Calon Suamiku Ternyata Kakakku Sendiri

Calon Suamiku Ternyata Kakakku Sendiri
Bab 79


__ADS_3

Dae masih memperhatikan wajahnya di cermin, melihat wajah cantiknya. Tiba-tiba Ani keluar dari dalam kamar mandi dan melihat Dae yang bengong di depan cermin.


Ani menghampiri Dae, tapi Dae justru tak menyadari kehadiran Ani yang sudah berdiri di sampingnya. Dae masih berkutat dengan pikirannya. Hingga Ani menepuk pundaknya.


"Woyyyy, malah melamun. Jangan di lihatin mulu tuh wajah!" tegur Ani.


"Ihhhh Lo nih, seneng banget ngagetin gw," sewot Dae. Dae masih menatap wajahnya di cermin.


"Ya ampun Dae....., mau sampai kapan Lo ngeliatin tuh wajah. Lo emang cantik kok, makanya dua Presdir jatuh cinta sama Lo, hebat....," Ani menepuk-nepuk kedua tangannya memberi selamat atas kehebatan Dae.


"Buat apa di sukai dua Presdir tapi akhirnya sakit," ketus Dae.


"Yeeee, Lo yang buat. Coba Lo gak memberi harapan buat si Edy, pasti aman-aman aja."


Ucapan Ani ada benarnya, Dae memberi harapan terhadap Edy. Dan terlebih lagi mereka sampai melakukan hubungan intim. Tentu perbuatan itu sangat menyakitkan Ilyas.


"Lo bisa diem gak!" geram Dae. "Gw ke sini mau happy tau, bukan mengingat mereka berdua," kesal Dae.


"Duh sahabat gw nih, cepat banget marahnya. Jangan marah-marah dong Dae...,nanti cepat tua loh....," goda Ani.


"Udah yuk kita jalan. Gw dak kelaparan nih," ajak Dae.


"Gw siap-siap dulu." Ani bergegas memakai pakaiannya dan merias wajahnya seadanya.


"Buruan An....., nih dah jam berapa?" Dae merasa kesal karena Ani ngaret waktu. Padahal kemaren dia yang sangat bersemangat untuk bangun pagi, namun hasilnya justru dia yang telat bangun.


"Iya, iya..., nih juga dah siap kok. Yuk jalan," Ani pun segera menggandeng lengan Dae keluar dari dalam kamar. Mereka berjalan menuju Restaurant di lantai bawah.


Sesampainya di lantai bawah, Dae dan Ani masuk ke dalam Restaurant. Banyak mata yang melihat kedatangan mereka. Terutama pelayan laki-laki. Kecantikan Dae membuat mereka terpesona.


"Iku cah ayu tenan," gumam salah satu pengunjung.


"(Cantik banget tuh perempuan)."


"Ing wayah esuk kita disuguhake kanthi pemandangan sing apik," ucap salah seorang pelayan terhadap temannya.


"(Pagi-pagi kita di suguhkan dengan pemandangan cantik)."

__ADS_1


"Hahaha, sepisan wae ora apa-apa ndeleng wong wadon ayu," sambung teman pelayan itu.


"(Hahaha, sesekali gak apa-apa ada penampakan wanita cantik)."


Tak hanya pelayan dan beberapa pengunjung laki-laki saja yang terpesona melihat kecantikan alami Dae. Anak-anak kecil yang ikut sarapan pagi di Restaurant itu pun ikut takjup dan memberikan pujian terhadap Dae.


Dae dan Ani sengaja memilih tempat duduk yang dekat dengan pintu masuk. Setelah mengambil makanan sarapan di meja hidangan, Dae dan Ani mulai menyantap makanannya. Mereka tak begitu banyak ngobrol. Terutama Dae, dia benar-benar menikmati sarapan paginya.


Setelah mereka menyelesaikan sarapan pagi, Dae dan Ani melanjutkan rencana mereka untuk jalan-jalan. Mereka mulai perjalanan ke Keraton.


"Cha, emang Lo tau jalan ke sana?" tanya Ani.


"Ya gak tau sih. Tapi Lo tenang aja, kan ada google map," balas Dae dengan menaik-naikkan alisnya.


"Hahahaha, pinter juga Lo."


"Makanya Lo jangan lola banget. Masa gitu aja gak tau. Wah susah nih Lo kalau ke dasar, lupa dengan si eyang google," ledek Dae tanpa menoleh ke arah Ani.


Ani malah tertawa terbahak-bahak mendengar Dae mengatakan eyang.


"Wkkkkkkk, sarap Lo bilang google eyang," balas Ani.


"Ah siap bos......! Perintah akan saya laksanakan," ucap Ani sambil cekikikan.


