
Matahari kini sudah kembali memancarkan sinar jingganya, menghangatkan pagi ditemani suara burung yang berterbangan di angkasa.
Irene mengerjap beberapa kali saat tenggorokannya terasa kering, perlahan ia mulai membuka mata dan melihat Maria yang setia Duduk tidak jauh dari ranjang sedang menunggunya sadar. Irene bergerak, tangannya berusaha meraih gelas yang ada di nakas. Namun tangannya tidak sengaja menjatuhkan gelas itu.
Buukkkhhh
Gelas yang berisi air jatuh ke lantai.
"Nyonya," ucap meria. Ia langsung berjalan ke arah iren.
"Apa yang anda inginkan, nyonya?,"tanya maria.
"Bisakah aku meminta segelas air, tenggorokan ku terasa sangat kering" Iren berucap dengan sangat pelan, rasa sakit mendera seluruh tubuhnya, walaupun Maria sudah mengolesi salep pada lukanya. Namun itu tidak berpengaruh, luka lebam di tubuhnya masih terasa sangat perih.
"Tentu boleh, Nyonya." Maria lalu mengambil teko kemudian menuangkan air kedalam gelas."silahkan Nyonya,"ucap Maria menyerahkan gelas yang berisi air pada iren.
Iren tersenyum, kemudian meraih gelas yang diberikan maria lalu meminumnya hingga tandas.
"Terimakasih, Maria," ucap Iren.
"Sama-sama, Nyonya."
"Apa, nyonya menginginkan sesuatu lagi?" Tanya Maria.
Iren mengeleng." tidak Maria, terimakasih. Aku hanya ingin beristirahat."
"Baik, Nyonya. Kalau begitu saya pamit, jika nyonya membutuhkan sesuatu, nyonya bisa memanggil saya melalui telepon yang ada di nakas. Telepon itu sudah tersambung langsung dengan dapur,"pungkas Maria.
"Baik, Maria. Terimakasih,"balas Iren.
Maria tampak mengulas senyumnya, wanita di depannya benar-benar baik, ada rasa iba terselip di hati wanita yang menginjak usia 45 tahun itu, tetapi ia tidak bisa berbuat banyak, di mansion itu, ia hanya seorang pelayan yang dipekerjakan untuk mengurus semua kebutuhan yang ada di mansion.
"Sama-sama, Nyonya," setelah mengatakan itu Maria keluar dari kamar utama, kemudian menguncinya.
Irene tersenyum kecut, mendengar suara decitan kunci yang terdengar berputar dua kali."sungguh malang nasibmu Iren," Gumamnya. Ada rasa sesak seketika menghantam dadanya, saat memikirkan nasibnya yang terkurung di mansion ini.
__ADS_1
Perlahan ia bangkit dari kasur, menyibak selimut, ia berjalan ke arah jendela, saat tiba di depan jendela, matanya langsung disuguhkan pemandangan indah dari luar mansion, pemandangan yang menyatu dengan alam. Sungguh mansion ini sangat indah, tetapi sayangnya, ia hanya dapat melihat dari balik jendela.
Iren tersenyum, ia merasa seperti tahanan, mendapatkan hukuman dari kesalahan-kesalahan yang sama sekali tidak ia lakukan.
Matanya seketika mengembung, sekelebat bayangan tentang cinta masa lalunya kembali teringat.
"Tidak akan ada yang berani menyentuhmu dan berbuat jahat padamu, ada aku yang selalu disisi mu."
"Iren, bersedia kah kau menjadi kekasih ku,"
"Iren awas,"
"Iren,"
"Iren,"
"Iren,"
"Iren, aku sangat mencintaimu,"
Iren menutup telinganya," tidak! Dia pria jahat,"tubuhnya perlahan merosot turun ke lantai, ia menangis tergugu, memukul-mukul dadanya yang saat ini terasa sesak. Dulu ia pernah bermimpi, menikah dengan pria yang mencintainya setulus hati. Itu sebabnya, saat ia melihat ketulusan cinta yang diberikan Lion padanya, ia dengan mudahnya luluh, padahal Iren tipe wanita yang Sulit ditaklukkan. Lion adalah pria pertama yang dapat mengisi ruang kosong di hatinya.
***
Rey kembali melihat jam yang ada di pergelangan tangannya, rasanya ia sudah tidak sabar untuk segera tiba di New York, perjalanan dari Singapura menuju New York memakan waktu kurang lebih 18 jam. dan sekarang, Rey baru mengudara selama 10 jam, itu artinya masih ada 8 jam perjalanan lagi, barulah ia sampai di New York.
Semalam saat ia tiba di landasan pacu, jet pribadi yang akan membawanya terbang ke New York mengalami kendala, jet pribadi itu tidak bisa mengudara, karena cuaca yang sedang tidak bagus, itu sebabnya, ia menunggu beberapa jam dan akhirnya mereka bisa kembali mengudara.
"Rey, ada apa?" Tanya Tom, yang saat ini duduk di seberang kursi yang diduduki oleh Rey sambil menikmati sarapannya.
Rey mengeleng.
"Lalu kenapa kau belum menghabiskan sarapanmu," lanjut Tom.
"Aku sedang tidak berselera,"ucap Rey.
__ADS_1
Tom mengeleng.
"Kau tidak usah terlalu khawatir, Iren pasti baik-baik saja,"tom kembali menyemangati.
Rey tak bergeming.
"Ya, sudah. Sini makanannya, biar aku yang memakannya." Lanjut Tom.
Saat tom ingin menarik makanannya, Rey kembali tersadar, ia memukul tangan tom menggunakan sumpit.
"Au, sakit," tom meringis.
"Makanan mu saja belum habis, main nyomot makanan orang," ucap Rey.
"Maaf bos, aku harus punya banyak tenaga untuk melawan penjaga yang ada di mansion adik ipar anda. Berbaik hati lah sedikit pada ku bos."ucap tom.
Rey menatap tajam ke arah tom." jangan sebut dia adik ipar ku,"potong Rey.
Tom tersenyum kecut," ya sudah, maaf bos," ucapnya sambil nyengir kambing, ia lalu kembali menikmati makanannya. Namun, belum juga beberapa suap, Tom kembali berucap." Bos, bagaimana jika Iren sudah mati mengenaskan di tangan mereka, bos."ucap tom tanpa merasa bersalah.
Seketika Rey menatap tajam ke arah tom, ia menarik kerah kemeja yang dikenakan tom,"jaga ucapan mu, atau lidahmu akan ku cincang - Cincang menjadi beberapa bagian," Rey berucap, menatap geram ke arah asistennya lalu melepaskan cengkramannya dari kerah kemeja yang digunakan asistennya. Asistennya itu memang selalu asal bicara, sekali berucap, bisa membuat Rey naik darah.
"Maaf bos," ucapnya sambil memegang jantungnya yang seolah ingin keluar dari rongga dadanya.
Rey tak bergeming, membiarkan tom berbicara. ia mulai membuka makanan kemudian melahapnya.
Sedangkan tuan mahesa duduk di kursi yang lain, tetapi masih bisa mendengarkan percakapan putranya dan juga asistennya. Itu hal biasa yang tuan Mahesa sering dengar pada saat mereka sama-sama berada di kantor. Walaupun sikap tom seperti itu, Rey tetap mempertahankan asistennya itu karena tom termasuk asisten yang ulet.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan Lupa tinggalkan jejak.🙏