
Dae merasa bingung dengan sikap Ani yang menunduk hormat terhadapnya.
"Eh tunggu, kenapa dia menunduk tapi kayaknya matanya melihat kebelakang. Apa jangan-jangan dibelakang gw ada hantunya, ihhhh serem...," gumam Dae.
Edy mendengar gumaman Dae. Dia berusaha untuk tidak tertawa. Dia merasa lucu mendengar Dae mengatainya hantu dan lainnya. Hingga akhirnya karena Edy tak sabar, dia pun berdehem.
"Ekhem ekhem," Edy berdehem.
Dae tersentak mendengar suara deheman laki-laki.
"Apa hantunya laki-laki ya?" gumam Dae yang masih tak berpikir cerdas. Dia masih tak menyadari kehadiran Presdirnya.
Lalu dengan memberanikan diri, Dae membalikkan badannya kebelakang dan melihat sosok Edy yang sudah berdiri di hadapannya.
"Presdir!" seru Dae.
"Banyak banget pujian kamu buat saya ya," sindir Edy tanpa tersenyum. Senyumnya hanya disembunyikannya di dalam hatinya.
"Ma--maksud Presdir apa ya?" tanya Dae pura-pura bodoh.
"Bukankah kamu mengatakan saya hantu? Dan apa tadi, si kulkas? Saya tersanjung mendapat gelar seperti itu."
"Saya tidak bermaksud seperti itu Presdir. Maaf," balas Dae ketakutan.
Dae melihat wajah dingin Edy yang tak berekspresi. Dia hanya menundukkan wajahnya, tak berani menatap ke Edy.
"Ikut saya Dae," Edy menarik tangan Dae memasuki lift.
Edy membawa Dae ke ruangannya, dimana dalam ruangan itu ada kamar tersembunyi.
"Mau kemana dibawa saya Presdir?" tanya Dae yang mulai kalut.
"Ikut aja, saya akan memberimu hukuman," bentak Edy.
"Saya mau pulang!" sentak Dae.
Namun genggaman tangan itu semakin erat tak mau lepas. Edy semakin kuat memegang tangan Dae, hingga Dae meringis kesakitan di pergelangan tangannya.
Mereka sampai diruangan Presdir dan Edy membawa Dae masuk ke dalam kamar pribadinya dan melemparkan Dae ke atas ranjangnya.
"Awww, Presdir kenapa anda melakukannya?" tanya Dae emosi.
"Karena kamu membuat saya kesal."
Edy berjalan menghampiri Dae dengan melepas kancing kemejanya bagian atas. Dia merangkak naik ke atas dan menindih tubuh Dae.
"Presdir apa yang anda lakukan?" bentak Dae.
__ADS_1
"Kamu bertanya Dae? Apakah kamu tak merindukanku Dae?" tanya Edy dengan wajah menggoda.
"Tidak, aku sama sekali tak merindukanmu," balas Dae yang merubah panggilannya.
"Benarkah itu?" tanya Edy semakin mendekatkan wajahnya.
"Berhenti Edy...! Jangan coba-coba menciumku ya. Kalau tidak aku akan menendangmu!" jawab Dae marah.
"Coba lakukan Dae ku sayang," bisik Edy ditelinga Dae.
Bisikkan itu membuat Dae meremang, tubuhnya langsung merespon. Dae hanya bisa mengutuk dirinya yang tidak bisa menahan sentuhan Edy.
Tanpa buang waktu Edy langsung menyerang Dae dengan melum*** bibir sexy Dae. Dae berusaha menahan dirinya dengan memberontak, namun lagi-lagi sentuhan Edy mampu membuat gairahnya terpancing. Dae membalas ciuman itu, membuat Edy tersenyum puas.
Mereka melakukan pemanasan yang sangat lama.
"Kamu tak menolak ku Dae," bisik Edy ditelinga Dae sambil mengecup daun telinga Dae.
Dae yang merespon perlakuan Edy, mengeluarkan suara indahnya. Dia pun mende*** karena kecupan itu. Edy memandang wajah Dae yang sudah bergairah. Sama halnya dengan dirinya yang sudah tidak bisa menahannya.
Lalu Edy kembali melu*** bibir sexy Dae sambil tangannya bergerilya kemana-mana. Dae tak kuasa menahan sentuhan Edy, hingga mereka berdua smash -sama tak menggunakan sehelai benang pun di tubuh mereka. Edy melakukannya dengan sangat lembut, membuat Dae terbuai dengan kelembutan Edy. Hentakkan demi hentakkan dilakukan Edy.
