Calon Suamiku Ternyata Kakakku Sendiri

Calon Suamiku Ternyata Kakakku Sendiri
Bab 104


__ADS_3

Dae yang baru saja pulang, terkejut saat pandangannya mengarah ke pintu rumah itu. Disana dia melihat sosok Edy yang berdiri di teras rumah menatapnya dengan dingin. Awalnya Dae sedikit kikuk melihat Edy, namun dia membalikkan keadaan menjadi tenang seperti tidak ada masalah.


"Loh Ed sejak kapan kamu di rumah ku?" tanya Dae basa basi.


"Sudah lumayan lama. Aku menunggumu dari tadi," jawab Edy yang masih memasang wajah dinginnya.


"Kamu sudah ketemu Mama dan Papa di dalam?" Dae terus memberi pertanyaan demi menghilangkan kecanggungan nya.


"Kami sudah ngobrol dari tadi membahas kamu yang tidak mengangkat telepon dari ku," jawab Edy dingin.


"Masa sih?" tanya mengambil ponselnya dalam tas dan mengeceknya dihadapan Edy.


Betapa terkejutnya Dae saat melihat banyak panggilan masuk dan pesan ke dalam ponselnya. Dia langsung mendongak menatap wajah Edy yang menahan marahnya.


"Maaf," hanya itu yang dapat diucapkan Dae atas kesalahannya.


"Kenapa kamu malam sekali pulangnya? Dan kenapa tidak menghubungiku biar aku jemput."


"Tadi aku pergi bareng teman dan kami makan diluar. Aku terlalu asyik sehingga lupa kalau ponselku masih dalam posisi silent," jawab Dae sambil mengusap-usap tengkuknya karena merasa gak nyaman.


"Lain kali khabari aku atau orang tua kamu supaya mereka tidak khawatir. Papa dan Mama mu berpikir kalau kamu sedang jalan bersama ku. Padahal kamu pergi sama yang lainnya."


Edy mencoba mencari kejujuran dari ekspresi wajah Dae. Dia yakin kalau Dae sedang berbohong. Tapi Edy tidak memiliki bukti sama siapa Dae pergi dan kemana. Edy mencoba menahan emosinya dan membuang kecurigaannya. Dia tidak ingin membuat Dae menjauh darinya lagi.


"Ya sudah, ayo masuk. Kasihan Mama dan Papa kamu yang dari tadi mengkhawatir kan mu," ucap Edy.


"Iya aku tau salah," sesal Dae. "Ayo kita masuk. Kau ingin menemui mereka," ajak Dae.


Edy dan Dae masuk ke dalam rumah itu dan melihat tatapan marah dari wajah kedua orang tua Dae. Tapi karena ada Edy, mereka tidak mungkin menegur Dae di hadapannya.


"Ma, Pa, maaf kalau Dae pulangnya telat. Tadi Dae makan malam bareng teman," ucap Dae dengan menunduk.


Mamanya Dae yang mengerti sikap dan perilaku anaknya, mengetahui kalau Dae berkata jujur dan sedikit menyembunyikan sesuatu.


"Lain kali kamu harus kasih khabar ke Papa atau Mama, kalau perlu sama nak Edy. Karena kalian akan bertunangan Sabtu ini. Papa harap kamu tidak membuat kekacauan sebelum harinya," tekan Papanya dengan wajah garangnya.


Dae melirik sedikit ke arah Papanya. Lalu cepat-cepat dia menundukkan kepalanya lagi.

__ADS_1


"Iya Pa, Dae tidak akan melakukan kesalahan," jawab Dae yang menahan kesedihannya. Dae merasa dilema dengan posisinya yang di hadapkan dengan dua laki-laki yang mencintainya.


Dae mendongakkan kepalanya dan melirik ke Edy yang masih memasang senyuman di wajahnya.


"Oh ya ampun....nih cowok bisa tenang begitu ya. Hah...aku jadi merasa bersalah telah pergi dengan Ilyas," bathin Dae.


"Ya sudah, Papa dan Mama kembali ke kamar dulu. Kamu temani nak Edy di sini," suruh Papanya.


"Nak Edy, Om dan Tante istirahat dulu ya. Di lanjut ngobrolnya dengan Dae," ucap Papanya Dae.


"Iya Om, Tante. Selamat beristirahat," ucap Edy dengan sopan.


Papa dan Mamanya Dae tersenyum dan meninggalkan mereka berdua.


Setelah kepergian Mama dan Papanya, Dae langsung duduk di sofa dengan santai.


