
Rion dan Dae menghampiri teman-teman mereka yang sudah mengambil tempat duduk di meja yang ada.
"Dae, kenapa wajah Lo merah padam begitu? Apa terjadi sesuatu?" tanya Ani yang langsung blak-blakan.
"Ah ng--ngak ada An, tadi gw bangun dan melihat sudah tidak ada orang, makanya gw buru-buru ke sini. Ya mungkin karena itu makanya wajah gw begini," jawab Dae ngasal.
Rion pun senyum-senyum mendengar jawaban konyol yang di lontarkan Dae. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya yang merasa lucu dengan tingkah Dae.
"Ya sudah, ayo kita pesan makanan. Suasana begini enaknya makan yang hangat-hangat," Denny mencoba mencairkan suasana canggung Dae.
"Ah itu benar, ayo kita pesan makanan," sambung Agus yang duduk di hadapan Ani dan Dae.
"Iya nih gw juga udah laper. Gara-gara Lo nih Rion, kelamaan nungguin kalian berdua. Kalian tidak berbuat aneh-aneh kan di dalam mobil?" tanya Dion yang langsung menebak.
Seketika wajah Dae pucat, dan dia menjadi salah tingkah. Berbeda dengan Rion yang santai dan menyunggingkan senyumnya.
"Kalau kamu berbuat aneh-aneh kan tidak ada masalah sama Lo kan Dion?" tanya Rion tenang.
"Wah.....hahahaha, teman kita ini ternyata sudah mulai tertarik dengan perempuan," ledek Dion. "Dae, kayaknya Lo beruntung karena dia bisa tertarik sama Lo, bravo....," ucap Dion yang merasa senang ngeledek sahabatnya itu.
"Diam Lo, berisik," balas Rion yang berusaha tenang.
Dae merasa ingin melarikan diri dari hadapan mereka semua. Di candain di hadapan yang lainnya membuat Dae merasa tak nyaman. Berbeda dengan Ani, wajahnya terlihat kesal, marah dan tak suka dengan apa yang di dengarnya.
"Wah Dae, gila Lo ya, baru aja lepas dari mantan, dah dapet laki-laki lain. Salut gw," sindir Ani dengan rasa tak sukanya.
Dae kaget mendengar ucapan sarkas dari sahabatnya itu. Dae tak menyangka Ani terus menjelekkannya.
"Apa maksud Ani ngomong seperti itu ya?" bathin Dae yang masih tak percaya dengan sikap Ani.
Namun Ani berpura-pura tak ada kejadian. Dia senyum-senyum melihat ke arah Dae tanpa merasa bersalah.
Rion yang mengerti keadaan tak nyaman, langsung mengambil inisiatif.
"Iya sekarang Dae sudah menjadi kekasih gw," ucap Rion yang mengklaim dirinya sebagai kekasihnya Rion.
__ADS_1
Rasa terkejut Dae bertambah dengan pengakuan Rion tanpa memikirkan keadaan Dae. Dia pun melotot melihat Rion. Tapi Rion justru mencubit dagu Dae dengan gemas. Rion pun mengedipkan sebelah matanya dengan genit.
"Dasar nih pria aneh, mesum, dan kepedean,* bathin Dae.
Dae langsung membuang mukanya ke arah Ani. Dan Ani ternyata menatap Dae dengan tatapan yang tajam. Dae berusaha tersenyum melihat Ani yang sudah menahan amarahnya karena Dae telah berhasil merebut sesuatu yang diinginkan Ani.
"Waowww....selamat bro, Lo hebat bisa mendapatkan kekasih saat liburan kita. Selamat bro," Denny meninju bahu Rion tanda dukungannya.
"Mantap bro, gak bilang-bilang Lo dah jadian aja sama Dae. Ah kalah cepat gw," sambung Dion.
"Iya nih, diam-diam Lo gerak cepat ya," lanjut Agus yang duduk dihadapan Rion.
"Eh....ng--nggak seperti itu," bantah Dae gelagapan.
"Udah jangan di tutupi dong sayang. Sekarang kita pesan makanan aja ya. Dah laper nih," Rion langsung menyela ucapan Dae. Dia memeluk pinggang Dae dan mencium pundak Dae.
Mata Dae semakin melotot menatap Rion yang begitu kurang ajarnya memperlakukan dirinya. Dae tak menyangka kalau Rion begitu mesumnya terhadap Dae.
"Awas nih laki-laki, akan gw kasih pelajaran nanti. Tunggu aja pembalasan gw ya Rion, brengsek nih orang, berani-beraninya dia berbuat mesum dihadapan semua teman-temannya," bathin Dae sambil menggertakan giginya.
