Calon Suamiku Ternyata Kakakku Sendiri

Calon Suamiku Ternyata Kakakku Sendiri
Bab 49


__ADS_3

Dae menatap Edy dengan sedikit tersenyum. Dia tidak menyangka jika Presdirnya ini memiliki keluarga di luar sana.


Lalu makanan yang di pesan mereka datang. Si pelayan membawakan makanan itu dan menghidangkannya di atas meja mereka.


"Silahkan Mbak dan Masnya. Kalau ada yang kurang, bisa panggil saya ya," ucap pelayan itu sopan.


"Makasih Mbak," balas Dae.


Lalu si pelayan itu pergi meninggalkan meja mereka.


"Dae, ini makanannya sepertinya lezat sekali, aku ingin mencobanya," ucap Edy dengan tak sabar mengunyah makanannya.


"Presdir, anda harus pelan-pelan makannya. Nanti bisa keselek," Dae mengingatkannya.


"Kamu sangat perhatian Dae. Aku senang mendengarnya," balas Edy.


Dae diam tak melanjutkan ucapannya lagi. Dia merasa sudah salah mengucapkan kata-kata itu. Dae pun ikut menikmati makan siangnya bersama Edy.


Dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba ponsel Dae berdering, Dae segera mengambilnya dari dalam tas dan melihat siapa yang menghubunginya. Dae tak menyangka jika yang menghubunginya adalah Ilyas. Dae segera mengangkat tlpnya.


"Assalamualaikum," sapa Dae duluan.


"Wa'alaikumussalam sayang," sahut Ilyas.


"Kenapa baru sekarang menghubungiku" tanya Dae kesal.


"Maaf sayang, aku salah karena tidak memberimu khabar kalau Ibuku sakit. Dan aku harus fokus mengurusnya," jawab Ilyas menjelaskannya.


"Kenapa kamu tidak memberitahuku, aku khawatir Yas," ucap Dae marah.


Edy yang mendengar rasa khawatir Dae terhadap orang tersebut, membuat hatinya terasa sakit. Namun dia berusaha tidak memperdulikannya.


"Maaf sayang, aku bersalah," balas Ilyas.


"Seharusnya kamu mengirimiku pesan, dan aku akan mengerti dengan keadaanmu Yas," sesal Dae.


"Iya, aku akui, aku salah. Maaf ya. Sekarang kamu dimana?" tanya Ilyas.


Dae terdiam sejenak, dia bingung untuk mengatakannya. Apakah dia harus jujur atau bohong Dae masih dia dalam pikirannya.


"Dae, kenapa kamu diam sayang?" tanya Ilyas.


"Aku sekarang lagi dinas di luar kota Yas. Aku pergi bersama beberapa karyawan lain yang ikut," jawab Dae.


"Loh kamu dinas kemana? Aku akan menyusul mu," pinta Ilyas.

__ADS_1


"Aku di Jogja. Kamu tidak perlu kemari. Karena ini urusan kerjaan, kita ketemu di Jakarta aja, ya," ucap Dae berharap Ilyas mengerti.


"Baiklah sayang, aku akan menunggumu. Oh ya, apakah kamu sudah makan sekarang?"


"Aku lagi makan Yas. Aku hanya ingin menikmati waktuku di sini sebelum besok sibuk," jelas Dae.


"Kalau begitu, nanti lagi dihubungi. Kamu hati-hati disana ya sayang. Aku mencintaimu," ucap Ilyas.


"Iya Yas, aku juga," balas Dae.


Lalu tlp pun di matikan. Dae sengaja tak mengucapkan seluruh kalimat terakhir yang di ucapkan Ilyas. Dia tidak ingin Edy terluka saat mendengar kalimat itu di ucapkan ke Ilyas.


Edy memandang Dae dengan tatapan yang berbeda. Ada rasa sedih, sakit bercampur aduk ketika mendengar kemesraan Dae dan laki-laki itu dalam percakapan. Tapi Edy tidak ingin Dae melihat kecemburuan di matanya. Dia ingin Dae yang merasa cemburu. Maka dari itu, Edy memiliki rencana untuk membuat Dae cemburu.


"Siapa yang menghubungi kamu Dae?" tanya Edy tenang.


"Oh itu Presdir Ilyas," jawab Dae tak enak.


"Oh...., apakah dia tidak pernah menghubungi kamu sebelumnya?" tanya Edy yang berpura-pura ingin tau.


"Ya, dia sudah lama tidak memberi khabarnya," jawab Dae.


Edy menganggukkan kepalanya, menandakan kalau dia mengerti.


Setelah mereka maka. siang di cafe, Edy mengajak Dae jalan-jalan ke Keraton menggunakan becak. Edy benar-benar ingin menikmati waktu berduanya bersama Dae.


"Setelah ini kita kemana Ed?" tanya Dae.


