Calon Suamiku Ternyata Kakakku Sendiri

Calon Suamiku Ternyata Kakakku Sendiri
Bab 30


__ADS_3

Edy masih belum beranjak dari sofa yang ada di ruangan kerja Dae.


Setelah Dae masuk, dia berjalan ke arah kursi kerjanya. Saat dia membalikkan badannya, Dae berhadapan dengan Presdirnya Edy.


Mata Dae melotot terkejut, wajahnya pucat seperti kapas. Kakinya kaku tak bisa digerakkan. Nafasnya menjadi berat, hingga Dae ingin lari sekencang-kencangnya dari hadapan Presdirnya.


"P..pagi Presdir!" sapa Dae yang berusaha tenang.


Edy menatap Dae dengan tatapan dinginnya, dia ingin membawa Dae dari hadapannya menuju Apartementnya langsung. Namun dia masih ingin melihat seberapa kuat Dae tidak terpesona dengan ketampanan Edy.


Edy berjalan maju, hingga membuat Dae mundur secara teratur kebelakang.


"Presdir, anda baik-baik aja kan?" tanya Dae yang ingin menangis.


"Pertanyaan itu sudah basi Dae!" tekan Presdirnya.


"Emang makanan, dasar nih kulkas. Ngomong suka-sukanya aja," bathin Dae sambil menekan salivanya.


"Tidak ada pertanyaan yang basi Presdir. Yang ada makanan yang basi," balas Dae konyol.


"Kamu berani mempermainkan saya Dae!" Edy duduk diujung meja kerja Dae.


"Saya gak Bernai Presdir, mempermainkan anda. Maksud anda gimana ya?" tanya Dae berpura-pura.


"Kamu tidak tau Dae.. Apa perlu saya ulang adegan kemaren. Dimana saya mencium kamu dan kamu menikmatinya," ucap Edy sambil meledeknya.


"Ah kalau itu tidak perlu Presdir. Itu terlalu fulgar untuk di bahas. Yang lain aja ceritanya," ucap Dae yang semakin membuat Edy merasa jengkel.


"Dae.....!" teriak Edy kesal.


"Kamu mencoba mempermainkan saya?" tanya Edy dengan wajah dingin tapi mengerikan.


"Saya tau salah Presdir. Saya minta maaf dengan kejadian kemaren.


"Oh...kamu mengingatnya?" tanya Edy tersenyum samar.


"Kalau saya gak ingat, nanti Presdir marah lagi. Jadi saya coba mengingatnya," jawab Dae dengan santainya.


"Kenapa kamu pergi melarikan diri kemaren Dae?" tanya Edy.

__ADS_1


"Oh..itu ya, mmmm, saya hanya gak ingin Presdir Edy dan Ilyas bingung dan kecewa kalau saya memilih salah satu diantara kalian untuk pulang bareng. Makanya saya lebih baik melarikan diri dan mencari aman. Ternyata Samapi dirumah saya aman Presdir," jelas Dae dengan wajah menggemaskan.


"Pinter kamu Dae mencari solusi di saat yang tidak menguntungkan. Tapi saya tidak menyukainya. Apapun yang terjadi, kamu harus pulang bareng saya kemaren!" protes Edy.


"Presdir, kemaren sudah berlalu. Lebih baik pikirkan yang hari ini aja. Ya Presdir..!" bujuk Dae pura-pura.


"Kamu mencoba menggoda saya dengan suara memohon begitu?" tekan Edy.


"Tidak Presdir, saya hanya ingin menolong Presdir," jawab Dae asal.


"Menolong yang bagaimana. Lagian saya tidak butuh bantuanmu. Lupakan saja!" ucap Edy malas.


"Terus Presdir maunya apa sekarang?" tanya Dae yang udah mulai jenuh dengan meladeni Presdirnya yang dingin ini.


"Siang ini, kamu harus makan siang bareng saya. Sebagai hukuman buat kamu. Kita akan makan diruangan saya. Dan jangan coba-coba melarikan diri Dae," tekan Edy.


"Tapi Pak, saya sudah membuat janji dengan yang lainnya. Jadi besok aja ya Presdir!" mohon Dae.


"Tidak ada tapi-tapian. Saya tidak menerima penolakan Dae," ucap Presdirnya.


"Itu namanya pemaksaan Presdir," balas Dae sampai membuat Edy kesal dengan sikap Dae.


