CINTA & DENDAM SEORANG BOS MAFIA

CINTA & DENDAM SEORANG BOS MAFIA
Bab 91. Lamaran


__ADS_3

Bugh


Lion beserta Jeremy meloncat turun ke jembatan. 


"Cari mereka sampai dapat." Titah Andreas saat keluar dari mobil. 


"Baik tuan."beberapa anak buah Andreas mengangguk lalu mulai berpencar mencari keberadaan lion serta Asistennya. 


Hampir lima tahun Andreas mencari keberadaan lion. Namun, ia selalu gagal. Beberapa tahun lalu saat kematian Alex . Andreas tidak berhenti menyelidiki kasus itu. Hingga ia menemukan bukti jika lion yang sudah membunuh daddynya. 


Hampir sejam anak buah Andreas berpencar di dekat Jembatan. Bahkan ada beberapa yang ikut meloncat. Tetapi gagal. Lion lebih cerdas dari mereka. 


"Maaf tuan, lion dan Asistennya menghilang." Ujar anak buah Andreas


"Sial." Andreas mengumpat. 


"Kalian tidak bisa diandalkan! Bodoh, bodoh, bodoh." Seru Andreas. 


"Ayo kita kembali. Besok aku tidak mau gagal. pria itu harus mati di tanganku! Seperti apa yang sudah ia lakukan pada daddy ku." Ujar Andreas. 


Semua anak buah Andreas serempak mengangguk lalu kembali masuk ke dalam mobil. 


Setelah mobil Andreas pergi. Lion keluar dari tempat persembunyiannya bersama dengan Jeremy. Sejak tadi pria itu bersembunyi di gorong-gorong jembatan. Ia berpegangan pada penyangga besi yang terdapat di sisi bagian atas lapisan beton. 


"Aku hampir kehabisan nafas." Ujar Jeremy. Nafasnya masih tersengal-sengal. 


Lion tertawa.


" Andreas sudah mengetahui siapa pembunuh Ayah-nya. Bagaimana, tuan. Apa tuan sudah memiliki cara untuk melawannya. " Tanya Jeremy


Bukannya menjawab lion malah tertawa terbahak-bahak. 


"Kamu tidak usah khawatir." Ujar lion lalu kembali berjalan menghampiri mobilnya. 


Melihat apa yang dilakukan lion. Jeremy terlihat menggeleng lalu kembali mengikuti lion masuk ke dalam mobil. 


***


Wili menghentikan mobilnya tepat di depan kediaman Iren. Tadi ia sudah datang ke butik mencari keberadaan single mom itu. Namun beberapa staf Iren mengatakan jika Iren hari ini tidak ke butik.


Wili keluar dari mobilnya. kemudian menghampiri security yang berjaga di sana. 


"Apa nyonya kalian ada di rumah?" Tanya Wili. 


"Ada, tuan." Balas security


"Baik, apakah aku boleh masuk?" Tanya Wili. 

__ADS_1


"Silahkan, tuan." Security itu berlari membukakan pagar untuk Wili. 


Wili berlari masuk ke dalam mobilnya lalu memasukkannya ke dalam halaman rumah Iren. 


Sesampainya di dalam,  Wili langsung keluar dari mobilnya. 


Dari arah taman sean berlari menghampiri Wili saat melihat Wili keluar dari mobil. 


"Daddy." Teriak sean. 


Wili menoleh. Lantas tersenyum. Kemudian meraih tubuh mungil sean. 


"Bagaimana kabar jagoan daddy." Tanya Wili. 


"Sehat daddy." Jawab sean tersenyum.


"Oh iya, daddy lupa. Ada hadiah dari daddy."


Wili membuka pintu belakang mobilnya. Kemudian mengambil sesuatu di kursi penumpan. 


"Ini untuk jagoan daddy." Seru Wili menyerah sebuah box mainan pada sean. 


Mata sean seketika berbinar kemudian tersenyum. 


"Terima kasih, daddy." Ucap sean mencium pipi Wili kemudian turun dari gendongan Wili dan menghampiri mommynya. 


"Mommy." Teriak sean saat menghampiri Iren. 


"Wili, seharusnya kamu tidak usah terlalu memanjakannya." Pintar Iren. 


Wili tersenyum." Tidak apa-apa. Iren."


