
Akhirnya pesawat itu mendarat dan mereka sampai di Jakarta. Asistent Li menemui Presdir mereka di ruangannya.
"Presdir, kita sudah sampai," Asistent Li memberitahu kalau pesawat mereka sudah mendarat.
Tak terdengar suara sahutan dari dalam. Sehingga membuat Asistent Li mengetuk pintu ruangan itu, namun Edy sudah keluar dari ruangan itu. Membuat tangan Asistent Li menggantung di udara.
"Ah Presdir, hehehe, kita sudah sampai," gugup Asistent Li.
Tanpa bersuara, Edy berjalan melewati Aistentnya. Begitu juga dengan Dae. Dia tidak memperdulikan keberadaan Dae yang berdiri menatapnya.
"Presdir," sapa Dae.
Edy hanya menoleh sekilas, lalu dia kembali berjalan ke depan menuruni tangga.
"Kenapa suasana hatinya buruk? Ada apa dengan dia?" gumam Dae bingung.
"Bu Dae, ayo keluar!" tegur Asistent Li.
"Ah iya Asistent Li," jawab Dae.
Dae dan Asistent Li menuruni tangga mengikuti Presdir mereka. Di depan Pesawat sudah menunggu mobil dengan beberapa bodyguard.
Edy berjalan ke arah mobil yang sudah menantinya. Dia pun masuk ke dalam.
Sementara Dae bingung, mau pulang kerumahnya naik apa. Dia terdiam berdiri di depan mobil itu.
Edy yang sudah berada di dalam, melihat Dae yang diam berdiri.
Sedangkan Asistent Li berjalan ke arah mobil dan hendak masuk. Lalu dia melihat Dae yang berdiri diam.
"Suruh dia masuk, cepat!" perintah Presdirnya.
Lalu Asistent Li keluar dan menghampiri Dae di depan mobil.
"Bu Dae, Presdir menyuruh anda segera masuk. Beliau akan mengantar anda ke rumah," ucap Asistent Li memberitahu.
"Ah baiklah, saya akan pulang bersamanya," balas Dae.
Lalu Dae pun berjalan ke dalam mobil. Dia masuk dan duduk di belakang bersama Edy. Dae hanya diam tak mau melihat ke samping.
Dae harus bersikap acuh tak acuh. Dia lebih memilih memandang keluar jendela melihat jalan raya yang sangat ramai. Dae merasa senang dan sudah tidak sabar ingin bertemu dengan orang tuanya.
Selama perjalanan Dae memilih memejamkan matanya, menghindari kecanggungannya terhadap situasi di dalam mobil.
Edy pun melakukan hal yang sama, dia memejamkan matanya. Hingga beberapa saat dia membuka matanya dan menoleh ke samping. Edy melihat Dae yang masih dengan posisi memejamkan matanya.
"Sampai kapan kamu harus menyimpan hal ini?" tanya Edy dengan memandang ke luar jendela.
Dae mendengar pertanyaan Edy dan dia membuka matanya dan menoleh ke arah Edy.
__ADS_1
"Sampai aku yakin, hatiku memilih siapa," jawab Dae singkat.
"Apa saat ini hatimu belum yakin dengan diriku?" tanya Edy dengan ekspresi sedihnya.
"Belum. Jangan memaksaku Ed! Biarkan semua berjalan seperti biasa. Aku tidak ingin merasa tertekan dengan keadaan kita," jawab Dae.
Edy tak bertanya lagi. Dia tidak merespon ucapan Dae lagi. Edy kembali memejamkan matanya. Mencari ketenangan hatinya.
Sedangkan Dae masih menatap Edy yang diam. Dae berpikir kalau Edy acuh tak acuh dengan Dae. Sehingga membuat Dae kesal.
Setelah menempuh beberapa jam dalam perjalanan, mereka akhirnya sampai di kediaman rumah Dae.
"Presdir, kita sudah sampai," ucap Asistent Li memberitahu.
"Oh sudah sampai ya. Akhirnya bisa kembali ke rumah," Dae merasa riang kala melihat rumahnya.
Dia segera keluar dari dalam mobil Edy tanpa memperdulikan laki-laki yang membuatnya kesal hari ini.
Edy pun keluar dari dalam mobil, dia berjalan mengikuti Dae yang memasuki rumahnya. Ternyata Papanya Dae sudah menunggu kedatangan mereka.
Papanya Dae menyambut kedatangan Edy dengan wajah bahagia. Karena anak perempuannya yang semata wayang kembali dengan selamat.
"Papa......!" teriak Dae sambil memeluk Papanya.
"Syukurlah kalian selamat. Papa senang melihatmu kembali," sahut Papanya.
"Loh Papa kok tau Dae pulang hari ini?" tanya Dae curiga sambil memicingkan matanya.
