
"Baik, saya tidak bisa menolak keinginan baik Presdir Ilyas," ucap Sekretaris Lu.
Ilyas menatap Dae dari tempat duduknya saat mereka sudah selesai dengan meetingnya.
Tatapan yang mampu meluluhlantakkan hati seorang Dae.
Dae bisa melihat dari ekor matanya, kalau Presdir Ilyas sedang mencuri pandang kearahnya.
Lalu Presdir Ilyas berdiri dari kursinya meninggalkan ruangan itu menuju ruangannya.
"Silahkan Sekretaris Lu, anda dan yang lainnya bisa menuju Resto kami yang berada di sebelah. Saya akan mengantarkan kalian kesana," ucap Asisstent yang bernama Ayu itu.
"Baik Bu Ayu, terima kasih," ucap Sekretaris Lu.
Kemudian Asisstent Ayu berjalan duluan keluar dari ruangan dan di ikuti oleh Sekretaris Lu dan Pak Raffi. Dae lebih memilih berjalan dibelakang mereka.
Saat ini Dae ingin sekali kembali ke kantor mengerjakan pekerjaannya daripada makan siang bersama Presdir Ilyas.
Saat mereka melewati ruangan Presdir Ilyas, pintu ruangan itu terbuka. Sekretarisnya keluar dan meminta Dae masuk ke dalam ruangannya.
"Maaf Bu Dae, anda diminta keruangan oResdir Ilyas sekarang. Dan mereka akan menyusul yang lainnya ke Resto," ucap Sekretarisnya.
"Saya Pak?!" tunjuk Dae ke dirinya.
"Ya anda Bu Dae?"
Dae kebingungan karena dia merasa gugup. Dan menoleh kearah Sekretaris Lu, meminta bantuannya.
Sekretaris Lu justru mengangkat bahunya yang menandakan bahwa dia tidak tau menahu. Sedangkan Raffi merasa cemburu dan mengepalkan tangannya di dalam saku celananya.
Dae pun menghela nafasnya dan melangkah menuju ruangan Presdir Ilyas.
Asisstent Ayu membawa Sekretaris Lu dan Manager Produksi ke Resto yang berada di sebelah Perusahaan mereka.
Saat ini, Dae masih berdiri di depan pintu ruangan itu, dia tidak berani masuk ke dalam. Sehingga Sekretaris Presdir Ilyas menegurnya.
"Bu Dae silahkan masuk, anda sudah ditunggu Presdir Ilyas.
"Oh iya, maaf saya masih bingung kenapa Presdir Ilyas memanggil saya," ucap Dae.
"Anda sudah ditunggu Bu Dae di dalam," Sekretaris itu mengingatkan Dae kembali.
__ADS_1
Lalu Dae membuka pintu itu perlahan hingga terbuka seluruhnya dan memperlihatkan sosok laki-laki yang sangat tampan dan berkharisma.
Ilyas sedang duduk di kursi kebesarannya. Dia menatap kearah Dae yang baru saja membuka pintu itu lebar.
"Silahkan masuk Bu Dae," ucapnya.
"Iya Pak, maaf ada apa ya Presdir Ilyas memanggil saya? Bukankah pertemuan kita sudah selesai untuk membahas soal kerjaan?" tanya Dae yang masih berdiri di depan pintu.
Ilyas beranjak dari tempat duduknya. Lalu dia berjalan menghampiri Dae yang diam mematung karena menahan degup jantungnya.
Dae menatap kearah Ilyas dengan jantung yang berdebar. Saat Ilyas berjalan kearahnya, kaki Dae sempat gemetar karena grogi bercampur takut.
"Mau apa dia? Kenapa tatapannya begitu tajam seakan-akan gw nih mau diterkamnya. Duh kok jadi salah tingkah gini sih Dae....Santai Dae...jangan grogi, anggap aja dia tidak tampan tapi jelek, jadi kamu gak salah tingkah gini....!" teriak Dae dalam hatinya.
Ilyas terus melangkahkan kakinya mendekati Dae hingga dia telat berdiri dihadapan Dae.
"Bu Dae, apa khabar? Kita bertemu lagi di kantor saya," bisik Ilyas ditelinga Dae.
Dae melototkan matanya tak percaya dengan sikap Presdir Ilyas yang ternyata mesum.
"Sa...saya baik kok Pak," jawab Dae gugup.
"Oh ya Bu Dae, saya langsung to the point saja dengan anda. Apakah kamu sudah memiliki kekasih?" tanya Ilyas serius.
"Penting buat saya Bu Dae. Apa Bu Dae mau bertanggung jawab atas kegagalan kerja sama Perusahaan?" tanyanya.
"Loh kenapa bawa Perusahaan? Ini pribadi saya, dan tidak ada hubungannya kan! Maaf, saya rasa anda tidak Profesional dalam hal ini. Menanyakan kekasih saya dan mengancam saya juga," protes Dae dengan menatap kearah matanya Presdir Ilyas.
