Calon Suamiku Ternyata Kakakku Sendiri

Calon Suamiku Ternyata Kakakku Sendiri
Bab 97


__ADS_3

Dae sudah menebaknya bahwa yang datang malam ini adalah seseorang yang akan di jodohkan dengannya. Dae berjalan perlahan sampai ke teras. Dia berhenti dan berdiri di depan pintu yang terbuka lebar.


"Assalammu'alaikum," ucap Dae saat menginjakkan kakinya ke dalam.


"Wa'alaikummussalam," sahut semua orang yang berada di dalam ruangan itu.


Dae belum tau siapa orang yang datang ke rumahnya dan akan di jodohkan dengannya.


Mamanya Dae menghampirinya dan mengajaknya untuk duduk bersama mereka.


"Sayang, syukurlah kamu sudah datang. Mereka sudah menunggu dari tadi. Ayo duduk sini sayang," ajak Mamanya memberitahu.


"Tapi Ma, Dae belum ganti baju. Dae mau mandi dulu Ma," rengek Dae dengan suara pelan.


"Sudah tidak perlu. Lagian siapa suruh kamu pulangnya kelamaan. Sudah, ayo duduk dekat Mama," Mamanya Dae tidak mau kompromi dengannya. Dia memaksa Dae tetap ikut gabung dengan mereka.


Akhirnya mau tak mau Dae pasrah dan mengikuti Mamanya duduk dan berkenalan dengan tamu yang datang.


Tepat ketika Dae sudah berdiri di hadapan tamu, Dae terkejut dan matanya membelalak.


"Loh Presdir?" Dae menunjuk ke arah Edy.


Tamu yang datang ke rumah Dae adalah Edy bersama keluarganya. Saat Edy memutuskan pergi dari kehidupan Dae, dia pergi ke Paris untuk menenangkan dirinya mengatur hatinya yang bimbang. Namun setelah dia memikirkan matang-matang, akhirnya Edy memutuskan untuk melamar Dae langsung walaupun tanpa persetujuan Dae.


Edy pun kembali ke Indonesia dan menghubungi Papanya Dae serta menjelaskan semuanya. Papanya Dae yang dari awal sangat mendukung hubungan mereka, akhirnya menerima keinginan Edy yang mau melamar Dae. Dan hari ini Edy bersama keluarganya datang ke rumah orang tua Dae.


"Edy sudah menghubungi Papa dan meminta izin. Papa dan Mama sudah menyetujuinya," tiba-tiba Papanya Dae berbicara.


Edy tersenyum penuh kemenangan karena dia bisa langsung melamar Dae dan mendapatkan restu orang tuanya.


"Sayang, ini orang tuanya Edy. Mereka langsung datang jauh-jauh dari Paris," ucap Mamanya dengan wajah senang.


Dae yang masih merasa linglung karena mendapatkan kejutan mendadak, tidak konsen mendengar ucapan Mamanya.


Edy yang berada di hadapan Mona, terus menatapnya dengan serius. Edy tau kalau Mona pasti merasa syok karena kedatangan mereka.


"Mona sayang, kenapa malah bengong. Ayo di salam dulu," tegur Mamanya.


Dae pun menyalami kedua orang tuanya Edy. Dae memberikan senyuman yang hangat terhadap mereka.

__ADS_1


"Wah ternyata aslinya cantik ya Ed. Pinter juga kamu milihnya," puji Mamanya Edy.


Edy hanya memasang wajah tenang saat Mamanya memuji Dae dengan begitu antusias.


"Maksud kedatangan kami ke rumah anda, untuk melamar nak Dae menjadi istrinya Edy. Bagaimana nak Dae?" tanya Papanya Edy langsung ke Dae.


Dae celingak-celinguk melihat Mama dan Papanya bergantian. Lalu ke Edy dan orang tuanya.


"A--anu Om, i--ini terlalu mendadak. Saya belum bisa memutuskannya," ucap Dae gugup.


Papanya Dae langsung menyela ucapan Dae. Dia tidak ingin Dae menolak perjodohan ini.


"Sayang, kalian tunangan dulu, nanti baru kita sepakati lagi untuk melaksanakan pernikahan kalian. Papa harap kamu mau menerimanya," ucap Papanya dengan wajah memohon.


Dae melirik ke arah Mamanya. Dan wajah yang di pasang Mamanya juga penuh harapan. Dae pun menghela nafas beratnya. Demi kebahagiaan Mama dan Papanya, Dae menerima lamaran ini. Karena bagaimanapun, Edy orang pertama yang melakukan dengannya.


"Baiklah Pa, Ma, Dae menerima lamaran ini. Tapi Dae tidak ingin cepat-cepat melangsungkan pernikahan. Karena Dae ingin kamu saling memahami dulu," pinta Dae.


