Calon Suamiku Ternyata Kakakku Sendiri

Calon Suamiku Ternyata Kakakku Sendiri
Bab 76


__ADS_3

Akhirnya Dae pun tiba di depan kantornya. Dia menghubungi sahabatnya Ani.


"An, gw udah di depan kantor. Lo dah selesaikan kerjanya?" tanya Dae buru-buru.


"Gw udah nungguin Lo dari tadi. Ya udah gw kebawah ya. Lo gak masuk ke area kantor?" tanya Ani.


"Nggak, gw gak mau ada yang lihat gw masuk kantor. Susah urusannya," jawab Dae yang melihat ke arah satpam pintu masuk Perusahaan.


"Ok, ok, sekarang gw udah di lift. Tunggu gw ya di depan," balas Ani.


Dae pun menunggu Ani di dalam mobil. Dia takut kepergok sama Edy Presdir mereka. Dae tidak tau sama sekali berita tentang Edy yang sudah tidak ada lagi di Perusahaan itu.


Kemudian Dae melihat kedatangan Ani yang keluar dari Perusahaan itu. Ani melambaikan tangannya ke arah mobil Dae.


"Sorry sedikit telat Dae, tadi ketemu sama Asistent Presdir," ucap Ani menjelaskan.


"Oh....," hanya itu yang keluar dari mulut Dae.


"Bisa kita berangkat sekarang?" tanya Dae.


"Yuk, gw udah gak sabar pengen cepat sampai di Jogja," balas Ani dengan penuh semangat.


Dae melajukan mobilnya meninggalkan Perusahaan itu. Di dalam perjalanan, mereka hanya diam. Ani masih sibuk berkirim pesan sama seseorang yang sekarang lagi dekat dengannya.


Sementara Dae, fokus melihat jalanan yang macet. Seperti biasa Ibu Kota sering macet kalau jam pulang kerja. Dae tidak memperdulikan apa yang di kerjakan Ani.


Namun setelah beberapa menit perjalanan, akhirnya Ani membuka obrolan.


"Dae, kok Lo diam bae. Apa ada yang sedang Lo pikirkan?" tanya Ani dengan memicingkan matanya.


"Gak ada, gw lagi pengen diam aja. Kenapa An?" Dae balik bertanya.


"Gw lihat dari tadi Lo kayak beda aja gitu. Agak sedikit diam dan gak seperti biasanya," jawab Ani yang memang memperhatikan Dae sejak masuk mobil sampai sekarang.


"Ah, itu perasaan Lo aja kali. Gw gak apa-apa. Emang wajah gw lagi begini aja gak semangat," balas Dae cuek.

__ADS_1


"Eh Lo dah dengar belum kalau di Perusahaan kita akan ganti Presdir. Katanya sih ini lebih garang dan sangat tampan. Balik tak balik deh dengan Presdir Edy. Dengar-dengar dia Kakaknya Presdir Edy," ungkap Ani.


Dae kaget mendengar ungkapan Ani, ada rasa yang tak bisa diungkapkannya, tapi hatinya merasa sedih. Namun sekejap dia mengubah ekspresinya menjadi tak tertarik dengan berita itu.


"Oh...gitu. Semoga Presdirnya baik," hanya itu yang di ucapkan Dae.


"Lo gak lagi berantem kan sama Presdir Edy? tanya Ani mencurigainya.


"Berantam?" tanya Dae mengulang pertanyaan Ani.


"Ya, apa kalian lagi berantem sehingga Presdir Edy memutuskan kembali ke Luar Negeri?" tanya Ani.


"Hah, padahal dia sangat baik dan terhadap karyawan perhatian walaupun sikapnya dingin," sesal Ani.


Dae menolehkan kepalanya sekilas ke arah Ani yang merasa kehilangan Presdir mereka. Lalu kembali mengalihkan pandangannya ke depan dengan fokus menyetir.


Apa! Kembali ke Luar Negeri? Kenapa dia kembali kesana dan meninggalkan Perusahaan ya?" bathin Dae.


"Tidak, kami tidak lagi berantam An, ya mungkin dia emang pengen balik aja ke sana. Biarlah itu urusan Presdir kita. Yang penting kita tetap masih bisa bekerja," jawab Dae.


Perjalanan masih panjang, Ani memilih merebahkan tubuhnya bersandar ke belakang jok sambil memejamkan matanya. Sementara Dae fokus menyetir melihat jalan. Namun sesekali pikirannya berkelana ke Edy.


