
Santai menikmati jagung bakar, Dae meminta Edy segera kembali ke hotel. Malam yang semakin larut membuat Dae kedinginan.
Edy yang tak tega melihat kondisi Dae seperti itu, akhirnya memilih kembali ke hotel.
"Sekarang kita kembali ke hotel," ucap Edy.
"Iya Ed, aku sudah gak tahan, dingin banget," balas Dae yang menggigil.
"Maaf kalau kamu menjadi seperti ini Dae. Seharusnya aku gak membawamu ke sini," sesal Edy.
"Tidak, ini kemauanku Ed. Jangan menyalahkan dirimu. Aku yang menginginkannya," protes Dae.
Edy tak lagi membalas ucapan Dae. Dia terus melajukan mobilnya menuju hotel. Tak ingin berlama-lama di jalan, Edy membuat kecepatan yang sedikit kencang. Dia ingin mereka segera sampai agar Dae tidak lagi kedinginan.
"Sabar ya Dae, kita akan segera sampai," pinta Edy.
"Gak apa-apa Ed, aku hanya tidak terbiasa dengan kedinginan seperti itu," kesal Dae.
Dae merasa kesal karena tidak bisa menikmati suasana Bukit Bintang sampai pagi. Sehingga dia memutuskan kembali karena udaranya yang sangat dingin.
Beberapa jam berlalu, akhirnya mereka sampai di hotel. Dae dan Edy memasuki hotel itu. Tak disangka mereka bertemu dengan Pak Raffy dan dua orang karyawan lainnya.
"Selamat malam Presdir!" sapa Raffy yang kaget saat melihat Dae dan Edy datang berbarengan ke hotel.
Raffy dan dua orang lainnya sedang dari luar. Mereka mencari makan di luar hotel. Setelah puas menikmati suasana malam di Jogja, mereka bertiga memutuskan untuk kembali ke hotel. Saat Pak Raffy mengambil kunci kamar di Reseptionist, mereka melihat kedatangan Presdir mereka. Dan yang membuat mereka bertiga kaget adalah sosok yang diinginkan Pak Raffy.
"Malam," sahut Edy dengan dingin.
"Loh Bu Dae darimana?" tanya salah satu Manager.
"Oh kami baru aja dari luar Pak. Saya menemani Presdir keluar hotel," jawab Dae.
Lalu Dae pura-pura berjalan ke luar dari hotel itu. Dia tidak ingin karyawan lain mengetahui kalau dirinya satu kamar dengan Presdir mereka.
"Apa yang terjadi kalau mereka sampai tau kalau aku sekamar dengan Presdir. Bisa heboh satu Perusahaan. Dan ini bakalan jadi gosip terhot di Perusahaan," gumam Dae yang terus berjalan.
Pak Raffy dan yang lainnya menatap heran ke arah Dae yang berjalan ke luar hotel.
__ADS_1
"Loh Presdir, Bu Dae mau kemana lagi?" tanya Manager tadi.
"Mungkin ada yang ketinggalan di luar," jawab Presdir mereka.
"Maaf Presdir menggangu waktunya, kami duluan," pamit Pak Raffy.
"Silahkan," balas Edy.
Lalu Edy menunggu Dae duduk di sofa lobby. Dia tau kalau Dae tidak ingin ke lantai atas. Dia tidak ingin Manager itu tau jika dia dan Presdir satu kamar. Sehingga dia memutuskan keluar dari hotel.
Beberapa menit kemudian, Dae pun masuk dan melihat Edy yang sedang menunggunya di lobby hotel.
"Presdir ayo ke kamar, aku gak mau mereka melihat aku masuk ke dalam kamar Presdir," ucap Dae.
"Heum," hanya itu balasan Edy.
Mereka berdua berjalan menuju lantai atas dimana letak kamarnya. Sesudah berada di dalam kamar, Dae membersihkan wajahnya dan mengganti pakaiannya.
Begitu juga dengan Edy, dia pun melakukan hal aneh sama dengan Dae.
Setelah selesai berganti baju, Dae naik ke atas tempat tidur dan membaringkan tubuhnya yang kedinginan. Dae memejamkan matanya. Namun saat dia hendak terlelap, dia mendengar Edy keluar dari dalam kamar mandi.