Dae mengendarai mobilnya mengikuti jalur yang diarahkan. Sebelum keduanya sampai di tempat tujuan, Dae dan Ani memilih singgah di supermarket terlebih dahulu.


"Wah sayang banget ya ke Jogja gak ngajak kekasih," gumam Ani sambil mendorong kereta belanjaannya.


"Lo kalau ngomong jangan kumur-kumur. Dan jangan membayangkan sesuatu yang tidak akan mungkin, kecuali Lo nikah dan bawa suami Lo ke sini," ucap Dae.


"Hahaha, Lo nguping ya ucapan gw?" tanya Ani dengan nada mengejek.


"Gw gak nguping, cuma kedengaran aja," balas Dae yang gak mau di ledekin.


"Sama aja lah, yang penting mendengar," Ani pun tak mau kalah.


Keduanya terus beradu mulut hingga orang-orang di sekitar mereka menoleh ke arah Dae dan Ani. Namun kedua sahabat itu tak memperdulikannya. Karena hal seperti itu sudah biasa mereka jalani.

__ADS_1


Setelah selesai dari supermarket, mereka lanjut ke Keraton. Dae melajukan mobilnya dengan kecepatan yang sedang. Ani memang meminta Dae untuk mengurangi kecepatan, dia ingin menikmati suasana jalanan kota Jogja. Hingga akhirnya mereka sampai di tempat tujuan.


"Udah sampai ya Dae?" tanya Ani yang melihat sekeliling.


"Heum, kita sudah sampai. Ayo turun," ajak Dae.


Ani dan Dae keluar dari dalam mobil. Mereka berjalan ke arah Keraton. Dan sebelum mereka masuk, keduanya di sambut dengan salah satu Abdi Dalem yang akan memandu mereka berkeliling di dalam lingkungan Keraton.


"Selamat datang Mbak," ucap Abdi Dalem tersebut.


Ani dan Dae yang tidak mengerti hanya mengangguk dan tersenyum melihat sikap sopan abdi tersebut. Kemudian sang Abdi Dalem langsung menawarkan diri untuk membantu mereka jalan-jalan di dalam Keraton. Dae dan Ani menikmati perjalanannya dengan melihat-lihat isi dari Keraton. Keduanya menghabiskan waktu selama satu jam dengan berfoto ria di tempat-tempat tertentu yang di perbolehkan untuk mengambil foto.


Setelah selesai menikmati suasana Keraton, mereka meninggalkan tempat itu. Dae dan Ani memilih melanjutkan perjalanan ke Parangtritis. Dae ingin menikmati suasana laut.


"Kita mau kemana nih Dae?" tanya Ani yang belum tau kemana Dae membawanya.


"Gw mau main air," jawab Dae ngasal.


"Main air? Loh berarti kita balik ke hotel?" tanya Ani bingung.


"Bukan ke hotel An, tapi kita akan ke Parangtritis, Pantai Selatan. Lo pernah dengarkan?" tanya Dae sambil fokus menyetir.


"Oh.....ke sana toh. Wah pas banget tuh, gw pengen beli rok pantai dan topi pantai di sana. Kayaknya enak tuh cuci mata di pantai," jawab Ani senang.


"Emang Lo mau nyuci mata pake apa?" ucap Dae yang merasa lucu mendengar ucapan sahabatnya itu.


"Maksud gw tuh cuci mata, ya lihat-lihat pantai. Mana tau ada laki-laki tampan yang akan menghampiri kita, hihihi," balas Ani sambil kecikikan.


"Hadewww, di otak Lo hanya ada laki-laki mulu. Gini nih kalau di tinggal kekasih, sedikit bergeser otaknya," ketus Dae.


"Yeeeee, masih di tempatnya ya nih. Lo mau bongkar dan lihat isi kepala gw, ada hal yang bergeser," balas Ani yang gak mau kalah.


"Hahaha, kalau gw bongkar, Lo tinggal nama dan ada gelarnya nanti," ucap Dae tertawa dalam hati sambil melirik ke arah Ani.


Ani pun terdiam dan memikirkan ucapan Dae. Hingga akhirnya dia tersadar. "Sialan Lo Dae...., maksud Lo gw almarhum gitu, asem banget Lo," umpat Ani yang merasa kesal.


Namun pertengkaran seperti itu mereka anggap hal biasa. Tidak ada yang tersinggung dengan apa yang di lontarkan satu sama lain. Mereka happy menikmati perjalanan ke Pantai Parangtritis. Hingga akhirnya perjalanan mereka selesai, Dae dan Ani tiba di lokasi dengan waktu yang tidak lama.

__ADS_1


"Lihat tuh Dae....!" seru Ani sambil menunjuk ke arah luar mobil mereka.


__ADS_2