Calon Suamiku Ternyata Kakakku Sendiri

Calon Suamiku Ternyata Kakakku Sendiri
Bab 34


__ADS_3

"Edy, bisakah kita merahasiakan ini semua dari orang lain?" tanya Dae.


"Kenapa Dae? Kamu tidak mau hubungan ini di publikasikan?" Edy malah bertanya balik.


"Aku belom siap Ed, aku harus memikirkan perasaan yang lainnya. Aku harap kamu mengerti maksudku," jawab Dae.


"Baiklah Dae ku, kalau itu membuatmu nyaman, aku akan melakukannya," balas Edy.


"Terima kasih Ed," ucap Dae.


"Aku laper Dae. Ayo kita keluar makan lagi. Biasanya kalau kata orang, setelah bertempur dahsyat, seseorang akan merasa kelaparan," ucap Edy.


"Aku gak mengetahuinya, apakah Presdir pernah melakukannya dengan orang lain?" tuduh Dae.


Edy mencubit kecil bibir sexy Dae dan menatapnya dingin.


"Dae, aku ini masih perjaka ya. Hanya karena laki-laki tak mengeluarkan darah bening sehingga kalian para perempuan tidak mengetahui mana perjaka mana yang tidak. Tapi aku katakan, kalau aku perjaka tulen," ucap Edy tegas.


"Iya aku percaya. bagaimana mungkin laki-laki dingin sepertimu mau melakukannya dengan wanita lain," sindir Dae.


"Ya hanya kau yang membuatku seperti itu. Kau telah menjerumuskan ku Dae," tuduh Edy.


"What...! Kamu yang telah memperkosaku Ed!" berang Dae.


"Aku sudah minta persetujuanmu Dae, dan kamu mengangguk pasrah seperti burung kakak beo yang mengangguk dan mengikuti ucapan majikannya. Apalagi jika majikannya mengatakan mau, pasti si burung beo juga berkata, mau, mau, mau Edy. Hahahaha," ledek Edy dengan tawa sekencangnya.


Dae pun marah dan dia memukul-mukul bahu Edy. Namun Edy tak menghentikan tawanya. Dia puas bisa membuat Dae menjadi orang yang konyol di hadapannya.


"Ayo kita keluar, aku bisa tidak waras jika di sekap disini bersamamu," ketus Dae.


"Baiklah Dae ku sayang, ayo aku anter kamu pulang. Kita makan dulu ya, laper banget nih," rengek Edy.


Edy sudah membuang posisinya saat dia berduaan sama Dae. Bagi Edy, Dae lah yang bisa mengendalikannya.


Mereka keluar dari ruangan Edy dan berjalan ke arah lift. Saat berjalan menuju lift, Dae menunduk hormat ke arah Sekretaris Lu.


"Presdir, anda ingin keluar?" tanya Sekretaris Lu.


"Heum, Asisstent Li sudah mengambil alih semuanya," jawab Edy dingin tanpa menoleh ke Sekretaris Lu.


"Baik Presdir," ucap Sekretaris Lu.


Dae merasa canggung berada diantara mereka. Dia tidak ingin dianggap perempuan yang mencoba menggoda Presdir mereka.


Pintu lift terbuka, Edy dan Dae masuk ke dalam menuju lantai bawah. Selama lift bergerak turun ke bawah, tak ada yang berbicara diantara mereka. Hingga lift terbuka. Edy berjalan keluar duluan dan di ikuti oleh Dae di belakangnya.

__ADS_1


Sebenarnya Edy tak menginginkan Dae berjalan di belakang, namun Dae sendirilah yang memintanya untuk tidak mempublikasikan hubungan mereka. Sehingga mau tak mau Edy mengikutinya.


Sesampainya di lantai bawah, banyak mata yang melihat ke arah mereka, namun bukan Presdir yang menjadi fokus utama mereka. Melainkan sosok Dae yang berjalan di belakang Presdir mereka.


"Eh kenapa tuh si Dae? Apa dia kena semprot sama si Presdir?" tanya salah satu Resepsionis.


"Mungkin, tapi biarlah. Habis sok kecakapan sih! Bagus kalau dia di pecat," jawab temannya yang memang tak menyukai Dae.


"Ih gak baik seperti itu. Dia kan karyawan terbaik di Perusahaan ini, mana mungkin di pecat sembarangan," balas yang lainnya.


Begitulah cibiran dari beberapa karyawan yang melihat Dae pergi bersama Presdir mereka.


Sedangkan Edy dan Dae sudah masuk ke dalam mobil. Edy membawa mobilnya ke jalan raya, mencari cafe yang nyaman untuk bersantai. Karena jalanan macet dan lampu merah yang memakan waktu, akhirnya mereka membutuhkan waktu yang cukup lama untuk sampai ke cafe.


Saat di perjalanan, ponsel Dae berdering. Dae mengambil ponselnya dari dalam tas, lalu melihat siapa yang menghubunginya. Dae terkejut dan bingung harus bagaimana.


