
Dae menatap Mamanya dengan cueknya. Saat mereka asyik menikmati sarapannya, dari luar terdengar suara mobil memasuki pekarangan rumah Dae.
"Siapa tuh bi...!" seru Mamanya.
"Biar Dae aja Ma yang lihat ke depan. Itu Ilyas mungkin Ma. Dia janji mau ngantar Dae ke kantor," ucap Dae yang langsung melangkah ke depan rumahnya.
Diluar rumah Dae, Ilyas memarkirkan mobilnya di depan teras Dae. Dia keluar dari mobil dan berjalan ke pintu rumah. Ketika Ilyas hendak mengetuk pintu itu, ternyata Dae sudah membukanya.
"Udah siap yanx?" tanya Ilyas saat melihat penampilan Dae yang rapi.
"Udah tapi aku belom selesai sarapan Yas. Kamu udah sarapan?" tanya Dae balik.
"Sudah, tadi bareng Mama sarapannya. Ayo berangkat. Mama kamu dirumah?" tanya Ilyas sambil mendongak ke dalam.
"Ada, kamu mau berpamitan?" tanya Dae.
"Iya."
"Ayo masuk, jumpai Mama di ruang makan," ucap Dae.
Ilyas masuk ke dalam rumah Dae dan berjalan kearah meja makan.
"Pagi Tante...!" sapa Ilyas dengan sopan.
"Pagi nak Ilyas!" sahut Mamanya.
"Mau berangkat kerja bareng ya?" tanya Mamanya Dae.
"Iya Tante, saya mau minta izin ngantar Dae ke kantor," jawab Ilyas.
"Ya udah kalian hati-hati ya di jalan, Tante duluan ke Butik dulu. Ada klien yang mau datang ke Butik Tante," ucap Mamanya Dae.
"Iya Tante."
Mamanya Dae pergi meninggalkan Ilyas dan menghampiri Dae.
"Dae, Mama berangkat duluan ya."
"Iya Ma, hati-hati dijalan," ucap Dae sambil menyalami Mamanya.
Mamanya Dae pun berangkat terlebih dahulu dari pada Dae dan Ilyas.
Sementara Dae, masih melanjutkan acara sarapannya dengan santai.
"Yas, ayo sarapan lagi kalau mau," ajak Dae.
"Aku sudah kenyang Dae. Jangan buru-buru Dae makannya," Ilyas mengingatkan Dae.
"Hehehe iya, buru-buru Yas. Takut telat," balas Dae dengan mulut penuh makanan.
"Dae hentikan makan seperti itu! Kamu bisa tersedak. Tidak perlu takut untuk terlambat ke kantor. Kalau kamu di pecat, aku akan menerimamu di Perusahaanku," tekan Ilyas yang tak suka melihat Dae seperti itu.
__ADS_1
"Kamu serius Yas?" tanya Dae tak percaya.
"Ya tentu, apalagi kalau kamu sudah menyandang Nyonya Ilyas, tidak perlu bekerja lagi. Kamu hanya kerja di kamar memuaskan ku diatas ranjang," jawab Ilyas dengan senyum penuh arti.
Dae menatap Ilyas dengan tatapan mengerikan. Wajahnya bersemu merah bercampur dengan kengerian. Dia membayangkan hari-harinya yang harus melayani Ilyas terus terusan.
"Kenapa wajahmu seperti itu?" tanya Ilyas menatapnya curiga.
"Ah nggak apa-apa Yas. Aku udah selesai sarapannya. Ayo kita berangkat," ajak Dae.
"Minum dulu Dae biar gak keselek," suruh Ilyas.
Dae pun meminum air putih untuk mendorong makanan masuk ke dalam tenggorokannya. Lalu dia mengajak Ilyas keluar dari rumahnya menuju mobil.
Lalu Ilyas pun membawa mobilnya menuju kantornya Dae. Selama dalam perjalanan, Dae hanya diam memikirkan bagaimana jika bertemu dengan Presdir Edy.
"Gimana nih, aku gak mungkin menghindarinya. Dia pasti menungguku di ruangannya. Hah, kenapa harus seperti ini. Membingungkan," bathin Dae sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Ilyas melihat dari sudut ekor matanya tingkah laku Dae. Dia mengerutkan keningnya sambil menatap fokus ke depan.
"Yanx, kamu kenapa seperti itu. Apa ada yang salah?" tanya Ilyas bingung.
"Eh nggak kok, aku hanya gak habis pikir dengan sikap Presdir Edy terhadapku," elak Dae yang tak ingin Ilyas tau kegelisahannya.
"Dia menyukaimu yanx. Aku bisa melihat dengan jelas dari tatapannya terhadapmu," ungkap Ilyas.
"Masa sih....! Gak mungkin Yas, dia tuh orangnya dingin kayak kulkas loh. Mana mungkin dia menyukaiku. Kamu ada-ada aja Yas," balas Dae.
"Aku harap kamu bisa menjaga jarak dengannya. Kamu paham kan maksudku," ucap Ilyas.
Dae dan Ilyas terus ngobrol, hingga tak terasa perjalanan sudah sampai di kantor Dae. Ilyas menurunkan Dae di depan pintu kantor.
"Aku duluan ya Yas. Nanti khabari kalau mau kemari, biar kita makan siang bareng ya," pinta Dae.