Mereka terus melakukannya, suara-suara merdu Dae terdengar kencang diruangan itu, dan itu membuat Edy semakin beringas untuk menghentak Dae. Hingga akhirnya Edy dan Dae sama-sama mengerang di ujung permainan. Edy menyemburkan benihnya ke rahim Dae.
Dae terkulai lemas disamping Edy, dengan posisi berpelukan. Dia tak sanggup membuka matanya karena pertempuran panas mereka.
Mereka akhirnya tertidur berdua di dalam kamar pribadi Dae.
Malam pun tiba, Dae terbangun dari tidurnya dan dia melihat sekeliling ruangan itu. Lalu dia melihat tubuhnya tanpa pakaian. Kemudian Dae menoleh kesamping, dimana Edy tidur sambil melingkarkan tangannya diperut Dae.
Dae mencoba melepaskan diri dari pelukan Edy. Dia harus segera pulang. Dae merasa takut karena Papa dan Mamanya pasti khawatir terhadapnya.
"Edy ayo bangun, aku mau pulang," Dae membangunkan Edy dengan menggoyangkan tubuhnya.
"Sayang, cepat banget bangunnya. Kamu disini aja ya sama aku," pinta Edy yang masih enggan membuka matanya.
"Jangan gila Edy, aku harus kembali. Mama dan Papa ku akan mencariku. Dan mereka pasti khawatir karena tidak mendapat khabar darimu. Ayo bangun..!" paksa Dae.
Lalu Edy pun bangun dengan malas-malasan. Dan dia menatap Dae dengan penuh kasih sayang.
"Aku anter kamu pulang ya," pinta Edy.
"Tapi aku bawa mobil."
"Biar mobil kamu tinggal disini. Besok aku jemput dan kita berangkat bareng ke kantor," ucap Edy yang beranjak dari tempat tidur.
Kemudian Edy membantu Dae menggunakan bajunya. Dan setelah mereka bersiap-siap, Edy dan Dae keluar dari Perusahaan. Edy mengantar Dae pulang kerumahnya menggunakan mobil Edy.
__ADS_1
Sepanjang jalan, Dae membuang muka ke jendela. Dia merasa canggung kala mengingat pertempuran tadi di ruangan pribadi Edy.
"Kenapa kamu memandang ke jendela. Mending pandang wajah tampanku," ucap Edy percaya diri.
"Tampan dari mana," protes Dae.
"Ya tampan, buktinya kamu mau sama aku."
"Sapa juga yang mau. Aku kan dipaksa."
"Hahahahaha, kamu tidak aku paksa Dae. Justru kamu menikmati setiap pertempuran yang kita lakukan Dae ku," ucap Edy blak-blakan.
Perkataan Edy membuat wajah Dae merona malu. Dia tak berani menunjukkan wajahnya ke Edy. Dae merasa takut akan digoda terus.
"Dae, lihat tuh kearah pacarnya dong. Masa jendela di pandangin terus," ucap Edy.
"Biarin, lebih enak mandangin kaca dari pada kamu," sarkas Dae.
Edy bukannya marah mendengar perkataan pedes Dae. Dia justru semakin senang menggoda Dae.
"Kalau kamu gak mau menatap ke arah aku, aku gak akan anter kamu pulang," ancam Edy.
"Bisanya cuma ngancem," balas Dae.
Lalu Dae seperti kerbau yang dicucuk hidungnya, menurut ucapan Edy. Dia pun menoleh ke arah Edy dan tersenyum manis.
"Sudah puas Edy...!" ketus Dae.
"Aku tidak akan pernah puas sama kamu Dae. Kamu sangat nikmat," balas Edy menggoda.
"Apaan sih," protes Dae.
Tak terasa waktu berlalu, mereka terus ribut. Hingga akhirnya mobil Edy sampai di rumah Dae.
Edy keluar dari dalam mobilnya dan menunggu Dae di dekat Mobilnya. Dia ingin mengantar Dae sampai rumahnya.
Dae mengetuk pintu rumahnya, dan ternyata Papa Dae yang membuka pintu rumah itu.
"Selamat malam Om, maaf saya mengantar Dae sampai malam. Tadi ada sedikit pekerjaan yang harus kami selesaikan berhubung lusa saya akan membawa Dae ke luar kota untuk dinas. Jadi saya sekalian minta izin sama Om," ucap Edy tegas.
"Anda siapa?" tanya Papanya dengan tatapan garangnya.
"Perkenalkan Om, saya Presdir Perusahaan tempat Dae bekerja," ucap Edy memperkenalkan dirinya.
"Oh.. anda atasan Dae?" tanya Papanya.
"Iya Om.
__ADS_1
Lu tanpa di duga, Papanya Dae mengajak Edy ngobrol diteras rumah mereka.