"Siapa Dae?" tanya Edy menoleh ke samping.


"Ilyas menghubungiku," jawab Dae.


"Angkatlah, aku tidak apa-apa kok Dae. Siapa tau perlu," ucap Edy tenang.


Edy bukan tanpa alasan menginginkan Dae. Dia mencintai Dae sejak pertama bertemu. Dia juga tau kalau Presdir Perusahaan yang bekerja sama dengannya juga menyukai Dae. Namun ada hal yang tidak di ketahui Dae tentang asal usul Ilyas. Dan itulah kenapa Edy sangat bersikeras mendapatkan Dae.


Dae segera mengangakt tlp nya dan menjawab panggilannya.


"Wa'alaikumussalam Dae," sahut Ilyas.


"Kenapa Yas?" tanya Dae.


"Yanx, aku jemput kamu ya nanti. Aku pengen ngenalin kamu ke Mama aku," jawab Ilyas.


Dae seketika menoleh ke arah Edy, dia tak tau harus menjawab apa.


"Dae..., kamu kok bengong gitu?" tanya Ilyas curiga.


"Eh maaf Yas, nih aku lagi ngerjain tugas," jawab Dae berbohong.


Hatinya merasa tak nyaman saat dia mengeluarkan kata-kata bohong.


"Jadi gimana? Aku jemput kamu ya di kantor? Aku udah bilang sama Mama, kalau aku mau ngenalin kamu ke beliau," jelas Ilyas.


"Jemput aku di rumah aja Yas. Biar aku ganti pakaian dulu. Gak enak kalau harus pakai pakaian kantor," balas Dae.


"Jadi kamu pulang sendiri? Kenapa gak bareng aku aja Dae!" seru Ilyas.

__ADS_1


Gak apa Yas. Toh aku bareng Ani. Karena dia mau ke rumah nemui Mama," balas Dae yang lagi-lagi terpaksa berbohong.


"Baiklah yanx, aku akan ke rumahmu nanti. Bersiap-siaplah," ucap Ilyas.


Obrolan pun selesai. Dae meletakkan kembali ponselnya. Dia menundukkan wajahnya dengan memejamkan mata sejenak.


"Ada apa Dae?" tanya Edy.


"Dia memintaku untuk bertemu dengan Mamanya," jawab Dae.


"Terus kamu bilang apa?" tanya Edy lagi.


"Aku mengiyakan permintaannya. Dan dia akan menjemputku nanti," jawab Dae.


"Ya udah pergilah Dae. Aku tidak akan marah. Lagian sudah kesepakatan kita bahwa hubungan kita di rahasiakan sampai waktunya tiba, benar kan Dae ku," ucap Edy meminta persetujuan Dae.


"Maaf Ed, aku gak bermaksud seperti itu," Dae mengucapkannya dengan menunduk.


"Hei, aku tidak marah Dae. Aku mencoba mengerti kamu. Asal kamu tidak melakukan hal yang sama dengan dia seperti apa yang kita lakukan. Dan hanya aku yang boleh menyentuhmu," tegas Edy dengan menggenggam tangan Dae.


Dae melotot melihat ke arah Edy. Dia masih sempat-sempatnya memikirkan hal begitu.


"Kamu nyebelin tau gak, aku lagi serius Ed!" ucap Dae kesal.


"Aku juga serius Dae ku. Kamu hanya milikku. Tapi aku tidak mau kamu buru-buru memutuskan kemana kamu akan melangkah menjalani hidup," jelas Edy.


"Tapi aku sudah tidak perawan lagi. Kamu udah mengambilnya," balas Dae.


"Kita sama-sama melakukannya dengan keadaan sadar Dae ku. Kamu juga menginginkannya. Aku tau kamu mencintaiku, tapi aku akan menunggu kata-kata itu," ucap Edy tersenyum.


"Baiklah, aku akan menemuinya nanti. Terima kasih karena mau mengerti aku," balas Dae.


Mereka akhirnya sampai di sebuah cafe yang memang tempat nyantai dan instragremble. Edy memarkirkan mobilnya di dekat pintu masuk.


"Ayo Dae, kita masuk ke dalam," ajak Edy.


"Iya."


Edy membukakan pintu untuk Dae. Mereka berdua masuk ke dalam cafe dan memilih tempat duduk.


Pelayan datang menghampiri Edy dan Dae yang berdiri di depan pintu masuk.


"Tuan, Nona, silahkan mau duduk di sebelah sana. Tempatnya sangat nyaman untuk bersantai," tawar pelayan itu.


Dae melihat tempat yang ditunjuk pelayan itu. Mereka akhirnya mengikuti pelayan itu ke arah mejanya.

__ADS_1


"Silahkan Tuan dan Nona, silahkan melihat menunya. Kalau anda mau pesan, silahkan memanggil saya dengan Rani," ucap pelayan itu ramah.


"Iya Mbak," balas Dae.


__ADS_2