"Iya yanx, semangat bekerjanya ya. Kalau udah bosan kerja disini, kamu bilang sama aku ya," ucap Ilyas yang mendukung karier Dae.
"Pasti Yas, aku masuk dulu ya," Dae tersenyum menatap Ilyas.
"Tunggu Dae," panggil Ilyas.
"Ada apa Yas?" tanya Dae.
"Mana kiss nya. Kamu harus membiasakan diri untuk memberi kiss terhadapku ketika aku mengantarmu," tuntut Ilyas.
"Apa-apaan seperti itu. Buat apa seperti itu. Aku tidak mau," protes Dae.
"Harus, aku tak menginginkan penolakan," balas Ilyas.
"Iya iya," Dae pun mencium pipi kiri dan kanan Ilyas.
Lalu dia membuka pintu mobil dan melangkah keluar. Namun saat dia mau keluar, Ilyas menahan lengannya dan menunjuk bibirnya Ilyas dengan jari telunjuknya.
__ADS_1
"Ada apa dengan bibir kamu Yas?" tanya Dae polos.
"Yang ini belom di kasih bagian," ucap Ilyas tersenyum manis.
"Apakah itu juga diharuskan?" tanya Dae lagi.
"Tentu yanx. Cepatan!" suruh Ilyas.
Dae mendekatkan bibirnya ke bibir Ilyas hingga dia menarik nafasnya dan menyatukan kedua bibirnya.
Ilyas tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dia langsung melu*** nya dan lama kelamaan semakin menggairahkan buat Ilyas. Ilyas mencoba menahannya dengan melepaskan pagutan bibir mereka.
"Yas, aku sesak nih..., rengek Dae sambil memegang bibirnya yang terasa menebal.
"Habis kamu enak banget, seperti makanan kesukaanku," goda Ilyas.
"Yeeee, enak aja aku disamakan dengan makanan," rajuk Dae.
"Ya sudah, kamu gih masuk ke dalam. Nanti kamu terlambat karena kelamaan masuk ke dalamnya," ucap Ilyas.
"Baik, aku ke dalam ya, sampai ketemu nanti makan siang ya," balas Dae
Dae melangkah keluar dari mobil Ilyas. Lalu dia melambaikan tangannya kearah Ilyas. Dae pun masuk ke dalam. Dia melihat di meja Reseptionist sudah datang karyawannya. Dia berjalan menuju lift. Dae menunggu lift itu menghampirinya. Hingga suara yang tak bersahabat terdengar dibelakangnya.
"Pagi Bu Dae...!" sapa Pak Raffi.
Dae menoleh ke sumber suara dan melihat keberadaan Raffi dibelakang nya. Dae memutar matanya malas. Dia pun mendengus.
"Gimana semalam Bu Dae? Kita gagal kencan malamnya. Gimana kalau siang ini kita makan siang bareng diruangan saya saja. Tentu menyenangkan dan tak akan ada yang mengganggu kita berdua," ucap Pak Raffi tanpa tau malu.
Dae tak meresponnya, dia hanya diam dan menjaga jarak dari Pak Raffi.
"Kenapa Bu Dae diam? Apa ada yang salah dengan ucapan saya?" tanya Raffi tersenyum sinis.
"Maaf Pak Raffi saya permisi dulu," Dae meninggalkan Raffi di depan lift sendirian.
Dae memilih menghindar dan berjalan ke meja Resepsionis. Dae sengaja ngobrol sama karyawan dibagian itu.
Raffi hanya memandang Dae dengan tatapan sinis. Dia tau Dae menghindarinya. Tapi Raffi sudah memiliki rencana untuk mendapatkan Dae.
Ditempat lain, di dalam ruangan Presdir, Edy ternyata memantau aktifitas yang terjadi di lantai bawah. Dia bisa melihat apa yang terjadi dengan Dae dan karyawannya itu.
"Hmmm ternyata banyak yang menginginkanmu sayang. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Kau hanya milikku," gumam Edy tersenyum dingin.
Edy terus menatap pergerakan Dae. Dia melihat Dae yang menghindar dari Pak Raffi. Lalu Edy keluar dari ruangannya menuju lift. Dia ingin menyambut kedatangan Dae di dalam ruangan Dae sendiri. Edy ingin membuat Dae jantungan dengan kehadirannya di dalam ruangannya.
Sedangkan Dae, dia melirik kearah lift. Ternyata Pak Raffi sudah tidak kelihatan lagi. Dae pun bergegas menuju lift. Ketika lift terbuka, Dae masuk ke dalam hingga lift berhenti di lantai atas dimana ruangan Dae berada.
"Syukur gw selamat dari tuh orang. Nyebelin banget sih dia. Udah jelas-jelas punya istri, masih juga ngejar-ngejar gw," gerutu Dae kesal sambil masuk ke dalam ruangannya.
Dae tak menyadari keberadaan Presdirnya di dalam. Dia terus menggerutu tak jelas.
__ADS_1
Edy mendengarkan semua gerutuan Dae tentang Pak Raffi. Dia pun ikut tertawa dalam hati mendengar omelan Dae.
"Nih perempuan lucu sekali. Menggemaskan banget," bathin Edy tersenyum.