
Dasar bodoh! sekarang kerahkan semua anak buah mu, culik perempuan itu! Perempuan itu bisa menjadi Sandra untuk membunuh Lionel."ucap Nick. Ia menyunggingkan senyum liciknya lalu menghisap kembali cerutu yang di apit oleh ke dua jarinya.
"Baik, tuan." Pria bertato serta bertubuh besar itu pamit undur diri dari hadapan Tuannya.
"Sebentar lagi, kau akan menerima kekalahan mu Lionel! Dan aku yang akan menjadi penguasa bisnis bawah tanah. pesaing ku akan lenyap." Lirih Nick dan Tertawa keras hingga memenuhi seluruh sudut ruangan.
***
Setelah Lion menyelesaikan semua pekerjaan. Dia melajukan mobilnya menuju ke markas tempat dia biasa menyiksa orang-orang yang sudah berkhianat padanya.
Sesampainya di sana, ia lalu masuk menuju ke ruang penyengat.
Salah satu pengawalnya kemudian membuka pintu ruangan itu.
"Silahkan masuk, tuan." Ucap pengawal itu, mempersilahkan lion untuk masuk.
Lion kemudian berjalan masuk kedalam ruangan. Ruangan yang gelap. Bau amis di mana-mana, bahkan sisa bercak darah masih menempel di dinding dan lantai ruangan itu. Entah sudah berapa banyak orang yang sudah mati mengenaskan disana.
Setelah Lion masuk, Jeremy kemudian menyalakan lampu yang ada di sekitar sudut ruangan.
Lion menyunggingkan senyumnya, saat matanya menangkap sosok pria yang duduk di kursi dalam keadaan terikat. Pria itu sudah tak bertenaga, tubuhnya sudah dipenuhi dengan luka, bahkan pelipisnya masih mengeluarkan darah segar. Pria itu lantas mengangkat wajahnya menatap Lion yang saat ini berada di kursi.
"Rupanya kau masih hidup." Lion berucap. Bibirnya terangkat keatas. kini sisi jahatnya terlihat sangat jelas. Beda halnya jika ia bersama Audrey dan Irene. Ia menjadi lelaki yang sangat penyayang.
Selama ini Audrey dan Irene belum tahu jika Leon adalah seorang mafia. Audrey dan Irene hanya tau jika Leon adalah Seorang CEO di Muller crop, perusahaan yang Lion rintis sendiri setelah kematian kedua orang tuanya.
pria itu menyipitkan matanya, saat menatap Lionel yang duduk di kursi. "Cepat lepaskan aku," pria itu berucap dengan lemas.
"Kau ingin lepas?" Lion tertawa mendengar ucapan pria itu.
__ADS_1
Pria itu mengangguk dengan pelan.
"Cepat katakan! Di mana Bastian sekarang!" Lion berucap dengan mata yang tajam sehingga siapapun yang melihatnya akan ketakutan.
"Aku….tidak...tahu...di..mana..dia sekarang, yang aku tahu dia bergabung dengan gangster kartel yang diketuai oleh Nicholas Zetas, di bagian barat New York.
"Sial!" Lion mengumpat. Ternyata pria yang ia cari selama ini bergabung dengan kelompok mafia kartel. Gangster yang selama ini selalu menyerangnya dan ingin merebut posisinya untuk menguasai pasar bawah tanah.
Lion memijat pelipisnya. Untuk mendapatkan Bastian sangat sulit. Pria itu berlindung di bawah ketiak Nicholas. Bukan karena Lion takut. Namun, Nick tipe orang yang licik, dia selalu melakukan berbagai cara untuk kepentingannya. Bahkan bisa meledakkan bom granat pada orang terdekatnya sekalipun.
Lion meremas tangannya, kemudian berucap."Bastian, aku harus mendapatkanmu! kau salah satu kunci utama siapa saja yang ada di balik pembunuhan kedua orang tuaku. Kau harus membayar semuanya."
Setelah mengucapkan itu, Lion kembali fokus pada pria yang ada di hadapannya.
