
Edy terus melancarkan aksinya hanya seputar bibir, dia memberi kelembutan hingga Dae benar-benar terbuai dan memejamkan matanya. Lalu suara ketukan di pintu membuat mereka akhirnya melepaskan pagutan nikmat itu. Edy mengusap lembut bibir sexy Dae.
Dae melepaskan diri dari dekapan Edy, dia pun menjadi salah tingkah melihat Edy yang senyum-senyum.
Lalu dengan sigap Dae melangkah kearah pintu dan membukakannya. Dae terkejut karena yang mengetuk pintu itu adalah Pak Raffi.
"Ada apa ya Pak Raffi?" tanya Dae yang berusaha tenang.
"Ah Bu Dae...saya hanya ingin mengajak Bu Dae pulang bareng," jawab Raffi.
Raffi tidak mengetahui bahwa di dalam rujJJ+c!ngan Dae, sudah ada Presdirnya yang dengan santai duduk di sofa.
Saat mendengar 7iu7 ih.
Chucccc c
"Eh Presdir, maaf saya tidak tau hi ih FCC CG Presdir di dalam," ucap Raffi gelagapan.
"Bu Dae harus mengerjakan tugas dari saya. Dan dia belom bisa pulang, apa Pak Raffi? keberatan?" tanya Edy dengan tatapan dinginnya.
"Oh nggak Presdir. Saya tidak tau kalau Bu Dae harus mengerjakan kerjaan tambahan," jawab Raffi ketakutan.
"Kalau begitu, anda silahkan pulang duluan," ucap Edy sengaja mengusirnya secara halus.
"Ah iya Presdir. Maaf sudah mengganggu pekerjaan Bu Dae," balas Raffi dengan mengepalkan tangannya dibalik saku celananya.
Pak Raffi pun pergi meninggalkan Dae dan Edy dalam ruangan itu dengan rasa kesal bercampur amarah.
Sedangkan diruangan itu, Dae merasakan hawa dingin semakin mencekamnya, membuat bulu kuduknya meremang, dia tak berani menatap kearah Presdirnya.
Berbeda dengan Edy, dia justru menghampiri Dae dan mengangkat dagu Dae.
"Ada hubungan apa kamu sama Raffi?" tanya Edy yang tak suka.
"Ah itu, aku tidak punya hubungan dengannya. Pak Raffi yang mengejar-ngejar ku," jawab Dae dengan pedenya.
"Hah...ternyata Dae ku banyak yang menginginkannya. Kamu emang menawan Dae," puji Edy sambil mengusap bibir sexy Dae dengan jarinya.
Dae tersentak dan menghindar, namun Edy dengan sigap menahan pinggang Dae dengan tangan kekarnya.
"Jangan menghindariku Dae. Ayo sekarang kita pulang. Sebelum itu aku ingin mengajakmu makan malam. Aku laper Dae," ucap Edy dengan cuek.
"Apa-apaan si kulkas ini, kadang mengerikan dan terkadang seperti anak manja. Membingungkan sikapnya ini, hah yang satu kulkas dan yang satu si arogan, klop deh hidup gw," bathin Dae.
"Ayo Dae...kita pulang. Aku ingin makan malam bersamamu," ajak Edy yang membuyarkan lamunannya.
"Ah iya, tapi aku harus menghubungi Mamaku dulu. Nanti dia mengkhawatirkanku," balas Dae.
__ADS_1
"Baiklah, hubungi sekarang," perintah Edy.
Lalu Dae pun menghubungi Mamanya di hadapan Presdirnya.
"Assalamu'alaikum Ma...!" sapa Dae.
"Wa'alaikumussalam nak...!" sahut Mamanya.
"Ma, hari ini Dae telat pulang ya," ucap Dae memberitahu.
"Oh...Mama tau, kamu pasti mau makan malam sama Ilyas ya....?" tebak Mamanya.
"Ah enggak Ma. Dae masih ada kerjaan di kantor. Jadi belom bisa meninggalkannya. Mungkin agak telat pulangnya," ucap Dae.
"Terus kamu nanti diantar sama Ilyas kan?" tanya Mamanya.
"Nggak Ma, Dae pulang sendirian. Tapi belom tau juga sih Ma. Lihat nanti ajalah Ma," jawab Dae sambil melirik Edy.
"Ya udah sayang, kamu hati-hati ya. Oh ya besok kemungkinan Papa kamu akan kembali dari dinasnya," ucap Mamanya.
"Oh ya Ma...!" seru Dae senang.
"Iya sayang. Ya udah buruan kamu kerjakan pekerjaanmu biar cepat pulang kerumah," pinta Mamanya.
"Iya Ma, Dae tutup dulu ya tlp nya. Assalamu'alaikum Ma..," ucap Dae menyudahi obrolannya.
Lalu Dae menghadap ke Edy. Dia melihat wajah Edy yang menunggunya.
"Udah Presdir. Saya udah memberitahu orang tua saya kalau pulang terlambat," ucap Dae yang sedikit kesal.
"Ok, kalau begitu sekarang kita berangkat. Kamu gak tau betapa lapernya perut saya ini." rajuk Edy.
