Calon Suamiku Ternyata Kakakku Sendiri

Calon Suamiku Ternyata Kakakku Sendiri
Bab 46


__ADS_3

Dae terus menunggu balasan pesan dari Edy tapi justru Edy tak juga merespon pesannya.


Sementara Edy sedang mempermainkan Dae. Dia sengaja tak membalas pesan Dae sampai esok mereka bertemu. Edy membiarkan ponselnya tergeletak di atas meja, dia memilih untuk beristirahat agar esok hari bisa bangun pagi. Edy melangkah ke tempat tidurnya, merebahkan tubuhnya dengan perasaan senang dan bahagia. Dia pun mulai memejamkan matanya, berharap esok hari yang menyenangkan untuk dijalani.


Berbeda dengan Dae. Dia masih uring-uringan karena tak juga dapat balasan dari Edy. Ingin dia bertanya ke Papanya, tapi sifat gengsi Dae lebih dominan. Dia tak ingin terlihat murahan di hadapan Papanya dengan bertanya apa yang diobrolkan.


Akhirnya Dae memilih naik ke atas tempat tidurnya dan dia menjatuhkan tubuhnya sambil merentangkan kedua tangannya dengan mengehela nafas beratnya. Dae pun mencoba memejamkan matanya hingga dia bisa terlelap tidur dengan nyenyak.


Pagi pun tiba, matahari menyinari bumi, menembus jendela kamar Dae memberikan cahaya yang terang. Dae terbangun dan menguap lebar. Dia melihat ke arah jam yang ternyata sudah pagi.


Dae buru-buru turun dari tempat tidur dan bergegas untuk mandi. Dia tidak ingin di hukum sama Presdirnya gara-gara telat.


Setelah Dae menyelesaikan ritual mandinya, dia pun mulai menghias dirinya. Lalu Dae membawa travel bag kecil keluar dari dalam kamarnya. Dari depan pintu kamarnya, Dae melihat ke dua orang tuanya sudah berada di meja makan.


"Pagi Ma, Pa!" sapa Dae terhadap orang tuanya.


"Pagi sayang," sahut keduanya.


"Dae, kamu mau kemana sayang?" tanya Mamanya yang gak tau apa-apa.


"Dae mau keluar kota Ma, dinas sama beberapa karyawan Perusahaan," jawab Dae santai.


"Loh, kok mendadak perginya?" tanya Mamanya bingung.


Papanya Dae melirik ke arah istrinya yang memang tidak tau apa-apa karena Papanya Dae maupun Dae belum memberitahukan tentang kepergian Dae.


"Loh, Mama belum tau kalau hari ini Dae mau ke luar kota?" tanya Dae balik.


"Belum, gak ada yang memberitahu Mama," jawab Mamanya celingak-celinguk melihat Dae dan Papanya.


"Apa Papa belum memberitahukan ke Mama?" tanya Dae lagi.


Mamanya Dae mendelik ke arah suaminya. Dia menatap horor dengan kesal memarahi suaminya.


"Papa, gimana sih, kok gak ngasih tau Mama kalau hari ini Dae ke luar kota?" protes Mamanya dengan sikap suaminya.


"Hehehe, Papa kelupaan Ma. Tadi malam mau ngasih tau Mama, eh malah Mama tidur," jawab suaminya santai.


"Ihhhhh, Papa gimana sih. Terus dia pergi sama siapa?" tanya Mamanya ke suaminya.


"Atasan Dae kemaren menemui Papa langsung minta izin Ma. Jadi ya Papa kasih izin," jelas Papanya Dae.


"Sekarang kamu Dae berangkat ke Bandara atau kantor dulu ini?" tanya Mamanya ke Dae.


"Katanya sih atasan Dae mau jemput Ma kesini. Tapi belum tau sih," jawab Dae.


"Atasan kamu? Tumben mau jemput kamu segala. Apa ada sesuatu kamu sama atasan kamu Dae?" tanya Mamanya langsung menebak.


Dae menatap Mamanya dengan tatapan yang menakutkan. Dia merasa Mamanya memiliki kelebihan yang bisa membaca keadaan orang lain.

__ADS_1


"Ng-- nggak ada Ma, dia hanya atasan Dae aja," jawab Dae gugup.


Papanya Dae tersenyum melihat kegugupan anaknya. Dia paham dan mengerti kalau diantara mereka memang ada hubungan yang spesial. Namun Papanya Dae mencoba diam, dan membiarkan Dae menjalankannya dengan cara Dae sendiri.


"Mama jangan kayak polisi aja, memberondong anaknya dengan banyak pertanyaan. Kasihan kan Dae, jadi bingung," bela Papanya Dae.


Dae tersenyum penuh arti mendengar Papanya yang membelanya. Hingga dia melirik sekilas ke arah Mamanya dan ingin melihat ekspresi Mamanya.


Tiba-tiba mereka mendengar suara klakson mobil di depan rumah. Ternyata Edy datang menjemput Dae. Edy tidak membawa mobil sendiri, melainkan dengan Asistent Li dan supir pribadi.


Edy turun dari mobil sendirian. Sedangkan Asistent Li menunggu di dalam mobil.


Bibi segera membuka pintu rumah dan melihat siapa yang datang.


"Bi, Dae nya ada?" tanya Edy.


"Ada Tuan, sebentar saya panggilkan," lalu si bibi masuk ke dalam dan memberitahukan sama Dae.


"Non Dae, di depan ada tamu yang nyari non Dae," ucap si bibi.


