Calon Suamiku Ternyata Kakakku Sendiri

Calon Suamiku Ternyata Kakakku Sendiri
Bab 101


__ADS_3

Edy masih terus berpikir, dia melirik ke Dae yang terlihat santai menikmati makanannya.


"Dae, lusa aku akan ke Paris memberi khabar ke keluarga besar agar mereka datang di acara lamaran kita nanti. Dan aku sudah mengatur semuanya dengan Papa kamu mengenai lamaran nanti," ucap Edy menjelaskan.


"Iya Ed, aku ngikut saja. Tapi kita lamaran hanya di hadiri keluarga besar saja kan?" tanya Dae memastikan.


"Tentu sesuai permintaan kamu sayang. Saat lamaran kita hanya di hadiri keluarga besar. Nanti saat pernikahan kita baru mengundang semuanya," jawab Edy.


"Oh ya Ed, apa kamu menikahiku memang karena cinta?" tanya Dae yang mencoba mencari kejujuran dalam mata Edy.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Tentu aku menikahimu karena sangat mencintaimu Dae. Kamu tau sendiri kan, sejak awal aku mendekatimu karena perasaan di hatiku untukmu berbeda," jawab Edy mengungkapkannya.


"Bukan karena.....?" Dae menghentikan ucapannya, dan menatap Edy serius.


"Karena Ilyas?" tebak Edy.


Dae mengangguk membenarkan ucapan Edy. "Maaf, aku tidak bermaksud menyinggung kamu. Tapi aku tidak ingin kamu menikahiku karena orang lain."


"Ya ampun sayang....., ya tidaklah. Aku tulus mencintaimu Dae. Kalau aku tidak mencintaimu, mana mungkin aku kembali ke Jakarta untuk melamar kamu kemaren bersama orang tuaku," balas Edy yang sedih mendengar ucapan Dae.


Ada rasa kecewa yang dirasakan Edy ketika Dae mengatakan hal itu. Namun dia tidak ingin hal seperti itu membuat keadaan menjadi tak nyaman.


"Ya sudah, sekarang kita kembali ke kantor ya. Karena sore ini aku akan bertemu dengan klien," ucap Edy menyudahi makan siangnya.


"Iya, ayo," ajak Dae.


Setelah makan siang selesai, Dae dan Edy bergegas meninggalkan Resto itu. Saat melewati pintu, pelayan yang berdiri di depan pintu menunduk hormat kepada mereka. Dae semakin heran melihat tingkah kedua pelayan itu.


"Kenapa mereka begitu hormat kepada kita Ed?" tanya Dae.


"Ya mungkin karena kamu cantik dan aku tampan, makanya mereka hormat begitu," jawab Edy ngasal, lalu dia tertawa.


"Ih...., mana ada seperti itu. Gara-gara cantik dan tampan di hormati orang, aneh tuh pelayan," ketus Dae.


Mereka berjalan ke arah parkiran dan berjalan ke mobil. Kemudian Dae dan Edy masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


"Pak, kita kembali ke kantor," perintah Edy.


"Siap Tuan," balas supirnya.


Dae dan Edy duduk di belakang dengan sikap diam-diaman. Dae memilih melihat jalanan dari jendela kacanya. Sementara Edy sibuk dengan pikirannya tentang perkataan Dae tadi.


"Oh ya Ed, kamu tau kemaren sebenarnya aku tidak ingin berkomunikasi lagi dengan kalian berdua. Sehingga aku memutuskan pergi ke Jogja buat liburan bersama Ani," ungkap Dae tapi tak menoleh ke Edy.


Dae ingin banyak bercerita dengan Edy, namun dia tidak mungkin menceritakan tentang Ani yang menjebaknya. Bagaimanapun Ani sahabatnya yang membutuhkan pekerjaan. Jika dia memberitahukan kejahatan Ani, tentu saja Edy akan memecatnya. Dan Dae tidak ingin itu terjadi.


"Maaf karena aku meninggalkan mu saat itu. Aku tidak tau kalau Ilyas ternyata mengetahui semuanya bahkan tentang hubungan yang lebih kita lakukan," ucap Edy penuh sesal.


"Itu merupakan saat yang sulit bagiku Ed. Ilyas membenciku dan menghinaku. Dan aku pantas mendapatkannya."


Dae masih belum bisa melupakan kata-kata yang di lontarkan Ilyas tentang dia.


Edy mengambil tangan Dae dan menggenggamnya lalu meletakkannya di atas pahanya.


"Sekarang aku sudah berada di sisimu sayang. Kamu tidak perlu khawatir. Tidak akan aku biarkan orang lain menghinamu dan berbuat jahat terhadapmu," ucap Edy meyakinkannya.


