
Dae mencoba menikmati makanannya dengan santai. Dia acuh tak acuh dengan keberadaan Pak Raffi. Tanpa mau berlama-lama di tempat itu, Dae segera beranjak dari kursinya. Namun ucapan Pak Raffi menghentikan langkahnya.
"Bu Dae, kenapa kamu menolakku dan menerima dia? Apa karena dia seorang Presdir yang berkuasa?" tanya Raffi di hadapan orang banyak.
Dae terdiam tak bersuara, dia tidak ingin ada keributan di Restaurant itu. Dengan langkah cepat dia meninggalkan tempat itu dan berjalan menuju kamar mereka. Kebetulan kunci kamarnya di pegang sama Dae.
Sementara Edy, dia melihat kepergian Dae yang terburu-buru dari lobby. Saat ini Edy sedang bertemu dengan Presdir Perusahaan yang akan menjadi partner bisnis Perusahaan mereka. Saat Dae melewatinya, mata Edy tertuju fokus dengan Dae.
"Ada apa dengannya? Apa yang sudah terjadi?" bathin Edy yang tidak begitu fokus lagi.
"Presdir Edy, bisa kita lanjutkan lagi?" tegur Sekretaris Perusahaan partner.
"Ah iya silahkan di lanjutkan," balas Edy.
Kerjasama yang dilakukan kedua Perusahaan berjalan dengan lancar. Walau pikiran Edy hanya tertuju dengan Dae, tapi dia berusaha profesional di hadapan rekan bisnisnya.
Setelah semuanya selesai, Edy bergegas menuju lantai atas dimana Dae berada di dalam kamarnya.
Edy berjalan sedikit cepat, dia khawatir dengan keadaan Dae. Hingga akhirnya dia sampai di depan kamar Dae
Edy mengetuk pintu kamar Dae hingga beberapa kali. Kemudian Dae membukanya dan meninggalkan Edy yang berdiri di depan pintu.
Edy pun melangkah masuk ke dalam kamar. Dia melihat Dae sedang berbaring di atas tempat tidur. Keadaan Dae hari ini sedikit buruk. Dia tidak bersemangat untuk ikut serta dalam meninjau lokasi. Dae membenamkan tubuhnya ke dalam selimut. Dia tidak ingin diganggu siapapun.
"Dae, kamu kenapa? Apa yang terjadi?" tanya Edy yang mendekati tempat tidur Dae.
Edy duduk di pinggiran tempat tidur. Lalu dia ikut masuk ke dalam selimut membaringkan tubuhnya dan memeluk Dae.
Dae terkejut dengan tingkah Edy yang tiba-tiba saat ini.
"Presdir apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu disini? Bukannya kamu harus pergi meninjau lokasi?" tanya Dae yang sedikit gak nyaman.
"Aku memutuskan untuk tidak ikut. Aku ingin menemanimu disini. Katakan apa yang terjadi denganmu?" tanya Edy yang masih setia memeluk Dae.
"Aku lagi capek aja Ed," jawab Dae singkat.
__ADS_1
Dae tak mungkin menceritakan kejadian tadi di Restaurant. Dia tidak mau memperkeruh suasana. Jika dia mengatakan sama Edy tentang ucapan Pak Raffi, Dae khawatir Edy akan melakukan sesuatu terhadapnya. Dae hanya memikirkan nasib keluarga laki-laki itu.
"Apa kamu berkata jujur Dae?" tanya Edy yang curiga.
"Heum," Dae pun mengangguk.
"Kalau begitu biarkan aku menemanimu disini. Kita akan menghabiskan waktu berdua disini," ucap Edy.
"Bukannya tadi kamu terlihat cuek terhadapku. Kenapa sekarang kamu malah ingin menemaniku?" tanya Dae yang teringat sikap Edy tadi saat di Restaurant.
"Aku cemburu Dae ku," bisik Edy.
Dae sudah menduganya. Edy pasti kesal dengan kejadian saat dia VC sama Ilyas.
"Kenapa kamu cemburu. Bukannya kamu tau kalau kami memiliki hubungan? Seharusnya kamu ngerti itu," tekan Dae.