Edy berjalan ke arah tempat tidur. Lalu dia ikut membaringkan tubuhnya tepat di samping Dae.
"Dae, kamu benaran sudah tidur?" tanya Edy kembali.
"Aku ngantuk Ed, kamu mau apa?" tanya Dae malas.
"Aku mau peluk kamu. Aku kedinginan juga Dae," jawab Edy yang memang dia kedinginan.
"Kulkas, kok malah kedinginan," celetuk Dae.
"Dae...., aku peluk kamu ya," pinta Edy yang minta izin.
"Biasanya juga gak minta izin. Tumben kamu sopan," ledek Dae.
"Kalau kamu gak kasih izin, aku tetap akan meluk kamu Dae," balas Edy dengan senyum nakalnya.
__ADS_1
Tanpa menunggu jawaban Dae, Edy langsung menarik Dae ke dalam dekapannya. Dia pun mengecup pipi Dae yang merona.
"Tidurlah, besok aku menginginkanmu," ucap Edy ambigu.
"Heum," Dae yang sudah sangat mengantuk, mengiyakan permintaan Edy.
Dia sudah tak sadar apa yang di minta Edy dan di ucapkan Edy. Dia hanya mengiyakan tanpa tau keinginan Edy besok.
Mereka berdua akhirnya terlelap dalam mimpi. Dinginnya malam membuat Dae lelap dalam dekapan Edy.
Pagi harinya, Dae membuka matanya. Pemandangan yang pertama di lihatnya adalah sosok tampan nan dingin di sampingnya. Dae mengulurkan tangannya membelai wajah tampan Edy. Lalu Dae meraba bibir Edy dengan jarinya.
Edy yang merasakan sentuhan lembut di bibirnya, membuatnya membuka mata dan melihat Dae terkejut.
"Kamu menggodaku Dae di pagi hari. Apa kamu menginginkannya?" goda Edy yang langsung mendekap Dae.
Edy langsung membungkam mulut Dae dengan ******* nikmat di lagi hari. Semakin lama lumayan itu semakin panas dan menggairahkan. Edy tak kuasa menahan gejolah di dirinya yang menginginkan Dae untuk menuntaskan hasratnya.
Edy pun terus memberikan rangsangan dengan menggigit leher dan bagian tubuh Dae yang lainnya. Hingga suara ******* keluar dari bibir sexy Dae. Edy terus menerus memberikan kenikmatan terhadap Dae. Hingga akhirnya mereka melakukan penyatuan di pagi hari.
Pagi yang indah dengan suara erangan dan ******* mengisi ruangan kamar itu. Dae tak henti-hentinya mendesah di bawah kungkungan Edy.
Edy yang perkasa terus menghujam milik Dae yang sangat memabukkan baginya. Hingga beberapa menit kemudian, Edy dan Dae melakukan pelepasan dengan mengerang secara bersamaan.
Edy pun terkulai lemas di atas tubuh polos Dae. Lalu dia membaringkan tubuhnya di samping Dae.
"Kamu nikmat banget Dae ku. Aku gak bisa aberhenti untuk memangsamu," ucap Edy dengan suara yang masih ngos-ngosan
Sementara Dae sudah lemas tak berdaya. Dia lelah karena ulah Edy yang tak mau berhenti melakukannya. Edy seperti orang yang kehausan. Melakukan dan terus melakukannya hingga beberapa kali pelepasan.
Dae tak sanggup bangkit dan berjalan ke kamar mandi. Dia memutuskan memejamkan matanya karena kelelahan.
Begitu juga dengan Edy. Dia kembali menarik Dae ke dalam dekapannya. Mereka akhirnya kembali tertidur dengan lelap hingga melupakan sarapan pagi.
Siang pun tiba, Dae terbangun dan merasakan tubuhnya yang masih sakit akibat perbuatan Edy. Dia melihat Edy yang masih tertidur dengan pulasnya.
Lu Dae bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke arah kamar mandi. Dia ingin membersihkan tubuhnya yang sudah lengket dengan peluh keringat. Dae pun mulai mandi dengan aroma teraphy yang sangat harum.
__ADS_1
Setelah selesai, dia keluar dari dalam kamar mandi dan melihat Edy yang masih terlelap.