
Dae merasa kesal melihat keberadaan Presdirnya. Dia ingin melarikan diri tapi Dae gak tau harus bagaimana.
Edy merasa puas karena Dae tak akan lepas dari pandangannya. Edy gak akan membiarkan Dae makan siang di luar bersama Ilyas.
"Presdir, bolehkah saya ke toilet?" tanya Dae berpura-pura.
Dae berusaha memperlihatkan wajah seriusnya kalau dia sedang kebelet pipis.
"Ayo saya anter kamu ke toilet. Saya gak mau kamu kabur seperti kemaren lagi. Kamu pinter sekali melarikan diri," ketus Edy yang langsung berdiri.
"Eh 🤔, sepertinya nih orang gak mudah di tipu. Gw harus mikirin cara yang tepat agar bisa lepas dari pantauannya," Dae berpikir dengan menatap Edy.
"Kenapa kamu, mau memikirkan cara buat lari lagi dari saya, iya!" tekan Edy.
"Duh, dari mana nih si kulkas tau kalau gw lagi mikirin cara melarikan diri darinya? Apa dia punya indera keenam ya? Atau emang wajah gw lagi mikirin sesuatu. Ahhh mumet gw lihat si kulkas nih," bathin Dae menggerutu.
"Kenapa? Mau alasan apa lagi Dae?" tanya Edy menyunggingkan senyumnya.
"Ah Presdir sok tau. Saya lagi mikirin gimana kalau saya ke toilet, nanti karyawan lain melihat Presdir di toilet khusus karyawan gimana?" tanya Dae puas.
"Saya tidak masalah, ayo biar saya temani kamu ke toilet," ajak Edy menantang.
"Sepertinya gw harus mengikuti kemauannya untuk ke toilet. Ah sebaiknya gw kirim pesan ke Ani supaya dia membantu gw bisa lepas dari si kulkas," bathin Dae.
"Iya Presdir. Baiklah, anda bisa menemani saya ke toilet sekarang. Saya sangat terhormat dan tersanjung di temani Presdir tampan seperti anda ke toilet," ucap Dae cekikikan.
Dae mengambil ponselnya dan mengirim pesan ke Ani untuk meminta tolong.
"Anda, tolong gw dong....! Gw lagi terjebak nih dengan si kulkas. Padahal gw ada janji dengan Presdir Ilyas makan siang diluar. Please....bantu gw. Sekarang gw sedang berjalan ke arah toilet karyawan di lantai bawah, dan Edy menemani gw sampai toilet. Lo harus datang segera dan ajak Presdir ngobrol tentang pekerjaan. Agar gw bisa keluar dari toilet itu dan pergi sama Ilyas keluar kantor. Please ya An....🙏," isi pesan Dae.
Lalu Dae langsung mengirimnya. Dia berharap semoga cara seperti itu bisa berhasil.
"Presdir, apakah anda akan menunggu saya di depan pintu toilet wanita?" tanya Dae malu-malu.
"Why not!" ucap Presdir dengan mengedikkan bahunya.
Dae menghela nafas. Dia pun masuk ke dalam toilet wanita. Di dalam toilet, Dae mondar-mandir di depan kaca. Dia menajamkan telinganya untuk mendengar sesuatu di luar sana. Hingga akhirnya, Dae menangkap suara Ani yang mencoba ngobrol dengan Presdir mereka.
Dae berjalan pelan-pelan keluar dari toilet dan mengintip apa yang diluar terjadi. Saat Dae mengintipnya, ternyata Presdir mereka sedang menghadap ke Ani dan membelakangi pintu masuk toilet. Dan saat itu juga ternyata ada beberapa karyawan yang melihat Presdir ngobrol sama Ani. Saat itulah Dae melarikan diri dari Presdirnya.
Ani berusaha mengajak Presdirnya terus berbicara, walaupun sang Presdir tak meresponnya. Tapi Ani tak perduli.
Setelah Dae jauh dari hadapan Ani, barulah dia permisi ke toilet.
"Maaf Presdir saya ke dalam dulu," ucap Ani nyelonong melewati Presdirnya.
__ADS_1
Presdir Edy kembali berdiri di dekat pintu masuk toilet. Dia terus menunggu sampai Ani keluar dari sana.
Ani melihat ke arah Presdir mereka sambil membungkukkan kepalanya kepada Edy.
Edy curiga ada yang tidak beres sedang terjadi. Dia memilih kembali ke ruangannya dan melihat CCTV pemantau.
Saat Edy melihat ke layar monitor, dia melihat Dae keluar dari arah toilet menuju pintu masuk Perusahaan.
"Sialan...!" umpat Edy.
Dia marah karena lagi-lagi dipermainkan sama Dae. Edy berulang kali melihat layar monitornya. Lalu dia mengalihkan ke arah luar dan melihat Dae bertemu sama Ilyas.
Edy semakin marah dan kesal melihat pemandangan itu.
