lagi ya. Lihat udah jam berapa ini, nanti kita terlambat ke Butik dan kantor. Ayo kita bernagakt," ucap Papanya Dae yang memperlihatkan jam tangannya.


"Kalau gitu Mama ambil tas dulu ya Pa," balas Mamanya Dae.


"Iya Papa, tunggu di depan ya Ma. Papa mau nyiapin mobilnya dulu," ucap suaminya.


Lalu Mamanya Dae pergi ke kamarnya mengambil tas. Sedangkan Papanya Dae mempersiapkan mobil di depan rumahnya.


Sementara Dae yang masih dalam perjalanan macet, merasa legah karena lepas dari orang tuanya. Namun dia masih merasa khawatir dengan keadaannya nanti di kantor.


Jalanan yang ditempuh Dae, hari ini sedikit macet. Lampu merah yang banyak dan lama, membuat Dae terjebak macet. Dae takut kalau dia terlambat tiba di kantor.


Di tempat lain yaitu di kantor, Edy sudah menunggu kedatangan Dae. Tapi samoai saat ini, Dae belum juga muncul. Itu terlihat dari pantauan CCTV di kantor itu.


"Kemana dia? Kenapa sampai jam segini belum nyampai?" gumam Edy yang duduk di depan leptopnya.


Lalu Edy mencoba menghubungi Dae, hingga beberapa kali tak juga ada jawaban dari Dae.


"Kemana sih kamu Dae...!?" geram Edy yang tak mendapatkan respon dari Dae.


Edy merasa kesal, hingga dia meletakkan ponselnya di meja dengan mode silent.

__ADS_1


__ADS_2