Calon Suamiku Ternyata Kakakku Sendiri

Calon Suamiku Ternyata Kakakku Sendiri
Bab 73


__ADS_3

Setelah menghubungi sahabatnya di kantor, Dae duduk di atas tempat tidurnya sambil termenung. Dae merasa bersalah sudah menerima keinginan Edy untuk memberinya kesempatan dalam meyakinkan perasaannya. Hingga akhirnya seperti ini.


Dae beranjak dari tempat tidurnya, dia mulai menyiapkan baju-bajunya untuk di bawa ke Jogja. Dia ingin menenangkan dirinya disana tanpa bebas masalah.


Lalu terdengar suara dering ponsel Dae. Dae enggan melihatnya, karena dia mengira itu dari Ilyas ataupun Edy.


Dae belum mengetahui tentang Edy yang sudah tidak berada di Indonesia lagi. Dae masih berpikir kalau Edy saat ini sedang berada di kantor menunggunya.


Deringan ponselnya terus berbunyi, Dae mendecak kesal.


"Siapa sih nelpon mulu," kesal Dae tapi tetap di lihatnya ponsel itu.


Ketika melihat nama yang tertera di layar ponselnya, Dae langsung mendelik.


"Papa!" gumam Dae yang langsung mengangkat panggilan dari Papanya.


"Assalamu'alaikum Pa!" ucap Dae.


"Wa'alaikumussalam nak. Kenapa lama banget ngangkat tlp Papa, sayang? Kamu gak kenapa-napa kan?" tanya Papanya khawatir.


"Dae gak apa-apa Pa, beneran deh," jawab Dae tenang.


"Tadi kata Mama, kamu sakit perut? Gimana keadaannya sekarang sayang?" tanya Papanya.


Dae mengerutkan keningnya, seolah-olah mengingat apa yang sudah terjadi tadi pagi. Dia baru teringat kalau tadi pagi dia mengatakan ke Mamanya kalau dia sakti perut.


"Dae udah baikan Pa. Papa dimana sekarang?" tanya Dae.


"Papa di kantor. Oh ya nanti Papa jemput ya. Kita lihat launching produk baru Mama kamu. Sekitar satu jam lagi Papa balik kerumah," ucap Papanya yang mengajak Dae ke tempat istrinya.


"Tapi Pa, Dae mau ke Jogja bareng Ani. Ada tugas dari kantor. Beberapa staf akan berangkat kesana untuk kerjaan," balas Dae.


"Loh kenapa mendadak begitu Dae? Tapi kamu sedang sakit, gimana mau berangkat?" tanya Papanya heran.


"Tadi Ani menghubungi Dae, Pa. Dan minta Dae untuk bersiap-siap berangkat ke Jogja. Gimana dong Pa?" tanya Dae.


Dae terpaksa tidak jujur sama Papanya. Karena kalau Dae jujur, pasti Papanya akan membenci Ilyas dan membenci dirinya juga.


"Ya sudah kalau gitu kamu harus temui Mama kamu untuk pamitan. Nanti Papa jemput ya sayang," ucap Papanya.


Dae pun pasrah tak mungkin menolak kemauan Papanya. Bagaimanapun Dae harus pamit sama Mamanya. Dia akan mengundurkan waktu keberangkatannya.


"Baiklah Pa, Dae akan siap-siap dulu ya, Assalamu'alaikum Pa," balas Dae.


"Tunggu Papa ya, Wa'alaikumussalam," balas Papanya.

__ADS_1


Obrolan pun selesai. Dae segera mandi. Dia pun berjalan ke arah kamar mandi. Dae merilekskan tubuhnya di dalam rendaman air yang beraroma teraphy kesukaannya.


Tak lama kemudian, Dae selesai dari kamar mandi. Dia pun bersiap-siap untuk pergi ke acara Mamanya. Dae menggunakan pakaian yang sederhana. Setelah selesai Dae keluar dari kamar. Dia menunggu Papanya di ruang tengah sambil nonton TV.


"Loh Non Dae mau keluar ya?" tanya si bibi yang datang dari luar.


"Iya bi, saya mau keluar sama Papa. Bentar lagi Papa datang jemput," jawab Dae.


"Oh ya bi, nanti kalau ada yang nyariin Dae, bilang lagi gak dirumah ya. Karena nanti sore saya mau berangkat ke Jogja," jelas Dae memberitahukan bibinya.


"Oh baik Non. Apa Non Dae mau saya buatkan minum sambil nunggu Tuan?" tanya si bibi.


"Ah boleh bi, buatkan saya jus mangga aja ya bi," pinta Dae.