"Alhamdulillah, akhirnya Dae menyetujuinya Pa," ucap Mamanya Edy dengan rasa bahagia.


"Terima kasih sayang, Mama tidak akan memutuskan kalian cepat menikah," ucap Mamanya.


Kedua belah pihak sepakat acara pertunangan akan di langsungkan sederhana dan hanya keluarga saja yang tau. Dae tidak menginginkan orang lain mengetahuinya. Makan malam pun terlaksanakan. Orang tua Zain dan Dae terlihat akrab, mereka saling berbagi cerita pribadi.


Malam pun semakin larut, Dae saat ini sedang berada di dalam kamarnya. Hari ini benar-benar menjadi hari yang spesial yaitu hari mengejutkan buat Dae. Setelah pertemuan tadi, Dae membersihkan tubuhnya yang sudah sangat lengket. Lalu dia berbaring di atas tempat tidurnya yang sangat di rindukannya.


"Bagaimana besok aku bertemu dengan dia? Ah, gak bisa di bayangkan, kalau Edy akan menjadi suamiku kelak," gumam Dae sambil menatap langit-langit atap kamarnya.


Tiba-tiba Dae teringat dengan Ilyas. Laki-laki yang pertama kali dia sukai. "Bagaimana dengan dia? Apa yang akan di katakannya kalau tau aku tunangan sama Edy. Aku jadi khawatir dan tidak ingin lagi bertemu dengannya," Dae masih bergumam sendiri.


Hingga Dae merasa ngantuk, dia pun memejamkan matanya untuk tidur. Malam yang indah mengantarkan Dae untuk bermimpi indah.


Pagi yang cerah, menyapa Dae melalui sinar matahari yang menembus tirai kamar jendelanya. Dae terbangun dan duduk menyandar.


"Sudah pagi," ucap Dae sambil mengucek-ngucek matanya. Lalu dia meregangkan otot-ototnya di pagi hari.


Dari luar si Bibi mengetuk pintu kamarnya. "Tok tok tok, non Dae...sarapannya udah siap," ucap si Bibi memberitahu.


"Iya bi, saya mau mandi dulu dan siap-siap," sahut Dae dari dalam kamarnya.

__ADS_1


Dae beranjak dari tempat tidurnya dan dia masuk ke dalam kamar mandinya. Beberapa menit selesai, Dae pun bersiap-siap menggunakan pakaian kerjanya.


Kemudian Dae keluar dari kamarnya dan berjalan ke ruang makan. Ternyata Mama dan Papanya sudah berada di meja makan.


"Pagi Ma, Pa, sapa Dae sambil mencium pipi mereka.


"Pagi sayang. Gimana tidurmu malam ini?" tanya Mamanya dengan senyum menggoda.


"Nyenyak Ma," jawab Dae santai.


"Pagi ini kamu akan ke kantor sendirian?" tanya Papanya.


"Iya Pa, mobil Dae masih di bengkel. Besok baru bawa mobil sendiri," jawab Dae.


"Apa Edy tidak datang jemput kamu?" tanya Mamanya lagi.


"Gak tau Ma," jawab Dae dengan mengedikkan bahunya.


Tiba-tiba dari arah pintu depan, Edy sudah muncul di dalam ruangan itu.


"Assalammu'alaikum Om, Tante," sapa Edy dengan menghampiri mereka.


Dae kaget dan dia melotot ke arah Edy. "Apa-apaan dia datang pagi-pagi ke sini. Cari muka saja," gerutu Dae dalam hati. Dae merasa kesal dengan kehadiran Edy yang dia anggap mencari muka dengan orang tuanya.


"Presdir kenapa pagi begini ke sini?" tanya Dae yang pura-pura gak ngerti.


"Aku sudah izin sama Papa dan Mama kamu untuk kita berangkat bareng," jawab Edy nyantai.


Dae hanya pasrah dan dia diam menikmati sarapan paginya. Sementara Edy mengambil posisi duduk di sebelah Dae. Dia tersenyum menawan melihat Dae yang memperlihatkan wajah juteknya.


"Nak Edy gimana dengan Papa dan Mama kamu? Apakah mereka hari ini kembali ke Paris?" tanya Papanya Dae.


"Padahal, Mama pengen ngajak mereka jalan-jalan di sini ya Pa, lihat Butik Mama yang berkembang," sambung Mamanya Dae.


"Iya Om, Tante, mereka akan kembali hari ini. Kemungkinan nanti siang akan berangkat. Saya akan mengantar mereka ke Bandara naik pesawat pribadi," balas Edy.


"Dae, ambilkan dong sarapan buat nak Edy. Kamu harus bisa belajar dari sekarang," suruh Mamanya.


Dae melirik ke sebelahnya dimana Edy duduk dengan manis.

__ADS_1


__ADS_2