
Edy mengepalkan tangannya kembali saat mendengar Ilyas yang beraninya ingin melamar Dae. Ingin rasanya dia meninju laki-laki bodoh di hadapannya ini.
"Betapa bodohnya dia memiliki perasaan terhadap Dae. Apa dia tidak tau siapa Dae?" bathin Edy.
"Hei sayang, kenapa malah bengong?" tanya Ilyas yang membelai wajah Dae.
"Aku kaget aja Yas, kamu mau melamar ku di hadapan Presdirku. Aku malu sama Presdirku," elak Dae.
Sesungguhnya Dae memang terkejut mendengar ucapan lamaran Ilyas di hadapan Edy. Dia khawatir Edy akan marah banget. Tapi ternyata Dae justru bingung melihat sikap Edy yang tenang dan santai.
"Kenapa dia terlihat begitu tenang dan santai? Apa yang terjadi sama dia? Atau dia memiliki rencana lainnya? Jangan sampai dia berbuat yang aneh-aneh," bathin Dae.
"Kalau begitu ayo kita makan siang bareng. Kebetulan ada Presdir Edy. Kita bisa ngobrol santai, bukan begitu Presdir?" tanya Ilyas.
"Heum," Edy hanya membalasnya singkat.
Kemudian Ilyas mengambil posisi duduk di sebelah Dae. Dia merangkul pinggang Dae dan mencengkeramnya dengan erat.
"Sayang, kamu sudah pesan makananan? Kalau belum aku akan pesankan makanan kesukaanmu," ucap Ilyas yang ingin menunjukkan perhatiannya ke Edy.
"Aku sudah memesannya Yas. Kamu mau pesan apa?" tanya Dae.
"Ah iya, aku mau lihat dulu buku menunya," jawab Ilyas sambil melirik Edy.
Sementara Edy dengan santai dan tenangnya memainkan leptopnya.
"Presdir Edy, apakah anda akan menemani kami berdua disini?" tekan Ilyas yang sengaja mengusir Edy.
"Tentu, kenapa tidak?" jawab Edy santai.
Ilyas mengherankan melihat sikap cuek laki-laki di hadapannya ini. Dia tidak ingin terganggu oleh adanya Edy di antara mereka berdua.
Dae hanya diam saja melihat perang dingin yang terjadi dengan mereka berdua. Dia tidak bisa berbuat apa-apa saat ini.
Lalu pelayan datang mengantarkan makanan yang telah di pesan Edy dan Dea. Pelayan itu meletakkan makanan di meja mereka.
Kemudian Ilyas memberikan kertas untuk tambahan pesanan makanan.
"Ini tamabahan pesanan lagi," ucap Ilyas sambil menyodorkan kertas tersebut.
"Baik Tuan, tunggu sebentar," balas pelayan itu.
__ADS_1
Lalu si pelayan pergi dari hadapan ketiganya. Dia senyum-senyum melihat ketiganya yang dimana satu perempuan diantara kedua laki-laki.
"Wah aku sudah laper banget. Ayo Presdir di makan," ajak Dae yang melupakan Ilyas sejenak.
"Sayang, aku mau kamu suapin dong. Kan makanan ku belum datang. Jadi aku ingin kamu membaginya," ucap Ilyas yang memang sengaja memanasi Edy.
Edy pun menoleh mendongakkan kepalanya ke depan melihat reaksi Dae.
Dae terlihat canggung. Dia memperlihatkan senyum nyengirnya dan langsung memalingkan wajahnya ke Ilyas.
Dengan tangan gemetar, Dae memberikan suapan ke mulut Ilyas. Ilyas pun merasa puas dengan perlakuan Dae yang menurut terhadapnya. Hingga muncul seringai jahat di bibir Ilyas.
"Sayang, ini enak banget. Aku suka makanan yang kamu pesan ini. Ayo sini kamu, biar aku suap juga," Ilyas langsung mengambil alih sendok di tangan Dae dan dia mulai menyuapkan makanan itu ke mulut Dae.
Dae awalnya menolak untuk di suap, tapi karena Ilyas memaksa, akhirnya Dae membuka mulutnya dengan rasa canggung.
Ketika Ilyas berhasil memasukkan suapan ke dalam mulut Dae, Dae melirik ke Edy.
Edy yang ternyata melirik juga ke pasangan yang di depannya, menatap tajam ke arah Dae. Wajahnya memerah karena menahan amarah. Hingga sendok ditangannya sedikit membengkok karena tekanan yang dilakukan tangannya ketika mengaduk makanannya.
"Presdir Ilyas, ternyata anda orang yang romantis juga," ledek Edy sambil menikmati makanannya yang terasa hambar.