"Aku tau Dae, tapi gimanapun aku punya hati dan perasaan Dae. Mungkin mulut ini bisa berkata tidak akan cemburu, tapi hatiku menolaknya Dae. Aku sangat cemburu ketika kamu mengucapkan kata cinta terhadapnya. Tapi tidak dengan ku," jelas Edy dengan raut wajah sendunya.
Dae tak bisa melihat bagaimana ekspresi wajah Edy saat mengatakannya. Karena posisi Dae berada di hadapan Edy yang sedang dalam pelukannya.
"Aku akan berusaha untuk tidak cemburu lagi Dae. Aku sangat mencintaimu Dae," ucap Edy sambil mengecup rambut Dae.
Dae semakin merasa bersalah dan bingung. Dia memejamkan matanya dan memegang tangan Edy yang berada di perutnya.
"Maaf Edy, terkadang kamu membuatku merasa mencintaimu, tapi terkadang aku membencimu karena sikapmu yang nyebelin," bathin Dae.
"Aku lelah Ed, bolehkah aku tidur kembali," tanya Dae.
"Aku akan menemanimu tidur. Ayo kita tidur lagi," jawab Edy.
Mereka pun memejamkan matanya. Masing-masing sibuk dalam pikirannya. Mata memang terpejam tapi pikiran terus berputar-putar memikirkan banyak hal.
Hingga akhirnya mereka berdua benar-benar terlelap dalam tidurnya.
Sore pun tiba, Dae bangun dan melihat tangan Edy masih melingkar di perutnya. Ada rasa nyaman saat Edy memeluknya. Dae berusaha turun dari tempat tidurnya. Dia perlahan meletakkan tangan Edy di sampingnya. Lalu dia berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
__ADS_1
Di dalam kamar mandi, Dae bersenandung dan berlama-lama berada di dalam kamar mandi.
Sedangkan Edy sudah bangun saat Dae masuk ke dalam kamar mandi. Dia menunggu Dae sambil menghubungi Asistennya.
Setelah Dae selesai dengan acara mandinya, dia pun keluar dari dalam. Dae tidak melihat Edy di atas tempat tidur. Lalu Dae mengedarkan pandangannya ke segala ruangan. Ternyata Edy sedang berdiri di balkon.
Dae segera menghampirinya dan duduk di sampingnya.
"Sudah sore Ed, kamu tidak mandi?" tanya Dae.
"Ya sebentar lagi Dae. Aku baru aja menghubungi Asistent Li menanyakan tentang peninjauan lokasi," jawab Edy.
"Oh..., Ed, aku ingin keluar. Katanya kamu akan mengajakku ke Bukit Bintang. Ayo kita kesana," ajak Dae dengan penuh semangat.
"Ku ingin kesana Dae?" tanya Edy dengan menatap mata indah Cha.
"Ya, aku mau jalan-jalan kesana. Aku penasaran seperti apa tempatnya," jawab Dae.
"Baiklah, aku akan mandi dulu. Setelah itu kita akan berangkat kesana," ucap Edy dengan senyum menawannya.
Lalu Edy pun bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Sementara Dae, bersiap-siap berdandan di depan cermin. Setelah Dae selesai dengan riasannya, diaenunghu Edy di sofa sambil memainkan ponselnya.
Saat Dae membuka salah satu sosmednya, dia tercengang melihat status sahabatnya Ani.
"Kenapa Ani membuat status seperti itu? Bukankah itu sama aja membuka aib keadaannya sendiri?" gumam Dae tak percaya.
Dae terus membuka komen-komen yang di berikan teman-teman Ani. Dae hanya menggeleng-gelengkan kepalanya tak mengerti dengan jalan pikiran sahabatnya itu.
Lalu terdengar suara pintu kamar mandi terbuka. Ternyata Edy baru saja keluar dari dalam kamar mandi. Dae menoleh ke arahnya dan kembali melihat ponselnya.
"Kamu udah siap Dae?" tanya Edy saat melihat penampilan Dae.
"Usah Ed. Kamu bersiap-siaplah. Biar kita segera pergi," jawab Dae.
__ADS_1
Setelah itu mereka keluar dari dalam kamar menuju lantai bawah. Edy mengajak Dae ke parkiran mobil. Mereka pun segera berangkat. Jalanan menuju Bukit Bintang lumayan lama dan jauh. Edy membawa mobilnya dengan kecepatan sedang.