"Baik Non, saya buatkan dulu ya. Non Dae tunggu sebentar ya."


Si bibi pun pergi meninggalkan Dae menuju dapur.


Sementara Dae melihat pesan di ponselnya. Dae bingung hingga mengerutkan keningnya.


"Tumben, kemana dia? Kok gak ada tlp ataupun ngirim pesan?" gumam Dae yang tak menyadari merindukan Edy.


"Kenapa gw jadi memikirkannya? Ihhhhh, buat bete aja. Ah mending gw lihat sosmed," gumam Dae lagi.


Kemudian si bibi datang mengantarkan jus mangga pesanan Dae.


"Oh iya bi, makasih banyak ya," balas Dae dengan senyum ramah.


"Saya balik lagi ya Non ke dapur, mau beres-beres," pamit si bibi.


"Iya bi."


Tak lama kemudian terdengar suara mobil masuk ke halaman rumah Dae. Dae pun segera berdiri dan berjalan ke depan melihat siapa yang datang. Dae melihat mobil Papanya sudah ada di halaman.


Papanya Dae keluar dari mobil. Dia berjalan menuju pintu rumah. Tak sampai kakinya menginjak di teras, pintu rumah sudah terbuka. Dae keluar dari rumah dalam keadaan yang sudah rapi.


"Ayo Pa, kita berangkat," ajak Dae.


"Kamu sudah siap?" tanya Papanya ketika melihat Dae.


"Sudah nih. Udah cantik kan!" seru Dae yang memperlihatkan kegembiraannya.


Dae sengaja memasang wajah bahagianya. Karena dia tak mau jika Papanya mengetahui masalah yang di hadapinya.


"Iya, anak Papa cantik banget. Pantes Edy tergila-gila sama kamu," goda Papanya.

__ADS_1


"Apa! Kenapa malah bicarakan Edy, hah..si Papa gak tau kalau gw lagi galau," bathin Dae dengan senyum nyengirnya.


"Ah Papa bisa aja. Udah yuk Pa berangkat."


Mereka pun masuk ke dalam mobil. Papanya Dae melajukan mobil menuju tempat acara istrinya.


"Emang jam berapa Pa, acaranya?" tanya Dae ketika sudah di perjalanan.


"Jam sebelas kata Mama. Semoga kita bisa sampai sebelum acara dimulai ya," harap Papanya.


"Iya Pa, nih jalanan macet lagi. Dae mau tlp Mama dulu deh," ucap Dae.


Dae pun mencoba menghubungi Mamanya. Namun tak diangkat juga.


"Gimana sayang? Nyambung?" tanya Papanya.


Dae menoleh ke arah Papanya dan berkata, "Nyambung sih Pa, tapi gak diangkat Mama. Gimana dong?!" tanya Dae.


"Kamu kirim pesan aja sama Mama. Bilang kalau kita sedang dalam perjalanan. Semoga bisa sampai secepatnya," ucap Papanya yang menyuruh Dae mengirim pesan.


"Iya Pa, Dae kirim pesan ke Mama, biar Mama tau kalau kita jadi datang," balas Dae.


Dae pun mengirim pesan ke Mamanya untuk memberi khabar tentang kedatangan mereka.


Setelah selesai, Dae kembali menatap ke samping jendela. Dia menghela nafasnya dengan berat. Sehingga terdengar oleh Papanya.


"Dae, ada apa?" tanya Papanya.


"Ah, maksud Papa?" Dae malah balik bertanya.


"Iya kenapa kamu seperti sedang ada masalah?" tanya Papanya menyelidik.


"Itu perasaan Papa aja. Dae lagi gak ada masalah kok Pa," kilah Dae.


"Benaran...?"


"Iya Pa, benar Dae gak ada masalah. Dae hanya memikirkan tentang keberangkatan nanti sore ke Jogja," jawab Dae.


"Apa kamu memikirkan Edy?" tanya Papanya yang asal menebak.


"Kenapa Papa malah mikir seperti itu? Dae gak sedang mikirin siapa-siapa Pa," jawab Dae.


"Hmmm, ya sudah. Tapi kalau kamu ada masalah, kamu harus cerita sama Papa dan Mama ya sayang. Jangan ada di sembunyikan ya," pinta Papanya.


"Iya Pa, Dae akan cerita kok," balas Dae.

__ADS_1


"Maaf ya Pa, saat ini Dae gak bisa cerita sama kalian. Karena masalah ini sangat rumit. Biarkanlah Dae yang menyelesaikannya," bathin Dae sedih.


__ADS_2