"Dae.......!" teriak Edy kesal.
Dia menatap terus dan mengacak rambutnya dengan kedua tangannya.
"Dae, kamu sudah berani bermain-main denganku. Lihat saja nanti, aku akan membuatmu mencintaiku dan tidak ingin pergi dariku," gumam Edy menyeringai jahat.
Di tempat lain, Dae merasa senang bisa bebas dari si Presdir kulkas. Saat ini Dae sedang berdua di dalam mobil bersama Ilyas. Mereka pergi menuju cafe yang tak jauh dari kantor Dae.
"Yanx, aku senang kamu bisa keluar makan siang bareng aku," ucap Ilyas sambil menoleh Dae.
"Iya, aku juga senang Yas. Semua penuh perjuangan sampai bisa seperti ini," balas Dae.
"Ya tadi sedikit ada kendala sih, tapi bisa di selesaikan kok Yas," jawab Dae sedikit gugup.
"Oh syukurlah, aku gak mau kamu dipersulit di Perusahaan itu. Kalau itu terjadi, aku akan membawamu dari sana," ucap Ilyas.
"Hehehe, makasih Yas, kamu perduli denganku," balas Dae.
"Heum," ucap Ilyas.
Tak berselang lama, mereka sampai di sebuah cafe. Tempatnya sangat romantis dan makanannya sangat lezat.
"Ayo kita masuk. Dari kemaren aku pengen banget ngajak kamu kesini, tapi baru ini kesampaian," ucap Ilyas.
"Oh ya! Wah aku jadi senang mendengarnya," balas Dae dengan mengedipkan sebelah matanya dengan genit.
"Kamu sekarang mulai pinter ya menggodaku," ucap Ilyas dengan tatapan menggoda.
"Hehehe baru belajar kok Yas. Dan kamu orang pertama yang aku goda," balas Dae jujur.
"Really! Wah beruntung sekali aku bisa menjadi orang pertama di goda. Kalau gitu gimana kalau kita lanjut acara menggodanya disini," ucap Ilyas tersenyum penuh arti.
__ADS_1
Dae menatap Ilyas tak berkedip. Dia mulai takut dengan senyuman Ilyas.
"Maksud kamu Yas?" tanya Dae gelagapan.
Ilyas mencondongkan tubuhnya ke arah Dae hingga Dae mundur ke belakang dan menabrak pintu mobil. Ilyas tersenyum melihat Dae mulai ketakutan.
Dae memejamkan matanya dan tak berani melihat apa yang akan dilakukan Ilyas. Hingga beberapa detik Dae merasakan sentilan di keningnya.
"Ternyata kamu mesum, ayo buka matanya," ledek Ilyas.
Dae merasa malu, wajahnya merah karena menahan malu. Dia mengira Ilyas akan menciumnya, ternyata dia hanya menggoda Dae.
Ilyas tersenyum puas membalas Dae. Walaupun tadi sebenarnya dia ingin mencicipi bibir sexy Dae, tapi dia menahannya dan balik menggoda Dae.
"Ilyaaaaas!" teriak Dae kesal.
Lalu Dae menyusul Ilyas yang sudah keluar dari dalam mobilnya. Dae menghentak-hentakkan kakinya sambil berjalan menghampiri Ilyas.
"Jangan cemberut gitu dong yanx. Nanti aku kasih deh kiss yang lama," goda Ilyas.
"Apaan sih!" kesal Dae.
"Bener gak mau nih...!" Ilyas menggoda Dae lagi.
"Aku pulang nih. Aku gak mau bahas itu lagi, ngeselin tau," Dae semakin kesal dan sewot.
"Iya yanx. Ayo kita masuk.Aku udah laper banget nih habis berantem sama kamu," ucap Ilyas.
Dae semakin kesal mendengar perkataan Ilyas. Namun dia mencoba menahan kesalnya, karena perutnya juga sudah keroncongan.
Mereka masuk ke dalam cafe itu dan mencari meja yang kosong. Seorang pelayan datang dan mengarahkan mereka ke tempat yang kosong.
Dae dan Ilyas akhirnya duduk serta memesan makanan.
Si pelayan pergi dari meja mereka setelah menerima pesanan Dae dan Ilyas.
"Yanx, kamu masih kesel?" tanya Ilyas sambil menatap Dae.
Dae hanya menggeleng, dia tidak bisa lama-lama marah sama Ilyas. Dae pun tersenyum manis sambil berkata,
"Aku udah gak marah lagi kok Yas. Aku hanya merasa malu karena memikirkan hal yang tidak terjadi," ucap Dae menunduk.
"Aku juga menginginkannya yanx. Tapi aku ingin membalas menggodamu," balas Ilyas.
"Ihhhhh kamu Yas, bisanya ngerjain aku," protes Dae.
__ADS_1
Mereka asyik ngobrol dan tertawa hingga makanan pesanan mereka datang.