
"Dae, aku ingin mengajakmu ke tempat yang sangat romantis. Tempatnya ya lumayan jauh. Itupun kalau kamu mau," ucap Edy.
"Emang dimana tempatnya?"
"Namanya Bukit Bintang. Disana kita bisa menikmati pemandangan kerlap-kerlip lampu dari atas bukit," jelas Edy.
"Sepertinya menarik. Ayo, kapan kita kesana?" tanya Dae yang bersemangat.
"Besok malam, aku akan membawa kamu ke sana."
"Sepertinya kamu sangat mengenal kota ini. Apakah Presdir sering berkunjung ke kota ini?" pancing Dae.
"Ya, aku sering kesini mengunjungi seseorang," balas Edy yang sengaja memancing sikap Dae.
"Oh...pasti seseorang yang spesial banget," balas Dae santai.
Ntah kenapa ketika Edy mengucapkan mengunjungi seseorang, hati Dae terasa sakit dan sesak di dadanya. Namun Dae berpura-pura tidak memperlihatkannya. Dia berusaha menyembunyikan.
Edy melirik sekilas ke Dae. Ada senyum di mata Edy ketika terlihat raut wajah Dae yang sedikit berubah.
"Kamu terlalu menyembunyikan perasaanmu Dae. Aku tau kamu juga mencintaiku," bathin Dae.
"Ya tentu orang yang spesial yang aku kunjungi. Kamu tau Dae, ketika aku berkunjung kemari, aku akan membawakannya bunga kesukaannya," ucap Edy santai.
"Waowww, pasti dia sangat beruntung mendapatkan bunga dari kamu," balas Dae.
"Apa kamu mau aku bawakan bunga setiap hari Dae?" tanya Edy yang menoleh ke arah Dae.
"Tidak perlu," ketus Dae.
Edy senyum-senyum mendengar balas Dae yang ketus.
"Oh...., baiklah, aku tidak akan membawakan kamu bunga. Tapi aku akan membawakanmu langsung cincin pernikahan," Edy menggoda Dae dengan memainkan alis matanya.
"Hahahaha," Dae hanya tertawa, dia berusaha menyembunyikan kegelisahan hatinya.
"Kenapa kamu malah tertawa Dae? Aku serius, bahkan aku akan mengatakan ke orang tuaku untuk melamar kamu, gimana?" tanya Edy.
"Ah, begitu ya. Lupakan, saya masih belum mau menikah. Lagian Presdir tau sendiri bukan, saya sudah memiliki kekasih. Jangan paksa saya untuk mengambil keputusan yang terburu-buru," balas Dae.
"Baiklah, aku akan menunggu sampai kamu menerimaku Dae," Edy tersenyum pahit dalam hatinya.
Sebenarnya Dae tak enak mengatakan hal seperti itu. Tapi dia menginginkan Edy menyerah untuk cintanya. Walaupun Dae sendiri tidak mengetahui, bagaimana perasaannya terhadap Edy. Terkadang Dae bimbang, ketika bersama Edy, dia merasa kesal, tapi tak menolak sentuhannya. Dan ketika bersama Ilyas, Dae merasa seperti di lindungi, di tuntut dewasa, dan merasa tenang.
"Presdir, mau kah kamu menemaniku jalan-jalan alun-alun? Aku ingin menikmati malam di sana. Seperti kata orang bahwa disana, semakin malam semakin ramai," ucap Dae dengan raut wajah memohon.
"Dae ku, apapun yang kamu minta, aku akan menurutinya," balas Edy.
"Termasuk menjauhiku?" tantang Dae.
"Terkecuali yang satu itu," balas Edy dengan nyengir lebarnya.
__ADS_1
Dae menghela nafas beratnya, dia tau kalau Edy tak akan menyerah untuk mendapatkan pengakuan cinta Dae.
"Hah," Dae mendengus.
