
Dae dan Edy masih dalam keadaan diam. Terutama Dae yang merasa canggung saat berduaan lagi dengan Edy.
"Dae, gimana perasaan kamu, apakah kamu senang saat aku melamar mu kemaren?" akhirnya Edy membuka suaranya.
"Ah iya, aku senang Ed bercampur kaget. Karena kamu tidak memberi khabar terhadapku duluan," jawab Dae yang memaksakan senyumnya.
"Ya, aku ingin segera menikahimu. Aku tidak ingin kamu diambil sama yang lain. Aku sangat mencintaimu Dae," ucap Edy yang memiringkan tubuhnya duduk menghadap Dae.
Edy mengambil tangan Dae dan menggenggamnya. Edy merasa bahagia karena menurutnya Dae menerima lamarannya.
"Kita mau kemana Ed?" tanya Dae.
"Aku ingin ngajak kamu makan di sebuah cafe yang bagus. Semoga kamu juga menyukainya," jawab Edy semangat.
"Gimana dengan kerjaan ku? Aku gak enak sama karyawan lain. Bagaimana jika ada yang datang ke ruangan ku untuk melaporkan sesuatu mengenai kerjaan?" tanya Dae lagi.
Dae tidak ingin karyawan lain berpikir kalau dia yang mencoba mendekatkan diri dengan Presdir mereka. Apalagi saat ini dia dan Ani tidak lagi menjadi sahabat yang baik.
"Kamu tenang aja sayang, aku sudah atur semuanya. Biar Asistent ku yang mengurusnya," jawab Edy yang mencoba membuat tenang Dae.
Sepanjang perjalanan menuju cafe yang ingin diperlihatkan Edy, keduanya ngobrol santai sambil sesekali bercanda. Hingga akhirnya mereka sampai ke tempat tujuan.
"Ayo kita sudah sampai," ajak Edy.
Dae melihat keluar jendela kaca dan melihat sebuah cafe yang besar dan sangat unik dengan gabungan gaya modern dan tradisional Sunda.
"Kamu sering kemari Ed?" tanya Dae saat dia melangkah keluar dari mobil.
"Tidak baru kali ini. Ayo," ajak Edy semangat.
Dae belum mengetahui bahwa ini adalah hadiah pernikahan mereka buat Dae. Sebuah cafe yang di bangun Edy untuk Dae agar dia tidak perlu bekerja di Perusahaannya. Dan Dae bisa bebas mengekspresikan dirinya dalam mengelola sebuah Resto.
"Ayo, kebetulan aku sudah laper Ed," Dae pun semangat untuk masuk ke dalam cafe.
Saat mereka masuk ke dalam, di pintu bagian depan mereka di sambut dengan mengalungkan sebuah bunga kalung ke leher Dae dan Edy.
"Selamat datang Tuan, Nyonya," ucap kedua pelayan itu sambil menunduk.
Dae merasa takjub karena disambut dengan memberikan kalung bunga.
__ADS_1
"Terima kasih," balas Dae.
"Ed, apa ini tidak berlebihan ya. Mereka menyambut kita sangat antusias. Tapi kenapa pengunjung lainnya biasa saja ya Ed?" tanya Dae bingung.
Ternyata Dae memperhatikan penerima tamunya tidak melakukan hal yang sama terhadap pengunjung yang lainnya setelah mereka masuk.
"Sudah jangan di pikirkan. Nanti aku akan memberitahumu. Sekarang kita makan dulu. Kamu kan laper," ucap Edy yang mengajak Dae ke meja yang sudah disediakan buat keduanya.
"Silahkan Tuan di sebelah sini," salah satu pelayan memandu mereka ke meja yang di sediakan.
"Ini buku menunya dan Tuan serat Nyonya bisa melihat menu-menunya terlebih dahulu. Nanti kami akan datang kembali," ucap pelayan itu yang memberikan buku menunya.
"Terima kasih Mbak," balas Dae tersenyum.
Setelah kepergian pelayan itu, Dae mulai melihat-lihat buku yang di kasih pelayan tersebut.
"Kamu mau pesan apa sayang?" tanya Edy yang ikut melihat buku menunya.
"Aku ngikut kamu aja deh Ed," jawab Dae.
Kemudian pelayan pun datang kembali dan mencatat menu yang di pesan keduanya. Setelah pelayan itu pergi dari meja mereka, Dae mulai membuka obrolan lagi.
"Ya kamu pernah bertemu. Dan dia sangat marah kepadaku. Tapi aku tetap mempertahankan kamu, karena aku sangat menyayangimu Dae," jelas Edy.
