Calon Suamiku Ternyata Kakakku Sendiri

Calon Suamiku Ternyata Kakakku Sendiri
Bab 91


__ADS_3

Ani dan Dae masuk ke dalam pesawat. Mereka mencari tempat duduk yang sesuai dengan nomernya. Ani mendapatkan tempat duduk di dekat jendela, sementara Dae berada di sebelahnya. Tapi ternyata Denny sengaja memotong Dae sehingga dia menempati tempat duduk Dae.


"Loh kenapa kamu duduk di situ?" tanya Dae heran.


"Aku ingin ngobrol bareng Ani," jawab Denny dengan wajah memohon. Dan Dae bisa melihatnya. "Kamu duduk di tempat dudukku saja ya Dae....," pinta Denny.


Dae pun menghela nafasnya dengan berat dan kesal. Karena dia harus duduk di sebelah Rion. Akhirnya Dae berjalan kembali ke bagian depan. Dae melihat bangku kosong di dekat jendela. Rion merasa puas karena Denny mau menuruti permintaannya. Dan Denny juga merasa di untungkan dengan keinginan Rion.


"Ini pasti keinginan kamu yang meminta Denny duduk di sana," tebak Dae dengan mengerucutkan bibirnya.


"Hahaha, kamu pinter kayak dukun bisa main tebak-tebakan," ledek Rion. Tentu saja ucapan Rion membuat Dae semakin kesal.


Dae memelototi matanya ke arah Rion. Dia memperlihatkan wajah kesalnya. Namun Rion bukannya takut. Dia justru cuek dan tidak perduli sama sekali dengan kemarahan Dae.


"Dasar aneh," gerutu Dae.


"Aneh begini, kita sudah pernah melakukannya Sweety," balas Rion penuh kepuasan.


"Ihhhhhhh," geram Dae sambil memukul-mukul pahanya karena kesal.


"Udah jangan marah-marah. Nanti cantik kamu hilang. Mendingan kamu tiduran menunggu kita sampai di Jakarta," suruh Rion.


"Bodo'," Dae memiringkan tubuhnya membelakangi Rion dan dia menghadap ke jendela pesawat.


Sementara Ani merasa kesal dengan kehadiran Denny yang mengambil alih tempat duduk Dae.


Apalagi Ani melihat Dae duduk di samping Rion selama perjalanan ke Jakarta.


"Sialan tuh si Dae. Bisa-bisanya dia mendapat keberuntungan duduk di sebelah Rion. Awas aja Lo Dae, gw akan buat Lo menyesal karena sudah menyinggung perasaan gw," bathin Ani yang sangat cemburu melihat kedekatan Dae dan Rion.


Selama perjalanan di dalam pesawat, Dae sengaja memejamkan matanya untuk menghindari Rion. Dia tidak ingin membuka obrolan bersama Rion.


Tetapi berbeda dengan Rion. Dia sengaja mengganggu Dae, supaya Dae mau ngobrol dengannya. Rion merebahkan kepalanya ke arah bahu Dae.


Dae pun tersentak saat bahunya tertimpa benda keras. Dia menoleh kesamping dan melihat kepala Rion sudah bertengger di bahunya.


"Ihhhh nih orang gangguin gw Mulu sih. Apa gak capek ya deketin gw terus," gumam Dae kesal. Dae mengembalikan posisi kepala Rion berdiri seperti semula. Dan dia sengaja tidak memejamkan matanya karena ingin melihat perbuatan sengaja Rion.


Rion yang pura-pura tidur, mengintip dengan membuka sebelah matanya.

__ADS_1


"Ngapain kamu ngintip-ngintip. Pura-pura tidur segala lagi," ketus Dae yang terus menatap Rion.


Rion yang sudah kepergok, akhirnya membuka seluruh matanya hingga mereka saling bertatapan.


"Habis kamu tidur. Aku bosen Dae kalau harus diam saja. Apa kita tidak bisa saling ngobrol gitu?" tanya Rion.


"Nggak, aku lagi males ngobrol. Sudahlah, lebih baik kamu tidur menunggu sampai tiba di Jakarta," Dae mengembalikan kata-kata Rion yang diucapkannya tadi buat Dae.


"Hah....baiklah, aku akan tidur. Tapi lain kali kamu mau ya Sweety aku ajak ketemuan dan kita ngobrol banyak," pinta Rion.


"Tidak janji," jawab Dae cuek.


Kemudian Dae kembali memejamkan matanya dan memiringkan tubuhnya ke arah jendela. Rion hanya bisa melihat Dae yang sudah membelakanginya.