Setelah mereka menghabiskan makanannya, Dae dan Edy pergi meninggalkan cafe tersebut. Mereka berjalan sepanjang jalan sambil menunggu delman yang lewat.
"Itu delmannya, ayo Ed, kita kesana!" ajak Dae yang tiba-tiba menarik tangan Edy.
Edy tersenyum melihat Dae yang tak sadar telah menggenggam tangannya. Senyum terlukis di bibir mungil Edy. Pancaran matanya menyiratkan kebahagiaan walaupun hanya sesaat.
Edy mengikuti langkah Dae yang mengejar delman itu. Setelah mereka berdiri di hadapan delman itu, Dae pun berkata sama kusirnya.
"Pak, bisa antarkan kami ke alun-alun yang ada dua pohon beringinnya itu?" tanya Dae yang masih berdiri di dekat kudanya.
"Oh bisa Mbak, ayo naik. Bapak antar kalian ke sana. Kalau mau bisa Bapak antar kalian berkeliling-keling Malioboro hanya bayarnya tidak mahal Mbak," ucap kusir itu memberitahu.
"Ed, gimana? Mau ya kita jalan-jalan dulu keliling Malioboro. Aku pengen Ed, menghirup udara malam di Malioboro," pinta Dae memohon.
"Pak, iso otak antarke dulu kami muter-muter sekitar Malioboro, setelah itu antarke kami ke alun-alun, piye Pak?" tanya Edy yang bahasa jawanya amburadul.
"Oh bisa Mas, ayo naik. Biar Bapak antar kalian ke Malioboro, ke tempat perbelanjaan oleh-oleh rengginang, bakpia dan lainnya masih akeh Mas, Mbak," jelas kusir itu.
"Wah boleh itu Pak, saya mau!" balas Dae.
Lalu Dae dan Edy naik ke atas delman. Mereka duduk berdampingan. Tapi Edy memilih duduk menghadap Dae agar bisa melihat wajah Dae yang semangat.
Kemudian delman itu pun mulai berjalan pelan, karena kusirnya memerintahkan kudanya untuk tidak berlari kencang.
"Gimana Dae, kamu senang jalan-jalan begini?" tanya Edy yang duduk sangat dekat dengan Dae.
"Heum, aku menyukainya Ed. Oh ya, nanti aku mau beli bakpia buat cemilan di Hotel ya," ucap Dae.
"Pak, nanti berhenti sebentar di toko perbelanjaan oleh-oleh nggih Pak," pinta Edy yang menyuruh si kusir.
"Oh nggih Mas, nanti saya akan membawa Mas dan Mbak nya ke toko langganan saya. Disana ramai Mbak, Mas. Banyak wisatawan lokal maupun luar, beli oleh-olehnya disana. Harganya murah dan kualitasnya bagus loh Mbak, Mas," ucap si kusir mempromosikannya.
"Wah, Bapak tau banyak ya. Apa Bapak sudah lama bekerja seperti ini?" tanya Dae yang mulai bawel.
"Walah Mbak, ini kerjaan saya dari dulu untuk memberi makan anak dan istri saya. Mau gimana lagi Mbak, saya cuma tamat sekolah dasar Mbak. Ndak punya biaya," jawab si kusir yang malah curhat.
Dae menatao ke Edy yang memasang wajah datarnya. Edy justru tak perduli dengan Dae yang terus berbicara dengan si kusir.
"Ya begitulah hidup Pak. Kita harus berusaha mencari rezeki untuk keluarga. Kalau tidak, ya anak dan istri tidak bisa makan, hehehe," Dae memberi dukungan ke Pak kusir.
"Mbaknya beruntung punya suami yang perhatian seperti Masnya. Dari tadi saya perhatikan, suami Mbaknya sayang banget loh sama sampeyan Mbak," celetuk kusir itu.
Dae terkejut dan memasang wajah bengong dengan alis naik keatas. Dia menoleh ke Edy yang berpura-pura tak mendengar.
