
Plak, plak, plak.
"Kalian kemana saja, hah?"Jeremy menatap tajam para bodyguard yang berjejer di depannya.
"Maaf, Tuan! Tadi kami sempat kehilangan jejak nona Irene sewaktu di keramaian. Mobil nyonya Irene tiba-tiba saja menghilang." Ucap salah satu bodyguard yang masih memegang pipinya karena masih merasakan sakit yang menjalar setelah Jeremy baru saja menamparnya.
"Bukankah sudah kukatakan pasang GPS di mobil nona Irene."ucap Jeremy dengan emosi yang masih berkobar.
"Maaf, tuan! Kami sudah memasangnya GPS secara sembunyi-sembunyi tetapi entah kenapa saat kami melacaknya tadi, kami tidak menemukan keberadaan mobil nona Irene."lanjut bodyguard itu.
"Dasar bodoh! Plak, plak, plak." Jeremy kembali menghantam bodyguard itu dengan tamparan di sisi satunya. Ya, orang-orang Nick cukup pandai, ia merusak GPS yang ada di mobil Irene, ia tahu jika di mobil Irena sudah dipasarkan GPS agar mudah melacak keberadaannya.
"Kalian tahu konsekuensi apa yang kalian akan dapatkan jika nyonya Irene terluka?" Jeremy kembali berucap.
Bodyguard itu mengeleng.
__ADS_1
"Nyawa kalian yang akan menjadi gantinya."
Mendengar itu seketika semua bodyguard itu bergelidik ngeri membayangkan jika mereka akan mati hanya karena wanita yang di cintai tuanya terluka.
"Maafkan kami tuan, beri kami kesempatan. kami berjanji akan berhati-hati dalam menjaga nona dan kami akan lebih memperketat pengawalan." Salah satu bodyguard itu berucap. Mereka hanya bisa menunduk tanpa bisa melawan apapun yang dilakukan atasannya.
"Bagus kalau bagitu. Satu kali lagi kalian lengah, maka nyawa kalian yang akan jadi gantinya! Kalian mengerti!" Tanya Jeremy. Wajahnya terlihat tegas tanpa ada kebohongan di dalamnya.
"Kami mengerti,tuan." Para bodyguard itu menjawab dengan serentak.
Lion masih memeluk tubuh Irene sambil bersandar di Sandara ranjang. Sesekali tangannya membelai pucuk kepala Irene.
Tangis Irene semakin luruh. Jujur saja saat ini Irene masih dalam kondisi ketakutan. Seharian ini banyak hal yang terjadi padanya. Dari mulai ia mendapatkan paket dari orang Yang tidak ia kenal dan berujung pada penyerangan oleh pria-pria bersenjata.
Mendengar tangis Irene yang terdengar semakin pilu. Lion lalu merenggangkan pelukannya dan langsung menangkup wajah Irena.
__ADS_1
"Ayo kita menikah," Lion seketika berucap. Ada dorongan keras yang ia rasakan di hatinya saat mendengar suara tangisan Irene yang terdengar sangat memilukan. padahal ia sudah berucap kalau ia baru akan menikah setelah ia sudah menghancurkan orang-orang yang sudah membantai keluarganya, hingga ia dan kakaknya menjadi seorang anak yatim piatu dan harus merasakan hidup di jalan terlunta-lunta selama beberapa tahun. untung saja saat usianya sepuluh tahun ia bertemu dengan kakek Gary. Seorang pria tua yang hidup sebatang kara tanpa istri dan juga anak. dari situlah sedikit demi sedikit kehidupan Lion mulai berubah kakek Gery mengajarkan banyak hal, mulai dari memegang senjata, merakit senjata, hingga membuat bom granat.
Dulunya. Kakek Gary pernah bekerja di sebuah perusahaan pembuatan senjata hingga akhirnya ia berhenti dan mulai membuat bisnis sendiri.
Irene menegakkan tubuhnya. Ia kemudian menatap Lion, apa benar ia tidak salah dengar. Bukankah Lion belum ingin menikah? Kekasihnya itu masih Fokus dengan bisnisnya.
"Ayo kita menikah?" Lion berucap sekali lagi.
Irene menatap wajah Lion, mencari kebenaran di kedua Menik biru yang saat ini sedang menatapnya.
"Kau serius?"Irene tampak belum percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Iya, aku serius. mari kita menikah. Kita akan mengucapkan janji suci pernikahan di altar dan disaksikan oleh Tuhan."pungkas Lionel.
__ADS_1