
Malam semakin larut, Dae sudah tidur terlelap di atas tempat tidurnya. Dae begitu letih dengan pemikirannya sendiri. Di dalam tidurnya Dae sempat bermimpi. Dia melihat Edy menangis seperti orang stress. Edy memukul-mukul dadanya ntah karena apa. Dae tidak bisa menggapainya dan mengajaknya bicara. Dia hanya bisa melihat Edy yang meraung-raung. Tapi ada satu hal yang membuat Dae mengerutkan keningnya.
"Kenapa Dae....? Kenapa harus kamu.....?!" Edy berteriak frustasi.
Saat Dae hendak menggapai pundak Edy, tiba-tiba dia terbangun di dunia nyata. Dae membuka matanya dan mengedipkan matanya beberapa kali. Dia melihat sekeliling yang ternyata masih berada di dalam kamarnya.
"Aku bermimpi? Kenapa mimpiku seperti itu? Edy, kenapa dia menangis histeris?" gumam Dae yang penuh pertanyaan.
Saat Dae memikirkan nya, terdengar suara ketukan di pintu kamarnya.
"Tok tok tok," non Dae.....ayo sarapan!" panggil si Bibi dari luar kamarnya.
"Iya bi bentar lagi. Saya mau mandi dulu!" sahut Dae dari dalam kamarnya.
"Iya non, sudah ditunggu sama Mama dan Papa non di meja makan," balas si Bibi.
"Iya bi," sahut Dae lagi.
Lalu Dae beranjak dari tempat tidurnya dan dia berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah berendam di kamar mandi, akhirnya Dae menyelesaikan mandinya. Dia keluar kamar mandi dan bersiap-siap untuk berangkat ke kantor. Dae keluar dari kamarnya dan menghampiri Papa dan Mamanya yang berada di meja makan.
Namun langkahnya terhenti karena melihat kehadiran Edy yang sudah kumpul bersama orang tuanya.
"Dae sini!" panggil Mamanya. "Ayo sarapan, kasihan nih nak Edy sudah nungguin dari tadi," ucap Mamanya.
"Ah iya Ma, maaf sudah menunggu," balas Dae.
Dae pun berjalan ke meja makan. Dia duduk disamping Mamanya. Tapi di berhentikan oleh Mamanya.
"Kamu ngapain duduk di sini? Duduknya di samping Edy sana," usir Mamanya.
Dae terpelongo mendengar ucapan Mamanya yang menyuruhnya duduk di samping Edy.
"Iya Dae, kamu harus membiasakan diri duduk di samping Edy. Kalian sebentar lagi akan lamaran dan tak lama lagi menikah. Jadi kamu harus belajar untuk dekat sama Edy dan melayaninya dengan baik," ucap Papanya menasehati.
"Iya Pa," balas Dae singkat. Lalu Dae berjalan ke arah Edy. Dia mengambil kursinya dan duduk pas disamping Edy.
"Selamat pagi sayang," sapa Edy dengan suara berbisik.
__ADS_1
"Heum pagi," sahut Dae acuh.
Dae pun menikmati sarapannya dan mencoba melayani Edy saat itu.
Mamanya dan Papanya Dae merasa senang melihat kedekatan mereka. Sementara Dae masih berkutat dengan pikirannya tentang Edy dan Ilyas. Apalagi tadi pagi dia bermimpi tentang Edy, pikirannya semakin melayang ntah kemana-mana.
"Sayang, ayo selesaikan sarapannya. Kenapa malah bengong gitu?" tegur Edy yang ternyata memperhatikan sikap Dae.
"Hah, eh iya maaf," balas Dae.
"Kamu kenapa Dae? Apa ada yang kamu pikirkan?" tanya Mamanya Dae.
Papanya Dae menoleh ke arah anaknya dan mengerutkan keningnya menatap Dae.
"Ah tidak apa-apa Ma. Dae hanya masih mengantuk saja," jawab Dae santai.
"Kalau kamu masih mengantuk, lebih baik kamu terlambat saja datangnya. Aku akan menunggu di sini dan kita berangkat bareng," ucap Edy memberi saran.
"Eh gak usah, kita berangkat aja sekarang. Lagian gak ada orang di rumah ini. Gak enak dengan tetangga," protes Dae.
"Tidak apa-apa sayang, kalian kan mau lamaran, tidak akan ada yang protes. Ya kan Pa?" tanya Mamanya Dae yang meminta dukungan suaminya.
"Ya sudah, ayo Dae kita berangkat," ajak Edy.
