
Malam semakin larut, semilir angin terlihat semakin kencang menggoyang-goyangkan di antara pepohonan dan dedaunan yang menghiasi bangunan mewah mansion milik keluarga Muller.
Lion kini duduk di rooftop, ia menyandarkan punggungnya ke belakang serta menyilangkan kakinya. sesekali ia terlihat meneguk vodka kadar 60 persen dari gelas pialang yang saat ini berada di genggamannya.
"Jadi… informasi apa saja yang kau dapatkan selama aku tidak berada di sini?" Tanya Lion. Matanya menatap lurus kedepan hanya ada langit yang gelap diantara dinding-dinding kaca yang melindungi Sekitar area rooftop.
"Maaf, tuan. Pria itu masih saja bungkam. Saya sudah berusaha mengorek informasi tentang keberadaan tangan kanan Albert. Namun, lagi-lagi ia menolak untuk membuka mulutnya." Balas Jeremy yang saat ini berdiri tidak jauh dari kursi yang diduduki Lion.
"Masukkan dia ke ruang penyengat. Aku ingin melihat seberapa kuatnya ia bertahan untuk terus bungkam."Lion berucap kemudian meneguk kembali vodka yang ada di tangannya.
Setelah meneguk vodkanya. Lion lalu mengambil gelas baru yang ada di atas meja kemudian menuangkan Vodka ke dalam gelas itu.
"Minum lah," Lion memberikan gelas pialang yang berisi Vodka pada asistennya. Seketika Jeremy menunduk kemudian meraih gelas Vodka yang diberikan oleh Lion.
Ia tersenyum. Wajahnya berbinar seolah ia sedang mendapat harta Karun yang nilainya fantastis dari atasannya.
__ADS_1
Jeremy mulai meneguk vodkanya. Sedikit demi sedikit hingga Vodka yang ada di dalam gelasnya habis tak tersisa sedikitpun
"Jeremy," panggil Lion.
"Ada apa, tuan?" Jeremy menoleh ke arah Tuannya.
"Apa kau sudah melihat berita tentang penyerangan di acara fashion week kemarin?Lion meraih ponselnya kemudian menyerahkan ponsel itu pada Jeremy. Di ponsel itu memperlihatkan kejadian saat Irene hampir saja terkena tembakan. Di berita itu jelas tertulis jika pengusaha hebat, pemilik dari Muller crop rela terkena tembakan hanya untuk melindungi kekasihnya. Siapakah gerangan gadis yang bisa menaklukkan pengusaha ternama itu?
Setelah Jeremy melihat berita itu, ia kemudian memberikan kembali ponsel itu pada pemiliknya.
"Kau hubungi semua media yang menyiarkan berita itu. Suruh mereka untuk segera menghapus berita itu. lalu kau hubungi para bodyguard yang selama ini mengawasi Irene. Suruh mereka memperketat pengawasannya. Aku tidak ingin hal buruk terjadi padanya, sedikit saja kulitnya tergores maka nyawa kalian sebagai gantinya."Lion berucap dengan wajah yang datar.
Lion memijat Pangkal hidupnya." Jeremy, apakah kau sudah tau siapa dalang dari kejadian di Paris kemarin." Tanya Lion tanpa expresi.
"Belum, tuan! Sementara kami mesin dalam proses penyelidikan. Orang-orang ku sudah berusaha mencari siapa dalang dari penembakan itu.
__ADS_1
"Baiklah." Lion mengangguk, kemudian ia kembali berucap." Semua berkas yang perlu ditandatangani bawa ke ruang kerja ku sekarang, aku harus menyelesaikannya malam juga.
"Baik, tuan!
***
Pria berdarah blasteran, bertubuh kekar, bermata coklat itu sedang bersandar di kursi putarnya. Ia menatap tajam ke arah seorang pria yang Berdiri mematung di hadapannya.
"Dasar, bodoh!.begitu saja kau tidak bisa." Teriak Nicholas pada anak buahnya.
"Maaf tuan, tadi saya sudah hampir mengenai tembakannya. namun, lagi-lagi dihalau oleh Lion.
"
like, vote, komen dan beri hadiah. Trimakasih.
__ADS_1