
Dae pergi meninggalkan ruangannya dimana Ani masih berada disana dengan sejuta kekesalan dihatinya. Ani belum puas mendengarkan penjelasan dari Dae sahabatnya. Sehingga dia menuntut Dae untuk bercerita saat jam makan siang.
Dae masuk ke dalam lift menuju ruangan Presdirnya. Lalu pintu lift terbuka dan terlihat sosok yang sangat tenang duduk dimejanya dengan wajah yang tak tergambarkan.
"Pagi Pak Lu..!" sapa Dae.
"Oh Bu Dae..., mau ketemu Presdir ya. Udah ditungguin di dalam," balas Sekretaris itu tersenyum.
"Baik Pak, makasih."
Dae langsung berjalan kearah pintu ruangan itu dan membukanya tanpa mengetuk terlebih dahulu.
"Selamat pagi Pak Presdir!" sapa Dae saat dia sudah masuk ke dalam ruangan itu.
Presdir Edy saat itu sedang menerima tlp dari Mamanya yang menyuruhnya untuk datang kerumah Tantenya memberikan bingkisan untuk Tantenya.
Saat Dae masuk dan menyapanya, Presdir Edy tidak menyadari kehadirannya karena terlalu fokus dengan obrolannya. Sehingga dia tidak menyadari kehadiran Dae di dalam ruangan itu.
Setelah menyelesaikan obrolannya dengan Mamanya, Edy masih diam berdiri mengahadap dinding kaca yang memperlihatkan pemandangan gedung-gedung pencakar langit. Hingga suara deheman membuyarkan lamunannya.
"Ekhem ekhem, pagi Pak...!" sapa Dae sekali lagi.
Edy langsung membalikkan badannya menghadap Dae dengan mengerutkan keningnya.
"Sejak kapan anda berdiri disitu Bu Dae?" tanya Edy.
"Ah, saya baru saja kok Pak masuk ke dalam ruangan ini," jawab Dae yang berbohong.
Padahal Dae sudah berdiri dari tadi di ruangan itu dan mendengarkan pembicaraan Presdirnya dengan orang yang berada di seberang tlp.
Edy menatap Dae dengan tajam tanpa ekspresi. Dia meneliti apakah Dae mendengar pembicaraannya tadi.
"Silahkan duduk Bu Daa," perintah Presdirnya.
"Baik Pak."
Dae pun berjalan kearah kursi yang berada dihadapan meja Presdirnya. Dia merasa canggung melihat Presdirnya karena kejadian kemaren malam yang memalukan.
"Bu Dae, hari ini anda harus ke Perusahaan Presdir Ilyas untuk membahas tentang kesiapan eventnya," ucap Edy.
__ADS_1
"Sekarang Pak?" tanya Dae polos.
"Nggak, tahun depan," jawab Edy sarkas.
"Hehehe, bapak becanda. Masa saya harus mengerjakannya tahun depan. Kelamaan dong Pak," celetuk Dae.
Presdirnya merasa kesal dan terlihat sikap dinginnya sehingga membuat bulu kuduk Dae meremang karena kedinginan.
"Kalau anda tau kelamaan kenapa masih bertanya, hah!"
"Maaf Pak, kan hanya sekadar nanya. Sapa tau habis jam makan siang atau sebelumnya biar makan siang bareng gitu," balas Dae polos.
Edy yang mendengar semakin kesal dan rasanya dia ingin melemparkan bawahannya ini sekarang juga keluar sana. Dengan jawaban yang membuatnya kesal.
"Anda mau memperlama pekerjaan? Kalau saya menyuruh anda pagi ini keruangan saya, itu artinya anda harus segera ke Perusahaan Presdir Ilyas. Mengerti!" bentak Edy.
"Ya ampuuuun si kulkas ini, ternyata kejam juga ya sama karyawannya. Mimpi apa gw kemaren malam, hingga pagi-pagi begini mendapat bentakan dari atasan. Hah pengen nangis kalau gak mikirin kerjaan, udah gw pites kayak kutu nih si kulkas," bathin Dae yang geram melihat Presdirnya.
"Anda dengar gak yang saya katakan?! Malah bengong melamun," ucap Presdirnya yang sebenarnya merasa lucu melihat wajah Dae yang ketakutan.
"Eh, i..iya Pak. Saya akan ke sana sekarang juga Pak. Saya permisi dulu Pak," ucap Dae yang hendak bangkit dari kursinya.
"Siapa yang suruh anda pergi," ucap Presdirnya.
Kemudian Edy bangkit dari kursi kebesarannya dan berjalan kearah Dae yang sudah berdiri disamping kursinya. Edy berhenti tepat dihadapan Dae dan meneliti penampilan Dae dari atas sampai bawah.
Dae yang diperhatikan seperti itu merasa gugup dan salah tingkah.
