
Dae pun menjalankan perintah Mamanya. "Ini silahkan di makan," ucap Dae sambil menyerahkan piring yang sudah berisi nasi dan lauk nya ke Edy.
"Terima kasih Dae," balas Edy tersenyum.
Mamanya Dae dan Papanya merasa senang karena Dae menerima lamaran Edy.
Setalah mereka menyelesaikan sarapan pagi bareng, Edy mengajak Dae berangkat ke kantor.
"Om, Tante, saya dan Dae pamit berangkat dulu ke kantor," pamit Edy.
"Iya nak Edy, kalian hati-hati ya di jalan. Dan nak Edy harus sabar-sabar dengan sikap Dae ya," ucap Papanya Dae.
"Iya Om gak masalah kok. Saya senang melihat Dae yang lincah," balas Edy sambil melirik Dae.
Dae mendelik ke arah Edy dengan bibir mencibir tak suka.
"Hmmm, pinternya ngambil hari ortu gw. Nyebelin banget," gumam Dae dengan suara pelan, namun masih terdengar oleh Edy.
Edy menggeleng-gelengkan kepalanya merasa lucu mendengar celotehan Dae.
Mereka pun pergi dengan menggunakan mobil Edy. Di dalam mobil, Dae hanya diam. Dia lebih memilih memandang pemandangan di luar mobil.
"Dae," panggil Edy sambil tetap fokus menyetir.
"Heum, ada apa?" tanya Dae yang tidak mengalihkan pandangannya dari semula.
"Maaf karena aku tidak memberitahumu sebelumnya. Aku hanya ingin memilikimu Dae. Dan aku serius dengan ucapanku," jawab Edy.
Edy mengambil sikap ini karena dia tidak ingin kehilangan Dae. Edy tidak mau kalau Dae berpaling darinya dan menerima cinta lainnya.
"Kenapa kamu kembali ke Indonesia?" tanya Dae penasaran.
"Aku kembali karena memang aku tidak bisa meninggalkanmu dan melepaskan mu begitu saja. Kamu tau, sejak awal kita bertemu, aku sudah jatuh hati terhadapmu. Dan aku tidak mau terlambat dari orang lain," ungkap Edy.
"Terima kasih Ed, aku pikir kamu bakalan benaran akan meninggalkanku," ucap Dae yang akhirnya menatap ke Edy.
"Awalnya iya, aku akan menyerah, tapi semakin aku coba untuk melupakanmu, tetap gak bisa. Akhirnya aku membuat keputusan ini semua dengan matang," balas Edy sambil tersenyum.
Dae diam mendengar penjelasan Edy. Ntah kenapa Dae belum bisa merasakan perasaan yang benar-benar mendebarkan. Berbeda dengan Rion dan Ilyas.
__ADS_1
"Kenapa aku malah mengingat mereka? Hah, Dae sebentar lagi kamu akan menjadi pendamping Edy. Kamu gak boleh memikirkan yang lainnya lagi," bathin Dae yang merasa bersalah.
Akhirnya mereka sampai di kantor. "Ed, sebaiknya aku masuk duluan ke dalam. Aku belum siap yang lainnya mengetahui hubungan kita. Aku harap kamu ngerti," mohon Dae dengan wajah memelas.
"Baiklah, kamu boleh masuk duluan ke dalam. Aku akan menyusul. Nanti temui aku di ruangan jam makan siang ya," pinta Edy.
"Heum, aku akan ke ruangan mu nanti," balas Dae.
Lalu Dae keluar dari dalam mobil. Dia berjalan memasuki Perusahaan Edy dengan santai. Saat Dae berjalan dengan langkah tenang, Ani memanggil Dae dari depan pintu.
"Dae....!" panggil Ani.
Dae berhenti, "Heh, kenapa aku harus bertemu dengannya. Padahal aku sudah berusaha menghindar," gumam Dae. Lalu Dae membalikkan badannya melihat kedatangan Ani.
"Lo udah datang? Tumben cepat datang ke kantor? Gimana dengan mobil Lo di Jogja?" tanya Ani yang terus mencecar Dae.
"Ah iya itu, aku hanya ingin jadi karyawan baik dengan datang tidak terlambat. Mengenai mobil gw sudah datang, tapi masih di bengkel," jawab Dae dengan memaksakan senyumnya.
"Oh...., oh ya kemaren gw ketemu sama Denny. Tapi Rion nya gak bisa datang. Gw maka. siang bareng yang lainnya. Mau ngajak Lo, ternyata Lo nya gak ada," ucap Ani yang melirik ke arah Dae.