"Aku akan membawamu jalan-jalan ke Keraton. Kamu mau kan Dae?" tanya Edy balik.


"Wajah, mau banget Ed. Ayo kita kesana," ajak Dae antusias.


Lalu mereka naik becak menuju Keraton. Sepanjang perjalanan dengan menggunakan becak, Dae sangat menikmatinya. Dia bisa melihat bangunan-bangunan yang unik selama mereka melewatinya.


Hingga tak berapa lama, mereka sampai di tempat tujuan yaitu di Keraton.


"Ayo Dae, kita sudah sampai," Edy membantu Dae turun dari becak yang modelnya unik.


"Iya Ed."


Setelah membayar ongkos becaknya, Edy mengajak Dae masuk ke dalam Keraton. Mereka di pandu oleh abdi dalam. Dae sangat fokus mendengar cerita tentang Keraton. Begitupun juga dengan Edy. Mereka berdua terus menyusuri Keraton dengan di temani abdi dalam tersebut.


Dae sangat bersemangat hingga dia banyak memberikan pertanyaan ke abdi dalam tersebut.


Setelah luas berkeliling Keraton, Edy mengajak Cha kembali ke Hotel.

__ADS_1


"Gimana, sudah puas Dae?" tanya nya.


"Ya aku luas banget Ed. Aku ingin mencoba pohon beringin kembar itu Ed. Gimana kalau besok selesai pertemuan, aku akan mengajakmu ke tempat yang tenang," ajak Zain membuat Meka senang.


"Benar ya Ed, kamu janji akan membawaku jalan-jalan setelah selesai pertemuannya."


"Iya, aku janji Dae."


Dae merasa senang karena waktunya di Jogja tidaklah sia-sia. Walaupun harus bekerja, tapi Edy tidak terlalu memberikan aturan untuk tidak boleh menikmati suasana luar setelah pertemuan.


Edy dan Dae kembali ke Hotel yang kebetulan tempatnya tidak terlalu jauh dari Keraton. Mereka menggunakan becak lagi. Bagi Edy dan Dae, naik becak bisa membuat mereka santai menempuh perjalanan.


Akhirnya mereka sampai di Hotel. Dae terduduk di sofa karena kelelahan. Begitu juga dengan Edy yang kecapean habis dari luar.


Edy langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Dia merasa tubuhnya lengket, sehingga perlu untuk di bersihkan.


Sedangkan Dae, malah merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur hingga dia terlelap sebelum membersihkan tubuhnya.


Edy yang berada di dalam kamar mandi, tidak tau kalau Dae sudah tertidur.


Setelah selesai, Edy pun keluar dari dalam kamar mandi. Edy melihat Dae yang sudah tertidur tanpa mengganti bajunya. Edy pun tersenyum melihat tingkah Dae.


Lalu Edy menggunakan pakaiannya. Kemudian dia duduk di atas tempat tidur sambil membuka laptopnya. Dia mengirim pesan kepada Asistent Li untuk menanyakan perkembangannya.


Setelah Edy selesai dengan persiapan pekerjaannya, dia pun ikut membaringkan tubuhnya disamping Dae. Dia pun mulai memejamkan matanya hingga terlelap.


Malam pun semakin larut, Edy dan Dae masih terlelap nyenyak dalam mimpi.


Keesokan harinya, pagi yang cerah, Dae terbangun dan melihat sekeliling, lalu pandangannya jatuh ke Edy yang masih tertidur di sampingnya.


"Ya ampuuun, ternyata aku belum mengganti bajuku!" seru Dae kaget.


Lalu Dae segera turun dari tempat tidur. Dia pun berjalan memasuki kamar mandi. Dia ingin berlama-lama di dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya agar terlihat segar.


Setelah Dae selesai membersihkan tubuhnya, dia keluar dari dalam dan mendapati Edy yang masih tidur nyenyak. Dae pun segera menggunakan pakaiannya. Kemudian di mulai membangunkan Edy.


"Ed, ayo bangun. Ini sudah pagi loh!" Dae membangunkan Edy dengan menggoyangkan tubuhnya.


"Dae, cepat banget kamu membangunkanku," protes Edy.


"Ini sudah pagi Edy. Apa kamu tidak ada pertemuan untuk Perusahaan kita?" tanya Dae kesal dengan tingkah Edy yang ogah-ogahan bangun.


Seketika saat mendengar Perusahaan, Edy langsung bangkit dari tempat tidur. Dia langsung berjalan menuju kamar mandi untuk segera mandi. Edy tak ingin hari ini berantakan karena kecerobohannya.


Setelah selesai mandi, Edy menggunakan pakaiannya dengan rapi. Lalu dia segera menghubungi Asistent Li untuk mempersiapkan segalanya.

__ADS_1


__ADS_2