Calon Suamiku Ternyata Kakakku Sendiri

Calon Suamiku Ternyata Kakakku Sendiri
Bab 53


__ADS_3

Pagi-pagi yang cerah memberikan cahaya terang. Membuat kamar yang redup menjadi terang akibat cahaya yang masuk menembus tirai jendela.


Dae merasakan tubuhnya sakit semua. Dia membuka matanya dan merasakan benda berat berada di atas perutnya. Dae terkejut melihat tangan Presdirnya di atas perutnya tanpa pakaian. Lalu Dae melihat ke dalam selimut, dia pun menghela nafasnya karena mengetahui kondisi tubuhnya yang polos.


Dae berusaha bangkit dan perlahan meletakkan tangan Edy di samping. Hingga akhirnya dia bisa terlepas dari dekapan Edy. Dia pun bergegas ke kamar mandi sebelum si Presdir kembali bangun dan kembali menerkam mangsanya.


Dae masuk ke dalam kamar mandi meninggalkan Edy yang masih terbaring di atas tempat tidur. Saat Dae berada di dalam kamar mandi, sayup-sayup Edy mendengar suara gemericik air. Lalu dia membuka matanya dan menoleh ke samping. Ternyata Dae sudah tidak ada di sebelahnya.


Edy pun terduduk di tempatnya, dia mengucek-ngucek matanya untuk menormalkan penglihatannya. Dia pun bangkit dari tempat tidur dan melihat ponselnya. Kondisi Edy tanpa busana saat dia melihat ponselnya.


Dae yang tak tau bahwa Edy sudah bangun, dia keluar dari dalam kamar mandi menggunakan handuk sebatas dada dan rambut di gulung menggunakan handuk hingga memperlihatkan lehernya yang putih bersih.


Dia keluar dari dalam kamar mandi tanpa melihat keberadaan Edy. Sedangkan Edy menatap Dae intens dari tempatnya berdiri. Lalu dia menghampiri Dae dan langsung memeluk Dae.


Dae terkejut melihat keadaan Edy yang tak menggunakan pakaian sambil memeluknya erat.


"Presdir, apa yang kamu lakukan lagi....!" bentak Dae.


"Pagi Dae ku sayang, kamu harum banget," goda Edy dengan senyum penuh arti.


Wajahnya memancarkan gairah yang masih membara. Tatapannya dingin tapi dalam menatap mata Dae yang cantik.


"E--ed, kamu mau ngapain?" tanya Dae gugup.


Jantung Dae berdegup kencang melihat pemandangan yang membuatnya menelan ludah. Walaupun mereka beberapa kali melakukannya, tapi tetap saja, pesona Edy tak bisa di hindari.


Edy memiringkan kepalanya dan langsung menabur bibir sexy Dae yang sudah membengkak akibat ulahnya kemaren malam. Hingga pertempuran di pagi hari tak bisa di elakkan lagi. Mereka melakukannya lagi, suara-suara merdu yang di keluarkan Dae, seakan menghipnotis Edy untuk tak mau berhenti menghentakkan miliknya.


Mereka terus berpacu dalam kenikmatan. Memberi rasa yang nyaman terhadap satu sama lain. Hingga erangan terakhir menggema dalam ruangan itu membuktikan kalau keduanya sudah mencapai puncak kenikmatan secara bersamaan.


Setelah pertempuran itu, Dae tak bisa menggerakkan kakinya karena lemas. Lalu Edy membopongnya ke kamar mandi dan membantu Dae untuk membersihkan tubuhnya.


Kemudian mereka keluar dari dalam kamar mandi dan segera menggunakan pakaian rapi untuk meninjau lokasi untuk pelaksanaan event produk Perusahaan mereka dengan Perusahaan lainnya.


"Bagaimana aku bisa jalan, jika seperti ini? Apa yang akan dikatakan yang lain jika melihat kondisiku begini," gerutu Dae yang kesal dengan ulah Edy.


"Kalau begitu kita istirahat disini. Biarkan Asistent Li yang mengerjakannya dan mengambil alih," ucap Edy.


Edy merasa bersalah karena telah membuat Dae kesulitan berjalan. Dia juga tidak bisa mengontrol gairahnya jika sudah melihat Dae yang menggoda.


"Ah tidak perlu Presdir, saya akan coba berjalan pelan. Saya gak mau dikatakan anak emas nantinya sama yang lain."

__ADS_1


Dae tak mau jika karyawan lain mengetahui hubungannya dengan Presdir mereka. Dae berusaha menyembunyikan hal itu dari yang lain termasuk sahabatnya sendiri.


Tiba-tiba ponsel Dae berdering. Dae langsung mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menghubunginya. Dae melihat nama Ilyas yang ada di sana.


Dae berusaha berjalan menjauh dari Edy. Bagaimanapun dia tidak mau membuat Edy kesal.


"Assalamu'alaikum Yas!" sapa Dae dengan girangnya.


"Wa'alaikumussalam sayang! Kapan kamu kembali? Aku sudah kangen sekali sama kamu," ucap Ilyas sendu.


"Besok aku akan kembali Yas. Kamu dimana sekarang? Apa di kantor?" tanya Dae yang merasa bersalah.


"Ya, aku di kantor. Bisakah kita VC, aku ingin melihat wajahmu sayang," pinta Ilyas.


