Calon Suamiku Ternyata Kakakku Sendiri

Calon Suamiku Ternyata Kakakku Sendiri
Bab 93


__ADS_3

Dae tau kalau Mamanya bisa merasakan kegundahannya. Tapi dia berusaha menutupinya dengan senyum cerianya.


Lalu Papanya Dae menghampirinya, "Sayang gimana kerajaanmu di sana? Tidak ada masalah kan?" tanya Papanya yang sedikit curiga.


"Ah tidak ada Pa. Semua baik-baik aja kok," jawab Dae.


"Terus kenapa nak Edy tidak mengantarmu pulang?" tanya Papanya menyelidik.


"Deg," Dae tersentak kala Papanya menyebutkan nama Edy.


"Oh dia tidak ikut Pa bersama team kami. Dae hanya pergi sama Ani saja Pa," jawab Dae sedikit canggung.


"Pantes dia tidak nemui Papa saat nganterin kamu. Ternyata dia tidak ikut ke Jogja," balas Papanya. "Ngomong-ngomong kapan kamu ajak nak Edy kemari lagi? Papa pengen bermain catur sama dia," ucap Papanya.


"Ya nantilah Pa. Sepertinya dia sangat sibuk sekali. Dae gak mau mengganggunya saat ini Pa," balas Dae.


"Ma, ayo kembali ke kamar. Biarkan Dae beristirahat. Nanti kita lanjut lagi ngobrolnya," ucap Papanya yang mengajak istrinya untuk meninggalkan Dae.


Setelah mereka pergi meninggalkan Dae di kamarnya, Dae kembali termenung. Ntah kenapa ada rasa kosong di hatinya saat Edy tidak lagi memberi khabar.


"Kemana dia? Apa dia benar-benar meninggalkan gw karena rasa kecewanya?" gumam Dae yang sedang memikirkan Edy.


Malam pun terus berjalan, Dae akhirnya terlelap tidur setelah makan malamnya bersama orang tuanya. Tidak ada pembahasan yang penting saat mereka makan.


Cerahnya pagi hari, sinar cahaya yang menembus masuk melalui tirai jendela kamar Dae membuat yang punya kamar terbangun karena silaunya matahari. Dae menguap lebar dan mengucek kedua matanya. Dia melihat hari sudah pagi. Dae beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan ke arah kamar mandi untuk segera bersiap-siap ke kantor.


Setelah Dae menyelesaikan mandi paginya, dia pun bersiap-siap. Lalu Dae keluar dari kamarnya menuju meja makan. Ternyata di meja makan sudah ada Mama dan Papanya.


"Pagi Ma, Pa!" sapa Dae sambil mengecup pipi mereka. Lalu Dae mengambil posisi duduk di samping Papanya.


"Bagaimana keadaanmu sayang hari ini? Apakah anak Mama ini akan ke kantor?" tanya Mamanya Dae yang melihat penampilan rapi Dae.

__ADS_1


"Iya Ma, Dae harus ke kantor hari ini. Nanti Presdir marah kalau kita malas-malasan masuk kerja," jawab Dae ngasal.


"Wah anak Papa sekarang makin rajin aja ke kantor. Bukan karena Presdirnya kan?" goda Papanya sambil senyum-senyum.


"Ih....Papa ini. Ya karena kerjaan dong. Masa karena orang lain," protes Dae dengan wajah cemberutnya.


"Hahaha, lihat Ma anak kamu. Sampai kapan dia harus sendiri," ucap Papanya Meka. "Oh ya gimana dengan laki-laki yang ingin kamu kenalkan itu Ma. Kapan mereka akan berkunjung ke sini?" tanya Suaminya.


Papanya Meka tidak tau kalau yang di maksud istrinya itu adalah anak dari mantan istri yang di tinggalkannya.


"Oh iya, Mama hampir melupakannya. Kalau gitu besok Mama akan mengundang mereka datang ke sini untuk makan malam, gimana Pa?" tanya istrinya yang minta pendapat.


"Boleh, Papa akan usahakan cepat pulang," jawab suaminya yang mendukung ide istrinya.


"Dan kamu Dae, usahakan pulang cepat juga besok, bait ketemu dengan anak sahabat baik Mama kamu," perintah Papanya.


"Hmmm, lihat besok ya Ma. Dae akan usahakan besok pulang cepat. Besok Dae khabari ya Ma," ucap Dae.


