
Seorang perawat mendorong brankar Iren menuju ke ruang operasi, diikuti Lion yang menggenggam tangan Iren begitu kuat. Pria tampan dengan setelan jas hitamnya itu terlihat begitu sangat berantakan. jas rapi dengan wajah yang menawan kini tergantikan dengan tampilan yang begitu kusut.
"Tolong selamatkan dia." Pria itu berucap setelah brankar yang membawa Iren berhenti di depan ruang operasi. Dokter itu mengangguk setelah brankar Iren masuk ke dalam ruang operasi diikuti oleh dokter yang menanganinya.
Setelah pintu ruangan Operasi tertutup. Lion langsung mendudukkan tubuhnya di kursi tunggu yang ada di sana. Ia mengusar rambutnya kasar dengan wajah yang menunduk. Penyesalan yang ia rasakan hari ini adalah buah atas perbuatannya terdahulu. Setetes cairan bening kembali keluar dari matanya. hari ini, ia menyadari jika ia benar-benar mencintai iren, wanita yang telah ia siksa dan wanita itu pula yang dengan rela melahirkan putra untuk nya.
Dari arah lorong rumah sakit tampak Rey dan Sera yang saat ini sedang menggendong Sean menuju ke ruangan Operasi. Tadi, saat mereka sampai di rumah sakit, ia bertanya di bagian informasi dan mereka mengatakan jika Iren sedang berada di ruang operasi.
Setelah mereka sampai di ruangan operasi, Rey bukannya tenang, ia malah mendekat ke arah Lion dan mencengkeram tubuh Lion."apa kau sudah puas sekarang? Hah?" Rey membetika Bogeman di wajah Lion, Hingga pria itu terpental ke didinding.
Lion bangkit. tubuhnya terlihat sempoyongan. Tadi saat Rey menerkam nya, ia sedang menunduk dan tidak menyadari kehadiran Rey. Itu sebabnya saat Rey memberinya Bogeman mentah, ia langsung terpental dan mengenai tepat sasaran.
__ADS_1
Rey kembali menyerang. Namun, dengan cepat ia menahan pukulan Rey dan mengapitnya ke dinding rumah sakit." Kau yang melakukan ini semua, kau yang sudah menembak Iren." Lion berucap dan kembali memberi Bogeman pada wajah Rey."
Rey memutar tubuhnya. Hingga saat ini, tubuh Lion yang terapit di dinding." Aku tidak sengaja melakukannya! Dan jika bukan karena kau yang telah menculik Sean dan membawanya ke sini, hal ini tidak mungkin terjadi!" Mereka bertatapan dengan rahang yang sama-sama mengeras.
Tak lama, Sera maju dan langsung memisahkan keduanya." Cukup!" Sera berucap dan menatap keduanya. Sedangkan Sean duduk di kursi tunggu menatap ke dua daddynya. Bocah itu sudah tidak menangis lagi setelah tadi sera menenangkannya.
"Tuan, ini rumah sakit. Ku mohon. jaga sikap kalian. Apa kalian tidak sadar, jika Sean sedang menonton ke dua daddynya yang sedang bertengkar."
Sean mengernyit. Mendengar ungkapan maaf yang keluar dari mulut daddynya. Bocah itu tersenyum dan dengan polosnya bocah itu mengangguk.
Melihat anggukan Sean. Lion seketika menunduk. Ia menangis tergugu, Menyadari semua perbuatan yang Pernah diperbuat beberapa tahun terakhir.
__ADS_1
***
Dua jam berlalu. Namun, operasi Iren belum juga selesai. saat ini, Lion duduk di kursi dengan memeluk putranya. sedangkan Rey dan Sera memilih duduk di kursi paling pojok.
Tak lama seorang perawat keluar dari ruangan operasi dan langsung mencari keluarga nona Iren." saya sus. " Rey dan lion serentak berdiri." bagaimana dengan pasien, sus?"
" pasien banyak kehilangan darah. dan rumah sakit sedang kehabisan stok. apa di sini ada yang bergolongan darah A." perawat itu bertanya.
"ambil darah saya saja, sus." Lion berucap dengan menyerahkan lengannya.
"mari ikut saya." perawat itu berjalan menuju ke ruang leb. di sana, akan di uji apakah Lion layak untuk mendonorkan darahnya pada iren.
__ADS_1