"Iiiisssh kenapa gw ini. Malah mikirin si kulkas. Biarlah dia pergi. Toh itu lebih bagus. Coba dari kemaren dia pergi, gw gak seperti ini sama Ilyas. Hah....," Dae menghela nafasnya.


"Lagian ini juga salah gw yang mau aja melakukannya dengan dia. Dasar Dae.....! Lo emang murahan banget sih...., mau-maunya Lo menyerahkan mahkota Lo sama si kulkas. Padahal Lo sedang menjalin kasih dengan Ilyas. Hancur dah nasib hubungan Lo," bathin Dae berkecamuk.


Hingga malam pun tiba, Dae memberhentikan perjalanannya di sebuah cafe yang bisa untuk beristirahat.


"An, yuk berhenti dulu. Kita makan malam dulu. Lagian gw mau istirahat bentar nyelonjorin kaki dulu," ucap Dae yang membangunkan Ani.


"Kita dimana Dae?" tanya Ani.


"Ya sekitar 5 jam lagi baru nyampe An. Mending sekarang kita makan dulu. Gw udah aleor nih pengen ngisi perut dulu," jawab Dae.


"Ah iya, perut gw juga udah keroncongan nih. Yuk lah kita keluar," ajak Ani yang begitu semangat ingin masuk ke cafe itu.

__ADS_1


Ani dan Dae keluar dari mobil dan berjalan ke arah cafe. Mereka masuk dan melihat cafe itu ternyata sangat ramai.


"Wah, Dae ramai banget! Dimana kita mau duduk. Kayaknya gak ada yang kosong deh mejanya," ucap Ani yang mengedarkan pandangannya ke sekeliling.


Lalu seorang pelayan datang menghampiri keduanya dan berkata, "Malam Mbak, silahkan masih ada yang kosong di sebelah sana, mari saya antar," ucap pelayan itu sambil mengarahkan mereka ke arah meja yang kosong.


Dae dan Ani berjalan mengikuti pelayan itu dari belakang hingga mereka sampai di sebuah meja yang kosong dekat dengan pemandangan luar.


"Wah pas banget nih tempatnya. Bisa nyantai sambil ngelihat pemandangan," ucap Ani yang merasa senang.


"Iya Mbak, silahkan. Ini buku menunya, Mbak bisa lihat-lihat dulu. Nanti kalau udah selesai bisa panggil saya ya Mbak, dengan Rara," balas pelayan itu sambil memperkenalkan dirinya.


"Baik Mbak," Dae mengangguk.


Kemudian pelayan itu pergi meninggalkan mereka berdua yang sedang melihat-lihat menu makanannya.


"Enak juga nih disini, betah gw lama-lama disini Dae, apalagi pemandangannya wuih apik tenan....," semangat Ani.


"Udah sekarang mendingan Lo tulis dulu pesanan Lo, baru makan. Setelah itu baru Lo nikmati deh pemandangan tuh," celetuk Dae.


"Hah..., gw udah gak sabar Dae pengen cepat sampai di Jogja. Biar lihat cogan disana," balas Ani sambil menulis pesanannya.


"Kayak gak ada aja cogan di tempat Lo. Berjibun kali An di Jakarta, gak mesti di Jogja," ketus Dae.


"Gw lebih suka lihat yang di Jogja. Emang Lo gak pengen cuci mata lihat cogan di sana?' tanya Ani yang tak melihat ke arah Dae.


Dae tak menghiraukan omongan Ani, dia memandang ke luar melihat pemandangan sawah yang menyejukkan mata. Dae masih memikirkan Edy yang meninggalkannya begitu saja tanpa memberitahukannya.


"Kenapa semakin rumit seperti ini ya. Edy pergi ninggalin gw dan Ilyas membenci gw. Hahhh, nasib gw kok gini amat ya," bathin Dae.


"Hei, malah melamun aja. Nih tulis pesanan Lo," tegur Ani yang melihat ke arah Dae.


Setelah mereka memesan makanan, keduanya menunggu dengan menyibukkan diri masing-masing. Dae memilih bermain game sambil menunggu pesanannya datang.


Sedangkan Ani, sedang berkirim pesan dengan gebetan barunya. Tak ada obrolan yang terjadi diantara mereka.

__ADS_1


__ADS_2