Dae pun mencibir, "Dia bukan suami saya Pak, orang ini sangat dingin seperti kulkas Pak."
Edy melingkarkan tangannya di pinggang Dae dan berbisik di telinganya.
__ADS_1
"Dae ku, Pak kusir aja mengakui kalau kamu tuh beruntung mendapatkan suami sepertiku," ucap Edy yang membanggakan dirinya sendiri.
"Kamu terlalu percaya diri Ed."
"Loh kalau bukan suami Mbaknya terus apa tunangan Mbaknya ya?" tanya si kusir yang sangat kepo.
"Iya Pak, saya tunangannya. Ini calon istri saya. Dia emang seperti itu Pak, malu-malu tapi mau," ledek Edy dengan menyunggingkan senyumnya.
"Oh....biasa itu Mas, kalau perempuan pasti malu-malu tapi mau. Tapi saya lihat Mbaknya juga sangat mencintai Mas nya. Kelihatan kok dari pancaran mata Mbaknya."
Lagi-lagi ucapan si kusir membuat keduanya terbengong. Terutama Dae, dia mendelik ke arah Edy yang senyum-senyum puas. Sementara Edy merasa puas dengan ucapan si kusir.
"Wah Bapak seperti paranormal bisa menebak seseorang ya," puji Edy sambil melirik Dae.
"Ah Masnya ini. Saya berkata sesuai apa yang saya lihat loh. Mbaknya kelihatan sangat mencintai Masnya. Apa Mas gak merasakannya?" tanya si kusir yang mulai bawel.
Dae merasa terpojok dengan obrolan keduanya. Dia menunduk memijit pelipisnya yang sedikit berdenyut.
"Iya Pak, saya bisa merasakannya kok Pak. Bapak hebat ya bisa menebaknya," puji Edy lagi.
Edy sengaja memuji si kusir agar terus terpancing untuk berbicara mengungkapkan tentang pandangan Dae sesuai penglihatan si kusir.
Tak berapa lama, mereka akhirnya sampai di toko yang besar dan banyak menjual oleh-oleh.
"Itu Mbak, Mas, kita udah sampai. Silahkan belanja dulu. Saya tunggu disini. Kalau sudah selesai, Mbaknya dan Masnya kembali ke sini aja ya," ucap si kusir.
"Oh baik Pak."
Kemudian Dae dan Edy turun dari delman. Edy membantu Dae menuruni delman itu. Lalu mereka berjalan ke arah toko. Sesampainya di toko itu, Dae melihat banyaknya oleh-oleh yang di pajang di dalamnya.
"Ayo Ed, aku mau beli bakpia dulu sama beberapa oleh-oleh lainnya. Kamu mau ikut atau menunggu disini?" tanya Dae.
"Aku ikut sama kamu aja biar bisa bantu kamu memilih oleh-olehnya," jawab Edy.
Dae lanjut berjalan menyusuri ruangan toko itu. Dia melihat-lihat oleh-oleh yang di jual di raknya. Hingga akhirnya Dae mendapatkan apa yang diinginkannya.
"Ed, sepertinya aku udah selesai belanjanya, ayo," ajak Dae.
"Udah cukup belanjanya Dae?" tanya Edy.
"Udah, aku hanya belanja ini saja. Nanti kalau mau pulang baru kemari lagi," jawab Dae.
Setelah mereka melakukan pembayaran, Edy dan Dae kembali ke delman untuk melanjutkan perjalanan mereka ke alun-alun yang ada pohon beringinnya.
"Ayo Pak, kita lanjut perjalanannya," ajak Edy.
"Udah selesai toh Mbak, Mas?" tanya kusirnya.
"Udah Pak, ayo lanjut lagi," jawab Edy.
Delman segera dijalankan ke tempat tujuan yang sudah di tentukan. Pak kusir menjalankan delmannya perlahan-lahan.
__ADS_1
Sepanjang jalan menuju alun-alun, si kusir terus mengajak Dae dan Edy ngobrol.