CINTA & DENDAM SEORANG BOS MAFIA

CINTA & DENDAM SEORANG BOS MAFIA
BAB 78. APAKAH DIA PUTRA KU


__ADS_3

Setelah Maria saling pandang dengan dokter Dove. Maria langsung menunduk. Ia meremas jari jemarinya.


"Nyo...nya Iren….Hamil tua." Ucap Maria. Maria terlihat gugup saat mengucapkan itu.


Lion mengerutkan alisnya." Coba ulangi apa yang barusan kau ucapkan.


"Nyonya Iren hamil tuan." Ulang Maria.


"Apa….!" Bentak lion.


" Iya, tuan..nyonya Iren hamil." 


Lion masih tidak percaya. dengan cepat ia membuka map yang ada didepannya, setelah membaca hasil kesehatan Iren dan Iren di nyatakan hamil. Sekatika wajah Lion pucat, bibirnya bergetar, jantungnya seolah akan meloncat keluar dari dadanya." Apa  semua ini benar?" Tanya Lion sekali lagi. Dokter Dove dan Maria mengangguk secara bersamaan


Tiba-tiba lutut Lion melemas, dunianya seolah mengelap.


"Apa itu arti…." Lion tidak sanggup melanjutkan ucapannya." Keluar kalian!" Bentak lion. Sejak melihat Sean di acara pertunangannya. Pikirannya tak luput dari bocah kecil itu, ia seolah tertarik pada bocah itu, seperti sebuah magnet yang menariknya untuk mencari tahu siapa bocah itu.


"Maafkan kami tuan…"ujar Maria.


"Keluar!"


Maria dan dokter Dove seketika berdiri. meninggalkan Lion di dalam ruangan kerjanya

__ADS_1


Dengan tangan bergetar Lion mengambil laptopnya, mencari informasi tentang keluarga gantari dan butik Iren yang ada di Bali.


Lion membaca rentetan demi rentetan tulisan yang ada disana, hingga ia berhenti dan mengulang kembali sebuah nama yang tertulis di layar laptopnya.


"Euginia Irene Gantari, seorang single mom yang memiliki seorang putra bernama Sean Zai Muller" bagai dihantam Godam bertubi-tubi, Lion ambruk ke lantai. saat ini, ia tidak bisa berkata apa-apa. Tubuhnya bergetar, jiwanya seolah direnggut paksa dari tubuhnya. Tangisnya luruh.


"Apakah dia putraku?" Lirih Lion ia menangis sesegukan.


Setelah mengucapkan itu, Lion menyeka air matanya, kemudian bangkit dari posisinya. Dan langsung mengeluarkan ponsel dari sakunya.


"Siapkan jet, aku akan kembali ke Bali sekarang!" Pungkas lion dan berlari keluar dari ruangan kerjanya.


Saat keluar dari ruangannya, ia berpapasan dengan Audrey.


"Nanti akan aku ceritakan, aku buru-buru." Lion kembali berjalan keluar dari mansion.


***


Pukul tujuh pagi, Sean terlihat sudah bersiap, hari ini ia berencana akan ikut ke butik.


Iren yang baru keluar dari kamarnya langsung menghampiri sean, ia menekuk kakinya memperbaiki pakaian yang dikenakan sean." Hari ini Sean akan ikut mommy ke butik?" Tanya Iren.


Sean mengangguk." Iya mommy."

__ADS_1


"Tapi janji, yah. Sean jangan menyusahkan mbak?" Tanya Iren. Iren menaruh jari kelingkingnya di depan wajah sean.


"Janji mommy." Sean menyambut dan langsung mengaitkan kelingkingnya dengan kelingking mommynya, Kemudian mereka saling berpelukan.


Iren mengusap kepala putranya setelah pelukan mereka terurai, ia lalu mengandeng tangan putranya menuju meja makan. Beberapa hari yang lalu setelah pertemuan Lion dan juga Iren. Iren lebih memperketat penjagaan dirumahnya. ia tidak membiarkan siapapun masuk ke dalam rumahnya tanpa izin darinya. Dan hari ini ia akan membawa Sean ke butik. 


Saat Sean berjalan menuju ke meja makan, tawa bocah itu terdengar sangat nyari. ia senang karena hari ini dia di izinkan untuk ikut ke butik.


Sera yang duduk di meja makan ikut tersenyum. ia menarik kursi untuk Sean saat bocah itu sudah sampai.


"Terimakasih aunty." ujar Sean.


Sera mengangguk, dan langsung.mengusap - usap kepala bocah itu." sama-sama, boy."


.


.


.


Terimakasih yang masih mengikuti.🙏🙏🙏😊😊😊


 

__ADS_1


__ADS_2