Calon Suamiku Ternyata Kakakku Sendiri

Calon Suamiku Ternyata Kakakku Sendiri
Bab 85


__ADS_3

Sepanjang perjalanan, Dae masih tertidur di bahu Rion dengan nyenyaknya. Hingga mereka sampai di depan sebuah club' yang sederhana.


"Apa kita sudah sampai?" tanya Ani melihat keluar jendela.


"Ya kita sudah sampai. Gimana, kita lanjut?" tanya Dion melirik Ani dari kaca spion.


"Lanjut dong!" seru Ani semangat. Dia merasa keinginannya akan tercapai.


"Kalau gitu ayo kita masuk ke dalam," ajak Denny.


Rion yang melihat Dae belum juga bangun, mencoba membangunkannya.


"Dae, ayo bangun. Kita sudah sampai," ucap Rion dengan lembut.


"Ugh..., nanti saja Ma, Dae masih ngantuk," balas Dae dengan memeluk tubuh Rion dengan erat. Dae tidak menyadari kalau yang di peluknya tubuh Rion. Dia mengira kalau saat ini Dae sedang tertidur di kamarnya sambil memeluk guling.


"Dae, kamu sengaja membuatku tergoda ya? Ayo bangun....!"


Dae terus meraba-raba hingga tangannya menyentuh benda kenyal milik Rion di balik celana yang digunakan Rion. Celana itu berbahan parasut hingga benda yang berada di dalamnya sangat terasa di genggam Dae.


"Apa ini, kok lembek?" bathin Dae yang terus merabanya dan menggenggamnya.


"Ouwhhh Dae...., kau menggodaku. Jangan membuatku memakanmu di sini Dae....," geram Rion yang mengira Dae sengaja melakukannya.


"Dae, ayo bangun....!" Rion mengambil tangan Dae menghindari genggamannya yang membuat milik Rion menegang.


Dae merasa aneh, dan dia mencoba memulihkan kesadarannya. Dae pun membuka matanya dan melihat kalau dirinya sedang berada dalam pelukan Rion dan tangan yang berada di atas paha Rion.


Dae terkejut dan langsung menjauhkan tubuhnya dari Rion.


"Ke--kenapa kita bisa berpelukan?" tanya Dae canggung.


"Kamu tertidur dibahuku dan semakin erat memelukku. Bahkan tangan mungilmu meraba-raba area milikku hingga membuatnya menegang," jawab Rudy sengaja menggoda Dae.


"Isshhh kamu ini mesum banget sih," bentak Dae. "Perasaan pertama melihat kamu, gak seperti ini deh. Kenapa sekarang bertambah mesum. Dasar laki-laki pura-pura cool," ketus Dae tak suka.


"Hahahaha, Dae...Dae... Aku mesum cuma sama kamu loh. Lagian kamu beruntung bertemu denganku karena kamu mendapatkan ciuman pertamaku," ucap Rion percaya diri.


"Sudahlah, ayo kita masuk. Mereka sudah menunggu kita," ajak Dae yang tak ingin terlibat dengan Rion yang sangat mesum.

__ADS_1


"Ayo Sweetyku," Rion pun keluar dari mobil dan berlari menghampiri Dae.


"Dae, jangan jauh-jauh dariku. Aku tau kamu pasti belum pernah ke sini. Sangat bahaya jika kamu tidak berpegangan tangan denganku," Rion memberikan peringatan agar Dae jangan menjauh darinya.


Dae berpikir sejenak, lalu dia menuruti ucapan Rion. Karena bagaimanapun apa yang diucapkan Rion benar. Tapi Dae enggan melakukannya. Akhirnya Rion yang berinisiatif mengambil tangan Dae dan menggenggamnya. Dae kaget lalu menoleh menatap wajah Rion.


"Sudah jangan dilihatin terus. Aku tau kalau wajahku sangatlah tampan," ucap Rion percaya diri.


"Menyebalkan, kepedean banget sih," kesal Dae.


Rion pun tertawa mendengar ocehan Dae yang sangat lucu di telinganya.


"Gemes banget aku melihat kamu Dae. Boleh cium gak?" tanya Rion menggoda.


"Mesuuuuum.....!" teriak Dae tetapi hanya terdengar sayup-sayup karena terendam oleh suara music dari dalam club.


Rion merasa puas sudah menggoda Dae. Dia senyum-senyum karena merasa terhibur dengan tingkah Dae.


Mereka berdua melangkah berjalan memasuki club. Dae merasa deg-degan karena ini pertama kali baginya. Tangan Dae mulai dingin berkeringat, dia terus menggenggam tangan Rion.


Kemudian tanpa Dae duga, Rion memeluk pinggang Dae memberikan kenyamanan untuknya agar laki-laki di sekitar mereka tidak menggangu Dae.


"Jangan protes Dae. Daripada nanti ada laki-laki yang mengganggu kamu karena mereka tau kalau kamu bukan siapa-siapa aku bagaimana?" tanya Rion yang meminta pendapat Dae.