"Kau pria tidak berguna," Lion berucap dan mengambil revolver yang ada di sakunya, kemudian ia menarik pelatuknya dan mengarahkan revolver itu ke arah pria yang ada dihadapannya. Lion membidik senjatanya.
Dorr…..
"Kau tidak akan bisa bebas dari tanganku bedebah," Ucap Lion. Ia kemudian berdiri dari kursinya dan berjalan keluar tanpa menengok ke arah pria yang sudah bersimbah darah di depannya.
Setelah Lion sampai di luar, ia menghentikan langkahnya tepat di depan bodyguardnya.
"Urus dia." Lion berucap lalu kembali melangkah keluar gedung meningkatkan beberapa penjaga yang masih berada di gedung itu.
Setelah keluar dari gedung. Lion kini melajukan mobilnya untuk kembali ke mansion di ikuti beberapa mobil pengawal yang mengikutinya di belakang.
Saat mobilnya akan berbelok, tiba-tiba ada beberapa mobil yang menghadangnya dari depan. Seketika mobil Lion berhenti, suara decitan dari ban mobilnya terdengar sangat jelas.
Beberapa pria bertubuh besar menghampiri mobil Lion dengan membawa senjata jenis senapan di tangannya. Semua bodyguard Lion keluar dari dalam mobil dengan mengarahkan senjatanya ke arah orang-orang yang berdiri di depan mobil Lion.
__ADS_1
"Keluar," salah satu pria bertato dengan codet di wajahnya menggebrak mobil Lion. Sepertinya ia adalah pemimpin dari gang itu.
Lion keluar dari dalam mobil dengan wajah datar serta tatapan menyeramkan yang mampu menghunus siapa saja yang menatapnya.
"Di mana jons," pria itu maju mengarahkan senapannya ke arah Lion.
Lagi-lagi Lion hanya tersenyum menanggapi pria yang ada di depannya.
"Siapa jons?" Lion berucap.
"Pria yang di sekap oleh anak buah mu beberapa hari yang lalu," pria itu kembali berucap dengan memajukan senjatanya.
Lion mengusap senjata yang saat ini mengarah ke arahnya.
"Apa kau ingin bermain-main dengan ku?" Tanya Lion. Ia menyunggingkan senyum liciknya.
Pria itu semakin menekan senapannya ke arah lion." Apa kau ingin mati di tangan ku?" Pria itu berucap seolah tidak tahu siapa Lionel Muller sebenarnya.
Lion kemudian memberi kedipan pada pengawalnya. Pengawalnya pun maju dengan mengeluarkan revolver yang sangat canggih. Revolver yang sudah didesain sedemikian rupa oleh perusahaan lion, hanya untuk para bodyguard Lion. Revolver jenis ini tidak dijual, revolver ini hanya digunakan untuk pengawal yang mengawal kemanapun Lion pergi.
Semilir angin berhembus kian kencang di jalan yang sepi. suara tembakan pun kian terdengar memekik malam yang kian larut. Beberapa pria bertubuh besar terlihat sudah bersimbah darah dengan mobil yang terbakar di sisi jalan. Ya, revolver yang digunakan para bodyguard Lion bukan jenis revolver sembarangan. Revolver itu bisa menghanguskan benda-benda apapun yang ada di hadapannya dalam sekejap.
Beberapa pria bertubuh besar yang tadi menghadang mobil Lion, kini mulai berjalan mundur dengan memapah sebagian temannya yang sudah bersimbah darah, masuk kedalam mobil dan melaju meninggalkan tempat itu.
Lion yang saat ini duduk di atas kap mobilnya seolah seperti penonton, lantas menyungingkan senyum mengejeknya sambil menggenggam senjata miliknya.
"Itu akibatnya jika berani menghalangi jalan Lionel Muller," Lion berucap dengan angkuhnya.
Para pengawal pun berjalan menghampiri Lion.
__ADS_1
"Semuanya sudah beres, Tuan!"