
Hampir enam belas jam mengudara, akhirnya lion tiba di kediamannya. Tadi setelah jet pribadi yang membawanya terbang ke new York Mendarat sempurna di landasan pacu, ia langsung masuk ke mobil tanpa membuang waktu banyak. ia ingin segera tiba di mansionnya
Setelah mobil yang dikendarai Lion terparkir sempurna, ia langsung keluar, berjalan tergesa-gesa tanpa menghiraukan siapapun yang ada disekitarnya.
"Maria." Teriak Lion, suaranya memekik hingga memenuhi seisi ruangan. Audrey yang kebetulan berada di mansion Lion segera keluar dari kamarnya.
"Ada apa?" Audrey menatap adiknya.
"di mana Maria?" Tanya Lion. Ia seolah sudah tidak sabar mendengar jawaban Maria tentang pertanyaan-pertanyaannya yang akan ia layangkan kepada kepala pelayan di masion itu. hingga rasanya waktu begitu lambat berputar, ia ingin secepatnya mengetahui semuanya, Lion sudah bersabar selama 16 jam di pesawat dan saat ia sampai di mension, ia ingin segera mengetahuinya.
Dari arah belakang terlihat Maria berlari tergesa-gesa setelah mendengar teriakan tuannya. Hatinya tiba-tiba di landa kepanikan yang luar biasa, tidak biasanya tuannya berteriak sekencang itu, kecuali jika ia sedang marah. Terakhir kali tuannya berteriak seperti itu saat Iren masih berada di kediamannya. Dan sekarang tuannya mengulang hal yang sama, tentu saja Maria di landa kebingungan dengan rasa was-was yang memenuhi rongga dadanya.
"Maaf, tuan. saya sedang mengambil bahan makanan di gudang." Maria menunduk, matanya tak beralih sedikitpum dari sepasang sepatu mengkilap yang ada di depannya.
"Ikut keruanganku, ada hal yang harus kau jelaskan padaku." Titah lion. Kemudian melangkah meninggal Maria dan Audrey yang masih berdiri di posisinya.
Setelah kepergian Lion. Maria mengangkat wajahnya. Di sana ada Audrey yang sedang melihatnya seolah meminta jawaban ." Ada apa Maria? Apa kau membuat kesalahan?"
__ADS_1
Dengan cepat Maria mengeleng." Tidak, nona. Selama tuan pergi ke Indonesia. Aku tak pernah membuat kesalahan apapun." Jawab Maria.
Audrey mengangguk-angukkan kepalanya." Pergilah lah, sebelum tuanmu lebih marah.' seru Audrey.
" Baik, nona. Saya permisi." Maria berlari kecil memasuki lift menuju ruangan kerja lion yang berada di lantai atas mansion.
Setelah lift berdentting dua kali. Pintu besi itu bergeser kesamping, dengan cepat Maria keluar dan langsung berlari menuju ke ruangan kerja atasannya. Ia tidak mau membuat Lion lama menunggu, ia tidak ingin mematik ke marahan tuannya.
Pintu ruangan kerja lion diketuk sebanyak dua kali, Maria masuk kedalam dan berhenti tepat di depan meja kerja tuannya, ia menunduk. Menunggu pertanyaan yang tuannya ucapkan tadi.
"Kalian Duduk." Pungkas lion tanpa basa basi.
Setelah dokter Dove dan Maria duduk. Dokter Dove mengeluarkan sebuah map coklat yang sudah lama ia simpan. Terbukti dari tampilan map itu yang meninggalkan sedikit debu yang menempel di bagian lipatannya.
Dokter Dove menyerahkan map itu tepat di depan Lion. Lion menatap map itu kemudian beralih menatap Maria.
"Sebelum aku membuka map ini, kau jelaskan secara rinci kondisi Iren saat meninggalkan mension." Titah lion. Ia menatap tajam ke arah Maria yang saat ini sedang duduk di kursi seberang.
__ADS_1
Deg
Jantung Maria seketika berhenti berdetak mendengar ucapan Lionel. Ia terlihat gelagapan. Satu-satunya orang yang mengetahui jika Iren hamil adalah dirinya selain dokter Dove.
Maria dan dokter Dove langsung menoleh, mereka saling pandang sebelum Maria menjawab semua pertanyaan-pertanyaan Lionel yang akan berimbas pada karirnya di mansion lion sebagai kepala pelayan.
.
.
.
Terimakasih yang masih setia membaca tulisan receh author. author lagi sibuk beberes rumah dinas, besok kan lebaran. banyak tamu hari raya, soalnya author ngak mudik ke kampung halaman, masih stay di perumahan. udah mudik kemarin pas Desember, klo mudik lagi harus nyiapin uang sekarung dari Kalimantan ke Garut jauh.😁 ah author jadi curhat. selamat menjalankan ibadah puasa yang sisa dua hari lagi.😊🙏
siang up lagi, author janji.✌️
__ADS_1