"Pa, Ma, Dae berangkat kerja dulu ya," Dae berpamitan sama Mama dan Papanya dengan menyalami tangan mereka. Begitu juga dengan Edy yang mengikuti cara Dae berpamitan.
Setelah selesai sarapan, keduanya beranjak dari meja makan. Mereka meninggalkan rumah itu dan berangkat menuju kantor.
Saat dalam perjalanan, Edy mulai memberikan pertanyaan. "Dae, boleh aku bertanya?"
"Boleh, kamu mau menanyakan apa?" tanya Dae.
"Apa kemaren malam kamu pergi dengan Ilyas?" tanya Edy yang mencoba menahan cemburunya.
"Maaf Ed, aku tidak sengaja bertemu dengannya saat pulang kantor kemaren. Dia mengajakku dan ingin berbicara. Bagaimanapun kami pernah menjadi kekasih. Aku ingin dia tau keadaanku sebenarnya," jawab Dae dengan jujur.
"Makasih kalau kamu sudah jujur sama aku Dae. Aku tidak ingin kehilangan kamu. Biarkan aku yang memberikan kebahagiaan buatmu," ucap Edy sambil mengambil tangan Dae dan menggenggamnya. Hingga jari-jari mereka bertautan.
__ADS_1
"Ya, aku tidak ingin ada kebohongan antara kita. Karena kita akan memulai hubungan kita saat lamaran nanti," balas Dae tersenyum.
"Ed, apakah aku boleh jujur denganmu?" tanya Dae takut-takut.
"Ya, aku lebih suka kalau kamu jujur," jawab Edy.
"Tapi aku takut kejujuran ku akan menyakitimu," balas Dae lagi.
Edy terdiam dan menatap Dae dengan serius. "Apakah itu ada hubungannya dengan Ilyas?" tanya Edy hati-hati.
"Bukan," jawab Dae menggelengkan kepalanya.
"Lantas apa?" tanya Edy semakin penasaran.
"Ini tentang kejadian saat aku pergi ke Jogja bersama Ani," jawab Dae. Dia melihat Edy dengan rasa takut. "Aku tidak ingin jika kamu mendengarnya dari orang lain," ucap Dae lagi.
"Apakah itu sangat menyakitkan?" tanya Edy.
"Pasti, aku pasrah apa yang akan kamu lakukan, karena memang aku pun tidak melakukannya dengan sengaja," ungkap Dae.
"Katakan apa yang terjadi," pinta Edy yang terus mendesak Dae.
"Ed, waktu aku menghadapi masalah kita, waktu itu aku bertemu dengan Ilyas. Aku mengatakan kejujurannya tentang kita karena dia ternyata mengetahuinya terlebih dahulu. Pada saat itu dia sangat marah dan memutuskan hubungan kami. Selain itu dia juga mengatakan hal yang tak enak dan menyakitkan. Aku tau aku salah, tapi dia sudah berkata yang tidak enak di dengar," Dae berhenti sejenak. Dia menarik nafasnya dengan berat.
"Lalu apa lagi yang terjadi setelah itu?" tanya Edy yang masih terus menatap Dae.
Perlahan Dae mulia menceritakan kejadian waktu di dia di jebak oleh Ani. Tapi Dae tak sanggup menceritakan kalau Rion dan dia sudah tidur bersama. Dae tak sanggup mengungkapkan itu. Dae hanya menceritakan saat pagi, dia terbangun di dalam kamar yang kosong sendirian. Dan Dae mengatakan kalau Rion yang menolongnya.
"Terus kamu kembali ke hotel sama siapa?" tanya Edy penasaran.
"Aku kembali sama Rion, karena dia menunggu ku di depan club' itu," jawab Dae.
"Kalau begitu mulai sekarang aku akan memecat karyawan yang bernama Ani. Aku tidak mau dia mencelakai kamu lagi Dae," ucap Edy dengan emosi.
"Please Ed, jangan lakukan itu! Gimanapun dia sangat membutuhkan pekerjaan untuk kehidupannya. Biarlah dia bekerja di sana. Toh aku juga sudah menjaga jarak dengannya," pinta Dae dengan memeluk Edy.
"Aku khawatir sama kamu Dae. Dia sudah pernah berniat menghancurkan mu. Pasti nanti dia akan berencana melakukannya lagi. Kau gak mau itu terjadi kembali," balas Edy kesal.
__ADS_1
"Aku janji akan berhati-hati dengannya. Dan aku tidak akan menerima ajakannya," ucap Dae yang menenangkan hati Edy.
"Baiklah, kalau ada apa-apa, kamu harus langsung mengabari aku ya," pinta Edy dengan membalas pelukan Dae dengan rasa sayangnya.