Calon Suamiku Ternyata Kakakku Sendiri

Calon Suamiku Ternyata Kakakku Sendiri
Bab 24


__ADS_3

Edy mengulang kembali pertanyaannya. Dia menatap Dae dengan sorotan mata yang lembut.


"Ma..maksud Presdir?" Dae masih pura-pura tak mengerti apa yang ditanyakan Presdirnya.


Mendengar ucapan Dae, semakin membuat Edy berang, dia mencengkram dagu Dae sedikit kuat hingga membuatnya meringis.


"Apakah dia kekasihmu? Jawab Dae...!" bentak Edy dengan tatapan tajamnya.


Dae menepis tangan Edy dari dagunya, dia melihat ada amarah yang terpancar dari mata Presdirnya. Dae berusaha memberanikan dirinya untuk menatap mata itu dan berkata lantang.


"Apa hak mu menanyakan itu? Itu bukan urusanmu!" bentak Dae balik. Dia tak memperdulikan sikapnya yang tidak lagi sopan terhadap atasan.


Bagi Dae, masalah pribadi tidaklah baik jika dicampur adukkan di dalam pekerjaan. Dia membenci hal seperti itu.


"Aku berhak berhak bertanya, karena aku mencintaimu!" ungkap Edy dengan tegas.


Dae terkejut hingga melangkah mundur ke belakang. Kakinya hampir tak memiliki daya untuk menahan berat tubuhnya karena mendengar pengakuan Edy.


"Ya, aku jatuh cinta sama kamu Dae....saat pertama kita bertemu di lift, dan kamu menabrakku.


Dae menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya. Dia syok mendengar pengakuan yang tiba-tiba dari Edy.


"Gak mungkin Presdir mencintai saya!" seru Dae.


"Apa yang tidak mungkin. Bagaimana dengan dia, apakah dia mungkin mencintai kamu Dae?" Edy mencoba membuat hati Dae bimbang.


Dae terdiam dan dia menundukkan wajahnya dengan memejamkan matanya.


Edy berjalan mendekati Dae dan berdiri tepat di hadapannya. Jarak mereka hanya sedikit. Edy bisa mencium aroma wangi perpaduan Lavender dan Rosemary dari tubuh Dae. Lalu Edy memeluk Dae tanpa permisi.


"Aku benar-benar mencintaimu Dae. Biarkan aku membuktikannya, jangan biarkan perasaanku membeku kembali seperti semula. Hanya kamu yang mampu membuatku seperti ini Dae..!" ucap Edy dengan suara baritonnya.


Dae tersentak mendapatkan perlakuan mendadak seperti itu dari Edy. Rasa nyaman dan tenang terasa di tubuh Dae.


"Perasaan apa ini? Aku hanya mencintai Ilyas. Hanya Ilyas," bathin Dae berkecamuk.


Dia tidak mungkin mengkhianati Ilyas. Dae tersadar dari rasa nyamannya dan dia langsung mendorong tubuh Edy.


"Maaf Presdir, saya tidak bisa," balas Dae tegas.


"Kenapa Dae? Apa aku tidak punya kesempatan untuk membuktikannya?" tanya Edy bersikeras.

__ADS_1


"Saya tidak bisa mengkhianatinya! Saya harap Presdir tidak membuang-buang waktu untuk mencintai saya," tekan Dae.


"Aku gak bisa Dae...," Edy merubah panggilannya agar terdengar akrab.


"Saya juga gak bisa Presdir," balas Dae.


Dae hendak melangkah pergi, namun Edy segera menarik Dae ke pelukannya dan dia tiba-tiba mencium bibir Dae dengan lembut.


Dae mendelik kan matanya, menatap Edy dengan amarah, namun tubuh dan bibirnya menikmati kelembutan yang diberikan Edy. Dae berusaha menolaknya dan memungkiri keinginannya. Hingga akhirnya Edy melepaskan pagutan sesaat itu. Lalu dia mengusap lembut bibir sexy Dae dengan jarinya yang putih menawan.


"Aku tidak menerima penolakan Dae. Kita sudah menjadi sepasang kekasih jauh sebelum dia mengungkapkan perasaannya. Kamu orang pertama dan terakhir yang bersentuhan denganku," ucap Edy yang tak memperdulikan tatapan Dae.


Lalu Edy pun keluar dari ruangan itu dengan senyum yang mengembang. Dia akan berjuang akan memiliki Dae selamanya.


Dae diam terpaku sambil memegang bibirnya yang masih basah akibat ulah Presdirnya.


"Apa aku ini wanita paling cantik sehingga direbutkan oleh dua Presdir? Hahahaha, kenapa saat aku tak memiliki kekasih, gak ada satupun laki-laki yang menembakku. Tapi sekarang apa ini? Dua laki-laki menginginkanku? Dae....Dae...hah, jangan main-main dengan mereka," Dae seperti orang stress, ngomong sendiri di dalam ruangannya.


