
Edy tersenyum melihat Dae yang patuh terhadapnya. Ini yang diinginkan Edy. Lalu Edy menghampiri Dae dengan senyum menyeringai.
"Dae, aku senang akhirnya kita dapat berduaan di sini. Aku bebas melihatmu dan mengganggumu," ucap Edy yang terus berjalan ke arah Dae.
Dae perlahan-lahan mundur hingga dia terbentur di tembok, tidak ada jalan keluar untuk melarikan diri dari Edy si kulkas mesum.
"Apa ini rencana kamu?" tanya Dae tak suka.
"Tentu sayang, aku hanya ingin berduaan denganmu. Dan tidak memperbolehkan yang lainnya ikut gabung," jawab Edy sambil menarik Dae ke dalam pelukannya.
"Kamu sangat pinter mengaturnya Edy. Bahkan kamu meyakinkan Papaku untuk membawaku ke Jogja."
"Tentu Papa kamu mengizinkannya. Aku adalah calon menantu mereka," balas Edy dengan percaya dirinya.
"Huh, pede banget sih kamu Ed," ketus Dae.
"Apa kamu menyukai rencananya Daeku sayang?" tanya Edy dengan mengecup daun telinga Dae.
"Edy......, jangan berbuat tak senonoh. Kamu selalu saja mencuri kesempatan dalam kesempitan," protes Dae dengan marah.
"Hahaha, Dae ku sayang, kamu sungguh menggemaskan kalau marah seperti itu. Aku justru ingin segera memakanmu saat ini juga. Membuatmu meminta ampun di bawahku," goda Edy dengan menyunggingkan senyumnya.
Dae memelototkan matanya mendengar ucapan Edy yang fulgar. Dia pun mencubit tangan Edy dengan keras hingga dekapan itu terlepas.
"Awww Dae..., kenapa kamu mencubitnya, kejam banget kamu sama pacar sendiri," Edy mengusap-usap tangannya yang kena cubit Dae.
"Biar, biar kamu gak terus-terusan menggangguku," Dae merasa puas melihat Edy kesakitan.
Edy kesal, dia langsung menggendong Dae dan membawanya ke atas tempat tidur.
"Edy..., kamu mau apa?!" teriak Dae.
"Aku mau kamu sayang, aku hanya menginginkanmu. Dae menikahlah denganku. Aku serius!" ucap Edy dengan membelai lembut bibir sexy Dae.
"Kita sudah sepakat, kamu harus bisa membuatku jatuh cinta denganmu," balas Dae.
"Apakah dengan kita melakukannya, kamu tidak mencintaiku Dae! Itu mustahil," tekan Edy.
Dae diam seribu bahasa. Apa yang dikatakan Edy benar. Mereka sudah beberapa kali melakukannya, itu artinya Dae mencintainya tapi malu untuk mengakuinya.
"Lepaskan, kamu membuatku selalu terpojok," kilah Dae.
Namun Edy tak melepaskannya, dia justru melum*** bibir sexy Dae dengan lembut. Edy menggigit bibir Dae hingga terbuka dan Edy dengan leluasa mengeksplore isinya. Dae tak bisa menolaknya, dia pun membalasnya. Mereka saling berpagutan, saling membelit memberikan sensasi yang berbeda.
Edy terus membuat Dae menyerah untuk mempertahankan dirinya. Mereka melakukannya lagi bahkan semakin menggila. Edy tak memberi kesempatan untuk Dae berhenti mengeluarkan suara merdunya. Hingga akhirnya mereka terkulai lemas diatas tempat tidur. Edy mengecup punggung polos Dae. Lalu dia memeluk Dae dan ikut terlelap bersama Dae.
__ADS_1
Edy mendengar suara ketukan dari luar memberitahukan bahwa Pesawat akan segera sampai. Edy membangunkan Dae sambil membelai wajah lembut Dae.
"Sayang, kita sudah mau sampai. Ayo bangun," ucap Edy pelan.
"Hah, udah mau sampai?" tanya Dae yang langsung duduk dan melihat dirinya dan Edy masih dalam keadaan polos.
Dae langsung menutup tubuhnya dengan selimut dan langsung mengambil pakaiannya. Dia membiarkan Edy terekspose tanpa busana.
Dae masuk ke dalam kamar mandi dan menggunakan pakaiannya, setelah itu dia keluar dan melihat Edy yang belum memakai pakaiannya.
"Kenapa belum pakaian? Apa kamu ingin si Li melihat kita baru selesai melakukannya?" geram Dae.
"Iya Dae ku sayang, nih aku mau berpakaian," balas Edy santai.
Edy berjalan santai ke kamar mandi tanpa menggunakan pakaian di hadapan Dae. Dae membuang wajahnya ke samping karena tak ingin melihat Edy yang berjalan bak model tanpa busana. Wajah Dae memerah.
Dae hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Edy yang tak tau malu.
Setelah Edy selesai dari kamar mandi, dia tersenyum menghampiri Dae. Edy memeluk pinggang Dae dan tersenyum manis memperlihatkan gigi taringnya.
"Aku sangat mencintaimu Dae. Kau adalah milikku. Aku tau kamu juga mencintaiku, bukan begitu sayang?" ucap Edy dengan percaya dirinya.