"Siapa bi?" tanya Mamanya Dae yang penasaran.


"Saya gak tau Nyonya, tapi orangnya ganteng dan lebih ganteng dari yang kemaren-kemaren datang," jawab si bibi memberitahu.


Lalu Mama dan Papanya Dae meninggalkan meja makan dan berjalan menuju teras depan.


"Pagi Om, Tante," sapa Edy sambil menyalami keduanya.


"Pagi," balas Mamanya Dae.


Mamanya Dae meneliti penampilan Edy dari atas sampai bawah. Papanya Dae yang menangkap dari sudut ekor matanya, menegur Mamanya Dae dengan berdehem.


"Ekhem, Presdir Edy, silahkan masuk dulu, kita sarapan bareng," ajak Papanya Dae.


Dae terkejut mendengar keramahan Papanya terhadap orang asing. Dia tak menyangka jika Papanya menaruh hormat terhadap Edy.


Begitupun dengan Mamanya Dae, yang melotot melihat sikap suaminya yang terlalu berlebihan.


"Maaf Om sepertinya kami harus segera berangkat ke Bandara, karena akan ditunggu dengan yang lainnya," jawab Edy sopan.


Mamanya Dae terus menatap Edy dengan tatapan curiga. Dia merasa yakin jika Edy memiliki perasaan terhadap putrinya. Dia tidak ingin Dae jatuh cinta dengan Presdirnya. Karena dia sudah janji terhadap sahabatnya untuk menjodohkan mereka berdua.


"Baiklah kalau gitu, saya titip Dae disana. Tolong bantu Dae agar bisa bekerja dengan baik," pinta Papanya Dae.


"Baik Om, saya akan mengajari Dae untuk bekerja dengan baik," balas Edy dengan senyum puasnya.


"Ma, Pa, Dae berangkat dulu ya," pamit Dae sambil menyalami tangan orang tuanya.


Edy pun melakukan hal yang sama terhadap orang tuanya Dae.

__ADS_1


Kemudian Dae dan Edy masuk ke dalam mobil. Mobil pun pergi meninggalkan rumah Dae. Dae diam tak bersuara, dia merasa tak enak karena ada Asistent Li di depan. Dae lebih memilih diam memandang jalanan yang cukup ramai sehingga membuat jalanan macet. Dae bingung dan heran saat dia menyadari mobil melaju bukan ke Bandara.


"Loh Presdir, bukannya kita akan ke Bandara?" tanya Dae bingung.


"Bu Dae, anda tidak perlu khawatir, kita akan segera berangkat ke Jogja," jawab Asistent Li dari depan.


"Tapi ini bukan jalan ke Bandara? Kita mau kemana ini?" tanya Dae yang mulai ketakutan.


Edy tak menggubris pertanyaan dan kebingungan Dae. Dia fokus di depan leptopnya. Sementara Asistent Li, dia sudah mulai berkeringat dingin karena mendengar Bu Dae yang terlalu banyak bicara.


Perjalanan yang lama membuat Dae takut akan di bawa kabur. Tapi saat ini mobil justru membawa mereka ke lapangan yang luas dimana terlihat Pesawat yang parkir hanya satu.


Mobil pun berhenti tepat di dekat Pesawat itu. Edy dan Asistent Li keluar dari mobil. Lalu di ikuti dengan Dae.


"Ayo Dae kita berangkat," ajak Edy yang melihat kebingungan Dae.


"Kemana yang lainnya?" tanya Dae celingak-celinguk.


"Bu Dae, mereka naik Pesawat di Bandara. Sedangkan Presdir Edy dan Bu Dae akan naik Pesawat pribadi Presdir Edy.


Seketika kaki Dae lemas, dia tak menyangka kalau Edy sudah merencanakan ini semua. Dia harus berdua dengan Presdirnya selama satu jam.


"Hehehe, kenapa saya harus ikut sama anda Presdir? Saya bisa bersama yang lainnya berangkat ke Jogja," ucap Dae kesal.


"Tidak, kamu boleh pergi, jika sama saya," perintah Edy tanpa senyum.


Edy sengaja membuat Dae kesal. Dia bisa melihat raut wajah Dae yang menggemaskan. Dengan pergi berdua, Edy memiliki waktu yang nyaman untuk berduaan.


"Ayo Dae kita naik ke Pesawat," ajak Edy.


Mau tak mau, Dae akhirnya mengalah. Dia pun mengikuti Edy naik ke atas Pesawat. Dengan langkah malas dia menaiki tangga satu persatu hingga mencapai atas.


Asistent Li membawa mereka ke ruangan khusus, dimana hanya ada Edy dan Dae saja.


"Kenapa Asistent Li tidak bergabung dengan kita?" tanya Dae curiga.


"Saya akan menunggu di ruangan lain Bu Dae," jawab Asistent Li.


Kemudian pintunya tertutup rapat, Dae masih berdiri diam di tempatnya. Dia takut melangkah ke dalam.


"Dae, ayo kemari!" panggil Edy.


"Eh iya Presdir, saya lebih baik keluar saja dan bergabung dengan Asistent Li," balas Dae.


Mendengar ucapan Dae yang lebih memilih bersama Asistent Li, Edy menjadi kesal. Dia menatap Dae dengan tatapan dingin tapi terlihat kalau Edy tak suka dengan ucapan Dae.


"Tidak, kamu disini bersama saya." tekan Edy.


Dae mengehela nafas beratnya. Akhirnya dia mengalah dan melangkah masuk ke dalam dan duduk di sofa.

__ADS_1


__ADS_2