Saat Dae sibuk dengan pikirannya, tiba-tiba sahabat Dae masuk nyelonong ke dalam ruangannya. Tentu saja Dae tak menyadarinya.


Ani melihat Dae yang berbicara sendiri sambil cekikikan, hingga dia menyimpulkan bahwa Dae sedang kerasukan demit kantor itu. Lalu Ani segera mengambil gelas yang berisi air putih dan membaca ayat-ayat Al-Qur'an yang diketahuinya dan menyiramkannya kewajah Dae.


"Pergilah kau demit kantor....,jangan ganggu sahabatku...!" teriak Ani sambil menyiramkan kembali air itu.


"Ani......! Apa yang Lo lakukan....hah...! Kampret Lo... An...!" teriak Dae murka sambil berkacak pinggang.


"Dae...sadar Dae..., ini gw sahabat Lo. Istighfar Dae...ingat Allah Dae...!" Ani malah mengguncang-guncangkan tubuh Dae. Dia mengira Dae masih kesurupan dan makin marah.


Dae menepuk jidatnya melihat tingkah konyol sahabatnya itu yang mengira dia kerasukan.


"Ani, Lo kira gw kerasukan demit iya?" tanya Dae yang masih berkacak pinggang.


Ani terdiam mendengar ucapan sahabatnya itu. Dengan polos dia mengangguk.


"Oh ya ampuuuun....nih orang. Lo lihat dulu dong, gw nih masih waras dan gak kerasukan tau...!" bentak Dae kesal sambil membenahi wajahnya yang basah.


"Loh, tadi kan gw lihat Lo sedang ngomong sendiri terus cekikikan gitu. Ya gw kira Lo kesurupan, makanya gw memberi pertolongan pertama dengan menyiram Lo air putih yang udah gw baca-baca. Seperti Mbah dukun," balas Ani konyol.


Dae menarik nafasnya dan membuangnya perlahan. Dia berjalan kearah Ani dan berhenti di hadapannya. Lalu Dae menepuk jidat Ani pelan dan berkata.


"Lain kali jangan mengambil kesimpulan sendiri sebelum mencari tahu lebih dulu apakah gw kesurupan atau tidak. Lagian ngapain Lo nyelonong ke dalam?" tanya Dae.

__ADS_1


Ani langsung menarik Dae duduk di sofa. Dia ingin menanyakan banyak pertanyaan ke Dae.


"Gw kepo sama Lo dan mereka," ucap Ani.


Dae mengerutkan keningnya saat Ani mengatakan mereka.


"Maksud Lo mereka?" tanya Dae yang beeoura-pura.


"Itu loh Dae...Presdir Ilyas dan Presdir kita sendiri. Jangan bilang kalian cinta segitiga," ucap Ani seenaknya.


"Hahahaha cinta segitiga, boleh juga tuh buat novel judulnya seperti itu. Gw jadi pengen buat novel cinta segitiga Presdir, keren kan!" seru Dae yang mengalihkan pembicaraannya.


"Dae...gw serius nih nanya. Gimana ceritanya?" Ani memaksa Dae untuk berbagi cerita.


"Kalau gw gak mau cerita gimana?" tanya Dae cuek.


"Isssssh Dae...! Lo pelit amat sih. Tetangga gw si Amat aja gak pernah pelit sama gw. Masa Lo sahabat sendiri pelit bagi cerita," Ani cemberut.


"Emang Lo mau tau apa An? Gw sama mereka biasa saja. Gak ada kejadian yang luar biasa," bohong Dae.


"Serius Lo Dae!" Ani curiga.


"Serius loh...! Mereka hanya sebatas atasan bagi gw, itu aja," balas Dae.


"Terus tadi gw gak sengaja mencuri dengar di depan ruangan Lo, kalau Presdir kita mengungkapkan perasaannya. Apa itu benar Dae?" tanya Ani menyelidik.


"Ihhhh, Lo nguping ya. Dosa loh An nguping pembicaraan orang," jawab Dae.


"Gw gak sengaja Dae..Jangan salahkan gw dong, tapi salahkan telinga gw yang gak mau pergi dari pintu ruangan Lo," guyon Ani.


"Yeeee, itu bisa Lo aja ngelesnya."


"Hahaha, Dae...Dae..., Lo itu gak bisa menyembunyikan apapun dari sahabat Lo ini. Mending Lo jujur, kalau gak gw bakalan aduin sama Mama Lo, kalau Presdir kita jatuh cinta sama Lo," ancam Ani.


"Eits, Lo mau coba-coba ngancam gw ya?!" marah Dae.


"Ya sedikit sih. Kalau Lo jujur, pasti kata ancaman gak ada," balas Ani nyengir.


"Lo harus janji tidak boleh menceritakan sama siapapun tentang hal ini," pinta Dae.


"Gw janji," Ani menunjukkan jari kelingkingnya.

__ADS_1


Dae pun menghela nafasnya dengan berat. Dia membenarkan tempat duduknya dan mencoba merilekskan pikirannya.


__ADS_2