Di tempat lain, Ilyas semakin di buat gundah. Hatinya masih terasa sakit atas pengkhianatan Dae terhadapnya. Namun di sisi lain, dia sangat mencintai Dae.


"Kenapa Dae tidak menghubungiku? Apa dia benar-benar pergi meninggalkanku dan tidak mau meminta maaf lagi," gumam Ilyas sambil menatap ke arah foto Dae.


Saat Ilyas sedang fokus menatap foto Dae, asistennya masuk ke dalam ruangannya.


"Presdir, kami mendapatkan khabar kalau perusahaan Tuan Edy sudah berganti kepemimpinan. Dan saat ini perusahaan itu di pegang oleh Papanya sendiri," ucap Asistennya memberitahu.


"Presdir Edy sudah berangkat ke Luar Negeri. Tapi tidak diketahui dimana dia berada," jawab Asistennya.


"Baik, pantau terus keadaan perusahaan itu. Dan khabari jika ada hal yang terbaru," perintah Ilyas.


"Baik Presdir," balas Asistennya. Lalu Ilyas kembali fokus ke arah foto Dae.


Sedangkan di pesawat, Dae dan Rion akhirnya tertidur. Mereka menikmati perjalanan ke Jakarta dengan istirahat memejamkan mata. Hingga sejam perjalanan, pesawat sampai di Jakarta. Pemberitahuan pun langsung disampaikan ke seluruh penumpang pesawat.


Dae merasa senang akhirnya dia terbebas dari Ani dan Rion. Dae ingin segera tiba di rumah dan bertemu dengan kedua orang tuanya.


"Akhirnya kita sampai juga ya Dae," ucap Rion dengan meregangkan otot-ototnya.


Dae tak menggubrisnya karena dia sibuk memikirkan orang tuanya. Rasa rindu dan tak sabar nya membuat Dae melupakan keberadaan Rion.


"Dae kamu Mala melamun," tegur Rion.


"Eh kenapa? Kita sudah sampai kan?" tanya Dae.

__ADS_1


"Iya kita sudah sampai kok. Kamu kok malah melamun sih Dae. Emang kamu mikirin apa?" tanya Rion yang pengen tau.


"Bukan urusan kamu. Aku mau turun. Ingat jangan coba-coba mencari info tentang diriku, mengerti!" tekan Dae.


"Lihat nanti Dae. Jika takdir mempertemukan kita dan membuat kita bersatu, kenapa tidak aku mencari mu," balas Rion dengan senyum tampannya.


Dae tak mau mendengarkan ucapan Rion yang dianggapnya gak masuk akal. Dia segera keluar dan melewati Rion begitu saja.


Sedangkan Ani, melihat Dae yang buru-buru keluar dari pesawat. Ani pun mengejar Dae.


"Sorry Den, aku duluan ya," pamit Ani yang keluar dari bangkunya melewati Denny dan Rion yang berada di bangku depan.


Denny pun keluar dari tempat duduknya dan menghampiri Rion.


"Gimana? Kenapa Dae pergi buru-buru gitu Rion?" tanya Denny heran.


"Ah biasa perempuan jinak-jinak merpati," canda Rion sambil tersenyum.


"Lo bisa aja. Udah sampai mana pendekatan Lo?" tanya Denny yang berdiri di samping Rion.


"Belum apa-apa. Gw masih coba mencari sesuatu yang membuatnya senang," jawab Rion.


"Gw dukung Lo. Semoga dia berjodoh dengan Lo Rion. Habis udah lama Lo menjomblo. Dan ketika gw melihat Lo tertarik dengan Dae, gw merasa senang. Akhirnya sahabat gw tidak diragukan masih normal," ucap Denny tertawa kecil.


"Asem banget Lo. Lo pikir gw gay, gak normal gitu. Sialan," ketus Rion.


"Hahaha, udah yuk kita turun. Gw udah gak sabar nih mau makan masakan Nyokap Lo," ajak Denny yang ternyata sepupunya Rion.


"Mana yang lainnya?" tanya Rion.


"Tuh dibelakang. Mereka turun dari belakang sana. Nanti juga ketemu di luar, yuk," ajak Denny.


Rion pun mengikuti Denny keluar dari pesawat hingga mereka bertemu dengan dia sahabatnya.


"Lama banget sih diatas. Capek gw nungguin di bawah," kesal Dion.


"Sorry tadi lagi ada tlp dari Nyokap," balas Rion.


Lalu mereka berempat berjalan ke dalam dan mengambil bagasi masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2