CINTA & DENDAM SEORANG BOS MAFIA

CINTA & DENDAM SEORANG BOS MAFIA
BAB 24. KUMOHON BIARKAN AKU PERGI


__ADS_3

Bodoh!"ucap Lion, ia menggebrak meja yang ada di ruang kerjanya. Ia lalu menatap satu persatu orang yang ada di hadapannya.


Mereka semua menunduk, takut akan kemarahan tuannya.


"Cari wanita, itu! Jangan sampai dia kabur. Aku yakin wanita itu masih ada di sekitar mansion." Lion berucap dengan sorot mata tajam seolah ingin menguliti semua orang yang ada di sana.


Para bodyguard dan Pelayan pun serentak mengangguk lalu berpencar ke seluruh sudut ruangan yang ada di mansion.


Lion kemudian berjalan ke arah pintu utama, mencari bodyguard yang tadi berjaga di sana.


Setelah bertemu dengan penjaga yang ada di pintu utama, Lion langsung menanyakan apakah tadi Iren melewati pintu itu. Namun, pengawal itu menjawab jika tidak ada siapapun yang melewati pintu itu kecuali Jeremy yang masuk kedalam mansion membawa sebuah berkas.


"Sial," Lion kembali' mengumpat, menatap penjaga dengan tatapan tajam. Ia lalu berjalan ke arah pintu belakang, namun lagi-lagi jawaban yang sama yang ia dapatkan dari penjaga di pintu belakang. Lion lalu berjalan ke arah lorong yang ada di mansion.

__ADS_1


"Iren, jangan bersembunyi! cepat keluar!" teriak Lion.


Tak ada jawaban dari Iren. Lion kembali menendang meja yang ada di sana. 


Dari belakang nampak jeremy berlari ke arahnya.


"Maaf tuan, ini rekaman cctv nya," ucap Jeremy. tadi saat Lion akan memeriksa rekaman cctv yang ada di mansion, rekaman cctvnya tidak dapat di buka, mungkin karena ada kesalahan dari teknisinya.


Lion lalu meraih benda pipih persegi empat yang di sodorkan jeremy, kemudian ia melihatnya.


"Iren, kau di mana, cepat keluar! atau aku akan memberimu perhitungan."teriak Lion tepat di depan gudang.


Tetapi lagi-lagi ia tak mendapatkan jawaban apapun, tangannya semakin mengepal. Ia merasa jiwanya semakin tertantang.

__ADS_1


Irene yang berada di belakang lemari semakin membekap mulutnya, karena takut jika isakannya akan terdengar oleh Lion, air matanya semakin luruh bersama dengan keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Rasa takut semakin menderanya. Ia berharap Lion segera pergi dari tempat itu. Namun nyatanya salah, derap langkah kaki kian mendekat ke arahnya, beberapa kali ia mengucek matanya saat melihat dua pasang sepatu ada di depannya, Ia lalu menengadahkan kepalanya ke atas, melihat siapa yang ada di depannya. Seketika jantungnya berdetak dua kali lebih cepat saat Lion sudah berdiri di depannya. 


"Kau mau kemana? Sudah ku katakan! kau tidak bisa kabur," Lion berucap dengan mata yang memerah. Ia lalu mencengkram tangan iren kuat, lantas menyeret paksa dan membawanya kembali masuk ke dalam kamar utama.


Saat tiba di kamar utama Lion langsung melempar tubuh Iren. Iren terpental jatuh ke lantai. Tangisnya kembali luruh, entah sudah berapa banyak air mata yang ia keluarkan hari ini. Iren perlahan bangkit, menyeret kedua kakinya, kemudian bersimpuh di bawah kaki Lion.


"kumohon biarkan aku pergi! Aku sama sekali tidak tahu menahu tentang kematian orang tua mu. dan Albert, nama yang kau sebut sebagai daddy ku, aku sama sekali tidak mengenalnya, sekali pun aku tidak pernah melihatnya. Aku tetap putri dari keluarga gantari, aku tidak mengenal siapa Albert. Jadi ku mohon izinkan aku pergi,"Iren terus memohon dan menangis di bawah kaki Lion.


Lion tak bergeming dari posisinya, tiba-tiba dadanya terasa sesak saat melihat Iren bersimpuh di bawah kakinya. Ia menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Ia tak boleh kalah dengan perasaannya, ia semakin menekan egonya agar tak luluh dengan air mata Iren. Dan akhir egonya lah yang menang, ia menarik paksa kedua kakinya agar menjauh dari Iren.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa tinggalkan jejak.🙏🙏🙏


__ADS_2