Dae menghela nafasnya. Lalu berjalan duluan melewati Presdirnya. Sedangkan Edy terbengong melihat sikap Dae yang super cuek.
"Hahaha, nih cewek benar-benar unik. Kadang galak, dan kadang lembut seperti kelinci yang penurut," bathin Edy sambil geleng-geleng kepala.
Dae dan Edy keluar dari ruangan Dae dan masuk ke dalam lift. Di dalam lift, Dae hanya bisa berdiri seperti patung. Posisi Edy saat ini berada di samping Dae. Tiba-tiba Edy merangkul pinggang Dae dari samping hingga membuat jantung Dae berdegup lebih cepat.
"Presdir, maaf tangannya tolong dikondisikan, saya gak mau ada yang lihat nantinya," protes Dae dengan suara terbata-bata.
"Tidak ada siapa-siapa disini Dae. Hanya kita berdua saja, aku dan kamu," bisik Edy.
Edy sengaja membuat Dae kesal. Dia suka menggoda Dae. Karena bagi Edy itu sangat menggemaskan bisa melihat raut wajah Dae yang sedang kesal.
"Iya, tapi kalau pas pintu lift ini terbuka, gimana kalau ada orang. Pasti mereka akan melihat Presdir berdekatan sama saya," celetuk Dae kesal.
"Kalau mereka lihat kenapa Dae. Biar mereka tau, kalau kamu wanitaku," balas Edy.
__ADS_1
"Saya gak pernah menjadi wanita Presdir. Jadi jangan buat kekacauan di kantor Presdir."
"Kamu sudah menjadi wanitaku Dae saat pertama kita melakukannya di bioskop. Kamu tidak lupa kan sayang," ucap Edy di telinga Dae.
Dae semakin salah tingkah, dia mencoba menenangkan debaran jantungnya. Hingga akhirnya lift terbuka. Namun tak ada siapapun di depan lift.
Dae melangkah keluar meninggalkan Edy yang mengikutinya dengan santai dari belakang. Dae terus berjalan, wajahnya mendadak pucat, kakinya menjadi kaku seperti tertimpa beban yang berat, dia diam terpaku seolah-olah diikat oleh suasana yang mencekam.
Edy merasa heran melihat Dae yang berhenti di hadapannya. Dia tidak mengetahui kehadiran Ilyas di hadapan mereka. Lalu Edy berjalan kesamping Dae dan berkata.
"Ayo kita berangkat Dae. Kenapa kamu malah berhenti disini?" tanya Edy yang masih tak menyadari kehadiran Ilyas.
"Ilyas," sapa Dae dengan gugup.
Edy langsung menoleh kearah pandangan Dae. Dia melihat kehadiran Ilyas di hadapan mereka. Lalu Edy berjalan menghampiri Ilyas dengan santai.
"Wah saya tidak menyangka anda kemari Presdir. Kita sedang tidak ada janji, ada perlu apa anda kemari?" tanya Edy dengan dua tangan berada di dalam saku celananya.
"Kita memang tidak ada janji. Tapi saya ada janji dengan Dae," balas Ilyas dengan tatapan mengarah ke Dae.
"Dae....?!" tanya Edy yang pura-pura gak tau.
Ilyas diam saja, dia menatap tajam kearah Dae yang masih belom berani menghampirinya.
"Dae ada kerjaan tambahan. Jadi dia pulang terlambat. Jadi dia pulang sama saya," ucap Edy yang menghalau pandangan Ilyas ke Dae.
"Maaf saya harus ke toilet dulu," Dae bergegas lari dari hadapan kedua laki-laki penguasa.
Dae berusaha kabur dari kedua laki-laki itu. Dia tak sanggup menghadapi keduanya. Dae memilih jalan dari belakang yang mengarah ke bagian kantin. Dae terus berjalan meninggalkan keduanya. Hingga dia mencapai pintu keluar Perusahaan itu. Sesampainya di pintu keluar, Dae bertemu satpam.
Satpam itu menyapa Dae. "Sore Bu Dae! Kenapa pulang jalan kaki Bu? Bukannya Bu Dae tadi naik mobil?" tanya satpam itu curiga.
"Sore Pak..! Iya saya titip mobil disini ya Pak. Karena mobil saya lagi kehabisan bensin," jawab Dae dengan tenang.
"Oh...baiklah Bu, hati-hati dijalan!" ucap satpam itu.
"Terima kasih Pak."
Dae buru-buru berjalan, dia takut ketahuan sama Edy dan Ilyas melarikan diri. Akhirnya dia berhasil pergi dari kedua laki-laki itu. Dae pun memesan mobil online, dia meninggalkan mobilnya di kantornya.
Sedangkan di dalam kantor. Edy dan Ilyas tampak menunggu Dae. Mereka tidak beranjak dari tempatnya berdiri. Hingga beberapa menit, Edy menyadari sesuatu.
"Kenapa Dae lama sekali ya ke toilet?" gumam Edy curiga.
Ilyas pun berpikiran yang sama. Dia pun heran dan khawatir, kenapa Dae lama sekali ke toiletnya.
Akhirnya Edy berinisiatif menyusul Dae ke toilet. Begitu juga dengan Ilyas. Dia pun mengikuti Edy kearah toilet.
__ADS_1