"Mau apa nih si kulkas berdiri dihadapan gw. Jangan bilang dia mau macam-macam dan meneruskan apa yang terjadi kemaren malam. Dae....kenapa Lo malah diam, ayo pergi...!" bathin Dae yang berkecamuk.
"Bu Dae, anda sudah punya kekasih?" tanya Edy saat berdiri dihadapannya.
"Ah, maksud Presdir?" tanya Dae yang pura-pura bodoh.
"Sudah lupakan, bagaimana tidur anda kemaren malam Bu Dae? Apakah anda merasakan seperti yang saya rasakan?" bisik Edy dengan suara bass nya.
"Ah iya Pak, itu tidur saya sangat nyenyak. Dan saya sangat senang bisa senyenyak itu tidur," jawab Dae bohong dengan gugup.
"Saya justru tidak tenang Bu Dae," ucap Presdirnya lagi dengan suara pelan.
__ADS_1
"Maksud bapak, Presdir tidak tidur kemaren malam? Kenapa Pak?" tanya Dae terkejut.
"Karena Bu Dae," jawabnya santai.
"Hah....karena saya? Emang saya berbuat apa sama Presdir?" tanya Dae lagi.
"Kamu sudah buat hidup saya tidak tenang. Akibat kejadian kemaren, saya selalu membayangkannya terus-terusan hingga milik saya berdiri terus saat memikirkannya," jawab Edy tanpa malu dengan status dia sebagai Presdir.
Dae yang mendengarnya merasa malu hingga wajahnya seperti tomat merah dan kecanggungan pun muncul dirinya saat itu juga. Dae enggan membahasnya, karena dia menganggap ini di kantor dan sedang bekerja. Namun si Presdir justru mengingatkannya tentang kejadian kemaren.
"Kenapa saya Pak, saya kan juga jadi korbannya. Bukannya Presdir yang sudah melecehkan saya?" sarkas Dae tanpa menatap Presdirnya.
"Tapi kamu menikmatinya Bu Dae," balas Presdirnya dengan suara yang sudah serak.
"Sa...saya terbuai Pak. I...tu pengalaman saya pertama Pak, sehingga saya merasakan hal yang aneh," ucap Dae dengan polosnya.
Presdirnya sengaja membuat Dae semakin terpojok dengan kata-katanya. Dia ingin mengetahui apakah Dae pernah berbuat seperti itu dengan laki-laki lain. Dan akhirnya keinginannya terjawab, bahwa dia melakukan itu pertama kali. Itu artinya, dialah yang menyentuh Dae untuk pertama kalinya. Ada senyuman terbit di mata Presdirnya yang mengisyaratkan kebahagiaan dalam dirinya.
"Oh...., bagaimana kalau kita mengulanginya lagi Bu Dae?" tanya Presdirnya yang semakin mendekatkan dirinya ke Dae.
"Nggak usah Pak. Saya mau lanjut kerja Pak, saya harus ke Perusahaan Presdir Ilyas," jawab Dae gelagapan.
Dae hendak melangkah pergi, namun dia ditarik oleh Presdirnya dan masuk dalam dekapan Presdirnya. Mereka saling menatap, Dae terhipnotis dengan ketampanan Presdirnya, hingga dia tidak menyadari jika Presdirnya sudah melum** bibirnya yang sexy. Dae tersentak saat tangan Presdirnya meremas bokongnya.
Dae langsung melepaskan dirinya dari siksaan kenikmatan dari Presdirnya.
"Maaf Pak saya harus pergi sekarang," Dae langsung keluar dari ruangan itu sambil memegang dadanya yang deg degan.
Sekretaris Lu melihat penampilan Dae yang sedikit tidak rapi, dan dia melihat Dae dengan nafas ngos-ngosan seperti orang yang baru menyelesaikan lari maratonnya.
Dae baru menyadari jika Sekretaris Lu memperhatikannya dari tadi.
"Eh Sekretaris Lu, kenapa melihat saya seperti itu? Apa ada yang salah Pak?" tanya Dae yang mencoba mengatur nafasnya.
"Bu Dae kenapa berdiri disitu dari tadi? Apa ada masalah dengan Presdir?" tanya Sekretaris Lu dengan menyipitkan matanya.
"Oh iya, saya tadi mau masuk lagi karena ada yang lupa, tapi gak jadi Pak, permisi," ucap Dae sambil menundukkan kepalanya sedikit.
Lalu Dae segera pergi meninggalkan lantai yang membuat jantungnya deg-degan berolah raga. Dae masuk ke dalam lift menuju ruangannya. Hingga lift itu terbuka, Dae berjalan kearah ruangannya. Dia pun masuk ke dalam. Syukurnya tidak ada Ani sahabatnya yang rewel banyak pertanyaan membuat Dae pusing.
__ADS_1
Dae pun duduk dimeja kerjanya, namun otaknya tidak bisa diajak bekerja sama dalam mengerjakan pekerjaan kantor.