Ntah kenapa Ani merasa kesal. Ani tidak seperti biasanya yang tidak memperdulikan seseorang jika menyukainya. Walaupun laki-laki itu ditaksirnya tapi tidak meresponnya, Ani tak mempermasalahkannya. Tapi sekarang, dia tidak suka jika laki-laki yang diinginkannya justru menyukai Dae.
Mereka akhirnya memesan makanan. Dae mencoba menormalkan degup jantungnya yang berdebar terus karena perbuatan Rion yang begitu mesum terhadapnya.
"Santai aja sayang, kita hanya bersandiwara," bisik Rion berpura-pura.
Rion memang sengaja mengatakan kepada teman-temannya kalau dia sudah menjadi kekasih Dae. Itu dikarenakan, Rion tidak ingin dijodohkan sama orang tuanya. Bahkan dengan sahabat-sahabatnya.
"Anda jangan keterlaluan ya, lepaskan tangan kamu kalau tidak aku akan memberikan perhitungan denganmu," ancam Dae dengan balas berbisik.
Rion bukannya marah, dia malah senyum-senyum mendengar ancaman Dae. Baginya itu sangat menggemaskan.
"Sweety, kamu sangat menggemaskan, aku menyukainya," bisik Rion lagi.
"What, sweety...?" bathin Dae berteriak tak percaya mendaptkan panggilan manis seperti itu.
__ADS_1
"Jangan melamun, kamu suka kan mendpatakan panggilan itu. Karena itu memang cocok untukmu, manis," godanya lagi.
Dae hanya bisa menghela nafas beratnya. Dia lagi-lagi harus menyetok kesabaran lebih banyak menghadapi Rion yang luar biasa baginya.
Mereka pun menikmati makan malam di Bukit Bintang. Suasana di sana sangatlah dingin membuat Dae sedikit menggigil. Rion menyadari perubahan Dae yang menggigil. Lalu Rion meninggalkan Dae dan dia berjalan ke arah mobil yang berada di depan cafe. Rion mengambil jaketnya yang tebal.
Setelah itu Rion kembali ke dalam cafe dan memakaikan jaket itu ke tubuh Dae.
"Pakai ini Sweety, kamu kedinginan kan?" Rion memakaikan jaket itu ke tubuh Dae.
Dae mendongakkan kepalanya ke atas menatap Rion yang memberikan perhatiannya.
"Wah...Dae beruntung banget kamu di perhatikan sama si kulkas berjalan," ledek Dion sahabatnya.
"Rion, ternyata Lo bisa romantis juga ya," goda Denny.
"Hahaha, suer deh baru kali ini gw lihat Rion so sweet banget sama perempuan. Good Dae," puji Agus sambil senyum-senyum.
Ani yang mendengar dan melihat perlakuan Rion terhadap Dae begitu manis, hatinya memanas. Dia memperlihatkan rasa gak sukanya terhadap Dae. Namun dia tidak ingin Rion menganggapnya buruk, jadi ani berpura-pura manis dan ikut tersenyum.
"Ah terima kasih Rion atas perhatian kamu," ucap Dae dengan tulus.
"Sama-sama Sweetyku," balas Rion dengan senyum sumringah.
Akhirnya Dae merasakan kehangatan dari jaket itu yang membalut tubuhnya.
"Bagaimana kalau setelah dari sini kita pergi ke club, aku pengen tau bagaimana kalau berada di club," ajak Ani yang merencanakan sesuatu terhadap Dae.
Ani sengaja mengajak Dae pergi ke club, dia berencana memberikan obat perangsang terhadap Dae, untuk membuat Dae menjadi ****** sehingga Rion menjadi jijik melihatnya.
"Wah itu ide yang bagus. Ayolah kita ke club. Gw juga sudah lama tidak kesana. Sapa tau dapet yang hot-hot," ucap Dion tanpa rasa canggung dan malu.
"Bolehlah, kapan mau ke sana?" tanya Denny yang bersemangat.
"Lebih baik sekarang kita ke sana. Pasti sampai di Jogja tengah malam, pas banget tuh kan," jawab Agus.
__ADS_1
Dae hanya pasrah dengan ajakan Ani sahabatnya. Mereka pun segera beranjak dari Bukit Bintang menuju salah satu club' terkenal di Jogja. Selama perjalanan Dae hanya diam, dia masih menggunakan jaket pemberian Rion. Lalu Dae merasakan kantuk yang tiba-tiba. Dae pun merebahkan kepalanya ke bahu Rion. Rion tersenyum karena Dae mau menjadikan bahunya sandaran bagi Dae.