
Dae merasakan tubuhnya melemas mendengar tudingan Ilyas. Dia tidak menyangka Ilyas akan menebaknya seperti itu dan menyebutkan Presdirnya.
"Kenapa kamu berpikiran seperti itu Yas?" Dae tidak ingin menyangkal ataupun membela dirinya. Karena bagaimanapun dia memang menjalin kedekatan dengan Presdirnya, bahkan mereka sudah melakukan hal yang seharusnya tak terjadi.
"Aku hanya menebaknya saja sayang, kenapa kamu terlihat tegang seperti itu?" tanya Ilyas dengan membelai rambut Dae.
"Apakah dia sudah tau tentang kedekatan ku dengan Presdirku?" bathin Dae bertanya sambil memperlihatkan senyum canggungnya.
"Kamu tidak berpikir kalau aku punya hubungan dengan Presdirku kan Yas?" tanya Dae dengan memicingkan matanya.
"Mmmm, maaf Dae, aku mengajak kamu kesini bukan hanya menikmati makan malam. Tapi ada sesuatu yang ingin aku tanyakan sebelum kamu menjawab lamaranku," ucap Ilyas dengan wajah serius.
"K--kamu mau menanyakan apa Yas?" tanya Dae gugup.
"Ayo kita duduk dulu biar percakapan kita agak rileks. Aku tidak mau berbicara dengan berdiri di hadapan kamu," jawab Ilyas.
Lalu Ilyas mengajak Dae duduk kembali dan dia pun kembali ke kursinya.
"Hahhh, Dae, apakah aku bisa mendapatkan jawaban jujur dari kamu?" tanya Ilyas memancing.
Ilyas ingin Dae sendiri yang berkata jujur dengannya. Karena sampai detik ini Dae masih menyimpan rahasia itu dari Ilyas.
"Kejujuran apa yang kamu inginkan Yas?" tanya Dae dengan wajah yang mulai pucat.
"Apa hubungan kamu dengan Edy?" tanya Ilyas langsung.
"M--maksud k--kamu apa Yas? Hubungan apa?" tanya Dae balik dengan suara gemetar.
Dae masih tidak sanggup mengatakannya dengan Ilyas. Dia takut Ilyas akan membencinya.
"Apa kamu tidak bisa jujur Dae...!" bentak Ilyas yang sudah hilang kesabarannya.
Ilyas sudah lama menahan semuanya. Dia tau Dae memiliki hubungan dengan Edy bahkan sampai hubungan intim mereka, Ilyas juga mengetahuinya. Dia ingin melihat kejujuran Dae, walaupun itu menyakitkan baginya.
"Maaf Yas," Dae pun tertunduk tak berani menatap wajah Ilyas. Dae tak sanggup melihat kekecewaan di mata Ilyas.
__ADS_1
Ilyas menghela nafas beratnya, dia sadar akan sikapnya barusan yang membentak Dae.
"Maaf aku membentakmu, aku hanya ingin kejujuranmu Dae. Aku tidak ingin kehidupan kita selanjutnya berjalan dengan kebohongan," ucap Ilyas tegas.
"Maaf, aku tidak pantas lagi untuk kamu Yas. Kamu bisa mencari perempuan lainnya," ucap Dae memberanikan dirinya berbicara. Namun dia masih tetap pada posisi menunduk.
Ilyas merasakan jantungnya seperti tertusuk belati tajam yang membuatnya sulit bernafas. Dia menahan segala amarah yang sudah membuncah di dalam dadanya. Ilyas pun menghempaskan nafasnya dengan berat. Dia gak menyangka malam ini akan menerima kejutan dari kekasih yang dirindukannya. Padahal awalnya dialah yang ingin memberikan surprise, namun sang pencipta menghendaki hal lain, justru dia yang mendapatkan surprise mengerikan.
Ilyas menatap tajam ke arah Dae yang masih menundukkan wajahnya. Lalu Ilyas mencengkram pelan dagu Dae sehingga mata mereka saling bertatapan.
"Kenapa kamu ngomong seperti itu Dae? Aku ingin kejujuranmu. Apakah kau tidak mencintaiku selama ini?" tanya Ilyas mencoba sabar.
Dae menggeleng-gelengkan kepalanya dengan ketakutan. Dae melihat dari dalam matanya Ilyas yang mengisyaratkan luka yang dalam. Dia memang salah sudah menjalani hidup mendua kan Ilyas.
"Jawab Dae....!" bentak Ilyas.
Suara itu membuat Dae terkejut dan dia meneteskan air matanya karena rasa bersalah yang amat menyiksanya.
"Aku minta maaf Yas, aku minta maaf," ucap Dae dengan mata terpejam.
"Jawab Dae....! Apa kamu sudah berhubungan dengan Edy....!" bentak Ilyas dengan wajah beringas seperti raja hutan yang ingin memangsa sasarannya.
