
Lion berjalan masuk Menuju ke sebuah bangunan megah dengan menggenggam tangan Irene.
Sesampainya di depan pintu masuk, Para penjaga menunduk hormat pada keduanya lalu membuka pintu bangun itu. Saat ini, Irene masih bingung dengan semua yang saat ini ia lihat. Orang tuanya memang termasuk salah satu konglomerat di Singapura. Namun, orang tuanya tidak memiliki kemewahan seperti apa yang dimiliki Lionel.
Saat Irene berjalan masuk. Matanya menatap sekeliling interior bangunan. Bangun ini tidak layak di sebut makam melain sebuah istana. Dimana sekeliling interior bangunan ini dipenuhi dengan emas.
"Lion,"panggil Irene.
"Iya, ada apa baby."
"Apa benar ini makam orang tuamu?"
"Iya." Lion menjawab dengan singkat.
"Bangun ini sangat mewah, tidak layak disebut makam," Irene berucap dengan mengeluarkan apa yang ada di dalam hatinya.
Lion tersenyum mendengar ucapan polos kekasihnya"Ya, memang bangunan ini sengaja dibuat seperti ini untuk menghormati mendiang ke dua orang tua ku."Jawab Lion. Ia terus berjalan sambil menggenggam tangan Irene.
__ADS_1
Tiba-tiba saja Irene berhenti. Lion yang berjalan didepan sambil menggenggam tangan irene seketika menghentikan langkahnya.
"Ada apa?" Tanya Lion memutar tubuhnya.
"Kau belum menceritakan penyebab kematian orang tua mu," Irene berucap dengan menatap manik biru yang juga menatapnya.
"Nanti akan aku ceritakan semuanya, ayo," ajak Lion, tangannya terulur ke arah Irene.
Irene mengangguk dan langsung meraih tangan Lion yang saat ini masih menggantung di udara lalu kembali berjalan masuk.
Saat keduanya tiba di makam, Leonel menyimpan sebuah buket bunga di kedua makam yang bertuliskan Christian Gane dan Alexa Gane. Mereka berdua menunduk hormat pada kedua makam tersebut. lalu berjalan dan mendudukkan tubuh mereka di antara kedua makam itu.
"Audrey, Lion. kalian masuk! jangan ada yang keluar sebelum mommy menyuruh kalian keluar. ambil kalung ini, ini kalung mommy, pemberian Daddy, jika kalian takut, kalian genggam kalung itu. Mommy dan Daddy selalu bersama kalian,"ucap nyonya Alexa kepada kedua anaknya.
"Tapi mom, kami takut," ucap Lionel dan Audrey secara bersamaan.
"Kalian tidak usah takut. Kami ada bersama kalian, kalian mengerti." Lanjut nyonya Alex.
__ADS_1
Lionel dan Audrey pun sama-sama mengangguk. Setelah melihat kedua anaknya mengangguk. Nyonya Alexa lalu mencium pucuk kepala kedua anak itu. Air matanya mengalir bersama dengan bingkai foto yang di pasang kembali di tempatnya.
"Lion kau kenapa," tanya Irene sambil memegang pundak Lion. Seketika Lion tersadar dari lamunannya
"Maaf." Lion berucap sembilan tersenyum.
Lion kemudian meraih tangan Irene.
"Mom, ded. Perkenalkan, ini calon istri Lion. Mom, dad kami datang kesini untuk meminta restu pada kalian. Mohon restui kami mom, dad. Kami saling mencintai. Mohon restui kami dad." Setelah mengucapkan itu, mereka berdua kemudian menunduk. Tanda penghormatan pada keduanya.
.
.
.
.
__ADS_1
bersambung.....