"Ya dia sangat marah ketika mengetahui tentang kita berdua. Ternyata dia memantau diriku selama ini. Dan dia membenciku serta hubungan kami sudah berakhir saat itu," Dae pun menjelaskan keadaannya dengan Ilyas.
"Syukurlah kamu tidak dengannya. Karena aku merasa dia orang yang tempramen. Dan aku senang karena bisa duluan melamar mu," balas Edy dengan senyum menawannya.
"Aku merasa seperti perempuan yang selingkuh dari dia. Wajar jika dia marah Ed. Kamu juga pasti seperti itu kalau aku selingkuh darimu pasti marah," ucap Dae menyindir Edy.
"Kamu benar, tapi tidak salah bukan mendengar penjelasan kekasihnya. Kalau bisa menerima, kenapa harus berpisah," balas Edy seenaknya.
Dae diam saja, karena dia tidak ingin membahasnya. Perasaan bersalah terhadap Ilyas sangat membuatnya tidak nyaman. Tapi yang tidak bisa diterima Dae karena ucapan Ilyas yang menyakitkan hatinya.
"Dae jangan dipikirkan. Kita buka lembaran baru ya. Aku ingin kita sama-sama memperbaiki diri dan menerima satu sama lain," Edy menggenggam tangan Dae dan mengecupnya dengan lembut.
Setelah mereka asyik dalam obrolan, pelayan datang mengantarkan pesanan makanan. Pelayan itu meletakkan pesanan mereka di meja makan.
"Silahkan Tuan dan Nyonya, semua pesanannya sudah di hidangkan. Kalau ada perlu sesuatu bisa memanggil saya kembali," ucap pelayan itu dengan ramah.
__ADS_1
"Terima kasih," balas Dae.
"Wah enak banget nih makanannya. Yuk kita makan," akan Dae dengan wajah berbinar saat melihat makanan yang di hidangkan.
"Ayo kita makan," Edy pun mulai menyantap makanan yang di hidangkan.
Mereka sangat menikmati makanan itu dan sesekali mereka berdua ngobrol asyik. Dae sangat senang karena Edy terlihat berbeda.
Ketika Dae dan Edy menikmati makanannya, tiba-tiba datang seseorang menyamperi keduanya.
"Hei Sweety, kamu di sini?" tanya Rion yang kebetulan memang sedang bertemu dengan teman-temannya di Resto tersebut.
Dae dan Edy serentak menoleh ke arah sumber suara. Dae begitu terkejut saat melihat kehadiran Rion. Dia tidak menyangka bisa bertemu dengan Rion. Wajah Dae seperti seorang kekasih yang ketahuan selingkuh. Dae merasa canggung dan tak nyaman.
"Loh kamu di sini juga?" tanya Dae yang berusaha menyembunyikan kecanggungan nya.
"Iya, aku ada janji sama teman-teman yang lainnya. Dan dari tadi aku sudah lihat kamu. Makanya aku samperin kamu sekarang," jawab Rion yang masih berdiri di hadapan mereka.
"Oh..., oh ya ini kenalkan..," Dae memperkenalkan Edy kepada Rion.
"Saya tunangan Dae," sambung Edy langsung.
"Saya Rion, Dokter Rion," balas Rion dengan wajah dinginnya.
Edy menatap tak suka ke arah Rion karena dia bisa melihat bahwa laki-laki di hadapannya memiliki perasaan terhadap Dae.
"Ah aku sepertinya harus kembali ke meja. Karena teman-teman aku sudah pada kumpul," ucap Rion sambil menunjuk ke arah mejanya.
"Ok," balas Dae canggung.
Rion pun tersenyum menatap Dae dengan kedipan sebelah matanya. Lalu dia kembali menoleh ke Edy dengan ekspresi dingin. Kemudian Rion meninggalkan keduanya dan kembali ke mejanya.
"Siapa dia?" tanya Edy tiba-tiba.
"Oh itu teman ketemu di Jogja kemaren," jawab Dae beroura-pura acuh.
"Sepertinya dia memiliki perasaan terhadapmu. Aku bisa merasakannya," ucap Edy yang mencoba mengorek informasi.
"Masa sih, itu perasaan kamu aja Ed. Udah yuk kita lanjut makan," balas Dae yang mengalihkan pembahasan.
__ADS_1
Mereka pun kembali menikmati makan siang bersama. Dae berusaha tenang dalam memakan hidangan diatas mejanya.