Calon Suamiku Ternyata Kakakku Sendiri

Calon Suamiku Ternyata Kakakku Sendiri
Bab 42


__ADS_3

Edy merasa canggung saat berdua dengan Papanya Dae. Namun dia berusaha rileks dan tenang menghadapi calon mertuanya.


"Edy, sudah berapa lama dekat sama Dae?" tanya Papanya yang langsung membuka suara.


"Sejak Dae bekerja di Perusahaan saya Om," jawab Edy.


"Apa kalian punya hubungan?" tanya Papanya lagi.


"Kami sangat dekat Om. Mungkin ya masih pendekatan dulu Om," jawab Edy lagi.


"Oh...., bagaimana menurut kamu, Dae?" tanya Papanya Dae lagi.


Edy merasa Papanya Dae seperti polisi yang bertanya terhadap seorang penjahat. Tapi mau tak mau, Edy harus menjawabnya demi kelanjutan hubungan mereka.


"Dae, ornagnya keras Om, mandiri, dan manja," jelas Edy.


"Hahaha, memang anak Om itu seperti itu ornagnya. Dia memang manja dan sangat dimanja oleh Mamanya," balas Papanya Dae dengan tawa riangnya.


"Maaf Om, sudah malam. Saya besok harus ke kantor. Karena harus mempersiapkan semua untuk dinas ke luar kota lusanya Om," ucap Edy yang merasa tak enak.


"Ya udah, Om berterima kasih karena mengantarkan Dae ke rumahnya," balas Papanya Dae.


"Itu sudah seharusnya Om dilakukan seseorang sebagai tanggung jawab," ucap Edy tenang.


"Ya, ya, ya, ya. Om mengerti itu."


"Kalau gitu saya pamit dulu ya Om, Assalamu'alaikum," pamit Zain.


"Wa'alaikumussalam," sahut Papanya Dae.


Di dalam rumah, tepatnya di dekat pintu rumah, ternyata Dae tidak langsung masuk ke dalam kamarnya. Dia berhenti melangkah menuju kamarnya. Dae memilih berdiri di dekat pintu untuk menguping obrolan antara Papanya dan Edy.


Setelah Edy berpamitan pulang, Dae pun bergegas melangkah ke kamarnya. Di dalam kamar, Dae langsung membersihkan dirinya. Setelah selesai, dia pun naik ke atas tempat tidur. Dae berusaha memejamkan matanya, namun bayangan tadi selalu berputar-putar di ingatannya dan menari-nari di dpena matanya. Seolah-olah memaksa Dae untuk terus mengingat dan menontonnya.


Ketika Dae hendak memejamkan matanya, tiba-tiba ponselnya berdering. Dae sedikit terkejut dan mengambil ponselnya. Lalu Dae melihat nama di layar itu. Dae pun segera mengangkatnya.


"Assalamualaikum Dae!" sapa Edy di seberang sana.


"Wa'alaikumussalam Presdir. Ada apa malam begini masih menghubungi saya, Presdir" tanya Dae dengan rasa kesal.


"Saya hanya ingin memastikan kamu Dae. Apakah kamu bisa tidur atau terus terbayang perbuatan panas kita tadi," jawab Edy.


Dae yang mendengarnya, langsung telinganya memerah dan wajahnya pun ikut merona. Namun Dae menyangkalnya.

__ADS_1


"Ah tidak Presdir, saya lagi mengerjakan beberapa kerjaan saya. Lagian, buat apa saya mengingatnya?" tanya Dae.


"Ya mana tau, kamu mengingatnya terus. Karena saat tadi kita bercinta, kamu sangat menikmatinya Dae," goda Edy.


Sontak saja itu membuat Dae kesal, marah dan wajahnya semakin merona.


"Presdir menghubungi saya buat apa, hah?" tanya Dae kesal.


"Ya pengen tau, kamu bisa tidur atau tidak. Itu saja," tegas Edy.


"Saya sudah menjawabnya Presdir. Jadi tidak ada alasan untuk berlama-lama ngobrol. Karena saya sudah ngantuk," kesal Dae.


"Ya udah, kamu mimpi yang indah ya Dae ku. Jangan lupa mimpiin aku juga ya. Presdir tampan yang baik hati serta dingin seperti kulkas," Edy memuji dirinya sendiri.


"Apaan sih, gak lucu. Garing tau Presdir. Udah ya, saya mau tidur. Assalamualaikum," ucap Dae menutup obrolannya.


Edy yang diputus secara sepihak, Mera kesal. Namun bukannya marah, dia justru merasa lucu dengan sikap Dae yang kekanak-kanakan.


