
Dae masih berdiam diri dalam ruangannya. Ingin rasanya dia melarikan diri dari situasi ini. Tapi semuanya tidak mungkin dilakukan Dae. Dia masih ingin menikmati gajinya yang lumayan besar didapatnya. Dae melirik jam dinding diruangannya.
"Hah, sepertinya aku harus segera naik ke lantai atas. Sebelum aku mendapatkan panggilan terburuk dari si Sekretaris Lu," gumam Dae.
Dae bergegas keluar dari ruangannya dan menuju lantai atas. Dimana Presdirnya sudah menunggunya.
Sesampainya Dae di lantai atas, dia melihat Sekretaris Lu yang setia duduk manis di mejanya menunggu sang Tuan meninggalkan ruangannya.
"Sungguh karyawan teladan, loyal dengan atasan," gumam Dae sambil terus melangkah ke pintu ruangan itu.
"Bu Dae anda sudah ditunggu sama Presdir," ucap Sekretaris Lu saat melihat Dae berjalan kearah ruangan Presdir.
"Terima kasih Pak atas ingatannya," balas Dae tersenyum kemudian langsung mengetuk pintu ruangan Presdir.
"Tok tok tok,"
"Masuk!" terdengar suara sahutan yang berasal dari ruangan itu.
Dae membuka pintu ruangan Presdirnya dengan jantung yang berdegup kencang. Antara canggung, gugup dan bingung. Lalu dia melangkah masuk ke dalam dan melihat Presdirnya yang sedang berdiri di depan jendela kaca menatap keindahan senja yang memang tiada duanya sehingga membuat siapa saja yang menatap pesonanya akan terlena bahkan hanyut dalam lamunan.
"Ekhem ekhem," Dae sengaja berdehem agar Presdirnya menyadari kehadirannya di dalam ruangan itu.
Sesaat kemudian, Presdirnya menoleh ke arah Dae dengan wajah tak senangnya.
"Anda telat Bu Dae," ucap Presdirnya yang masih setia berdiri disana.
"Maaf Pak, saya tadi menghubungi orang tua saya untuk memberitahukan bahwa saya lembur sampai malam," jelas Dae.
Edy tak menoleh sedikitpun ke Dae. Dia masih setia memandang pesona jingga yang sangat disukainya.
"Pak, apakah kita jadi keluar?" tanya Dae kesal karena tidak diperdulikan kehadirannya di dalam ruangan itu.
"Heum," hanya itu jawabannya.
"OMG, nih orang buat gw kesal ajaaaa! Tega banget buat gw berdiri lama disini. Benar-benar ingin menyiksa gw nih kayaknya. Oh Mama....help me Mam...! Dae pengen kabur dari sini...!" bathin Dae yang merengek meminta bantuan Mamanya.
Edy melihat ekspresi Dae yang kurang nyaman. Namun dia tidak memperdulikannya. Dia ingin melihat bagaimana sosok Dae jika sedang menahan kesalnya saat tak berdaya.
"Presdir, apakah saya boleh duduk," ucap Dae setenang mungkin. Padahal dalam hati Dae, merutuki sikap Presdirnya yang gak punya perasaan.
"Ayo kita pergi sekarang Bu Dae," ajak Presdirnya yang berjalan melewati Dae menuju keluar ruangan.
"Apa...., kita keluar sekarang? Enak banget dia ngomong gitu. Gw baru aja mau duduk istirahat karena pegel berdiri, dia langsung ngajak gw jalan. Oh ya ampuuuun Dae...malang bener nasib Lo sebagai karyawan," umpat Dae terhadap dirinya sambil ikut berjalan dibelakang Presdienya keluar ruangan.
Mereka masuk ke dalam lift. Di lift itu Dae hanya berdua dengan Presdirnya. Bukannya canggung, Dae justru memasang wajah cemberutnya dan kesal.
__ADS_1
"Anda lagi ada masalah Bu Dae?" tanya Presdirnya.
"Iya masalah sama Lo tau gak siiiiih!" bathin Dae yang merapatkan mulutnya kedalam.
"Ah nggak Pak. Saya tidak punya masalah apa-apa," jawab Dae yang berusaha tersenyum palsu.
"Kenapa anda seperti orang yang terbebani?" Apa ada yang membuat anda tak nyaman Bu Dae?" tanya Presdirnya dengan polos.
"Ihhhhh, udh gw bilang, yang buat gw gak nyaman tuh Lo. Semuanya itu terjadi karena Lo Presdiiiiir!" umpat Dae tapi hanya dalam hatinya.
"Gak ada loh Pak..,semua berjalan dengan sangat baik. Dan saya sangat nyaman bekerja disini," ucap Dae sambil tersenyum menahan deritanya.
"Heum," hanya itu jawabannya.
Setelah lift sampai dilantai paling bawah, Presdirnya keluar bersama Dae. Saat mereka keluar banyak mata yang memandang sinis dan tak suka melihat Dae. Dana dan ada juga yang merasa iba serta kasihan. Berbagai macam pandangan karyawan yang saat itu juga melihat kedekatan Presdir mereka dengan salah satu karyawannya.
Dae berjalan mengikuti Presdirnya di belakang. Dia berjalan dengan menengadahkan kepalanya kedepan. Menahan segala rasa yang bersarang di dadanya.
