Calon Suamiku Ternyata Kakakku Sendiri

Calon Suamiku Ternyata Kakakku Sendiri
Bab 55


__ADS_3

Dalam perjalanan menuju Bukit Bintang, Edy dan Dae hanya diam. Edy menarik tangan Dae dan meletakkannya di atas pahanya.


"Ed, aku gak enak sama yang lainnya. Mereka pasti bertanya kamu kemana dan aku juga kemana? Itu bisa membuat mereka mencurigai kita," ujar Dae.


"Sudah tidak usah di hiraukan. Siapa yang berani mengganggu kamu?" tanya Edy melirik Dae.


Edy sengaja mengucapkan kata seperti itu, dia ingin Dae jujur tentang Pak Raffi yang mengganggunya. Mengingat itu Edy pun menggenggam tangan Dae erat.


Dae menoleh ke arah Edy dan mengerutkan keningnya tanda dia keheranan yang merasakan tangannya di genggam erat.


Edy tak menyadari jika Dae melihat sikapnya yang berubah walau hanya dari samping.


"Ah tidak ada Ed, aku hanya merasa khawatir dengan apa yang nanti mereka pikirkan jika tau tentang kedekatan kita," jawab Dae berbohong.


Edy tak ingin memaksa agar Dae mau berterus terang kepadanya. Dia ingin Dae mempercayainya dengan berkata jujur.


"Aku harap kamu bisa jujur sama aku Dae," balas Edy.


Dae terkejut tapi dia langsung merubah ekspresinya menjadi tenang. Dae tak ingin Edy berbuat hal kejam terhadap orang yang menyinggungnya.


Beberapa jam mereka di perjalanan, akhirnya Dae dan Edy pun tiba di sebuah cafe yang berada di Bukit Bintang.


"Ayo Dae kita turun. Kita udah sampai. Aku ingin makan jagung bakar sambil menikmati pemandangan dari atas bukit.


"Wah kita sudah sampai ya Ed?" tanya Dae yang melihat ke sekelilingnya.


"Iya Dae ku, kita udah sampai. Kamu mau makan jagung bakar tidak? Disini kita akan makan jagung bakar," jawab Edy


"Aku mau makan mie rebus aja Ed. Kayaknya enak dingin-dingin makan yang anget," ucap Dae yang sedang memandang ke depan.


"Ayo Dae kita kesana," ajak Edy menunjukkan cafe yang ada di depan sana.


Dae dan Edy turun dari mobil. Mereka berjalan ke arah cafe. Ternyata di dalam cafe itu sangat ramai pengunjungnya. Mereka sedang santai sambil menikmati makanannya.


"Dae, ayo kita duduk disana," ajak Edy sambil menunjuk meja yang kosong.


Dae hanya mengikuti Edy dan berjalan sambil menggenggam tangannya.


Banyak mata yang memandang ke arah Dae. Laki-laki muda yang berkelompok memandang Dae dengan tatapan menggoda.


Edy menggeram melihat mata laki-laki yang memandang Dae dengan tatapan menginginkan. Apalagi mereka terlihat masih muda. Edy sampai mengepalkan tangannya menahan amarah.


"Ed, ternyata disini dingin banget ya. Kamu gak bilang kalau ternyata udara disini sangat dingin," Dae mengeratkan tubuhnya ke dalam pelukan Edy.


Edy sontak saja kaget dengan perlakuan Dae yang terlihat manja. Dia pun langsung mengeratkan pegangan tangannya ke pinggang Dae. Lalu Edy membuka jaket yang di kenakannya dan memakaikannya ke tubuh Dae.


"Gimana udah agak mendingan hangat?" tanya Edy dengan tersenyum.

__ADS_1


"Heum," Dae pun menganggukkan kepalanya.


Lalu si pelayan datang ke meja mereka dan menanyakan ingin memesan apa.


"Malam Mas, Mbak, mau pesan apa ya?" tanya pelayan itu.


"Ada buku menunya Mbak?" tanya Dae balik.


Si pelayan pun memberikan buku menu itu ke meja Dae.


"Ini silahkan dilihat dulu Mbak menunya," ucap pelayan itu.


Si pelayan dengan setia menunggu berdiri di hadapan mereka. Dengan centil dan genitnya dia tersenyum ke arah Edy.


Dae pun bisa menangkap dari sudut ekor matanya dengan gerak gerik si pelayan. Ntah kenapa Dae merasa cemburu melihat pelayan itu terus menerus menatap ke arah Edy.


Edy merasa senang karena si pelayan memperlihatkan ketertarikannya terhadap Edy. Edy ingin mengetahui apakah dia merasa cemburu atau tidak.