Edy membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur. Dia juga seperti Dae yang tak bisa tidur karena mengingat pertempuran mereka tadi sore. Edy sangat menikmati permainannya. Dia senang karena Dae mau melakukannya.


Malam pun semakin larut, Edy maupun Dae berusaha memejamkan mata mereka hingga terlelap.


Pagi pun tiba, Dae terbangun dari tidurnya. Lalu dia buru-buru membersihkan tubuhnya dan langsung bersiap-siap untuk ke kantor. Dae keluar dari dalam kamarnya menuju meja makan. Disana Dae melihat Mama dan Papanya sudah berkumpul.


"Pagi sayang!" sahut mereka berdua.


"Ma, dan gak bisa sarapan lama, karena harus mempersiapkan tugas untuk besok," ucap Dae memberitahu.


"Oh, tugas untuk dinas keluar kota itu Dae?" tanya Papanya.


"Iya Pa, kok Pala tau?" tanya Dae pura-pura.


"Iya, Presdir kamu sudah permisi sama Papa. Dan Papa mengizinkannya," jawab Papanya.


"Kemana dinasnya sayang?" tanya Mamanya.


"Katanya sih ke Jogja Ma. Dae juga belom tau gimana jadinya," jawab Dae.


"Ya sudah, gih kamu berangkat, kalau sudah selesai sarapan," suruh Mamanya.


"Baik Ma, nih Dae berangkat dulu ya, Assalamu'alaikum Ma, Pa!" ucap Dae.


"Wa'alaikumussalam," sahut ledunaya.

__ADS_1


Lalu Dae bergegas ke depan dan melihat pesanan onlinenya sudah datang. Dae pergi ke kantor menggunakan mobil online. Dae gak tau kalau Edy akan menjemputnya ke rumah.


Sesampainya di kantor, Dae segera berjalan ke arah lift. Dae menunggu lift itu terbuka. Setelah liftnya terbuka Dae masuk ke selama bersama beberapa karyawan lainnya.


"Pagi Bu Dae!" sapa karyawan lain.


"Pagi," sahut Dae ramah.


Tak lama kemudian, pintu lift terbuka. Lift berhenti di lantai tempat ruangan Dae berada. Dae pun keluar dari lift dan berjalan masuk ke dalam ruangannya.


Dae menghampiri meja kerjanya dan dia mendudukkan bokongnya di kursi meja yang empuk. Dae menatap sekilas tumpukan berkas diatas mejanya.


Lalu ponsel Dae berdering, dia mengambilnya dari dalam tas. Dae melihat nama Edy di layar ponselnya.


"Assalamualaikum Presdir?" sapa Dae.


"Wa'alaikumussalam Dae..! Aku baru aja dari rumah kamu Dae buat jemput kamu biar berangkat bareng," ucap Edy diseberang sambil menyetir mobilnya.


"Loh Presdir kerumah saya? Kenapa gak bilang?" tanya Dae.


"Iya Dae, kamu kan kemaren malam saya anter naik mobil saya. Dan mobil kamu di parkir di area kantor kan," jawab Edy.


"Iya Presdir, tapi tadi saya buru-buru takut telat masuk kantor karena naik mobil online," jelas Dae.


"Ya sudah, kamu sekarang sudah di akntor kan?" tanya Edy.


"Sudah Presdir. Saya baru saja sampai di ruangan saya," jawab Dae.


"Kalau begitu, sampai ketemu di Kantor Dae."


Edy pun langsung memutuskan obrolannya dengan Dae. Dia terus melajukan mobilnya agar segera sampai dan bertemu dengan Dae. Edy berusaha memberikan perhatiannya terhadap Dae. Namun sepertinya Dae belum terbiasa mendapatkan perhatian dari Edy.


Sesampainya di kantor, Edy langsung menuju ruangannya. Edy harus bertemu meeting dengan klien lain untuk kerja sama dalam penyetokan spareparts mobil. Dia segera membuka laptopnya dan mengecek semua berkas yang akan dibawa meeting.


Kemudian Asisten Li masuk ke dalam ruangannya.


"Presdir, setengah jam lagi, mereka akan datang ke kantor kita. Anda harus bersiap menemui mereka," ucap Asisten Li memberitahu.


"Baik, atur semuanya supaya lancar meetingnya," perintah Edy


"Baik Presdir," balas Asisten Li.


Setelah Asistent Li keluar dari ruangannya. Edy kembali berkutat di depan leptopnya.

__ADS_1


__ADS_2