Dae membiarkan Rion memeluk pinggangnya. Mereka masuk ke dalam club itu. Dae merinding melihat penampakan perempuan dengan pakaian yang terbuka. Bahkan laki-laki dan perempuan saling berdempetan.


"Rion, aku takut...!" teriak Dae di telinga Rion.


Rion yang mendapatkan kesempatan dalam kesempitan, semakin erat memeluk pinggang Dae.


"Jangan takut Dae, ada aku di sini," balas Rion yang juga berteriak di telinga Dae.


Perlakuan seperti itu membuat bulu kuduk Dae meremang. Dae mencoba menelan salivanya dengan benar. Jantungnya deg-degan tak karuan. Perasaan ini berbeda dengan ketika Dae berada dekat dengan Edy dan Ilyas. Namun saat ini Dae menutup hatinya buat laki-laki lain. Dia hanya ingin menutup diri untuk saat ini sampai Dae benar-benar yakin siapa yang akan diinginkannya.


Rion dan Dae terus membawa Dae mencari keberadaan sahabat-sahabat Rion. Ketika Rion menangkap keberadaan mereka di tempat duduk khusus, Rion mengajak Dae menghampiri mereka.


"Dae, itu mereka, ayo kesana," ajak Rion yang masih memegang pinggang Dae.


"Dae, kenapa lama banget sih?" tanya Ani yang menyorot ke arah pinggang Dae. Dimana tangan Rion memeluknya dengan erat.

__ADS_1


Ani pun mendengus melihat pemandangan itu. "Dasar perempuan munafik, katanya gak mau dekat sama laki-laki lain, ini malah mau aja di pegang sembarangan. Perempuan murahan Lo," bathin Ani dalam hatinya.


"Ekhemmm, duh mesra banget ya. Duduk sini Rion. Kalian mau minum apa nih?" tanya Denny.


"Gw minuman yang tidak beralkohol ya," jawab Rion.


"Kamu Dae mau pesan apa?" tanya Denny.


"A--aku minum apa ya? Ngikut Rion ajalah minum gak beralkohol," jawab Dae.


"Baiklah, gw pesan dulu ya," ucap Denny yang hendak beranjak dari tempat duduk mereka.


Lalu Ani pun berdiri, dia ingin ikut bersama Denny untuk memesan minuman.


"Den, aku ikut ya," pinta Ani.


"Oh bolehlah, yuk temani aku," ajak Denny yang menyetujui keinginan Ani.


Sementara Dae duduk disamping Rion. Teman-teman Rion yang tiga lagi asyik sedang bergoyang-goyang mengikuti irama musik house. Mereka tak menghiraukan keberadaan Dae dan Rion.


"Rion, kamu gak risih masuk ke sini?" tanya Dae berteriak.


"Apa Dae, gak dengar. Kamu ngomong apa?" tanya Rion yang berbisik ke telinga Dae.


"Ah sudahlah, lupakan," balas Dae.


"Rion, Dae, ayo turun. Kita bergoyang bersama. Ayok....," ajak Dion yang memaksa Rion berdiri.


"Kalian saja, gw di sini bareng Dae," balas Rion yang menolak ajakan mereka.


"Ah Lo gak setia kawan banget sih. Ayolah, sesekali Lo ikut bergoyang," ajak sahabatnya memaksa.


Rion akhirnya mau tak mau ikut bersama mereka. Dia menarik tangan Dae agar ikut berdiri. Dae menolak ajakan Rion. Namun Rion berbisik sesuatu ke telinganya hingga Dae pasrah dengan ajakannya.


Mereka berjalan ke tengah area dimana banyak laki-laki dan perempuan bergoyang mengikuti alunan musik yang menghentak-hentakan panggung. Keadaan di tengah sangatlah ramai, sehingga membuat Rion memilih berada di depan Dae.


Mereka bergoyang berjoget, namun Dae merasa risih karena laki-laki yang berada di belakangnya dengan sengaja mendekatkan tubuhnya ke arah Dae dari belakang. Rion yang melihat situasi itu, dia melangkah ke belakang Dae. Dia pun memeluk Dae dari belakang sambil bergoyang. Dae terlonjak kaget dengan perlakuan intim Rion. Saat Dae menoleh kebelakang, Rion berbisik.


"Kamu pilih mana, laki-laki lain yang berbuat mesum atau aku yang melakukannya. Kamu tau kan laki-laki di belakang kamu mencoba berbuat mesum," bisik Rion ditelinga nya dari arah belakang.

__ADS_1


Dae menelan salivanya dengan susah, karena posisi Rion sangatlah intim. Tubuh mereka menempel dari belakang membuat Dae canggung bergerak.


Rion mencoba menahan gejolak yang ada dalam tubuhnya. Bagaimanapun dia laki-laki normal, dengan posisi seperti ini tentu membuat hasratnya bergejolak.


__ADS_2