"Hahahaha, Dae sangat menyukai hal yang berbau romantis Presdir Ed. Bukan begitu Dae sayang?" Ilyas menatap ke Dae menginginkan jawaban Dae.
Ilyas merasa puas dengan jawab Dae. Dia langsung melirik dari sudut matanya ke arah Edy.
"Baiklah Presdir Ilyas, sepertinya saya dan Bu Dae harus segera berangkat."
"Bu Dae, saya akan menunggu anda untuk bersiap-siap," ucap Edy dengan tatapan tajamnya tanpa ekspresi.
Edy pun meninggalkan mereka berdua. Dia berjalan menuju kamarnya di lantai atas.
Sedangkan Dae terbengong melihat kepergian Edy. Dia ingin mengejarnya, namun akalnya masih waras untuk berpikir kalau Ilyas berada di sampingnya.
"Sayang, ayo makan lagi. Biarkan dia pergi," ucap Ilyas tenang.
"Iya, Yas sejak kapan kamu di hotel ini?" tanya Dae curiga.
"Baru hari ini. Kebetulan klien ku meminta untuk bertemu di Jogja. Aku rasa dia klien Perusahaan kamu juga sayang," jawab Ilyas.
"Masa sih? Aku rasa tidak. Karena urusan kami sudah selesai kemaren. Dan hari ini kami akan kembali ke Jakarta," jelas Dae.
__ADS_1
Lalu pelayan datang membawakan makanan pesanan Ilyas. Pelayan itu meletakkan makanan itu di atas meja.
"Silahkan Tuan, pesanannya sudah lengkap. Kalau ada tambahan bisa panggil saya," ucap pelayan itu ramah.
"Terima kasih Mbak," balas Dae.
Pelayan itu pun pergi meninggalkan mereka dengan senyum penuh arti.
"Ayo Yas makan. Aku akan menemanimu," ucap Dae.
"Apa kamu mau mencobanya sayang?" tanya Ilyas dengan menyendokkan makanannya.
"A--aku gak suka Yas. Kamu aja yang makan," tolak Dae sambil menutup mulutnya.
"Baiklah, aku akan menghabiskannya sendiri," balas Ilyas.
Dae yang sudah selesai menyantap makanannya hanya bisa melihat Ilyas. Pikirannya masih terfokus dengan Edy. Dae pun tak bersemangat menikmati makan siangnya. Namun dia tidak mungkin memperlihatkannya di hadapan Ilyas.
"Sayang, kamu berapa orang berangkat dari Jakarta?" tanya Ilyas menyelidik.
"Kami yang berangkat hanya beberapa saja Yas. Dan siangan ini akan kembali semua ke Jakarta. Tapi ada juga yang ingin tinggal beberapa hari lagi disini. Mereka mengajukan cuti," jawab Dae jelas.
"Oh....,berarti kamu boleh cuti? Bukankah yang lainnya ada yang mengajukan cuti?" tanya Ilyas yang membuat Dae mati kutu.
"Hehehe itu tak berlaku denganku Yas. Kamu tau sendiri Presdirku sangat galak dan dingin. Dia tidak akan membiarkan aku libur, karena aku bertugas bertanggung jawab di bagian Promotion," jawab Dae hati-hati.
"Hmmm, gitu ya. Baiklah, sekarang aku antar ke kamar kamu. Biar aku membantumu untuk bersiap-siap," ajak Ilyas.
"Ah, eh tidak usah Yas. Aku gak enak jika laki-laki masuk ke dalam kamarku. Maaf ya Yas, aku tidak ingin Presdirku menilai aku buruk," Dae sengaja berkilah untuk menutupi sesuatu dari Ilyas.
Tidak mungkin Dae mengatakan kalau dia dan Edy tinggal satu kamar. Akan terjadi gempa dahsyat di hotel nantinya. Makanya Dae tak mengizinkan Ilyas mengantarnya ke kamar.
"Ya sudah kalau gitu, aku tunggu kamu di lobby ya sayang. Jangan lama-lama," ucap Ilyas.
"Iya Yas. Aku akan tunggu sampai kamu selesai makan, baru kita ke lobby," balas Dae.
Kemudian Ilyas pun segera menyelesaikan makan siangnya. Setelah itu mereka keluar dari Restaurant. Ilyas mengantar Dae sampai di depan tangga.
"Aku akan tunggu kamu di lobby," ucap Ilyas dengan wajah tanpa ekspresi.
Dae melihat kepergian Ilyas yang berjalan ke arah lobby. Dia pun segera naik tangga menuju lantai atas. Sebelum dia sampai di atas, Dae menghubungi Edy untuk membukakan pintunya.
__ADS_1
"Ed, aku sudah di depan kamar," ucap Dae.
Saat Dae sampai di depan pintu, ternyata Edy sudah menunggunya di depan pintu kamarnya.