"Presdir yang tampan, kau selalu pinter membuatku terjebak dalam kehidupanmu. Tapi kau harus ingat, ada laki-laki lain yang juga mengejar cintaku. Aku harap Presdir mengingat pertama kali kata-kata yang aku ucapkan, bahwa kamu harus membuktikan, bisa membuatku mencintaimu," tegas Dae.
"Aku akan mengingatnya Dae ku. Dan aku yakin kamu akan menjadi milikku selamanya," balas Edy dengan percaya diri. Lalu dia mengecup sekilas bibir sexy Dae.
Dae pun ikut berjalan di belakang Edy, keluar dari ruangan itu.
Sesampainya di luar, Dae melihat Asistent Li senyum-ssenyum. Ntah apa yang membuat Asistent Li bersikap seperti itu.
"Apakah anda sehat Asistent Li?" tanya Dae.
Asistent Li terbengong mendengar pertanyaan Dae.
"Kenapa anda bertanya seperti itu Bu Dae?" tanya Asistent Li bingung.
"Lalu kenapa wajah anda senyum-senyum sendiri? Jangan bilang anda tak merasakannya," ucap Dae.
"Maaf Bu Dae, anda salah paham. Ini senyuman untuk Presdir Edy," jujur Asistent Li.
Dae mengerutkan keningnya menatap Asistent Li.
"Maksudnya anda tersenyum melihat Presdir Edy? Itu artinya anda menyukai Presdir Edy?" tanya Dae terkejut sambil menutup mulutnya.
"Dae, jangan asal bicara. Itu sama saja kamu meragukan ku. Bukankah kita beberapa kali melakukannya," Edy tak suka Dae mengira Asistent Li seorang gay yang menyukai atasannya.
__ADS_1
Dae langsung mencubit pinggang Edy karena membuka kartunya di depan Asistent Li.
Sedangkan Asistent Li menunduk dan pura-pura tak mendengarnya. Dia sangat setia terhadap Presdir Edy. Asistent Li sudah bekerja sangat lama dengan Presdir Edy, bahkan mereka tumbuh bersama.
Edy menjerit karena mendapat serangan cubitan dari Dae.
"Sakit Dae.., bisakah kamu lembut sedikit terhadapku?" tanya Edy yang protes dengan perilaku Dae terhadapnya.
Dae merasa bersalah karena mencubit pinggang Edy dengan kuat. Dia menundukkan wajahnya karena salah.
Edy yang melihat sikap Dae seperti itu, langsung menarik Dae ke dalam dekapannya.
"Aku tidak marah, aku hanya bercanda," ucap Edy tersenyum.
Dae melirik Asistent Li yang menundukkan kepalanya. Lalu Dae kembali menatap Edy dan memberi kode kepadanya bahwa masih ada Asistent Li diantara mereka berdua.
Edy tersenyum melihat wajah merona Dae. Dia pun melepaskan dekapannya. Hingga akhirnya Pesawat tiba di Yogyakarta.
"Silahkan Presdir," ucap Asistent Li yang mempersilahkan Edy dan Dae keluar duluan.
Mereka turun dari Pesawat dan diikuti sama Asistent Li dari belakang.
Kemudian Asistent Li membawa Edy dan Dae menuju Hotel yang sudah di booking. Dalam perjalanan, Dae terus melihat ke luar jendela. Dia sangat suka jika berkunjung ke Jogja. Kota yang nyaman, tenang, dan ramah. Dae sangat menyukai saat belanja di Malioboro.
Edy justru malah melihat ke arah Dae. Dia tersenyum bahagia, karena saat ini Dae nya berada di sampingnya untuk beberapa hari ke depan. Edy bersyukur karena Papanya Dae mendukung dan menyetujui hubungan mereka.
Akhirnya tak terasa waktu berjalan, mereka sampai di sebuah Hotel berbintang di Malioboro. Hotal yang sangat bagus.
Dae dan Edy turun dari mobil. Lalu mereka masuk ke dalam Hotel.
Asistent Li melakukan ceking atas Perusahaan. Lalu dia memberi kartu kunci untuk Presdir Edy.
Edy sengaja memesan satu kamar untuk dirinya dan Dae. Namun Dae protes karena merasa gak enak sama karyawan lainnya yang ikut. Sehingga bisa menimbulkan kecurigaan mereka nantinya.
"Aku tidak mau satu kamar denganmu. Aku minta kamar satu lagi," protes Dae.
"Maaf Mbak, kebetulan kamar disini sudah penuh dan tidak ada yang kosong," jelas Reseptionist itu.
"Aku tau ini juga pasti masuk dalam rencana kamu kan?" tanya Dae kesla.
"Tentu sayang, aku gak ingin jauh-jauh dari kamu," balas Edy santai.
"Tapi gak mungkin kita satu kamar, apa kata karyawan lain yang melihat aku sekamar denganmu?" tanya Dae marah.
"Mereka tidak akan mengetahuinya Dae ku. Ayo kita ke kamar istirahat. Badanku masih pegal Dae," ucap Edy acuh tak acuh.
__ADS_1
Dae hanya pasrah menerima keadaan ini. Dia sudah ikut dalam pekerjaan ini. Mau tak mau, Dae harus menjalaninya.