Dae seperti tersengat listrik tegangan tinggi, dia terpesona dengan wajah tampannya Presdir. Dia melupakan amarahnya barusan. Dae terhipnotis dengan Presdir Ilyas.
"Ekhem ekhem," Presdir Ilyas membuyarkan kekaguman Dae terhadapnya.
Dae menjadi salah tingkah karena ketahuan mengagumi wajah tampan Presdir Ilyas.
"Sudah puas Bu Dae memandang wajah tampan saya? Pasti anda jatuh cinta kan sama saya," ucap Ilyas dengan percaya diri.
"Anda terlalu percaya diri Presdir Ilyas. Sepertinya tidak ada yang perlu dibicarakan, saya mau menyusul rekan yang lainnya," ucap Dae.
Ketika Dae hendak membalikkan badannya dan melangkah pergi, Ilyas langsung menarik tangan Dae dan membawanya dalam dekapannya. Hingga tatapan mata mereka bertemu.
"Saya bertanya sekali lagi dengan Bu Dae. Apakah Bu Dae sudah memiliki kekasih?" tanyanya lagi.
__ADS_1
"Be...belum Pre..sssdir," ucap Dae gugup menahan malu.
Jantung Dae berdegup kencang, kakinya terasa lemas, hingga dia hampir lunglai merosot kebawah, jika Ilyas tak memeluk erat pinggangnya.
"Presdir Ilyas, jangan seperti ini. Maaf nanti ada yang melihat kita seperti ini. Saya tidak mau menjadi bahan gosip di dua Perusahaan nantinya, tolong lepaskan saya," ucap Dae yang tak berani memandang Ilyas.
Ilyas tidak mau melepaskan Dae, dia merasa nyaman dengan wangi tubuh Dae. Ilyas justru semakin merekatkan pelukannya terhadap Dae. Lalu tanpa di duga, Ilyas justru mencium bibir Dae.
Dae terkejut karena bibirnya diluma* sangat lembut oleh Presdir Ilyas. Dae tidak menolak ciuman itu, dia membalasnya hingga mereka saling bertukar saliva dan saling memagut, hingga suara ketukan membuat mereka mengakhirinya.
Ilyas melepaskan ciumannya dan mengusap lembut bibir Dae dengan jari telunjuknya.
"Jadilah kekasihku, jangan menolak dan menurutlah. Kamu sangat manis," ucap Ilyas yang memaksa dan memujinya.
Dae lemas seketika saat Ilyas memintanya jadi kekasihnya. Syukurnya Ilyas langsung menangkapnya dan mendekapnya kembali.
"Kenapa, apa kurang ciuman tadi? Ayo kita lanjutkan lagi," godanya.
Dae buru-buru melepaskan pelukan Ilyas, dia mencoba menormalkan jantungnya dan pikirannya. Lalu Dae menepuk-nepuk kedua pipinya, berharap ini bukanlah mimpi.
"Hahaha ternyata ini gak mimpi. Atau gw yang mengkhayal ya," gumam Dae seperti orang bodoh.
Ilyas tertawa melihat sikap konyol Dae, dia mencubit pipi Dae dengan keras.
"Awwww sakit Pak...! teriak Dae.
"Kalau sakit, berarti kamu tidak sedang bermimpi. Kalau kita berdua, jangan panggil saya Pak lagi. Tapi panggil Ilyas, ok..!"
"Hah, pemaksa. Tapi ini benaran gak sih, gw jadian sama si Arogan?" tanya Dae dalam gumamannya.
"Siapa kamu bilang?" tanya Ilyas yang mendengar dirinya dikatakan arogan.
"Ah, eh hehehe, nggak Pak, eh Ilyas. Saya salah sebut," ucap Dae malu.
"Apa kamu mengatai saya arogan?" tanya Ilyas menatap Dae serius.
"Anu Yas, kamu kan emang arogan kelihatannya. Sikap kamu terlalu cuek, arogan dan tidak pernah tersenyum," jawab Dae dengan polosnya dan wajah imutnya.
"Hahahaha, Dae...Dae... Kamu sungguh lucu. Aku senang kamu menyebutku arogan. Aku menyukainya, sekarang ayo kita makan. Aku sudah lapar gara-gara nungguin kamu," ucap Ilyas tersenyum.
"Ini artinya kita resmi menjadi sepasang kekasih Yas?" tanya Dae tak percaya.
__ADS_1
"Iya Dae...ku, nanti kita lanjut ngobrolnya ya. Sekarang kita makan dulu. Habis makan, kamu tidak usah kembali ke kantormu lagi. Nanti biar aku yang menyampaikan sama Edy. Mau ya!" pinta Ilyas.
"Heum," balas Dae.