
Irene meregangkan otot-ototnya setelah menyimpan pensil yang ia pakai untuk mendesain koleksi terbaru gaun untuk butiknya. seharian ini pekerjaannya benar-benar sangat banyak.
Semua koleksi yang ada di butiknya habis terjual. Beberapa hari yang lalu, setelah wajah Irene memenuhi laman berita harian Paris, banyak orang yang datang ke butiknya hanya untuk melihat perempuan yang berusia 28 tahun itu. Mereka penasaran seperti apa perempuan yang bisa meluluhkan hati seorang Lion Muller, pria dingin, sombong, arogan serta berkuasa di New York.
"Nona ada kiriman untuk anda," salah satu pegawai Irene masuk ke dalam ruangan Irene membawa sebuah kotak berukuran sedang.
Irene lalu mengalihkan tatapannya ke arah pintu dimana Seorang pegawai masuk ke dalam ruangannya.
" Dari siapa?" Tanya Irene.
"Kurang tau, nona. disini tidak tertera pengirimnya. tadi seorang kurir memberikan ini untuk saya, katanya untuk nona."balas pegawai itu.
"Kira-kira dari siapa, yah?"Irene meraih kotak itu. Beberapa kali terlihat Irene membolak balikkan kontak itu mencari alamat si pengirim. Namun ia tidak menemukan siapa pengirimnya.
"Dari siapa yah?" Lirih Irene.
"Mungkin dari fans nona," celetuk pegawai itu.
Irene menatap pegawainya, tersenyum sambil menaikkan bahu beserta kedua alisnya. Irene kemudian mengambil gunting yang ada di meja kerjanya. Dengan pelan dan hati-hati ia mulai membuka kotak itu
Saat kota itu sudah terbuka sempurna, mata Irene membulat disertai teriakan kencang. Tangannya dengan refleks langsung melempar kota itu.
__ADS_1
"Ada apa, nona?" Pegawai yang ada di situ menghampiri Irene.
"A...da bangkai tikus,"Irene berucap dengan tangan gemermtar di sertai keringat dingin yang mulai membanjiri sekitar dahinya.
Pegawai itupun kemudian meraih gelas yang ada di meja irene. Lalu membantu Irene untuk minum.
"Sudah enakan, nona? Tanya pegawai itu.
"Irene mengangguk.
***
Pukul lima sore Irene keluar dari dalam butiknya. Tadi setelah ia mendapatkan paket dari orang yang tidak ia kenal, semua pegawainya menyuruh Irene beristirahat dulu untuk memulihkan kondisinya.
Dengan cepat ia menggelengkan kepalanya, membuang perasaan buruk yang ada di kepalanya dan langsung masuk ke dalam mobilnya.
Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Membela jalan Marina bay menuju jalan Orchard road yang ada di Singapura. Suara klakson seolah berlomba-lomba berbunyi di tengah jalan yang ramai.
Irene terus melajukan mobilnya membelah jalan Singapura, hingga sampailah Irene di jalan yang cukup sepi. Irene melihat keluar kaca spion mobilnya, seketika ia mengeryitkan alisnya saat melihat dua mobil seperti sedang mengikutinya.
"Siapa mereka?" lirih Irene. Ia lalu menggeleng, kemudian membuang perasaan buruknya." Mungkin mobil itu memang kebetulan searah dengan ku." Lagi-lagi Irene membuang perasaan buruknya. hingga tibalah di jalan yang cukup sepi mobil itu mendahului mobil Irene dan langsung menghadangnya. Seketika mobil Irene berhenti.
__ADS_1
Pria bertato, bertubuh besar keluar dari dalam mobil itu membawa sebuah senjata berjalan ke arah mobil Irene.
"Keluar!" Pinta pria itu.
Dengan tubuh gemetar menahan takut Irene keluar dari dalam mobilnya." Mau apa kalian?" Tanya Irene dengan keringat yang membanjir dahinya.
"Ikut kami."ucap pria itu.
Irene mengeleng," aku tidak mau! Kalian mau apa? Uang? Kalian mau berapa?" Irene meraih tasnya yang ada di dalam mobil, dengan tangan gemetar ia langsung menyerahkan tasnya kepada pria itu. Namun bukannya mengambil pria itu malah meleparkan tas yang diberikan Irena.
"Kami tidak butuh itu! Ayo ikut!" Pria itu mengarahkan senjatanya ke arah Irene.
Lagi-lagi Irene menolak untuk ikut.
"Tolong lepaskan aku, kau mau apa? Aku tidak mengenal kalian,"Irene terus memohon untuk dilepaskan. saat ini, ia benar-benar ketakutan. ia berharap ada seseorang yang langsung datang untuk menolongnya.
.
.
.
__ADS_1
Like, komen, vote, dan beri hadiah.🙏