Calon Suamiku Ternyata Kakakku Sendiri

Calon Suamiku Ternyata Kakakku Sendiri
Bab 16


__ADS_3

Dae diam sejenak menetralkan pikirannya yang gak karuan.


"Apa-apaan itu tadi si kulkas! Oh ya ampuuun Dae..., kenapa cobaan terus berdatangan dalam pekerjaanku..! Belum lagi si Raffi gila, nih sikulkas mesum, ntar siapa lagi....! Hah.., nasib gak punya kekasih," bathin Dae menderita.


Saat Dae melamun dan tidak fokus bekerja, tiba-tiba suara pintu ruangannya diketuk dari luar.


"Tok tok tok...!"


"Siapa lagi ini yang datang keruangan gw?" pikir Dae kesal.


Lalu Dae menjawab suara ketukan itu. " Masuk..!" ucap Dae dengan suara agak keras.


Kemudian pintu ruangan Dae dibuka lebar oleh seseorang yang ternyata si Raffi.


"Panjang umur dia, baru aja gw ucapkan namanya. Nih orangnya udah nongol disini," bathin Dae sambil menatap kearah pintu.


Raffi melangkah masuk ke dalam ruangan Dae dengan senyuman mautnya. Dia mencoba tebar pesona dengan aroma parfum yang berlebihan. Dae bukannya merasa harum, akan tetapi dia merasa ingin mual akibat aroma parfum yang menyengat.


"Bu Dae....gimana khabarnya? Sudah lama saya tidak berkunjung keruangan Bu Dae ya," ucap Pak Raffi dengan senyum nakalnya.


"Oh Pak Raffi, ada keperluan apa ya Pak sampai datang keruangan saya? Apa tidak bisa menghubungi lewat tlp ya Pak?" tanya Dae yang males-malesan.


"Bu Dae, kalau lewat tlp rasanya gak nyaman. Saya lebih suka langsung keruangan Bu Dae dan melihat keadaan Bu Dae disini," jawab Pak Raffi yang keliatan menjijikkan.


"Silahkan duduk Pak. Ada apa Pak Raffi keruangan saya?" tanya Dae lagi.


"Bu Dae, kenapa harus buru-buru. Kita bisa ngobrol santai. Apa Bu Dae tidak merindukan saya?" tanya Pak Raffi dengan tak tau malu.


Dae rasanya ingin sekali menendang laki-laki brengsek ini. Bagi Dae berhadapan dengannya membuat Dae muak dan menjijikkan.


"Sungguh kasihan istrinya yang berpikir bahwa suaminya ini adalah laki-laki yang setia. Padahal, dikantornya, laki-laki ini berusaha mengejarku. Sungguh laki-laki tidak punya hati," bathin Dae yang menggerutu.


"Maaf Pak, saya masih banyak kerjaan saat ini. Jadi lebih baik Pak Rafii keintinya saja bicara," ucap Dae tak senang dengan kehadirannya.


"Bu Dae jangan galak-galak. Tapi saya malah menyukainya. Sangat menantang," balas Raffi genit.


"Pak Raffi, saya bertanya apa keperluan Bapak keruangan saya?" tanya Dae sekali lagi.


"Baiklah Bu Dae ku, saya kemari karena tugas dari Presdir kita yang menginstruksikan agar kita segera ke Perusahaan Presdir Ilyas."

__ADS_1


"Oh itu, saya juga sudah tau. Tapi saya tidak mengetahuinya jika saya harus berangkat kesana bersama anda."


"Maka dari itu Bu Dae, saya berkunjung keruangan Bu Dae. Sekalian saya sudah rindu melihat wajah jutek Bu Dae yang menggemaskan," ucap Raffi tanpa sungkan.


"Kalau tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, Pak Raffi boleh kembali keruangan anda. Karena saya harus menyiapkan berkas-berkas yang harus dibawa ke Presdir Ilyas," balas Dae.


"Ok lah Bu Dae, saya tunggu di lobby jam 10.00 nanti ya. Kita berangkat bersama," ucap Raffi yang mencondongkan tubuhnya kearah Dae.


Dae pun beringsut memundurkan kursinya, walaupun jarak diantara mereka ada meja, namun jika Raffi mencondongkan tubuhnya ke depan Dae, tentu seperti kekasih yang ingin mencium pasangannya.


"Baik Pak," jawab Dae sambil berdiri dari kursinya.


Raffi meninggalkan Dae dengan senyum penuh arti. Dia puas membuat Dae kesal dan itu membuatnya sangat menginginkan Dae.


"Dasar tuh orang genit banget, udah punya istri tapi masih jelalatan dengan wanita lain, ngeselin banget," gerutu Dae.


Dae pun menyelesaikan berkas-berkas yang akan dibawanya ke Perusahaan itu. Dia segera berberes-beres dan beranjak melangkah keluar dari ruangannya. Dae masuk ke dalam lift menuju lantai dasar.


Sesampainya di lantai dasar, Dae melihat Pak Raffi menunggunya di lobby. Lalu Dae menghampirinya.


"Pak, bisa kita berangkat sekarang?" tanya Dae yang sudah berdiri dihadapannya.


Raffi mendongakkan kepalanya, menatap Dae dari atas sampai bawah. Dia semakin berhasrat untuk memilikinya. Hatinya sudah tertutupi dengan nafsunya yang menggelora.