"Sayang, kamu mau pesan apa nih?" tanya Dae yang bersikap genit dan menggoda.


Edy pun tersenyum melihat sikap Dae yang mendadak manis. Dia pun merangkul pinggang Dae, dan berbisik.


"Sayang kamu sangat manis, pertahankan terus sikap seperti ini. Aku menyukainya," Edy sengaja mengecup daun telinga Dae dan dia pun menyeringai puas.


Dae tertegun dengan perbuatan Edy. Lalu dia menoleh ke arahnya dengan wajah merah merona.


Lalu Edy pun memesan makanan untuk mereka berdua.


Setelah mereka memesan makanannya, si pelayan pergi meninggalkan meja mereka dengan wajah kesal.


"Sepertinya dia menyukaiku Dae," ucap Edy sambil melirik Dae.


"Apa seleramu sudah berubah?" sarkas Dae.


"Hahaha, aku tetap tidak berubah Dae ku. Hanya kamu di hatiku sayang," ucap Edy sambil mengedipkan matanya sebelah.


"Dasar mesum," kesal Dae.


Dae mengalihkan pandangannya ke arah pemandangan di bawah bukit. Lampu-lampu yang terlihat terang terlihat seperti kunang-kunang yang kecil jika dilihat dari atas bukit.


Tak berapa lama, pesanan mereka pun datang. Pelayan yang laki-laki mengantarkan makanan pesanan.


"Silahkan Mbak, Mas. Nih pesanannya. Apa ada yang mau di pesan lagi?" tanya pelayan itu ramah.


"Nggak Mas, makasih ya," jawab Dae.


Lalu pelayan itu pun pergi meninggalkan meja Dae dengan senyum yang menawan.

__ADS_1


"Wah enak nih, kalau dingin emang pas banget nikmati mie rebus kuah pakai telur," ucap Dae yang sudah tidak sabaran.


"Pelan-pelan Dae, hati-hati masih panas mie nya," ucap Edy mengingatkan.


"Iya Ed, tenang aja. Aku akan hati-hati," balas Dae.


Mereka pun menikmati makan malamnya di Bukit Bintang hingga selesai. Meja yang mereka tempati tepat berada di pinggiran sehingga bisa dengan jelas melihat pemandangan di bawah.


Malam semakin larut. Udara pun semakin dingin membuat Dae semakin menggigil. Jaket yang di berikan Edy masih belum cukup membuatnya hanget.


"Dae, kamu kedinginan ya?" tanya Edy.


"Iya Ed, dingin banget disini. Aku gak tahan, apalagi gerimis begini," jawab Dae.


"Kita ke mobil aja ya. Biar kamu hanget. Atau kita kembali ke hotel?" Edy bertanya dan memberikan sarannya.


"Kita ke mobil aja Ed, aku pengen rebahan," jawab Dae yang memilih ke mobil.


"Baiklah, kita ke mobil sekarang. Aku akan membayar makanan kita terlebih dulu ya. Kamu tunggu bentar.


Kemudian Edy berjalan ke arah kasir dan membayar makanan mereka. Dan Edy juga memesan jagung bakar untuk di makan di dalam mobil.


Lalu dia kembali ke mejaenghampiri Dae. Edy melihat Dae yang sudah menggigil.


"Dae ayo kita ke mobil," ajak Edy sambil mengulurkan tangannya.


Dae pun menyambut uluran tangan Edy. Dia berdiri dari tempatnya dan menggandeng lengan Edy. Namun Edy justru memeluknya dengan erat.


Sesampainya di dalam mobil, Dae langsung merebahkan tubuhnya di kursi depan. Lalu jaket Edy di buat sebagai penutup tubuhnya.


Edy pun melakukan hal yang sama, dia merebahkan tubuhnya di kursinya. Lalu dia memeluk Dae dari samping memberikan kehangatan untuk Dae.


"Apa ini sudah mendingan Dae?" tanya Edy.


"Mendingan Ed, maaf udah membuat jalan-jalannya gak nyaman.


"Jangan ngomong begitu Dae. Aku nyaman aja asal sama kamu," balas Edy.


Kemudian jagung bakar yang mereka pesan datang menghampiri mobilnya. Pelayan itu mengetuk kaca pintu mobil.


Edy segera membuka pintu mobilnya dan menerima jagung bakar yang di bawa pelayan itu.


"Ayo dimakan dulu jagung bakarnya. Ini enak loh," Edy menyodorkan jagung bakar buat Dae.


"Makasih Ed, aku suka jagung bakar pedas ini," ucap Dae yang merasa senang bisa makan jagung bakar pedas.


Mereka pun menikmati jagung bakar di dalam mobil. Ini adalah pengalaman pertama mereka selama hidup.

__ADS_1


__ADS_2