Papanya Dae tak menggubris pertanyaan anaknya. Dia menghampiri Presdir Edy.
"Terima kasih Presdir Ed, sudah bersedia mengantar Dae. Maaf kalau Dae membuat anda kerepotan," ucap Papanya Dae tersenyum.
Dae pun melototkan matanya menatap tak percaya mendengar ucapan Papanya.
"Apa-apaan Papa, gw merepotkannya? Apa gak salah tuh," bathin Dae menggeram.
"Tidak masalah Tuan, saya sudah biasa menghadapinya," balas Edy.
"Terima kasih atas kebaikan anda Presdir Ed," ucap Papanya Dae lagi.
Dae tak menyangka kalau Papanya bisa bersikap manis dan lembut terhadap sosok Edy.
"Apa yang terjadi? Ini diluar dugaanku sikap Papa seperti ini," bathin Dae lagi.
"Pa, Dae masuk dulu ke dalam kamar. Mau mandi, gerah," pamit Dae.
"Setelah kamu bersih-bersih, kembalilah kemari. Temani Presdir kamu," suruh Papanya.
Lagi-lagi Dae bingung terkejut mendengar ucapan Papanya.
__ADS_1
"Apa Papa memberinya lampu hijau?" gumam Dae tak percaya saat dia berlalu dari hadapan Papanya dan Presdirnya.
"Silahkan duduk Ed. Gimana perjalanan kalian disana, semoga lancar dan tidak ada kendala," ucap Papanya Dae penuh harap.
"Berkat dukungan anda, semua berjalan lancar. Terima kasih karena anda memberi kepercayaan kepada saya atas diri Dae," balas Edy.
Papanya Dae dan Edy masih terus ngobrol, mereka membahas mengenai bisnis.
Sementara Dae yang berada di dalam kamarnya, merasa kesal karena Papanya terlihat akrab dengan Edy. Dia pun segera ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Rasanya rileks dengan aromatherapy itu lebih baik agar pikirannya tenang.
Setelah setengah jam Dae berada di dalam kamar mandi, akhirnya Dae pun menyudahi ritual mandinya. Dia keluar dari dalam kamar mandi. Dae melihat lemari pakaiannya yang banyak menyimpan berbagai macam jenis pakaian.
"Ah sepertinya ini bagus. Lebih baik aku memakai pakaian santai menemuinya di luar," gumam Dae sambil mengambil pakaian yang akan di gunakannya.
Dae memakai pakaiannya, kemudian dia keluar dari dalam kamarnya dan berjalan ke arah Papanya.
"Nah itu dia udah datang," tunjuk Papanya saat Dae berjalan ke arah mereka.
Edy melihat kedatangan Dae, dia terpana melihat kecantikan Dae yang alami tanpa polesan makeup. Edy terpaku menatap Dae.
Papanya Dae melihat Edy yang terpana melihat anak perempuannya. Hingga sebuah senyuman terbit di bibir laki-laki tua itu.
"Pa, maaf Dae kelamaan," ucap Dae yang berdiri dihadapan Edy.
"Ya sudah, kamu temani Presdir Edy. Papa akan ke dalam. Ada yang harus Papa urus," balas Papanya.
Papanya sengaja meninggalkan Dae dan Edy berdua di ruangan itu. Dia sudah menyetujui hubungan antara Edy dan putrinya semata wayang. Sebagai seorang ayah, tentu bisa melihat mana yang akan bisa melindungi putrinya.
Sedangkan sama Ilyas, ntah kenapa, Papa Dae masih bimbang dan sedikit ada yang janggal. Namun karena mereka jarang bertemu, sehingga Papanya Dae tak begitu mengenal Ilyas.
Edy menatap Dae dengan mata yang dingin. Membuat Dae salah tingkah ditatap seperti dengan Presdirnya.
"Ed, kenapa kamu masih disini?" tanya Dae tanpa basa basi.
"Apa kamu mengusirku?" tanya Edy tak suka.
"Ah tidak, aku hanya tidak ingin kamu skait. Besok bukankah kita harus bekerja?" tanya Dae.
"Aku yang menentukan, apa yang akan aku lakukan besok," ketus Edy.
Dae menjadi bingung apa yang harus dilakukannya lagi. Dia merasa canggung dan lebih memilih memainkan jari-jari lentiknya.
Sedangkan Edy, hanya menatap Dae dengan rasa kesal. Karena Dae tidak peka akan perasaan Edy.
"Baiklah, jika kamu menginginkan aku pulang. Aku akan kembali ke Apartemenku," ucap Edy.
"Maaf aku tidak bermaksud berguru," balas Dae tak enak hati.
Edy diam tak menjawab lagi ucapan Dae. Dia ingin lama-lama berada di dekat Dae.
__ADS_1