Lalu tanpa mereka ketahui, tiba-tiba dari lift keluar Sekretaris Lu. Dia menghampiri keduanya yang berada di lobby.


"Apa kita bisa berangkat sekarang?" tanya Sekretaris Lu.


Dae dan Pak Raffi sama-sama tercengang melihat kehadiran Sekretaris Lu.


"Maaf Pak, apakah Bapak juga ikut bersama kami?" tanya Dae spontan.


"Iya Bu Dae, tadi Presdir menyuruh saya ikut dalam pertemuan ini. Makanya saya sekarang ada disini," jawab Sekretaris Lu.


Dae merasa lega di dalam hatinya. Dia bersyukur akhirnya ada orang yang dikirim Allah untuk menghindarinya dari si Raffi gila ini.


"Oh...syukurlah," gumam Dae.


Sedangkan Pak Raffi di merasa kesal. Karena dia sudah membayangkan berduaan bersama Dae di dalam mobil duduk berdua dibelakang. Tapi itu semua hancur karena kehadiran Sekretaris Lu saat ini.

__ADS_1


"Oh baiklah Sekretaris Lu, ayo kita berangkat sekarang," ucap Pak Raffi yang berusaha menyembunyikan kesalnya.


Lalu mereka pergi ke Perusahaan Presdir Ilyas. Dae memilih duduk disamping supir. Dia tidak ingin berada dibelakang berdua dengan salah satu dari mereka. Dalam perjalanan menuju Perusahaan itu, tidak ada yang membuka obrolan. Jalanan pun lengah tidak ada kemacetan yang menghalangi jalan mereka.


Hingga akhirnya mereka sampai di Perusahaan itu. Sekretaris Lu bersama Pak Raffi berjalan beriringan dan Dae mengikuti mereka dari belakang.


Setibanya di dalam, mereka langsung diarahkan menuju ruangan dimana Presdir Ilyas akan segera datang. Dae bersama yang lainnya masuk ke dalam ruangan itu. Mereka menunggu Presdir Ilyas di dalam.


Lalu Assitentnya masuk ke dalam ruangan itu dan melihat kehadiran Sekretaris Lu dan yang lainnya.


"Selamat siang semuanya. Presdir Ilyas sebentar lagi akan segera kemari," info dari Asisstentnya.


"Kami akan menunggu beliau," balas Sekretaris Lu dengan ramah.


Tak berselang lama, muncullah sosok yang selalu di dambakan Dae. Ilyas masuk ke dalam ruangan itu dan dia sempat terkejut melihat kehadiran wanita yang selalu membuatnya tak tenang.


"Ternyata dia datang juga," bathin Ilyas dimana terbit senyuman di matanya saat menatap kearah Dae.


Ilyas duduk dihadapan semuanya, dia kelihatan tampan dan tegas. Namun bagi Dae dia sosok yang arogan tanpa ekspresi.


Dae tak berani menatap kearah Ilyas, dia takut jika tak sengaja ketangkap basah sedang melihat Presdir Ilyas.


Siapa yang tidak jatuh cinta jika berhadapan dengan Presdir Ilyas. Semua wanita berlomba-lomba ingin memilikinya sebagai pendamping. Begitu juga dengan Dae, dia juga sudah jatuh hati terhadap Presdir Ilyas. Kekagumannya terhadap Ilyas hanya bisa dirasakan Dae seorang diri.


"Bu Dae, apakah semua persiapan sudah dilakukan?" tanya Presdir Ilyas tiba-tiba.


Ternyata Presdir Ilyas mencuri pandang sesekali kearah Dae, sehingga dia tau apakah Dae sedang mendengarkan pembahasan mereka atau sedang melamun. Dan Ilyas sengaja melontarkan pertanyaan terhadap Dae untuk mengetahui sejauh apa Dae fokus menangani event ini.


"Ah iya Presdir, semua sudah siap. Tinggal jadwalnya yang kita tentukan. Kalau masalah yang lainnya, saya sudah koordinasi dengan Pak Raffi untuk kesiapannya," jawab Dae yang gugup menatap kearah Ilyas.


"Bagus, saya suka karyawan yang bertanggung jawab atas tugasnya," ucap Ilyas dengan sikap arogannya.


"Syukurnya ganteng, kalau jelek, ogah banget gw suka sama dia. Tapi mana ada Presdir yang jelek, hihihi," bathin Dae tapi kepalanya ngangguk-ngangguk.


Sikap Dae spwerti itu justru mengundang perhatian mereka yang ada diruangan itu. Terutama Ilyas, dia menatap Dae tajam seperti hendak mengulitinya hidup-hidup.


"Bu Dae, apa yang anda lakukan?! Kenapa anda malah mangguk-mangguk?" ucap Sekretaris Lu pelan dengan menggeser tubuhnya kesamping Dae.


"Kan saya harus membenarkan ucapan Presdir Ilyas yang mengatakan kalau beliau suka karyawan yang bertanggung jawab Pak," tekan Dae sedikit kesal.

__ADS_1


Lalu mereka kembali melanjutkan pembahasannya hingga akhirnya selesai saat jam makan siang.


"Sekretaris Lu, Presdir Ilyas mengajak anda dan yang lainnya untuk makan siang bersama jika anda tidak keberatan," pinta Asisstent Ilyas.


__ADS_2