Calon Suamiku Ternyata Kakakku Sendiri

Calon Suamiku Ternyata Kakakku Sendiri
Bab 66


__ADS_3

Dae sudah tidak bisa berpikir panjang ketika mengajak Edy keluar dari kantor.


Sementara Edy tersenyum puas dengan keputusan Dae. Dia berhasil memprovokasi Dae untuk mengajaknya.


Lalu Edy dan Dae keluar dari kantor. Mereka berjalan menuju lift. Ketika Dae dan Edy masuk ke dalam lift, mereka berpas-pasan dengan Manager Produksi.


Pak Raffi membelalakkan matanya terkejut ketika melihat Dae dan Presdirnya berdiri di hadapannya. Padahal Raffi saat ini ingin menemui Dae di ruangannya. Tapi kenyataan yang harus dilihatnya adalah kebersamaan Dae.


"Presdir," sapa Pak Raffi.


Pak Raffi masih diam terbengong di hadapan keduanya.


"Heum, maaf saya bisa masuk ke dalam?' tanya Presdir mereka dengan tatapan dinginnya.


"Ah iya Presdir. Maaf saya tidak bermaksud menghalangi," jawab Pak Raffi buru-buru.


Lalu Pak Raffi keluar dari dalam lift. Dia memberikan akses jalan kepada Dae dan Edy. Ketika dia berpas-pasan dengan Dae, dia melirik ke arah Dae.


Sementara Dae tidak ingin menatap ke arah Pak Raffi. Dae merasa mual melihat wajahnya yang penuh kepalsuan dan mesum.


Ketika Dae dan Edy sudah berada di dalam lift, Pak Raffi masih berdiri di depan lift menunggu sampai lift tertutup. Raffi seperti orang yang terhipnotis, melihat pemandangan yang berbeda. Hingga lift tertutup, Pak Raffi masih terbengong di depan lift.


Tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya dan mengagetkan Pak Raffi.


"Pak Raffi, anda kenapa berdiam disini?" tanya salah satu karyawan.


"Ah kamu, ngagetin saya aja. Saya mau masuk ke dalam lift tapi masih menunggu," jawab Pak Raffi.


"Loh anda emangnya dari mana Pak? Kenapa berada di lantai ini?" tanya karyawan itu kepingin tau.


"Oh itu, saya tadi dari ruangan Bu Dae. Tapi dia tadi pergi bersama Presdir," jawab Pak Raffi.


Pak Raffi sengaja membeberkan perihal Dae dan Edy yang keluar dari ruangan Dae tadi. Dia menginginkan karyawan di kantor itu memandang Dae dengan pandangan jelek. Raffi pun menyeringai setelah mengatakan itu.


"Maksud Pak Raffi, Presdir tadi dari ruangan Bu Dae?" tanya karyawan itu.


"Sepertinya begitu, karena saya tadi melihat mereka masuk ke dalam lift," jawab Pak Raffi.


"Wah.... berita baru nih! Berarti Bu Dae benaran gencar mendekati Presdir kita. Benar-benar gak bisa di percaya ya," gumam karyawan itu sambil menatap Pak Raffi.


"Begitulah," balas Pak Raffi acuh tak acuh.

__ADS_1


Lalu pintu lift terbuka, dan Pak Raffi langsung masuk ke dalam bersama karyawan itu.


Di dalam lift, mereka tidak ada pembahasan. Raffi masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Dan karyawan itu merasa senang karena mendapatkan gosip terbaru seputar Dae dan Presdir mereka.


Sementara di tempat lain, Dae dan Edy berjalan ke arah pintu keluar. Setelah mereka keluar dari lift, Dae dengan santai dan tenang berjalan berdampingan dengan Edy. Seperti yang Dae khawatirkan, banyak mata yang memandang dirinya dengan tatapan yang beraneka macam pikiran.


"Sepertinya saat ini, kamu menjadi selebritis di kantor ini," ledek Edy tanpa ekspresi.


"Jangan meledekku. Biarkan mereka melihatnya, bukankah itu yang kamu mau Ed?" tanya Dae to the point.


"Maybe," balas Edy dengan mengedikkan bahunya cuek.


Di meja Resepsionis, beberapa karyawan yang ada di sana sedang bergosip tentang Dae. Mereka memandang Dae dengan tatapan sinisnya.


"Dasar perempuan murahan tuh orang. Deketin Presdir terus," celetuk karyawan A.


"Iya ya, kayaknya dia ngebet banget sama Presdir kita. Duh jangan sampai deh Presdir mau sama tuh perempuan," balas karyawan B.