Iren menghela nafas. 


"Boleh aku duduk." Tanya Wili. 


Iren mengangguk." Silahkan."


Wili lalu mendudukkan tubuhnya di kursi taman. Sedangkan sean sibuk membuka hadiahnya. 


"Iren." Panggil Wili. 


Iren menoleh


"Aku datang kesini dengan niat awal ku. Yaitu ingin kembali melamarmu."


Wili mengambil sesuatu dari balik jasnya kemudian menatap Iren dengan tatapan memohon. 

__ADS_1


"Iren aku ingin menikah dengan mu. Apa kamu bersedia."


Wili membuka kotak cincin yang tadi ia ambil dari saku jasnya. Kemudian memberikannya pada Iren. 


Iren terdiam. Single mom itu tidak tahu jawaban apa yang akan diberikan pada Wili. Selama ini Jordan sudah baik pada keluarganya. Tentu saja Iren sangat berat untuk menolak lamaran Wili. 


"Kamu tidak usah menjawabnya sekarang. Aku akan menunggu sampai kamu siap." Ucap Wili. Pria itu terlihat mengambil tangan Iren dan meletakkan cincin itu tepat di genggaman Iren.


"Simpanlah. Aku. Menunggu jawabanmu." Pintar Iren. 


Iren masih tertegun. 


Sejujurnya ia tidak memiliki perasaan apapun pada Wili. Tiga tahun ia mengenal Wili. Bahkan Wili selalu memberikan perhatian lebih padanya. Tapi sampai detik ini Iren tidak memiliki perasaan apapun pada Wili. Bahkan Iren secara tidak langsung selalu menolak Wili. Namun, pria itu tetap kekeh terus mendekati Iren. 


"Iren kamu tidak usah khawatir. Aku akan menunggu sampai kamu siap." Ucap Wili 


"Wili, Aku tidak berhak mendapatkan ini."


"Kenapa? Kamu berhak mendapatkan ini. Kamu berhak bahagia. Iren, ayolah. Sudah lima tahun kamu menutup diri. Kamu berhak bahagia." Ungkap Wili 


Iren menarik nafas dalam. 


"Aku belum siap."ujar Iren. 


" Kenapa? Apa kau masih trauma?" Tanya Wili the point. 


Iren terdiam. Air Matanya kembali mengalir. Berat rasanya jika Iren akan membuka lembaran baru. Ia pernah mendapatkan penyiksaan dari pria yang ia cintai. Tidak mudah untuknya jika Harus kembali membuka lembaran baru. 


Melihat air mata Iren mengalir. Wili meraih tubuh Iren kemudian memeluknya. 


"Aku tidak memaksamu. Aku akan menunggu sampai kamu siap. Aku tahu, memang berat menjalaninya. Aku janji akan selalu bersama mu." Wili mengusap punggung Iren. Meyakinkan wanita itu jika dirinya tidak akan melukai Iren seperti apa yang pernah di alami wanita itu. 


Iren mengangguk kecil. Kemudian melepaskan pelukan Wili. 


"Maafkan aku Wili, aku belum memiliki jawaban apapun." Balas Iren. 


Wili meraih tangan Iren. Kemudian Mengecupnya. 


"Aku akan menunggumu sampai kau siap. Aku janji, akan menjadi suami dan daddy yang baik untuk sean." Janji Wili. 


Iren  tersenyum. 


"Terima kasih, Wili."


"Sama-sama."


Di balkon kamar, Rey berdiri sambil menatap ke arah Iren dan juga Wili. Hatinya mendadak perih. Sudah lama ia mencintai Iren. Bahkan sebelum Iren menikah dengan lion. Namun, Iren sama sekali tidak membuka hatinya untuk Rey. Menurutnya Rey adalah saudaranya. Dan sampai kapanpun tetap akan menjadi saudaranya. 

__ADS_1


Sudah Berulang Kali Rey mengungkapkan perasaannya pada Iren. Ia menjelaskan pada Iren jika ia dan Iren tidak memiliki hubungan darah. Tetapi Iren tetap Menolak. Iren tetap kekeh jika Rey adalah saudaranya. 


"Aku harap kau tidak salah memilih." Gumam Rey. Pria itu menatap Iren dan juga Wili 


__ADS_2