Sebenarnya Dae malas jika harus bertemu dengan laki-laki saat ini. Apalagi laki-laki itu akan di jodohkan dengannya.


"Baiklah Ma, Pa, Dae berangkat duluan ya. Sepertinya hari ini Dae pulang telat karena banyak kerjaan yang harus di selesaikan," ucap Dae memberitahu.


Padahal hari ini Dae ada janji dengan Rion untuk membalas kebaikannya kemaren. Tapi Dae melupakannya dan menganggap tidak pernah berjanji.


Dae pun berangkat ke kantornya menggunakan mobil online karena mobilnya masih dalam perjalanan dari Jogja.


Setibanya di kantor, Dae merasa canggung dan gugup saat dia berjalan di dalam perusahaan itu. Dae berjalan ke arah lift dan menunggu lift itu tiba. Dae belum mengetahui keberadaan Edy yang sudah tidak di Indonesia lagi. Saat ini Presdir baru mereka di pegang oleh Omnya Edy sementara waktu sampai Edy siap kembali ke Indonesia.


Tiba-tiba dari arah belakang, Dae di kejutkan dengan tepukan di pundaknya.


"Astaghfirullahal'adzim..., kaget gw," gumamnya sambil menoleh ke samping melihat siapa yang mengejutkannya.

__ADS_1


"Ah elo An, gw kira siapa tadi," ucap Dae.


"Emang Lo kira hantu yang nepuk pundak Lo?" tanya Ani ngasal.


"Ya nggak juga sih. Gw mikirnya orang lain loh," balas Dae kesal.


"Eh iya gw lupa ngasih tau Lo kemaren pas di Jogja. Ada khabar kalau saat ini Presdir kita sudah bukan Pak Edy lagi. Dan sudah digantikan oleh orang lain. Tapi gw gak tau jelas apakah masih kerabat dekat Presdir atau bukan," ucap Ani memberitahukan info itu.


Dae hanya santai menanggapi penjelasan Ani. Baginya tidak ada yang menarik dengan info yang di ceritakannya.


Akhirnya lift pun terbuka, Dae merasa legah akhirnya bisa menghindar dari Ani secepatnya.


Sesampainya mereka di lantai ruangan kerjanya, pintu lift terbuka lebar . Dae langsung melangkah keluar dari dalam lift dan di ikuti sama Ani.


"Dae, nanti siang kita makan bareng ya!" mohon Ani dengan tersenyum manis.


"Sorry An, sepertinya gw mesen makanan saja. Lagi males keluar ruangan. Mau fokus dulu mengerjakan tugas. Siapa tau sudah menumpuk nih tugas gw," balas Dae yang sengaja menghindari Ani.


"Hah...baiklah kalau Lo gak bisa. Gw akan ajak Denny dan Rion untuk makan siang bareng," Ani sengaja memanasi Dae dengan mengatakan Rion. Lalu dia melirik sekilas ke arah Dae sebelum mereka berpisah di depan pintu ruangan Dae.


"Wah asyik dong, kalian bisa makan bareng gitu. Lain kali gw akan ikut deh," ucap Dae tidak tulus. Dia sengaja berkata seperti itu agar Ani tidak terlalu memperhatikannya menghindarinya.


"Ok, nanti gw akan sampaikan ke mereka ya. Sampai ketemu nanti Dae, gw ke ruangan dulu," ucap Ani. Lalu Ani berjalan ke arah ruangannya.


Sementara Dae sudah masuk ke dalam ruangan ya juga. Di dalam ruangan itu, Dae menatap sekeliling ruangannya. Hatinya masih bimbang untuk memutuskan apakah masih bertahan di Perusahaan ini atau tidak. Dae diam dan duduk sambil menopang dagunya dengan tangannya.


Tiba-tiba telpon ruangannya berdering. Dae melihat kode nomer yang menghubunginya.


"Ya Pak, ada yang bisa saya bantu?" tanya Dae terhadap Sekretaris Presdir.


"Bu Dae, anda di minta ke ruangan saat ini juga. Ditunggu sama Presdir," balas Sekretaris itu.

__ADS_1


"Oh baik Pak, saya akan segera ke sana," ucap Dae.


Setelah panggilan putus, Dae bergegas keluar dari ruangannya. Dia masuk ke dalam lift menuju lantai atas di mana ruangan Presdir berada. Dae merasa deg-deg an ketika sedang berada di dalam lift.


__ADS_2