"Kalau begitu hari ini saya akan mengawasi kamu disini. Saya akan menunggumu selesai bekerja," ucap Edy dengan santainya.


"Kenapa kamu menatap saya seperti itu Dae?" tanya Presdir Edy.


"Gimana saya tidak melihat anda seperti itu. Mana mungkin saya membiarkan Presdir berada di sini. Saya yang gak bisa bekerja. Tolong Presdir keluar dari ruangan itu," balas Dae.


Perdebatan di dalam ruangan Dae belum berhenti. Hingga ketika Ani berkunjung ke ruangannya.


"Dae......, ceritakan sama gw kejadian kemaren...!" seru Ani sambil melangkah masuk ke hadapan Dae.


Ani belom menyadari adanya Presdir mereka di dalam ruangan kerja Dae. Dia terus mengoceh, bertanya seperti wartawan yang menginginkan suatu berita hot.


Hingga saat dia membalikkan badannya ingin melangkah ke sofa, Ani di kejutkan dengan sosok Presdirnya yang duduk dengan manisnya


"Loh Presdir! Anda di sini?" tanya Ani ketakutan.


"Iya saya di sini. Ada masalah Bu Ani?" tanya Edy dengan intonasi tak suka.

__ADS_1


"Presdir, ini akan menjadi berita paling hot ketika mereka tau bahwa Presiden tampan mereka ini berada dalam ruangan Dae," ucap Ani.


Presdir Edy tak menggubris ucapan Ani lagi. dia memilih diam dan duduk dengan santai dan tenang di sofa.


"Eh Mek, Lo kenapa bisa seperti ini? Di datangin terus sama Presdir. Kapan giliran gw ya di datangin sama orang penting," bisik Ani.


Ani takut melihat Edy karena aura dinginnya. Dia membisikkan sesuatu ke Dae.


"Dae, dia ngapain di sini?" tanya Ani yang sedikit berbisik.


"Gw juga gak tau Ani...! Tanya aja langsung sama orangnya, tuh orangnya," tunjuk Dae.


"Ah Elo Dae, bisa aja. Mana .ungkin gw berani bertanya sama Presdir Edy," balas Ani.


"Kalau gitu mending sekarang Lo kembali keruangan Lo, ok..!"


Ani belum puas jika belom mendapatkan informasi akurat tentang kisah cinta Dae dengan Presdir Edy.


"Iya deh, gw kembli ke ruangan gw. Tapi nanti gw pengen dengar cerita langsung dari Lo, ok.!" seru Ani.


Dia pun pergi dari ruangan Dae. Meninggalkan Presdir Edy dan Dae dengan sejuta pertanyaan di benaknya.


"Akhirnya perusuh yang satu enyah juga, syukurlah," ucap Dae pasrah.


Edy pura-pura tak mendengar apa yang di ucapkan Dae. Dia santai melihat leptopnya di hadapannya.


"Tinggal beberapa jam lagi Dae..!" seru Edy.


Dae terbengong dengan apa yang diucapkan Edy. Ternyata Edy terus memantau jam sampai jam istirahat akhirnya tiba.


"Buat apa Presdir di situ terus. Nanti Presdir capek dan sakit loh..," ucap Dae yang ingin mengusir Presdirnya.


"Saya di sini aja. Ini tempatnya nyaman dan tidak banyak orangnya. Apalagi hanya kamu yang saya pandang di sini. Itu membuat saya puas," balas Edy.


"Apa-apaan nih Presdir. Udah gw usir gak ngerti juga. Apa sih maunya dia. Lama-lama gw benyek nih orang," bathin Dae yang menggerutu.


Dae pun membiarkan Presdirnya mengerjakan tugas di sofa itu. Sedangkan dia asyik berbalas pesan bersama Ilyas. Sesekali Dae melirik ke arah Edy. Dae takut, kalau Edy ternyata memantaunya.


Saat Dae melirik ke arah Edy, ternyata Edy juga menatap ke arah Dae. Mereka saling bersitatapan. Dae langsung memalingkan wajahnya, dia tak mau dibilang naksir karena wajah tampan Presdirnya.

__ADS_1


"Lanjutkan saja pekerjaan kamu Dae. Jangan mencuri pandang ke arah saya," ledek Edy yang menahan senyumnya.


"Apa dia bilang! Mencuri pandang katanya gw!" bathin Dae memberontak.


__ADS_2