
Setelah selesai menikmati makanan yang di pesan. Dae dan Ani berjalan meninggalkan pondok mereka. Keduanya bermain pasir dan air.
"Dae....ini benar-benar seru...!" teriak Ani sambil berlari-lari kecil.
"Iya An, gw seneng banget....!" balas Dae dengan suara yang kencang.
Mereka berlari-lari kecil dengan menggunakan topi dan kain pantai yang di kembangkan seperti mau terbang. Keduanya tidak sadar kalau kegiatan mereka menjadi tontonan bagi pengunjung yang ada di sana.
Dae meminta Ani mengambil fotonya dengan berbagai macam pose. Begitupun dengan Ani, mereka bergantian mengambil foto.
Saat mereka asyik berfoto ria, Delman melewati mereka. Dan Dae memanggil Delman tersebut.
"Pak....! Bisakah kamu naik di situ?" tanya Dae yang menghentikannya.
"Oh boleh Mbak, tapi ini di bayar," jawab pengemudinya.
"Oh gak masalah Pak," balas Ani. "Ayo Pak, bawa kami jalan-jalan sekitar pantai ini," perintah Ani dengan semangat.
"Baik Mbak, silahkan naik," suruh pengemudinya.
Dae dan Ani bergegas naik ke atas Delman itu. Mereka sangat menikmati perjalanan menggunakan Delman. Dae dan Ani tak henti-hentinya mengambil moment saat berada di Delman.
"Sampeyan saka ngendi?" tanya Bapak itu.
"(Mbaknya dari mana ya)?"
Dae dan Ani saling berpandangan karena mereka tidak mengerti apa yang di ucapkan Bapak itu.
"Maaf, Bapak ngomong apa ya?" tanya Ani bingung.
"Oh....mereka sepertinya bukan orang Jawa. Pantesan gak ngerti apa yang ku ucapkan," bathin Bapak itu.
"Oh...saya bertanya sama Mbaknya. Kalian datang dari mana?" tanya Bapak itu lagi.
"Kami dari Jogja Pak," jawab Dae.
"Mbaknya asli Jogja atau pendatang ya?" tanya Bapak itu lagi yang tingkat kepengen taunya tinggi.
"Kami dari Jogja Pak," jawab Dae berbohong.
Ani melototkan matanya dan heran kenapa Dae mengatakan hal seperti itu. Lalu Dae mengedipkan sebelah matanya ke arah Ani. Memberi kode agar dia tidak protes di hadapan Bapak itu.
Ani pun mengikuti apa yang di inginkan Dae. Mereka lanjut ngobrol tetapi dalam bahas mereka berdua.
"Dae, ngapse Lo ngomseng gitse?" tanya Ani yang berbicara dengan bahasa mereka berdua.
"(Dae, kenapa Lo ngomong gitu)?"
"Itse, gw gak sukse atse litse bapse itse. Kepso bangse dikse," jawab Dae.
"(Iya, gw gak suka aja lihat Bapak itu. Kepo banget dia)."
"Udse gak ukse kitse gubris. Kitse nikmatsi atse perjalanan kita," balas Ani dengan senyum sumringah.
__ADS_1
Keduanya kembali ke mood semula. Dae dan Ani benar-benar menikmati udara Pantai.
Saat mereka kembali ke tempat semula, Dae dan Ani bertemu dengan beberapa laki-laki yang sedang menikmati udara Pantai.
"Hai Mbak, boleh kenalan gak ya?" tanya salah satu laki-laki yang menghampiri Dae dan Ani.
Ani menoleh ke arah mereka semua. Dan memberikan senyuman manisnya.
"Boleh sih," jawab Ani santai.
Lalu laki-laki itu mendekati Ani dan menjulurkan tangannya mengajak berkenalan.
"Nama saya Denny," ucap pemuda itu.
"Saya Dewi," Ani sengaja memberikan nama samaran kepada mereka.
"Temannya kenapa gak mau kenalan ya?" tanya laki-laki itu saat melihat ke Dae.
"Ah jangan hiraukan dia. Lagi gak mood, orangnya galak," jawab Ani seenaknya.
"Owh...... Oh ya nih kenalkan teman-teman aku," ucap laki-laki yang bernama Denny.
"Hai, gw Agus," ucap yang lainnya.
"Saya Dion," ucap satunya lagi.
"Hai, gw Rion," laki-laki itu tidak mau bersalaman. Dia hanya mengatupkan kedua tangannya.