"Ed, kenapa kamu gak bilang kalau mau ke sini? Kan aku bisa pulng bareng kamu," ucap Dae.


"Buat apa aku bilang. Aku ingin kasih surprise aja kalau mau kesini. Tapi ternyata kamu nya malah belum pulang dari kantor. Aku gak tau dimana kamu nyangkutnya," balas Edy dengan menyunggingkan sudut bibirnya.


"Aku senang kamu mengingatnya dan tidak akan mengulanginya lagi. Aku harap kamu mengingatnya Dae," pinta Edy.


"Iya, iya Ed, aku akan mengingatnya. Besok kamu jemput aku kan?" tanya Dae yang mencoba berdamai.


"Ya besok pagi aku akan datang menjemputmu. Setelah itu siangnya aku ingin mengajakmu ke Butik buat milih baju untuk lamaran nanti," jawab Edy.


"Aku jadi deg-degan Ed. Baiklah, besok akan aku tunggu."


"Kalau gitu aku balik dulu ya. Ini sudah malam, gak enak sama orang tua kamu. Besok aku juga mau sarapan di sini," ucap Edy.


"Tentu, aku akan menyiapkannya," balas Dae.


Lalu Edy pun beranjak dari tempat duduknya. Dan Dae pun ikut berdiri untuk mengantar Edy ke depan pintu. Mereka berjalan ke arah depan pintu.


"Aku balik dulu ya. Ingat jangan malem banget tidurnya," pesan Edy.


"Iya, makasih karena kamu tidak marah sama aku," ucap Dae sambil memeluk Edy.

__ADS_1


Edy mengecup pucuk kepalanya dan membelai rambut Dae dengan penuh rasa sayang.


"Iya aku akan mencoba mengerti kamu. Aku tidak ingin kehilanganmu Dae. Aku sangat mencintaimu," Edy menatap Dae dengan senyuman.


Dae tak bisa berkata apa-apa. Rasa bersalah menusuk dadanya. Dia tidak ingin menyakiti siapapun diantara keduanya. Namun Dae hanya bisa pasrah akan jalan hidupnya.


"Kasih aku ciuman," pinta Edy tanpa malu.


Dae melotot menatap Edy yang tidak tau malu meminta ciuman di rumahnya.


"Tidak mau, kalau gitu aku tidak akan pulang," ancam Edy.


Dae menghela nafasnya, "Baik aku akan memberikan ciuman untukmu," balas Dae.


Awalnya Dae hanya memberi kecupan di pipi Edy, akan tetapi Edy malah menyambar bibir sexy Dae dan memagutnya dengan rakus hingga mereka kesusahan bernafas dan Edy melepaskan pagutannya.


Dae ngos-ngosan dan menarik banyak-banyak udara. Lalu dia menatap tajam dan memukul-mukul dada Edy karena kesal.


"Kenapa, kurang?" tanya Edy menggoda.


"Ih kamu itu ya. Udah sana pulang," usir Dae dengan wajah manyunnya.


"Iya sayang, aku akan pulang. Jangan lupa kamu mimpikan aku ya," Edy masih terus menggoda Dae.


"Iya udah sana pulang. Besok kamu ke sini lagi," usir Dae sambil mendorong tubuh Edy keluar dari rumah nya.


"Selamat malam sayang," ucap Edy sambil memberikan kecupan berjarak.


"Malam," balas Dae ketus.


Akhirnya Edy pergi meninggalkan rumah Dae. Kemudian Dae berjalan masuk ke dalam kamarnya. Dia langsung membersihkan tubuhnya ke dalam kamar mandi. Dae berendam dan merilekskan tubuh dan pikirannya dengan aroma teraphy kesukaannya.


Setelah puas dengan berendam, Dae keluar dari dalam kamar mandi. Dia segera memakai baju tidur. Lalu dia naik ke atas tempat tidur dan membaringkan tubuhnya yang kelelahan.


Dae mengingat bagaimana dia saat bersama Ilyas tadi di cafe favorite mereka berdua. Dan bagaimana sata dia berada bersama Edy. Keduanya memiliki perbedaan yang sangat jauh. Tapi Dae tidak memungkiri bahwa Edy lebih tampan dari Ilyas.


"Kalau tampan begitu pasti banyak wanita di luar sana yang menginginkan Edy. Tapi mengapa justru dia menginginkanku. Hah...apa sih ya yang dilihat mereka dariku?" gumam Dae sambil menatap langit-langit kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2