Dae bingung harus mengatakan apa. Tapi dia tidak ingin Ilyas curiga jika dia tidak melakukan VC. Rasa bersalah semakin menusuk hati Dae. Lalu dia langsung melakukan VC dengan Ilyas.


"Hai sayang, kamu tambah cantik," puji Ilyas.


Tentu saja percakapan mereka bisa di dengar oleh Edy. Karena posisi Edy berada di dekat Dae. Edy berusaha menekan rasa cemburunya mendengar kemesraan mereka berdua.


Dae sesekali melirik ke arah Edy. Ada rasa bersalah juga di hati Dae melihat kesedihan di mata Edy. Tak sengaja mereka saling menatap. Tapi Dae buru-buru mengarahkan pandangannya ke Ilyas kembali.


"Udah sayang, aku malah mengkhawatirkan kamu. Apa kamu sudah sarapan?" tanya Ilyas balik.


"Ini aku mau sarapan, habis tuh langsung berangkat," jawab Dae.


"Kalau besok kamu kembali, aku ingin membawa kamu makan malam berdua. Aku gak sabar pengen meluk kamu Dae sayang," ucap Ilyas penuh kerinduan.


"Ah iya Yas, kalau besok aku kembali kita akan makan malam," balas Dae sambil melirik ke Edy.


"Baiklah sayang, sampai ketemu besok, I live U Dae sayang emmmuach," ucap Ilyas yang menyudahi obrolannya.


"I love U too Yas emmmuach," balas Dae dengan rasa bersalah yang sangat menusuk hatinya.


Lalu tlp pun dimatikan. Dia diam terpaku di tempat saat matanya bertemu dengan mata dingin Edy.


"Ayo Presdir kita turun ke bawah sarapan. Saya sudah laper," ucap Dae yang mencoba mencairkan suasana.


"Heum," Edy hanya menjawab singkat.


Edy sudah kembali seperti kulkas dingin. Suasana hatinya sangat kacau mendengar ucapan Dae yang mengatakan cinta kepada Ilyas. Hatinya tersayat pilu mendengar ucapan itu. Edy berusaha tenang dan kembali bersikap dingin untuk menutupi rasa sakitnya.

__ADS_1


Mereka keluar dari dalam kamar dan turun ke lantai bawah menuju Restaurant. Dimana ada beberapa Manager yang sudah menunggu disana.


"Pagi Presdir," ucap mereka bersamaan.


"Heum," hanya itu jawaban yang keluar dari bibir manis Edy.


"Pagi Bu Dae....," sapa Manager lainnya.


"Pagi Pak," balas Dae.


Mereka mengambil tempat duduk yang hanya mereka berdua tempati. Sedangkan yang lainnya berada di meja yang sama.


Edy mengambil sarapannya dengan cuek dan dingin. Tidak ada perhatian seperti biasa yang di lakukannya terhadap Dae.


Dia seakan-akan tidak merasa Dae disisinya. Dia makan dengan santai dan tenang seperti tidak ada kejadian yang terjadi.


Sementara Dae merasa canggung dan hanya bisa menikmati sarapannya dengan tatapan kosong. Dae berharap dia bisa mengambil keputusan secepatnya dalam hubungannya. Bagaimanapun dia tidak ingin menjadi pengkhianat dalam cinta.


Dae melirik ke arah Presdirnya. Namun wajah itu terlihat sangat dingin dan tanpa ekspresi. Ntah bagaimana Dae bisa meluluhkan hatinya agar kembali seperti biasanya, yang membuat Dae jengkel, kesal dan terkadang manja.


Kemudian Asistent Li datang menghampiri Presdirnya dan membisikkan sesuatu. Lalu Edy pergi meninggalkan meja dimana ada Dae di situ. Dae terbengong dengan sikap Edy yang sangat dingin.


"Ada apa dengannya? Kenapa dia buru-buru pergi? Apa ada terjadi sesuatu?" bathin Dae yang memandang kepergian Edy.


Ada rasa tak terima, sedih atas sikap Edy yang meninggalkannya begitu saja. Tapi Dae pasrah karena dia pun bersalah atas perubahan sikap Edy.


Tiba-tiba Manager Produksi menghampiri Dae yang duduk sendirian.


"Hai Bu Dae, sepertinya anda sangat dekat dengan Presdir kita? Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Pak Raffi dengan menyunggingkan senyumnya.


"Maksud anda?" tanya Dae yang pura-pura tidak mengerti.


"Ah Bu Dae, siapapun bisa melihat jika anda memiliki sesuatu dengan Presdir. Apa saya tidak memiliki kesempatan itu?" tanya Pak Raffi.


Dae mengernyitkan dahinya mendengar ucapan Pak Raffi.


"Maaf saya benar-benar tidak mengerti dengan maksud anda.


"Oh....ternyata anda ornag yang harus dijelaskan dengan sangat detail ya Bu Dae. Sungguh menyenangkan bisa menjelaskan terhadap Bu Dae tentang isi pikiran mereka semua," jelas Pak Raffi.


Dae mengerti kemana arah pembicaraan Pak Raffi. Tapi dia mencoba berpura-pura tidak mengerti. Dia ingin menghindari manusia yang satu ini.

__ADS_1


__ADS_2