"Katanya, dia emang sengaja dekatin Presdir. Padahal Pak Raffi sangat baik sama dia. Mungkin karena Pak Raffi gak sekaya Presdir ya makanya tuh perempuan gak mau sama Oka Raffi," ungkap karyawan C.


"Loh Kak Raffi kan udah punya istri. Ya gak maulah sama dia. Kalau Presdir kita kan masih single dan kaya raya lagi. Wajar kali si Dae milih Presdir," balas karyawan B.


Lain hal dengan Dae. Dia terlihat cuek dan tak perduli dengan apa yang di gunjingkan orang lain tentang dia. Yang ada saat ini Dae ingin menyenangkan hati dan pikirannya.


Dae dan Edy masuk ke dalam mobil. Mereka duduk di kursi belakang karena ada supir yang mengendarainya.


"Mau kemana Tuan?" tanya si supir.


"Ke Apartement ya Pak," jawab Edy.


"Baik Tuan."


Mobil pun melaju dan meninggalkan Perusahaan itu. Sepanjang jalan yang begitu ramai sehingga membuat kemacetan, Dae hanya diam dan menikmati pemandangan di laut jendelanya.


Begitu juga dengan Edy, dia sibuk dengan leptopnya. Meskipun Edy berada di dalam mobil saat ini, tapi dia tetap bekerja. Edy mengerjakan pekerjaannya yang sempat tertunda karena Dae.


Hingga akhirnya mobil sampai di Apartement Edy.


"Kenapa kita harus kesini?" tanya Dae mengernyitkan keningnya.


"Ya, aku ingin berduaan dengan kamu Dae. Kita menghabiskan waktu berdua disini sambil ngobrol santai, gimana?" Edy malah balik bertanya.

__ADS_1


"Terserah kamu deh Ed," lalu Dae pun keluar dari dalam mobil. Dia berjalan meninggalkan Edy yang masih di dalam mobil.


Namun Dae berhenti seketika, karena dia tidak tau harus kemana. Dae pun membalikkan tubuhnya ke aeah Edy yang geleng-geleng kepala melihat tingkah Dae yang sok tau.


"Udah buruan, kenapa malah menatapku seperti itu. Ayo kemari," ucap Dae kesal.


Edy tak menjawab ucapan Dae, dia hanya diam dan mengikuti kemauan Dae. Dia pun berjalan menghampiri Dae yang terlihat kikuk.


"Kenapa aku malah salah tingkah gini dilihatin sama dia? Ada apa denganku?" bathin Dae sambil geleng-geleng kepala.


"Kamu kenapa Dae?" tanya Edy cemas.


"Ah tidak ada yang perlu di khawatirkan Ed. Ayo buruan ke dalam. Aku mau istirahat," jawab Dae dengan cueknya.


Edy pun mengajak Dae masuk ke dalam Apartementnya. Ini adalah kesekian kalinya Edy membawa Dae ke Apartementnya.


"Ayo masuk sayang, ajak Edy.


Dae merasa wajahnya memerah karena di panggil dengan sebutan sayang.


"Ed, bisakah kita memesan makanan. Aku ingin makan steak," pinta Dae dengan wajah polosnya.


"Baiklah, aku akan memesannya. Apa ada lagi yang kamu ingin makan?" tanya Edy lagi.


"Mmm, sepertinya aku mau karaokean di sini. Bolehkan?" Dae bertanya balik.


"Tentu sayang, kita akan bernyanyi berdua, ok!" ucap Edy.


Dae pun mengangguk menyetujui ucapan Edy yang menginginkan mereka bernyanyi bersama.


Untuk hari ini Dae merasa terhibur dengan karaokean bareng Edy. Akhirnya Dae pertama kali mendengar Edy bernyanyi dengan sangat lugas dan percaya diri. Dia terlihat sangat bersemangat bernyanyi bersama Dae.


Mereka bersenang-senang dengan berdansa dan bernyanyi duet. Hingga makanan yang di pesan Edy datang ke ruangannya.


Dae yang sudah kehabisan energi, merasakan perutnya yang kelaparan. Dia pun merasa senang ketika melihat hidangan di atas meja makan Edy.


"Ini sangat lezat. Bisakah kita makan dulu? Setelah itu kita lanjut lagi acara kita," pinta Dae.


"Tentu sayang, sekarang kita nikmati dulu makanan ini. Setelah itu kita bernyanyi lagi," balas Edy.


Mereka pun menikmati hidangan yang ada di meja makan. Edy tidak ingin menegur Dae untuk berhati-hati memakan arealnya agar tidak keselek. Dia sangat menikmati pemandangan yang memperlihatkan bagaimana Dae melahap steaknya.

__ADS_1


__ADS_2