"Iya gw pengen cepat pulang kemaren. Agak pusing dikit, jadi izin pulang duluan sama si Bos," balas Dae.
"Bos?" tanya Ani.
"Dari mana Lo tau dia balik dari Paris?" tanya Ani menyelidik sambil menyipitkan matanya.
"Oh itu, kemaren gw di panggil ke ruangannya. Ternyata Presdir Edy yang memanggil. Makanya gw tau dia baru balik dari Paris," jawab Dae jujur.
"Oh...gitu ya," balas Ani mengangguk-anggukkan kepalanya.
Ani sempat curiga kalau Rion pergi sama Dae kemaren. Namun karena Dae mengatakan kalau dia kembali ke rumahnya, Ani sedikit legah karena Rion tidak bersama Dae.
Mereka masuk ke dalam lift menuju lantai atas tempat ruangan kerja mereka. Dae yang Manager Promotion, memiliki ruangan sendiri sehingga membuatnya nyaman dan tidak harus bertatap muka terus sama Ani.
Sesampainya di lantai ruangan mereka, Dae segera masuk ke dalam tanpa berpamitan dengan Ani. Ada rasa canggung diantara mereka.
"Hah syukurlah cepat sampai ke ruangan ini. Kalau tidak, gw males berlama-lama dengan dia," gumam Dae.
Lalu Dae melihat agendanya hari ini dan dia mulai menjalankan aktifitasnya di ruangan itu.
__ADS_1
Tiba-tiba suara ketukan di pintu terdengar, Dae sempat melupakan sosok laki-laki yang mengejarnya yaitu Pak Raffi.
"Hallo Bu Dae...., apa khabar?" tanya Pak Raffi tanpa permisi masuk ke dalam ruangan Dae.
"Anda!" seru Dae terkejut.
"Lama tidak bertemu Bu Dae. Gimana Khabar anda?" tanya Pak Raffi yang mulai membenci Dae.
"Mau apa Anda kemari? Silahkan tinggalkan ruangan saya. Lagian saya tidak ada urusan sama Bapak," jelas Dae yang memang tidak mau Pak Raffi di ruangannya.
Pak Raffi hanya sekedar basa basi menemui Dae. Dia sudah tidak tertarik untuk mendekati Dae karena Edy pernah memperingatinya untuk tidak mengganggu Dae.
Setelah selesai dari ruangan Dae, Pak Raffi berjalan ke arah ruangan Ani. Dia menemui Ani karena ternyata Ani menghubunginya.
"Kenapa Anda memanggil saya kemari?" tanya Pak Raffi dengan wajah genitnya.
"Sabar Pak Raffi, tolong kecilkan suara Anda jika tidak ingin yang lainnya mendengar," ucap Ani tegas.
"Hohoho baiklah. Apa tujuan Anda memanggil saya ke sini?" tanya Pak Raffi tanpa basa basi.
"Saya ingin menghancurkan seseorang. Dan saya membutuhkan Anda sebagai partner saya," jelas Ani.
"Menghancurkan seseorang? Siapa?" tanya Oak Raffi dengan memicingkan matanya.
"Anda pasti mengetahuinya," jawab Ani.
Pak Raffi mengerutkan keningnya bingung. "Siapa yang di maksud perempuan ini? Tunggu...apa maksud dia Dae?" bathin Raffi dengan kening berkerut dalam.
"Kenapa Pak Raffi, apa sudah mengetahuinya?" tanya Ani dengan tatapan tajamnya.
"Jangan bilang kamu menyuruh saya untuk menghancurkannya," tebak Pak Raffi yang tak ingin mengucapkan namanya.
"Tentu, gimana?" tanya Ani dengan menaikkan kedua bahunya.
"Gila, itu tidak mungkin!" serunya. "Lagian apa keuntunganku kalau aku mau membantumu?" tanya Pak Raffi yang tidak mau rugi.
"Baiklah, Anda mau apa dari saya?" tanya Ani menantang.
"Gimana kalau Anda membayarnya dengan tubuh ini," ucap pak Raffi sambil menunjuk diri Ani.
__ADS_1
Ani terkejut mendengar ucapan Pak Raffi. Dia sangat membutuhkan bantuannya. Lalu dia berpikir dan setelah itu, Ani langsung menyetujui permintaan Pak Raffi.
"Baik, saya setuju. Kita sepakat untuk saling membantu," ucap Ani dengan senyum jahatnya.