Ani terpesona melihat ketampanan Rion. Diantara semuanya, hanya Rion yang memiliki wajah sangat tampan. Tak kala jauh dengan Edy dan Ilyas.
Ani dan yang lainnya asyik duduk di pasir Pantai sambil ngobrol. Berbeda dengan Rion. Dia menghampiri Dae yang agak menjauh dari mereka.
"Hei, boleh saya gabung?" tanyanya hati-hati.
Dae mendongak ke atas dan melihat laki-laki dengam senyum menawan. Tapi Dae tidak menggubrisnya. Dia melanjutkan membuat nama di pasir dan menghapusnya kembali.
Tapi laki-laki itu tidak gencar, dia malah duduk di samping Dae sambil memainkan pasir itu.
"Kenapa gak gabung dengan yang lainnya?" tanya laki-laki itu membuka percakapan.
"Males aja," jawab Dae acuh.
"Oh...., sama kalau gitu," balas Rion. Rion senang melihat kecuekan Dae. Dan itu membuat Rion semakin ingin mengenalnya lebih dekat.
"Kenalkan, saya Rion," dia mengulurkan tangannya ke arah Dae.
"Saya Dae," balasnya tapi tidak menerima uluran tangan Rion.
"Apa saya mengganggu kamu?" tanyanya lagi.
"Tidak juga, kenapa?" tanya Dae balik.
"Syukurlah, saya takut aja kalau kamu terganggu jika saya mendekatimu," jawabnya.
__ADS_1
"Kenapa tidak gabung saja dengan mereka. Kenapa harus ke sini gabung dengan saya?" tanya Dae penasaran.
Dae penasaran dengan laki-laki di sebelahnya yang tidak ingin bersama teman lainnya.
"Pengen deketin kamu aja," jawabnya santai.
"Hahaha, to the point banget ya," ledek Dae.
"Harus, kenapa tidak? Saya tidak suka berpura-pura. Kalau kamu tidak suka, saya bisa pergi," balasnya dengan tegas.
"Santai aja. Saya tidak masalah kamu di sini," ucap Dae tanpa menoleh ke arah Rion.
Sejenak mereka terdiam, tidak ada yang membuka suara. Lalu saat mereka asyik dengan pikiran masing-masing, tiba-tiba ombak besar datang dan menghampiri Dae dan Rion.
Dae bangkit dan mundur ke belakang dengan cepat hingga dia terjatuh. Namun Rion dengan cepat menangkap dan memeluk pinggangnya dari samping.
Adegan seperti itu membuat Dae terpaku, terdiam membeku. Antara bingung, marah, kesal dan bersyukur. Dae langsung melepaskan tangan Rion dari pinggangnya.
"Maaf Dae, bukan maksud saya untuk kurang ajar. Saya hanya menolong kamu saja," ucap Rion membela diri.
"Ombaknya besar juga ya," Dae sengaja mengalihkan kegugupannya.
"Ah iya, kamu benar. Lihat sampai basah pakaian kita," balas Rion yang juga gugup.
"Gimana kalau kita jalan berdua sepanjang bibir Pantai, mau?" tanya Rion yang mencoba keberuntungannya.
"Boleh juga," balas Dae.
Rion merasa senang karena Dae asyik di ajak ngobrol. Mereka berdua berjalan-jalan sepanjang bibir Pantai.
"De, kalau boleh tau, kalian dari mana?" tanya Rion hati-hati.
"Mmmm, kami dari Jogja," jawab Dae.
"Owh...., apa kalian hanya berdua saja?" tanyanya lagi.
"Yup, kami hanya berdua," jawab Dae singkat.
Rion pun tersenyum mendengar jawaban cueknya.
"Kalau kalian datang dari mana? Apa kemari liburan?" tanya Dae menebak.
"Benar banget, kami datang dari Jakarta," jawab Rion.
Seketika Dae berhenti dan menoleh ke arah Rion.
"Kenapa berhenti?" tanya Rion heran.
"Ah gak apa-apa," jawab Dae yang melanjutkan jalannya.
"Ternyata mereka sama ya, datang dari Jakarta. Syukurlah gw bilang dari Jogja. Kalau gak pasti mereka minta ketemuan lagi. Males banget gw," bathin Dae.
Dae tak lagi berbicara, dia memilih diam sambil menikmati jalan-jalannya dengan Rion.
__ADS_1
Namun semua kegiatan Dae itu di pantai oleh seseorang. Yang meminta bodyguardnya mengikuti Dae kemanapun.