"Terima kasih Ed. Aku berharap ini berakhir dan kita mulai membuka lembaran baru ya," ucap Dae penuh harap.


Edy langsung menariknya dalam dekapan dan mengecup mesra kening Dae. Dia mengangguk mengiyakan perkataan Dae.


Mereka diam sejenak sambil berpelukan. Edy merasa bahagia karena Dae mau memulai hubungan serius dengannya.


Tak berapa lama, mereka akhirnya sampai di parkiran kantor. Dae celingak-celinguk melihat situasi yang aman.


"Kenapa sayang? Apa yang kamu cari?" tanya Edy yang ikutan seperti Dae.


"Ah, aku ingin memastikan tidak ada karyawan kantor berkeliaran di sini. Aku takut mereka mengetahuinya," ucap Dae tersenyum.


"Hmmm, kamu lucu banget sayang. Kalau ketahuan sama mereka juga gak apa-apa kan." Edy mengacak-acak rambut Dae dengan lembut.


"Tapi aku belum siap Ed jika mendengar kata-kata buruk nantinya tentang aku dekat sama kamu," balas Dae lagi.

__ADS_1


"Biarkan mereka berbicara apa. Yang penting aku mencintaimu dengan segenap jiwaku," ucap Edy dengan sungguh-sungguh.


"Aku percaya itu," balas Dae dengan senyum manisnya.


Lalu Dae keluar dari dalam mobil dan dia berjalan cepat menuju pintu kantornya. Setelah sampai di dalam, Dae tidak melihat karyawan yang satu lantai dengannya. Dae mengelus dadanya dengan rasa tenang.


"Hah syukurlah tidak ada yang melihat gw. Semoga aman-aman saja," bathin Dae yang terus melangkah menuju lift.


Dae tidak menyadari jika ada seseorang yang sedang tersenyum sinis melihat kedatangannya. Dia adalah Pak Raffi yang baru saja kembali dari kumpul-kumpul dengan beberapa karyawan di cafe dekat kantor. Dan dia melihat Dae saat keluar dari toilet pria. Karena sebelum ke ruangannya, dia singgah ke toilet lantai bawah.


Begitu lift terbuka Dae buru-buru masuk ke dalam lift. Dan dia tidak menyadari dari arah belakang, Pak Raffi berlari mengejar lift yang terbuka agar dia juga ikut masuk.


"Selamat siang Bu Dae," sapa Pak Raffi yang membuat Dae terkejut.


Dae ketakutan karena begitu Pak Raffi masuk, pintu lift langsung tertutup. Dia menatap tajam ke arah Pak Raffi.


"Wah sepertinya Bu Dae habis dari luar ya? Enak dong bisa jalan berdua dengan seseorang," ucap Pak Raffi yang menebak.


"Saya tidak mengerti apa yang anda ucapkan," balas Dae dengan sikap dingin.


"Ah begitu ya. Tapi saya melihat Bu Dae keluar dari mobil Presdir tadi. Apa anda mencoba mendekati Presdir kita?" tanya Pak Raffi dengan menaik-naikkan alisnya.


Dae tersentak ketika Raffi mengatakan Presdir. Dia menatap tajam ke Pak Raffi.


"Santai Bu Dae, jangan menatap saya seperti itu. Kalau tidak benar, kenapa harus," ucap Raffi semakin berani.


Dae hanya diam, dia tidak ingin meladeni ucapan Pak Raffi.


"Kenapa sama Presdir ibu mau, tapi sama saya tidak mau? Apa karena Presdir kita kaya raya dan tampan. Sementara saya biasa saja? Padahal kalau pengalaman, lebih mantap saya buat Bu Dae melayang," ucap Raffi yang semakin kurang ajar berbicara.


Dae melotot dan memberikan tatapan mengerikan. Tapi Dae berpikir tidak ada gunanya melawan laki-laki yang tidak berguna seperti Raffi. Lagi-lagi Dae hanya diam dan kembali fokus menatap ke arah pintu lift.


Pak Raffi yang sangat ingin memancing Dae, menjadi kesal karena Dae bersikap tenang dan tidak terpancing emosinya. Dia mencari kata-kata untuk terus membuat Dae kesal dan marah.


"Hahahaha, ternyata Bu Dae sangat pinter bermain. Saya pikir Bu Dae perempuan yang kalem, ternyata lincah dan liar," sarkas Pak Raffi.

__ADS_1


Kali ini amarah Dae sudah sampai di ubun-ubun, dia siap meledak saat itu juga. Namun ketika Dae hendak mengamuk, pintu lift terbuka dan sosok Asistent Edy berdiri di depan lift.


__ADS_2