Dae terkejut hingga membuatnya terhuyung kebelakang. Dia membelalakkan matanya karena ketakutan. Seketika kakinya lemas tak sanggup menahan beban tubuhnya hingga dia memegang ujung meja yang berada di sampingnya.
"K--kamu tau da--dari mana Yas?" tanya Dae tak percaya mendengarnya.
"Apa dia sudah mengetahui tentang hubungan gw sama Edy? Atau mungkin dia tau gw udah melakukannya dengan Edy?" tanya Dae dalam bathinnya.
"Berarti benar kalau kalian punya hubungan?! Kamu selingkuh Dae dariku?" tanya Ilyas dengan suara kerasnya.
"Nggak Yas, aku gak bermaksud selingkuh dari kamu. Aku mencintaimu, aku sudah berusaha menghindarinya. Dengar Yas, aku tau aku salah telah melakukannya. Ku mohon Yas, kasih aku kesempatan, aku tidak akan berhubungan dengannya. Aku akan resign dari kantor," ucap Meka penuh kesedihan.
"Berarti kamu mengakuinya Dae, hah hahahaha, aku begitu bodoh tidak bisa melihatnya. Berapa kali kamu melakukannya Dae?" tanya Ilyas dengan suara pelan tapi menusuk kekantin Dae.
Dae menggeleng-gelengkan kepalanya lagi. Dia tak ingin menjawab dan mengatakannya. Dia hanya ingin mengakui kesalahannya dan berharap Ilyas mau memberinya kesempatan.
__ADS_1
"Kamu perempuan murahan Dae, sungguh murahan. Dasar jala**...! Jala** kamu Dae....!" bentak Ilyas yang seperti orang kesetanan berteriak.
Dae terjatuh di lantai, menutup telinganya yang tak ingin mendengar teriakan Ilyas yang mengatakan dirinya jala**. Lalu Dae bangkit dan berlari meninggalkan Ilyas dengan air mata yang terus mengalir seperti air terjun yang bebas tumpah membasahi pipinya. Dae terus berlari meninggalkan Ilyas dan keluar dari Restaurant itu.
Dia berjalan hingga tak tau arah, Dae menelpon Ani sahabatnya meminta dirinya untuk menjemputnya. Dae berhenti di sebuah masjid yang dekat dengan lokasi hotel itu. Dia mencari aman dengan berhenti disana.
Sesampainya di mesjid, Dae masuk ke dalam dan menjalankan kewajibannya. Dia berdo'a sambil menangis sesenggukan yang tiada hentinya. Hingga dia selesai Dae duduk menunggu Ani di depan tangga semen masjid itu.
Dae menunggu Ani sampai setengah jam, hingga Ani muncul di hadapannya.
"Dae..., apa yang terjadi hah...?" tanya Ani yang melihat Dae duduk di tangga semen.
Ani melihat mata Dae yang membengkak dan wajah pucatnya. Ani penasaran dengan keadaan Dae.
"An, bawa gw pulang. Gw mau istirahat dirumah," pinta Dae dengan suara lemahnya.
"Lo kenapa bisa disini? Apa Edy menyakiti Lo hah. Bilang Dae..., biar gw kasih pelajaran dia," bentak Ani emosi.
"Bukan An, bukan dia. Please An, gw mau balik ke rumah. Gw ingin istirahat," pinta Dae lagi.
"Ok, ok, gw akan antar Lo pulang sekarang kerumah ya," balas Ani.
Lalu Ani dan Dae pulang ke rumah Dae. Di sepanjang jalan, Dae tidak membuka suaranya. Dia hanya diam dan tak ingin berpikir apapun. Karena saat ini kondisi pisik, hati dan tubuhnya sedang sakit.
Begitu juga dengan Ani, dia enggan bertanya karena melihat kondisi Dae yang seperti itu. Dia memilih diam dan fokus mengendari motornya. Hingga beberapa menit, mereka sampai di rumah Dae.
Dae segera turun dari motor Ani tanpa ingin berlama-lama, dia menyuruh Ani pulang.
"An, makasih udah nganter gw. Lo lebih baik pulang sekarang. Oh ya besok gw izin tidak masuk kerja dulu ya," ucap Dae.
"Baiklah, besok gw akan datang kesini lagi ya. Gw harap Lo baik-baik aja besok. Gw balik dulu," balas Ani sambil tersenyum.
Ani pergi meninggalkan rumah Dae dengan berjuta pertanyaan yang ingin di tanyakan ya. Namun dia simpan sampai esok hari tiba.
Sementara Dae, masuk ke dalam rumah dengan wajah sendunya. Dae tak menghiraukan teguran bibinya. Dia melangkah masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
Sesampainya di dalam kamar, Dae mendengar bunyi dering ponselnya. Dia melihat nama Ilyas disana, Dae tak ingin mengangkatnya. Ponsel Dae terus berdering, namun tak di gubris Dae. Dia pun memilih membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan memejamkan matanya hingga dia terlelap karena capek menangis.