Tak menghiraukan tatapan sini dan kasihan dari para karyawan. Dia terus mengikuti langkah Presdirnya.
Setelah melewati berbagai macam pandangan, akhirnya Dae tiba diluar gedung. Saat hendak melangkah naik ke dalam mobil, tiba-tiba Presdirnya berkata
"Kamu ngapain duduk di depan?" tanya Presdirnya yang santai.
"Jadi saya mau duduk dimana Tuan?" Dae balik bertanya dengan mengatupkan giginya dan menampilkan senyumnya.
"Kenapa nasib gw gini amat ya. Perasaan gw gak ada masalah deh sama nih orang. Kenapa dia menghukum gw seperti ini!" bathin Dae yang masih menatap pintu mobil yang terbuka.
"Masuk Bu Dae!" bentak Presdirnya.
"Eh i..iya Pak," Dae bergegas masuk ke dalam mobil.
Suhu di dalam mobil terasa dingin hingga membuat tubuh Meka sedikit menggigil.
"Kamu kenapa?" tanya Presdirnya.
"Ah kayaknya dingin banget ya Pak disini," jawab Dae polos.
"Tidak, disini tidak dingin," jawabnya ketus.
Dae menahan rasa dinginnya sendiri. Ntah apa sebabnya dia merasa kedinginan. Sedangkan Presdirnya sama sekali tidak merasa kedinginan. Dae melirik ke sebelah, dimana Presdirnya memandang keluar jendela terus. Seperti ada sesuatu yang dipikirkannya.
Dae mencoba menyibukkan dirinya dengan berkirim pesan sama Ani sahabatnya.
"An, Lo udah pulang?"
__ADS_1
Dae menunggu balasan pesan dari Ani dengan terus menimang-nimang ponselnya. Hingga bunyi tring terdengar, Dae buru-buru mengeceknya.
"Belom, nih lagi beres-beres. Td gw hubungi tlp ruangan Lo, gak diangkat. Apa Lo udah pergi?" balas Ani.
" Hah, nih gw lagi duduk sama si kulkas. Dia sekarang berada disebelah gw," balas Dae.
"Awas loh jatuh cinta sama si kulkas. Lagian mending Lo sama si kulkas dari pada sama si arogan. Kalau gw milik si kulkas," Ani meledek Dae.
"Hahaha, kalau Lo mau silahkan nih deketin si kulkas. Gw gak minat," kilah Dae.
"Beneran Dae...., nanti Lo nyesel loh. Dia gak kalah tampan dari Tuan Ilyas," goda Ani.
"Gak! Gw gak tertarik!"
"Baiklah, selamat menikmati perjalanan Lo sama si kulkas tampan. Jangan lupa genggam tangannya biar gak lepas dari pandangan Lo, ckckck."
Ani sangat senang menggoda Dae yang sangat menggemaskan. Baginya itu adalah hiburan yang menyenangkan jika membuat sahabatnya itu merasa marah dan kesal.
"Ani....., gw akan balas Lo besok. Tunggu aja besok!"
Ponsel pun dimasukkan Dae langsung ke dalam tasnya dengan rasa kesal. Lalu dia membuang pandangannya kearah jendela.
Dae tak menyadari kalau tingkahnya seperti itu menjadi tontonan bagi Presdirnya disebelah. Ternyata saat Dae berbalas pesan dengan Ani, si Presdir melihat Dae yang sibuk mengetik dengan jari lentiknya. Presdir itu terus melihatnya dengan menyenderkan tubuhnya ke jendela. Pemandangan yang membuatnya menyunggingkan senyum.
Hingga akhirnya mereka sampai di sebuah Mall besar yang ada di Jakarta.
Edy keluar dari mobilnya tanpa menunggu Dae. Dia terus berjalan memasuki Mall itu. Dae kewalahan mengejar langkah Presdirnya.
"Pak, apakah anda bisa berjalan sedikit santai? Saya tidak mungkin mengikuti anda dengan berlari seperti ini!" Dae merutuki Presdirnya yang tidak memiliki perasaan.
Lalu si Presdir berhenti dan menoleh kebelakang. Dia menatap Dae dengan tatapan tajamnya dan tanpa ekspresi.
Kemudian dia melanjutkan berjalan dengan mengurangi kecepatannya seperti keinginan Dae.
Dae merasa lega dan bersyukur karena ternyata Presdirnya masih berbaik hati mau mendengar ucapannya.
"Ternyata walaupun dingin tapi dia masih mau mendengar diriku," syukur lah dia masih waras," bathin Dae yang mulai berjalan dibelakangnya.
Saat Dae berjalan dibelakang Presdirnya seperti seorang pembantu, Presdirnya berhenti mendadak hingga membuat Dae menabrak punggung belakang Presdirnya.
"Awwww, Pak jalan yang benar dong!" Dae membentak Presdirnya tak sengaja.
Ketika sadar, dia langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya dan tak berani menatap kearah Presdirnya.
"Oh Tuhan.....,apa yang aku lakukan! Kenapa sih bibir gak bisa diajak kompromi. Main nyembur aja," bathin Dae ketakutan.
__ADS_1
Edy mendengar suara bentakan dari Dae. Dia langsung membalikkan tubuhnya menghadap Dae dan berdiri menatap Dae dengan tenang.